<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620</id><updated>2011-09-22T17:10:58.664-07:00</updated><category term='DOA HARIAN'/><category term='Pada Hemat Saya'/><category term='FATWA ULAMAK MUKTABAR'/><category term='Video Islam'/><category term='MAKTABAH - ARAB'/><category term='Video Pendidikan- Bahasa Arab'/><category term='Ayaatur Rahman'/><category term='Bahasa Arab - Tahap Satu'/><category term='Hadis - Hadis 40'/><category term='Free Download'/><category term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><category term='ISU'/><category term='Bahasa Arab - Muhadasah'/><category term='Agama - Tauhid'/><title type='text'>LAMAN ILMU</title><subtitle type='html'>Blog ini bertujuan untuk berkongsi ilmu sambil merupakan catatan pembacaan harian penulis..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>106</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-240747907534296945</id><published>2011-09-11T23:19:00.000-07:00</published><updated>2011-09-11T23:20:13.482-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Mengingat Kematian  &amp;  MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA</title><content type='html'>Mengingat Kematian&lt;br /&gt; &amp; &lt;br /&gt;MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA&lt;br /&gt; ( باللغة الإندونيسية )&lt;br /&gt;Disusun Oleh:&lt;br /&gt;Imam al-Qurthubi&lt;br /&gt;Tarjamah:&lt;br /&gt;Moh. Iqbal Ghazali&lt;br /&gt;Murajaah : &lt;br /&gt;Eko Haryanto Abu Ziyad&lt;br /&gt;ذكر الموت والاستعداد له&lt;br /&gt;إعداد:&lt;br /&gt;الإمام القرطبي&lt;br /&gt;(من كتاب التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة : ص 7-10) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة: &lt;br /&gt;محمد إقبال غزالي&lt;br /&gt;مراجعة:&lt;br /&gt;إيكو  هاريانتو أبو زياد&lt;br /&gt;Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah&lt;br /&gt; المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض&lt;br /&gt;1429 – 2008&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGINGAT KEMATIAN DAN MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, hanya tidak ada di antara kita yang mengetahui kapan kematian itu akan datang &lt;br /&gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ&lt;br /&gt; "Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…" &lt;br /&gt;Karena kematian itu pasti akan tiba, maka Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita semua agar selalu mengingatnya dan menyiapkan diri dengan bekal setelah kematian itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ&lt;br /&gt; "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)." &lt;br /&gt;Dalam hadits ini Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita semua agar selalu mengingat yang memutuskan atau mengalahkan atau menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian yang suatu saat pasti akan tiba, bahkan seringkali datang tanpa terduga dan secara tiba-tiba. Ibnu Umar RA berkata: "Aku sedang duduk bersama Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada Nabi  seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama? Beliau menjawab:&lt;br /&gt;أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا&lt;br /&gt;'Yang paling baik akhlaknya.'&lt;br /&gt;Ia bertanya lagi, 'Mukmin seperti apakah yang paling cerdas? Beliau menjawab:&lt;br /&gt;أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولئِكَ اْلأَكْيَاسُ&lt;br /&gt; "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas." &lt;br /&gt;Inilah standar kecerdasan yang sebenarnya, yaitu tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti akan tiba dan menyiapkan diri dengan sebenarnya untuk hal itu. Tanpa adanya persiapan diri untuk kematian itu, tentu hanya sekedar mengingat tidak banyak berguna dan tidak bermanfaat. Oleh karena itu, cobalah kita bercermin untuk melihat diri kita sendiri, sebelum orang lain, apakah kita sudah memulai untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW ini? Kalau kita sudah memulainya, kalau sudah, lalu bagaimana dengan orang-orang terdekat kita?&lt;br /&gt;Para ulama rahimahullah berkata: sabda Rasulullah SAW yang berbunyi "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)." Merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasehat, maka orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan dan menghalanginya berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu. Akan tetapi jiwa yang kosong dan hati yang lupa membutuhkan nasehat yang panjang dan kalimat yang indah. Jika tidak demikian, maka dalam sabda Nabi  "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)" dan firman Allah SWT:&lt;br /&gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ&lt;br /&gt; "Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…"&lt;br /&gt;Sudah cukup sebagai nasehat yang utama.&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Khaththab RA sering membuat perumpamaan  dengan bait-bait sya'ir berikut ini:&lt;br /&gt; Tidak ada sesuatu yang engkau lihat tetap keceriaannya&lt;br /&gt;Tuhan tetap kekal sedangkan harta dan anak akan binasa&lt;br /&gt; Perbendaharaan harta yang dimiliki Hurmuz , tidak bisa memberi manfaat kepadanya walau hanya satu hari&lt;br /&gt;Dan keabadian yang diusahakan oleh kaum 'Aad, maka mereka tetap tidak bisa kekal&lt;br /&gt; Tidak pula Nabi Sulaiman AS saat angin bertiup untuknya &lt;br /&gt;Sedang jin dan manusia datang di antaranya&lt;br /&gt; Di manakah para raja yang karena kebesarannya&lt;br /&gt;Setiap utusan datang kepadanya dari setiap penjuru?&lt;br /&gt; Telaga yang ada di sana pasti akan didatangi, bukan dusta&lt;br /&gt;Suatu hari pasti mendatanginya, sebagaimana diriwayatkan&lt;br /&gt; Apabila sudah jelas keterangan di atas, ketahuilah bahwa mengingat mati mewariskan rasa gelisah terhadap dunia yang fana ini dan setiap saat memusatkan fikiran ke negeri akhirat yang kekal abadi. Kemudian, setiap manusia  tidak terlepas dari dua sisi kehidupan: kesempitan hidup dan keluasan, nikmat dan cobaan. Maka jika ia berada dalam kesempitan dan cobaan, mengingat kematian memudahkan dia menghadapi semua itu. Sesungguhnya ia tidak kekal dan kematian lebih susah dari hal itu, atau di saat kenikmatan dan keluasan, maka mengingat mati menghalangi dia dari terperdaya dengannya dan cenderung kepadanya, karena ingat mati memutuskannya dari semua kenikmatan itu. Alangkah indahkan orang yang berkata:&lt;br /&gt; Ingatlah kematian yang meruntuhkan kenikmatan&lt;br /&gt;Dan persiapkan untuk kematian yang pasti akan tiba&lt;br /&gt;Yang lain berkata:&lt;br /&gt; Dan ingatlah kematian niscaya engkau mendapatkan ketenangan&lt;br /&gt;Dalam mengingat kematian memutuskan angan-angan. &lt;br /&gt; Semua umat sepakat (konsensus) bahwa kematian tidak mempunyai batasan umur yang diketahui dan tidak pula zaman yang diketahui, agar seseorang menyiapkan diri menghadapi hal itu. Sebagian orang shalih berseru di malam hari di pinggiran kota Madinah: Berangkat, berangkat. Maka tatkala ia wafat, amir (gubernur) kota Madinah bertanya tentang dia, maka dikabarkan bahwa ia telah meninggal dunia, maka amir itu berkata berkata:&lt;br /&gt; Senantiasa ia melantunkan keberangkatan dan mengingatkannya&lt;br /&gt;Sehingga unta berhenti di depan pintunya&lt;br /&gt; `Maka ia terjaga, bersungguh-sungguh&lt;br /&gt;Bersiap-siap, tidak terlalaikan oleh angan-angan.&lt;br /&gt; Yazid ar-Raqqasy rahimahullah berkata kepada dirinya sendiri: 'Celakalah engkau wahai Yazid, siapakah yang menshalatkan engkau setelah meninggal dunia? Siapakah yang menggantikan puasa engkau setelah mati? Siapakah yang memohon keridhaan Rabb untukmu setelah engkau wafat? Kemudian ia berkata, 'Wahai manusia, apakah engkau tidak menangisi dan meratapi dirimu sendiri di hari-harimu yang masih tersisa? Siapa yang kematian mencarinya, kubur sebagai rumahnya, tanah sebagai kasurnya, ulat sebagai temannya, di samping itu ia sedang menunggu kejutan terbesar, bagaimanakah keadaannya?' Kemudian ia menangis sehingga jatuh pingsan.&lt;br /&gt; At-Taimi rahimahullah berkata, 'Dua perkara yang memutuskan kenikmatan dunia dariku: Mengingat mati dan mengingat posisi saat berada di hadapan Allah SWT.' Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan mati, hari kiamat dan akhirat, lalu mereka menangis sehingga seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah.&lt;br /&gt; Abu Nu'aim rahimahullah berkata: Apabila Sufyan ats-Tsauri rahimahullah diingatkan mati, tidak bisa diambil manfaat dengannya selama beberapa hari (maksudnya: ia tidak bisa mengajar). Jika ia ditanya tentang suatu masalah, ia berkata: Aku tidak tahu, aku tidak tahu.' Asbath rahimahullah berkata: Seorang laki-laki dipuji-puji di hadapan Nabi , maka Rasulullah SAW bertanya: "Bagaimana ingatnya terhadap mati?' Maka hal itu tidak disebutkan darinya. Maka beliau bersabda: 'Dia tidak seperti yang kamu katakan."&lt;br /&gt; Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Barangsiapa yang benyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan dengan tiga perkara: Segera bertaubat, hati bersifat qana'ah, dan rajin dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, tidak ridha dengan menahan diri dari meminta, dan malas dalam ibadah. Maka pikirkanlah -wahai yang terperdaya- tentang mati dan saat sakaratul maut, berat dan pahitnya. Wahai kematian, sebuah janji yang pasti benar dan hakim yang sangat adil. Cukuplah kematian yang melukai hati, membuat mata menangis, memisahkan kelompok, menghancurkan kenikmatan, dan memutuskan angan-angan. Apakah engkau sudah memikirkan wahai keturunan Adam di hari kematianmu, berpindahmu dari tempatmu. Dan apabila engkau telah dipindah dari tempat yang luas ke tempat yang sempit, sahabat dan rekanmu mengkhianatimu, saudara dan temanmu meninggalkanmu, dan mereka menutupimu dengan tanah setelah sebelumnya engkau diselimuti kain yang lembut. Wahai yang mengumpulkan harta dan bersungguh-sungguh dalam bangunan, tidak ada sesuatu pun untukmu selain kain kafan. Bahkan demi Allah hanya untuk kehancuran dan sirna, dan tubuhmu untuk tanah dan tempat kembali. Maka di manakah harta yang engkau kumpulkan? Apakah bisa menyelamatkan engkau dari huru hara? Sama sekali tidak, bahwa engkau meninggalkannya kepada orang yang tidak memujimu, engkau memberikan dengan dosa-dosamu kepada orang yang tidak memaafkanmu.&lt;br /&gt; Alangkah indahnya orang yang berkata dalam firman Allah SAW:&lt;br /&gt;وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخرة&lt;br /&gt; Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, (QS. al-Qashash:77)&lt;br /&gt;Maksudnya Wallahu A'lam-: carilah di dalam dunia yang diberikan Allah SWT kepadamu untuk negeri akhirat, yaitu surga. Maka sesungguhnya hak seorang mukmin bahwa ia memalingkan dunia untuk yang berguna di akhirat, bukan pada tanah, air, tindakan sombong dan zalim. Seolah-olah mereka berkata: Jangan lupa bahwa engkau akan meninggalkan semua hartamu kecuali untuk kafan yang menjadi jatahmu. Dan seperti inilah ungkapan seorang penyair:&lt;br /&gt; Jatahmu dari semua yang engkau kumpulkan&lt;br /&gt;Dua selendang yang dilipat dan pengawet&lt;br /&gt;Dan yang lain berkata:&lt;br /&gt; Ia adalah sifat qana'ah yang engkau tidak perlu mencari gantinya&lt;br /&gt;Mengandung kenikmatan dan ketenangan badan&lt;br /&gt; Perhatikanlah kepada orang yang memiliki semua dunia&lt;br /&gt;Apakah ia merasakan ketenangan darinya selain dengan kapas dan kafan?&lt;br /&gt; Syaddad bin Aus RA berkata, 'Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;اَلكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نْفْسهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ&lt;br /&gt; "Orang yang cerdas adalah yang menghitung dirinya dan beramal untuk masa setelah mati, dan orang yang lemah adalah yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT." &lt;br /&gt;Abu Ubaid rahimahullah berkata, 'Maksudnya: menghinakannya dan memperbudaknya, maka ia menghinakan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, sebagai amal ibadah yang dipersiapkannya setelah mati dan untuk bertemu Allah SWT. Dia juga menghisab dirinya terhadap amal perbuatannya di masa lalu, menggantikannya dengan amal shalihnya sebagai penebus kesalahannya yang telah berlalu. Dia berzikir kepada Allah SWT dan taat kepada-Nya di segala tingkah lakunya. Inilah bekal sebenarnya untuk hari kembali. Dan orang yang lemah adalah orang kekurangan dalam semua perkara. Di samping kekurangannya dalam ibadah kepada Rabb-nya dan mengikuti hawa nafsunya, dia masih berangan-angan kepada Allah SWT agar mengampuninya. Inilah orang yang terperdaya. Sesungguhnya Allah SWT menyuruh dan melarangnya.&lt;br /&gt; Al-Hasan al-Bashari berkata: Sesungguhnya suatu kaum dilalaikan oleh angan-angan, sehingga ia keluar dari dunia tanpa mempunyai amal kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku. Dia bohong, jika ia benar-benar berbaik sangka (husnuzh-zhann) tentu ia memperbaiki amal perbuatan, dan ia membaca firman Allah SWT:&lt;br /&gt;وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ &lt;br /&gt; Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fuhshilat:23)&lt;br /&gt; Sa'id bin Jubair rahimahullah berkata: Terperdaya dengan Allah SWT bahwa seseorang terus menerus melakukan maksiat dan berangan-angan mendapat ampunan Allah SWT.&lt;br /&gt; Baqiyyah bin al-Walid rahimahullah berkata: Abu 'Umair rahimahullah menulis kepada sebagian saudara-saudaranya: 'Amma ba'du, sesungguhnya engkau menjadi berharap banyak kepada dunia dengan panjangnya usiamu dan berangan-angan kepada Allah SWT dengan buruknya perbuatanmu. Sesungguhnya engkau hanyalah memukul besi yang dingin. Wassalam.'&lt;br /&gt;Wallahu A'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari kitab:&lt;br /&gt;المرجع: التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة للإمام القرطبي ، دار الحديث - القاهرة تحقيق عصام الدين الصبابطي، ط 1 -1424هـ&lt;br /&gt;at-Tadzkiran fi ahwalil mauta wa umuril akhirah (Peringatan tentang kondisi orang-orang yang mati dan keadaan akhirat), bab: Dzikrul maut wal isti'dad lahu (mengingat mati dan menyiapkan diri untuknya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-240747907534296945?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/240747907534296945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/240747907534296945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/09/mengingat-kematian-menyiapkan-diri.html' title='Mengingat Kematian  &amp;  MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-4370719814787157457</id><published>2011-09-04T09:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-04T09:12:57.528-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Fenomena Lemahnya Iman</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Fenomena Lemahnya Iman&lt;br /&gt;]  Indonesia –  Indonesian – [ إندونيسي &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Soleh al-Munajjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah : Syafar Abu Difa &lt;br /&gt;Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2011 - 1432&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﴿ ظاهرة ضعف الإيمان ﴾&lt;br /&gt;« باللغة الإندونيسية »&lt;br /&gt;محمد صالح المنجد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة: شفر أبو دفاع&lt;br /&gt;مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2011 - 1432&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Lemah Iman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi Materi&lt;br /&gt;Pertama  : Fenomena lemah iman&lt;br /&gt;Kedua	   : Penyebab lemah iman&lt;br /&gt;Ketiga	   : Terapi lemah iman&lt;br /&gt;Perkara-perkara yang mesti diperhatikan seorang muslim dalam amal-amal salehnya &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Segala puji bagai Allah. Kita memuji, meminta ampunan dan petunjuk-Nya. Juga meminta perlindungan-Nya dari keburukan jiwa serta amal-amal kita. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya.&lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢)  آل عمران:102( &lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imrân:102)&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَارِجَالاً كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١    )النساء:1(  &lt;br /&gt;"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS.an-Nisa:1)&lt;br /&gt;قال تعالى :    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١  )الأحزاب :70، 71 (&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki untukmu amalan-amalanmu dan mengampuni untukmu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS.al-Ahzab:70,71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun selanjutnya:&lt;br /&gt;Fenomena lemah iman telah menjadi sesuatu yang menyebar dan merata di tengah kaum muslimin. Sebagian mengeluhkan kerasnya hati mereka dengan berujar, "Aku merasa hatiku keras", "Aku tidak dapat merasakan nikmatnya ibadah", "Aku merasa imanku berada di titik nadir", "Aku tidak dapat merasakan pengaruh bacaan al-Quran", "Aku mudah terjerumus dalam maksiat". &lt;br /&gt;Pada sebagian orang nampak sekali pengaruh penyakit ini. Penyakit lemah iman merupakan dasar dari segala kemaksiatan, segala aib dan bencana.&lt;br /&gt;Tema hati merupakan tema yang sensitif dan urgen. Ia dinamakan "القلب" (hati) karena cepatnya berubah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;إنما القلب من تقلبه إنما مثل القلب كمثل ريشة معلقة في أصل شجرة يقلبها الريح ظهراً لبطن ) رواه أحمد 4/408 وهو في صحيح الجامع 2364(&lt;br /&gt;"Sungguh dia dinamakan القلب  [al-qolb=hati ] karena تقلبه 'taqollubihi' (perubahannya). Perumpamaan hati adalah  seperti bulu yang tersangkut di pangkal pohon, kemudian angin menelungkupkan bagian atas menjadi bawahnya.  &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;مثل القلب كمثل ريشة بأرض فلاة الريح ظهراً لبطن)  أخرجه ابن أبي عاصم في كتاب السنة رقم 227 وإسناده صحيح: ظلال الجنة في تخريج السنة للألباني 1/102(&lt;br /&gt;"Perumpamaan hati seperti bulu di tengah padang pasir yang di bolak-balikan angin."  &lt;br /&gt;Kalbu cepat berbolak-balik, sebagaimana yang telah disifati oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:&lt;br /&gt;لقلب ابن آدم أسرع تقلباً من القدر إذا استجمعت غليانا  (المرجع السابق رقم 226 وإسناده صحيح: ظلال الجنة 1/102)&lt;br /&gt;"Sungguh kalbu anak Adam lebih cepat terbolak-balik dari pada bejana yang direbus."  &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;أشد تقلباً من القدر إذا اجتمعت غلياناً   (رواه أحمد 6/4 وهو في صحيح الجامع رقم 5147)&lt;br /&gt;"Lebih amat terbolak-balik dari pada bejana yang di rebus." &lt;br /&gt;Allah -subhanahu wata'âla- yang membolak-balikkan hati dan merubahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash bahwa dia mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,&lt;br /&gt;إن قلوب بني آدم كلها بين أصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد يصرفه حيث يشاء&lt;br /&gt;"Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha Pengasih, seperti satu kalbu, dibolak-balikkan sekehendak-Nya."&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- berdoa:&lt;br /&gt;اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك   (رواه مسلم رقم 2654)&lt;br /&gt;[Allahumma mushorriful quluub, shorrif quluubana 'alaa thoo'atika]&lt;br /&gt;"Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami kepada ketaatan-Mu." &lt;br /&gt;Allah-lah yang memisahkan antara seseorang dengan kalbunya. Seseorang tidak akan selamat kecuali datang kepada Allah dengan hati/kalbu yang selamat. Kedukaanlah bagi pemilik kalbu yang sulit untuk zikrullah (mengingat Allah). Surga dijanjikan bagi siapa yang merasa takut kepada Allah yang Maha Pengasih, padahal tidak terlihat olehnya dan datang dengan hati yang bertobat. &lt;br /&gt;Seorang mukmin hatinya haruslah sensitif, menyadari penyakit yang menyusup dan faktor penyebabnya, untuk kemudian bersegera mengobatinya sebelum menjangkit dan membinasakannya. Perkaranya besar dan serius. Allah -subhanahu wata'âla- telah memperingatkan kita mengenai hati yang keras, terkunci, sakit, buta, buntung, terbalik, ternoda dan dicap.&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan upaya mengenal fenomena penyakit lemah iman, faktor penyebab dan terapinya. Saya meminta kepada Allah semoga menjadikan amal ini bermanfaat bagi diri saya dan saudara-saudaraku kaum muslim. Membalas siapa saja yang berandil dalam penerbitannya dengan ganjaran yang setimpal. &lt;br /&gt;Allah -subhanahu wata'âla- kuasa melembutkan hati-hati kita karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik pelindung. Cukuplah Dia sebagai penolong dan tempat bergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Fenomena lemah iman&lt;br /&gt;Sesungguhnya penyakit lemah iman memiliki gejala dan tanda-tanda, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Terjerumus dalam kemaksiatan dan melakukan perbuatan haram. &lt;br /&gt;Sebagian orang intens melakukan maksiat. Sebagian lagi hanya melakukan maksiat-maksiat tertentu saja. Ke-sering-an melakukan maksiat akan merubahnya menjadi gaya hidup, sehingga hilang pandangan buruk maksiat dari hatinya secara bertahap, yang pada akhirnya sanggup menampakkan kemaksiatan itu, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:&lt;br /&gt;كل أمتي معافى إلا المجاهرين  وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملاً ثم يصبح وقد ستره الله فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا  وكذا  وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف ستر الله عنه  ( رواه البخاري: فتح 10/486)&lt;br /&gt;"Setiap umatku diampuni dosa-dosanya kecuali  yang melakukannya terang-terangan. Di antara bentuknya; seseorang melakukan maksiat di malam hari, paginya Allah telah menutupi dosanya, namun dia berkata, 'Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.' Padahal dia telah bermalam dengan dosa yang tertutupi, namun paginya dia sendiri yang menyingkap apa yang telah Allah tutupi."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Merasakan kalbu yang kaku dan keras. Sampai-sampai merasakan hatinya telah berubah menjadi batu keras yang tak dapat menyerap dan tidak terpengaruh oleh apapun. Allah -azzawajalla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :    ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗ   (البقرة :74)&lt;br /&gt;"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS.al-Baqarah:74)&lt;br /&gt;Pemilik hati yang kaku tidak terpengaruh oleh nasihat-nasihat kematian ataupun melihat orang mati dan jenazahnya. Bahkan meskipun dia termasuk yang mengusung jenazah dan menguruk kubur dengan tanah. Langkahnya di antara perkuburan seolah hanya di antara bebatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak dapat sempurna dalam melakukan beribadah. &lt;br /&gt;Pikirannya selalu melayang-layang saat melaksanakan shalat, membaca al-Quran, membaca doa maupun ibadah lainnya. Tidak dapat menadaburi dan merenungi makna-makna zikir. Membacanya  sambil lalu dan dengan cara yang menjemukan jika telah dihafalnya. Sekalipun telah membiasakan diri berdoa dengan doa-doa tertentu pada waktu yang telah ditentukan oleh sunah, tetap saja dia tidak dapat khusyuk memahami makna-makna doa tersebut. Allah -subhanahu wata'âla- berfirman (dalam hadits qudsi):&lt;br /&gt;… لا يقبل دعاء من قلب غافل   (رواه الترمذي رقم 3479 وهو في السلسة الصحيحة 594)&lt;br /&gt;"...tidak diterima doa dari hati/kalbu yang lalai lagi lengah."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Malas melakukan ketaatan dan ibadah dan cenderung melalaikan. Jika pun melaksanakan, hanyalah sekadar aktivitas kosong tanpa ruh. Allah -azzawajalla- mendeskripsikan orang-orang munafik dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :    وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ  (النساء :142)&lt;br /&gt;"...dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas..." (QS.an-Nisâ:142)&lt;br /&gt;Termasuk juga ketidakpedulian akan luputnya musim-musim kebaikan serta waktu-waktu ibadah. Ini menunjukkan akan tidak adanya perhatian mendapatkan pahala. Mengakhirkan ibadah haji padahal mampu, enggan berjihad padahal dalam keadaan lapang dan meninggalkan shalat berjamaah sehingga berhujung pada meninggalkan shalat Jumat. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;لا يزال قوم يتأخرون عن الصف الأول حتى يخلفهم الله في النار   (رواه أبو داود رقم: 679 وهو في صحيح الترغيب رقم 510)&lt;br /&gt;"Masih terus saja suatu kaum meninggalkan saf pertama, hingga Allah akhirkan mereka ke neraka." &lt;br /&gt;Si penderita tidak sadar dengan teguran hatinya sewaktu tertidur saat masuk waktu shalat wajib, demikian pula ketika terluput melakukan shalat sunah rawatib atau meninggalkan wirid dari wirid-wiridnya. Dia tidak berhasrat untuk mengganti apa yang telah terluput itu. Demikianlah, dia menjadi terbiasa melalaikan segala yang dianggapnya sunah atau wajib kifayah , atau bahkan sama sekali tidak menghadiri shalat 'Id (padahal sebagian ulama mengatakan wajib melaksanakannya), tidak shalat gerhana, tidak respons untuk menghadiri resepsi kematian dan menyalatinya. Dia tidak menginginkan pahala dan tidak merasa butuh. Kontras dengan orang-orang yang telah Allah deskripsikan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :   إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ ٩٠  (الأنبياء :90)&lt;br /&gt;"...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS.al-Anbiyâ`:90)&lt;br /&gt;Di antara bentuknya yang lain adalah bermalas-malasan dalam melaksanakan ketaatan. Malas melaksanakan sunah rawatib , shalat malam, bersegera ke masjid, atau ibadah-ibadah lain semisal shalat dhuha. Jika ibadah-ibadah tersebut saja tidak terbetik dalam pikirannya, apatah lagi dengan shalat taubah atau shalat istikharah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Tidak lapang dada, hilang selera, terperangkap dalam ego bahkan seolah ada beban berat yang menghimpit. Akibatnya menjadi cepat emosi atau berkeluh kesah hanya karena urusan sepele. Merasa tertekan dengan tingkah orang di sekitarnya dan menjadi tidak toleran. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan iman dengan sabdanya:&lt;br /&gt;الإيمان: الصبر والسماحة   (السلسلة الصحيحة رقم 554، 2/86)&lt;br /&gt;"Iman itu kesabaran dan toleran." &lt;br /&gt;Beliau mendeskripsikan seorang mukmin dengan:&lt;br /&gt;يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف   (السلسلة الصحيحة رقم 427)&lt;br /&gt;"...beramah-tamah. Tidak ada kebaikan bagi yang tidak beramah-tamah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tidak peka/terpengaruh dengan bacaan al-Quran. &lt;br /&gt;Tidak dengan janji-janji dan ancaman, tidak pula perintah dan larangan, maupun dengan penggambaran hari kiamat. Mereka yang lemah imannya, berpaling dari mendengar al-Quran. Jiwanya tidak sanggup konsisten membacanya. Ketika membuka al-Quran, hampir-hampir menutupnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Lalai dari mengingat Allah -azzawajalla- dan berdoa kepada-Nya -subhanahu wata'âla-. Sehingga berat ketika berzikir. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, begitu cepat diturunkannya lagi kemudian berlalu. Allah mendeskripsikan orang munafik dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :   وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢   (النساء :142)&lt;br /&gt;"...dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS.an-Nisâ:142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tidak murka jika kesucian Allah -azzawajalla- dinistai, karena api cemburu dalam kalbunya telah padam, sehingga tubuhnya tidak mampu melakukan pengingkaran, tidak pula beramar makruf nahi mungkar. Seumur-umur tidak pernah melakukan pembelaan terhadap Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan kalbu seperti ini sebagai kalbu yang lemah, dalam hadisnya:&lt;br /&gt;تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ...    &lt;br /&gt;"Fitnah (cobaan) dibentangkan kepada kalbu seperti keset, selembar demi selembar. Bagian manapun dari kalbu yang menyerapnya akan menjadi titik hitam." &lt;br /&gt;Hingga menjadi seperti yang dikhabarkan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ   (رواه مسلم رقم 144)&lt;br /&gt;"Hitam dengan sedikit bintik putih, seperti kerucut yang miring tertelungkup, tidak mengetahui kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, selain yang diterima oleh hawa nafsunya." &lt;br /&gt;Yang demikian itu karena telah luntur darinya cinta kebaikan dan benci kemungkaran. Hal itu yang menguasainya sehingga tidak ada yang mendorongnya untuk mengajak berbuat baik maupun mencegah kemungkaran. Bahkan  ketika mendengar kemungkaran terjadi bisa jadi malah meridainya, sehingga dia pun mendapat dosa seperti orang yang menyaksikan namun membiarkannya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها - وقال مرة أنكرها - كمن غاب عنها ومن غاب عنها فرضيها كان كمن شهدها    (رواه أبو داود رقم 4345، وهو في صحيح الجامع 689)&lt;br /&gt;"Jika keburukan dilakukan di bumi dan dia menyaksikan dan membencinya –dalam riwayat yang lain mengingkarinya- seperti orang yang tidak hadir. Dan siapa yang tidak menyaksikannya tetapi meridainya maka seperti menyaksikannya." &lt;br /&gt;Rida dengan perbuatan maksiat merupakan amal hati/kalbu yang menyisakan dosa seperti orang yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Senang memamerkan diri, dalam bentuk:&lt;br /&gt;- Senang berkuasa dan memimpin, tanpa memperdulikan tanggung jawab dan bahayanya. Yang seperti inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:&lt;br /&gt;إنكم ستحرصون على الإمارة وستكون ندامة يوم القيامة فنعم المرضعة وبئس الفاطمة   (رواه البخاري رقم 6729)&lt;br /&gt;"Kalian akan tamak pada kekuasaan yang pada hari kiamat akan menjadi penyesalan. Nikmat permulaannya dan malapetaka pada akhirnya. &lt;br /&gt;Maksud "nikmat permulaannya" karena perolehan harta, kehormatan dan kenikmatannya. Sedangkan "malapetaka pada akhirnya" karena terdapat pembunuhan, pelengseran, dan kepayahan pada hari kiamat."  &lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasalam- pun bersabda:&lt;br /&gt;إن شئتم أنبأتكم عن الإمارة وما هي  أولها ملامة  وثانيها ندامة  وثالثها عذاب يوم القيامة إلا من عدل   (رواه الطبراني في الكبير 18/72 وهو في صحيح الجامع 1420)&lt;br /&gt;"Jika kalian ingin, aku dapat menjelaskan apa kekuasaan itu; permulaannya celaan, keduanya penyesalan, ketiganya siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang adil." &lt;br /&gt;Jika perkaranya adalah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab, di mana tidak ada orang yang lebih baik darinya, seraya bersungguh-sungguh, saling menasihati dan adil sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yusuf –alaihisalam-, kita katakan nikmat dan kemuliaan. Akan tetapi pada kebanyakannya adalah keinginan liar kekuasaan, ingin lebih, menindas para pemilik hak dan memonopoli perintah dan larangan.&lt;br /&gt;- Senang muncul di majelis-majelis dan memonopoli pembicaraan, sedang yang lain wajib mendengarnya. Muncul di majelis-majelis maksudnya mimbar-mimbar. Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:&lt;br /&gt;اتقوا هذه المذابح - يعني المحاريب  (رواه البيهقي 2/439 وهو في صحيح الجامع 120)&lt;br /&gt;"Jauhilah tempat-tempat penyembelihan –maksudnya mimbar-mimbar." &lt;br /&gt;- Senang jika orang-orang berdiri menyambutnya, demi memuaskan rasa gila penghormatan pada jiwanya yang sakit. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الْعِبَادُ قِيَاماً فَلْيَتَبَوَّأْ بَيْتاً فِى النَّارِ   (رواه البخاري في الأدب المفرد 977 انظر السلة الصحيحة 357)&lt;br /&gt;"Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka." &lt;br /&gt;Oleh karena itu, ketika Muawiah mendatangi Ibnu Zubair dan Ibn Âmir, Ibn Âmir berdiri sedangkan Ibnu Zubair tetap duduk, Muawiah berkata kepada Ibn Âmir: &lt;br /&gt;"Duduklah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;من أحب أن يمثل له الرجال قياماً فليتبوأ مقعده من النار (رواه أبو داود رقم 5229 والبخاري في الأدب المفرد 977 وهو في السلسلة الصحيحة 357)&lt;br /&gt;'Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka'." &lt;br /&gt;Tipe orang seperti ini akan marah jika sunah nabi ini diterapkan. Jika masuk suatu majelis, dia tidak rida kecuali ada salah seorang yang berdiri menyambutnya dan mendudukkannya, meskipun dia tahu Nabi -shalallahu alaihi wasalam- melarang hal itu dalam sabdanya:&lt;br /&gt;لا يقيم الرجل الرجل من مجلسه ثم يجلس فيه   (رواه البخاري فتح 11/62)&lt;br /&gt;"Janganlah seseorang itu membangunkan orang lain dari duduknya kemudian dia duduk di situ."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Serakah dan kikir. &lt;br /&gt;Allah -subhanahu wata'âla- telah memuji kaum Anshar dalam kitab-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :   وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَة    (الحشر:9)&lt;br /&gt;"...dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (QS.al-Hasyr:9)&lt;br /&gt;Dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang menjauhi keserakahan diri mereka. Tidak diragukan bahwa lemah iman melahirkan keserakahan. Bahkan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;لا يجتمع الشح والإيمان في قلب عبد أبدا    (رواه النسائي: المجتبي 6/13 وهو في صحيح الجامع 2678)&lt;br /&gt;"Tidak akan berkumpul keserakahan dan keimanan dalam hati seorang hamba sama sekali."  &lt;br /&gt;Mengenai bahaya keserakahan dan pengaruhnya terhadap jiwa telah dijelaskan oleh Nabi -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:&lt;br /&gt;إياكم والشح فإنما هلك من كان قبلكم بالشح  أمرهم بالبخل فبخلوا وأمرهم بالقطيعة فقطعوا وأمرهم بالفجور ففجروا    (رواه أبو داود 2/324 وهو في صحيح الجامع رقم 2678)&lt;br /&gt;"Jauhilah oleh kalian keserakahan. Sungguh binasanya orang-orang sebelum kalian karena keserakahan. Ketika (keserakahan) memerintahkan mereka untuk bakhil, mereka berbuat kekikiran, ketika memerintah untuk memutus persaudaraan, mereka memutus persaudaraan dan ketika memerintah mereka untuk berbuat kekejian, mereka melakukannya."  &lt;br /&gt;Kebakhilan pada pemilik iman yang lemah, membuatnya hampir-hampir tidak mengeluarkan sedikit pun untuk Allah, sekalipun ada yang meminta sedekah dan menyaksikan sendiri kebutuhan saudaranya muslim yang terkena musibah. Tidak ada yang lebih tepat tentang mereka ini daripada firman Allah:&lt;br /&gt;قال تعالى :   هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ٣٨   (محمد :38)&lt;br /&gt;"Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya, dan kamulah orang-orang yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu." (QS.Muhammad:38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Mengatakan apa yang tidak dilakukannya. &lt;br /&gt;Allah –wata'ala- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣    (الصف :2، 3)&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS.as-Shaff: 2,3)&lt;br /&gt;Tidak diragukan kalau ini adalah jenis kemunafikan. Siapa yang perkataannya menyelisihi perbuatannya, menjadi tercela di sisi Allah dan dibenci oleh makhluk. Penghuni neraka nantinya akan membeberkan apa-apa yang telah mereka perintahkan di dunia tetapi tidak melaksanakannya, dan apa yang dilarangnya tetapi dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Gembira dan menginginkan saudaranya gagal, rugi, terkena musibah dan lenyap kenikmatannya. &lt;br /&gt;Dia merasa gembira ketika nikmat yang ada pada saudaranya sirna. Karena sesuatu yang menjadikan saudaranya itu istimewa telah tiada darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Hanya melihat sesuatu perkara dari sisi apakah mengandung dosa ataukah tidak, tanpa melihat lagi apakah hal itu termasuk perkara "makruh" (dibenci) atau tidak. &lt;br /&gt;Sebagian orang, jika hendak mengerjakan suatu amal tidak bertanya mana amal-amalan yang baik, tetapi yang ditanya 'apakah  perbuatan itu dosa atau tidak?', 'haram atau cuma makruh?'. Mental seperti ini dapat menjeratnya ke dalam syirik "subhat" (kerancuan) dan "makruhat" (perkara-perkara yang dibenci), sehingga menjerumuskannya pada perkara haram pada suatu saat. Orang seperti ini tidak mengapa baginya mengerjakan perkara "makruh" (yang dibenci) atau "musytabih" (meragukan), selama perkaranya bukan haram. Inilah yang senyatanya dikabarkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:&lt;br /&gt;من وقع في الشبهات وقع في الحرام  كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه ..  )الحديث في الصحيحين واللفظ لمسلم رقم 1599(&lt;br /&gt;"Siapa yang terjerumus pada subhat (meragukan) telah terjerumus pada yang haram. Seperti penggembala yang menggembalakan gembalaannya di sekitar pagar, tidak ayal akan menerobos ke dalamnya..." &lt;br /&gt;Bahkan sebagian orang jika meminta fatwa dalam suatu perkara dan dikhabarkan bahwa hal itu haram akan bertanya, 'apakah sangat haram atau tidak?' atau 'seberapa besar dosanya?'. Yang seperti ini, tidak ada pada dirinya kepedulian untuk menjauhi kemungkaran dan kejelekan. Bahkan dia siap untuk terjerumus dalam tahap awal perbuatan haram. Dia menyepelekan dosa-dosa yang dianggap kecil, sehingga menjadi berani melanggar apa yang Allah haramkan. Hilang sekat antara dirinya dan kemaksiatan. Karenanya Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda dalam hadits sahih:&lt;br /&gt;لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا&lt;br /&gt;"Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang datang membawa kebaikan seperti gunung Tuhâmah , namun Allah -azzawajalla- menjadikannya debu yang beterbangan."&lt;br /&gt;Tsauban -radiallahu'anhu- bertanya, &lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, deskripsikan mereka kepada kami agar kami tidak seperti mereka tanpa menyadarinya?"&lt;br /&gt;Nabi menjawab,&lt;br /&gt;أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا     (رواه ابن ماجة رقم 4245 قال في الزوائد إسناده صحيح ورجاله ثقات وهو في صحيح الجامع 5028(&lt;br /&gt;"Mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari bangsa kalian. Malam mereka sama seperti malam kalian , akan tetapi jika tengah bersendirian dengan perkara haram mereka melabraknya." &lt;br /&gt;Engkau dapatkan mereka terjerumus dalam perkara haram tanpa risih dan ragu. Ini lebih buruk dari mereka yang terjerumus setelah ragu-ragu dan risih, meskipun keduanya dalam bahaya, namun keadaan orang yang pertama lebih jelek dari yang kedua. Macam orang seperti ini menggampangkan dosa karena kelemahan imannya. Dia tidak melihat bahwa hal itu adalah sesuatu kemungkaran. Karenanya Ibnu Mas'ud -radiallahu'anhu- menggambarkan perbedaan antara keadaan orang beriman dengan orang munafik dengan:&lt;br /&gt;"Orang beriman melihat dosanya seperti batu di atas gunung dan takut akan menimpanya. Sedangkan pelaku dosa, melihat dosanya seperti lalat yang lewat di hidungnya dan menepisnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Meremehkan kebaikan dan tidak peduli dengan kebaikan-kebaikan kecil. &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- telah mengajarkan kita agar tidak seperti itu. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad -rahimahullah- dari Abu Jarî al-Hajimi, katanya:&lt;br /&gt;"Aku mendatangi Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan bertanya: &lt;br /&gt;'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum badui, ajarkan kami sesuatu yang akan Allah beri manfaat kepada kami!'".&lt;br /&gt;Nabi bersabda:&lt;br /&gt;لا تحقرن من المعروف شيئاً ولو أن تفرغ من دلوك في إناء المستقي  ولو أن تكلم أخاك ووجهك إليه منبسطاً [ رواه أحمد ]&lt;br /&gt;"Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun sekedar mengosongkan isi embermu untuk orang yang memerlukan air, dan sekalipun berbicara dengan saudaramu dengan wajah yang ceria." &lt;br /&gt;Seandainya ada yang ingin mengambil air dari sumur, sedangkan engkau telah lebih dulu mengambilnya, maka berikan air itu kepadanya. Amalan seperti ini meskipun nampaknya sepele, tidak semestinya diremehkan. Demikian pula dengan menemui saudaramu dengan wajah ceria, membersihkan kotoran dan sampah dari masjid, walaupun hanya serpihan, semoga saja menjadi sebab pengampunan dosa. &lt;br /&gt;Allah mensyukuri hamba-Nya dengan amalan seperti itu dan mengampuni dosanya. Bukankah Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;مر رجل بغصن شجرة على ظهر طريق فقال: والله لأنحين هذا عن المسلمين لا يؤذيهم فأُدخل الجنة [ رواه مسلم ]&lt;br /&gt;"Seseorang lewat dijalan dan mendapati ranting kayu menghalangi jalan. Dia berkata, 'Demi Allah, aku akan menyingkirkannya agar tidak menyakiti kaum muslimin lain!' Dia pun dimasukkan ke dalam surga." &lt;br /&gt;Pada jiwa yang meremehkan amalan baik yang ringan, ada kejelekan dan keteledoran. Cukup baginya hukuman atas penghinaannya terhadap kebaikan yang kecil diharamkan dari keistimewaan agung yang dijelaskan oleh sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;من أماط أذى عن طريق المسلمين كتب له حسنة ومن تقبلت له حسنة دخل الجنة   (رواه البخاري في الأدب المفرد رقم 593 وهو في السلسلة الصحيحة 5/387)&lt;br /&gt;"Siapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin, dicatatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang diterima kebaikannya dia masuk surga." &lt;br /&gt;Mu'adz -radiallahu'anhu- berjalan bersama seorang lelaki. Muadz menyingkirkan batu dari jalan. Lelaki itu bertanya:&lt;br /&gt;"Apa yang kau lakukan?"&lt;br /&gt;Muadz berkata: "Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;من رفع حجراً من الطريق كتب له حسنة ومن كانت له حسنة دخل الجنة  (المعجم الكبير للطبراني 20/101، السلسلة الصحيحة 5/387)&lt;br /&gt;"Siapa yang menyingkirkan batu dari jalan, Allah catatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang memiliki kebaikan akan masuk surga." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Tidak peduli dengan kondisi kaum muslimin, tidak bersimpati dengan doa, sedekah maupun bantuan lain. &lt;br /&gt;Mati rasa terhadap penderitaan saudara-saudaranya di belahan bumi yang terbelenggu musuh, tertindas, teraniaya dan terkena bencana. Cukup baginya keselamatan dirinya sendiri. Ini adalah dampak lemahnya iman. Seorang mukmin justru sebaliknya. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;إن المؤمن من أهل الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد يألم المؤمن لأهل الإيمان كما يألم الجسد لما في الرأس   (ãÓäÏ ÃÍãÏ 5/340 æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ 1137)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya seorang mukmin bagi ahli iman seperti kepala pada tubuh. Seorang mukmin akan merasa sakit terhadap (penderitaan) ahli iman seperti sakitnya tubuh ketika merasa ada gangguan di kepalanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Memutuskan tali persaudaraan antara orang yang bersaudara. &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,&lt;br /&gt;ما تواد اثنان في الله عز وجل أو في الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب  وفي رواية: ففرق بينهما إلا بذنب } يحدثه أحدهما   (ÇáÈÎÇÑí Ýí ÇáÃÏÈ ÇáãÝÑÏ ÑÞã 401 æÃÍãÏ Ýí ÇáãÓäÏ 2/68 æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ 637)&lt;br /&gt;"Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang karena Allah -azzawajalla- atau dalam islam, kemudian berselisih, melainkan karena dosa yang pertama kali  dilakukan oleh salah seorang dari keduanya." &lt;br /&gt;Ini adalah dalil akan "karma" yang disebabkan oleh maksiat. Ia dapat menyebabkan terlepasnya ikatan persaudaraan dan memutuskannya. Keberutalan yang terkadang didapati seseorang dari saudaranya dikarenakan keimanan yang menurun, akibat dari maksiat yang dilakukannya; karena Allah menjatuhkan martabat pelaku maksiat di hati hamba-hamba-Nya. Dia hidup di antara manusia dengan keadaan yang buruk, tak bermartabat, sulit keadaan lagi tidak terhormat. Terluput juga darinya kemuliaan sebagai orang yang beriman serta pembelaan Allah, sesungguhnya allah hanya membela  orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk mengamalkan agama ini. Tidak berupaya untuk menyebarkan dan berkhidmat kepada agama ini. &lt;br /&gt;Bertolak belakang dengan para sahabat Nabi -shalallahu alaihi wasalam- yang ketika memeluk Islam langsung merasa memiliki tanggung jawab. Lihatlah Tufail Ibn Amr -radiallahu'anhu-, berapa sering dia mondar-mandir menjelaskan Islam kepada kabilahnya, menyeru kepada Allah -azzawajalla-?! Dia bersegera mendakwahi kaumnya. Spontan setelah memeluk Islam dia langsung merasa harus kembali kepada kaumnya, kembali sebagai seorang dai (juru dakwah) penyeru kepada Allah -subhanahu wata'âla-. &lt;br /&gt;Namun sekarang ini kebanyakannya membutuhkan waktu lama antara komitmen beragama hingga sampai pada tahap dakwah kepada Allah -azzawajalla-.&lt;br /&gt;Para sahabat Muhammad -shalallahu alaihi wasalam- memahami bahwa konsekuensi memeluk Islam adalah memusuhi kekafiran, berlepas diri, serta memisahkan diri dari mereka. Tsumamah Ibn Atsâl -radiallahu'anhu-, pemimpin Yamamah, ketika tertawan dibawa dan diikat di masjid. Nabi menawarkan kepadanya untuk memeluk Islam. Allah memberinya cahaya (keimanan) menerima Islam. Setelah memeluk Islam dia berangkat umrah. Ketika sampai di Mekkah, dia berkata kepada kaum Quraisy:&lt;br /&gt;"Tidak akan  sampai kepada kalian sebutir gandum pun dari Yamamah, sampai Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- mengizinkannya." &lt;br /&gt;Pemisahan dirinya dengan kaum kafir dan pemboikotan secara ekonomi terhadap kafir Quraisy merupakan bentuk upaya yang mungkin dan tersedia untuk berkhidmat dalam dakwah. Ini terjadi secara langsung sebagai buah keimanan yang mantap sehingga berdampak pada munculnya perbuatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Cemas dan ketakutan ketika datang musibah atau terjadi masalah. &lt;br /&gt;Engkau mendapatinya gemetar ketakutan, terganggu keseimbangannya, linglung, egois dan bingung dengan keadaannya ketika tertimpa bencana dan musibah. Jalan keluar tertutup dari pandangannya, dikuasai kegundahan, tidak dapat menghadapi kenyataan dengan stabil dan  dengan hati/kalbu yang kuat. Itu semua dikarenakan lemah iman. Seandainya imannya kuat, tentu dia akan bertahan. Dia akan dapat menghadapi sebesar dan separah apa pun musibah dan bencana dengan kuat dan teguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Banyak berdebat, pamer lagi keras hati. &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;ما ضل قوم بعد هدى كانوا عليه إلا أتوا الجدل   (ÑæÇå ÃÍãÏ Ýí ÇáãÓäÏ 5/252 æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ 5633)&lt;br /&gt;"Tidaklah tersesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk atas apa yang mereka lakukan, melainkan setelah melakukan perdebatan."   &lt;br /&gt;Perdebatan tanpa dalil dan tanpa tujuan yang benar membuat jauh dari jalan yang lurus. Berapa banyak perdebatan manusia hari ini yang dilakukan dengan cara yang batil, berdebat dengan tanpa dalil dan tanpa petunjuk hadits maupun al-Quran. &lt;br /&gt;Cukuplah untuk dapat meninggalkan bagian tercela ini sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقاً   (ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ 5/150 æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ 1464)&lt;br /&gt;"Aku adalah pemimpin pada rumah di dasar surga bagi yang meninggalkan riya  (pamer), sekalipun benar."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Cinta dunia, sangat bernafsu dan berhasrat terhadapnya.&lt;br /&gt;Ketergantungan hatinya kepada dunia sampai kepada tingkatan akan merasa sakit jika ada kesempatan yang luput darinya, baik dalam bentuk harta, kehormatan, kedudukan maupun tempat tinggal. Menganggap diri bodoh dan buruk perencanaan hanya karena tidak bisa mendapat apa yang didapatkan orang lain. Dia merasa sakit dan amat tertekan jika melihat saudaranya memperoleh apa yang tidak didapatkannya dari kesempatan dunia. Bahkan terkadang mendengki dan mengharap nikmat itu sirna dari saudaranya. Ini bertentangan dengan iman, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;لا يجتمعان في قلب عبد الإيمان والحسد   (ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ 5/150 æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ 1464)&lt;br /&gt;"Tidaklah berkumpul di dalam kalbu seorang hamba antara keimanan dan kedengkian." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Mengambil ucapan seseorang dan retorika naluriah akal semata dengan mengesampingkan sisi imaniah. Bahkan hampir-hampir engkau tidak mendapati dalam pembicaraannya unsur al-Quran, sunah atau perkataan generasi pendahulu Islam (salaf) -rahimahullah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Pemanjaan diri yang berlebihan dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan. &lt;br /&gt;Engkau dapati dia begitu konsentrasi dengan kebutuhan tersier (bukan kebutuhan pokok) dengan perhatian yang berlebihan. Memuaskan diri dan memaksakan diri membeli pakaian yang mahal, menikmati interior mewah dan menghamburkan harta dan waktunya untuk kemewahan yang bukan kebutuhan darurat (primer), padahal saudaranya dari kaum muslimin di sekitarnya ada yang sangat berhajat kepada harta itu. Dia terhanyut hingga tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan yang dilarang, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Muadz Ibn Jabal -radiallahu'anhu- ketika diutus oleh Nabi -shalallahu alaihi wasalam- ke Yaman dengan wasiat:&lt;br /&gt;إياك والتنعيم  فإن عباد الله ليسوا بالمتنعمين  (ÑæÇå ÃÈæ äÚíã Ýí ÇáÍáíÉ 5/155 æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ 353 æÚäÏ ÃÍãÏ ÈáÝÙ ÅíÇí: ÇáãÓäÏ 5/243)&lt;br /&gt;"Hindarilah memuaskan diri, sesungguhnya hamba Allah bukanlah dia yang suka memuas-muaskan diri." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Penyebab Lemah Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah iman memiliki banyak sebab. Ada yang bertalian dengan gejalanya, seperti terjerumus dalam maksiat dan sibuk dengan dunia. Berikut ini sebab-sebab lain, tambahan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjauh dari suasana imaniah dalam waktu yang lama. &lt;br /&gt;Ini menjadi pemicu lemahnya iman dalam jiwa. Allah -azzawajalla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :    أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ١٦      (الحديد:16)&lt;br /&gt;"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS.al-Hadid:16)&lt;br /&gt;Ayat di atas menunjukkan bahwa: meninggalkan suasana imaniah dalam waktu lama menjadi pemicu lemahnya iman di dalam hati/kalbu. &lt;br /&gt;Permisalan: &lt;br /&gt;Seseorang yang menjauh dari saudara seiman dalam waktu lama karena safar, penugasan atau hal lain, akan kehilangan suasana imaniah yang didapatinya ketika bersama saudara-saudaranya. Kekuatan hatinya bersandar pada kebersamaan itu. Seorang mukmin lemah jika bersendirian dan kuat jika bersama saudaranya seiman. Al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- berkata:&lt;br /&gt;"Saudara-saudara seiman bagi kami lebih berharga dari pada keluarga. Keluarga mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara seiman mengingatkan kami tentang akhirat."&lt;br /&gt;Keterpisahan itu jika terus menerus berlangsung akan meninggalkan perasaan terbalik setelah beberapa lama. Merubahnya menjadi ketidaksukaan terhadap suasana imaniah. Berdampak pada hati/kalbu yang mengeras dan gelap, dan membuat cahaya iman menjadi padam. Inilah penjelasan mengenai fenomena kebiasaan buruk pada sebagian orang setelah berlibur, sepulang dari perjalanan wisata atau sekembalinya mereka dari tempat penugasan kerja atau pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjauh dari teladan yang saleh. &lt;br /&gt;Seseorang yang belajar kepada orang saleh, berarti mengumpulkan antara al-ilmu an-nâfi' (ilmu yang bermanfaat), amal saleh dan kekuatan iman. Tersambung secara teratur dengan keilmuan, akhlak dan keutamaan yang dimiliki sang guru. Jika menjauh beberapa waktu, sang murid akan merasa hatinya kembali mengeras. &lt;br /&gt;Karena itulah ketika Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- wafat dan dikuburkan, sahabat berkata, "Kalbu kami mengingkari". Mereka gusar, karena sang pendidik, pengajar dan teladan -shalallahu alaihi wasalam- telah wafat. Dalam kisah yang lain diceritakan: "mereka seperti biri-biri di gelap malam dalam hujan yang deras". &lt;br /&gt;Akan tetapi Nabi -shalallahu alaihi wasalam- meninggalkan di belakangnya orang-orang berkarakter gunung. Setiap mereka pantas untuk menggantikan dan menjadi teladan di antara mereka. Sekarang ini, kaum muslimin sangatlah berhajat kepada teladan seperti mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menjauh dari menuntut ilmu syariat dan tersambung dengan kitab-kitab salafussoleh maupun kitab imaniah yang menghidupkan hati. &lt;br /&gt;Terdapat berbagai kitab yang jika dibaca, pembacanya akan merasa keimanan mengalir dalam hati/kalbunya. Menggerakkan dan mendorong keimanan yang melekat dalam jiwanya. Kitab yang utama adalah Kitabulah, al-Quran dan Kitab Hadits kemudian kitab ulama Mujtahidin dalam masalah melembutkan hati, nasihat, dan yang piawai memaparkan masalah aqidah dengan metode yang menghidupkan hati, seperti kitab Alâmah Ibnul Qoyyim, Ibnu Rajab dan selain mereka. &lt;br /&gt;Terputus dari kitab-kitab seperti ini dan tenggelam dalam buku-buku filsafat saja atau buku-buku hukum yang tidak terkandung dalil atau buku bahasa dan usul misalnya, terkadang mewariskan kekerasan hati. Ini bukanlah celaan pada buku bahasa, usul atau yang sepertinya, tetapi peringatan bagi yang berpaling dari kitab-kitab tafsir dan hadits yang hampir-hampir engkau dapati tidak dibaca, padahal dia adalah kitab yang menghantarkan hati/kalbu kepada Allah -azzawajalla-. &lt;br /&gt;Ketika membaca kitab hadits Shahihain misalnya, engkau akan merasa hidup pada masa generasi awal bersama Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan para sahabatnya. Dapat merasakan suasana keimanan dari sejarah, kehidupan dan kejadian-kejadian yang berlangsung pada masa mereka.&lt;br /&gt;Sebuah ungkapan:&lt;br /&gt;Ahlul hadits adalah ahlu Rasul. Sekalipun mereka tidak menemani secara fisik tetapi jiwa mereka menemaninya.&lt;br /&gt;Sebab ini –yaitu menjauhi kitab-kitab imani-, dampaknya begitu nyata terhadap mereka yang mempelajari materi-materi yang tidak berhubungan dengan Islam, seperti filsafat, ilmu jiwa, sosiologi dan materi-materi lain yang memalingkan dari materi Islam. Termasuk pada penikmat komik-komik, kisah percintaan, gairah maupun mengikuti berita-berita yang tidak (/kurang) bermanfaat dari koran-koran, majalah-majalah dsb dan intens mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keberadaan seorang muslim di tengah ingar-bingar kemaksiatan. &lt;br /&gt;Si fulan berbangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya, sebagian lagi bersenandung musik, sebagian lagi tenggelam dengan kepulan asap rokoknya, sebagian lagi terlena dengan majalah amoralnya, sebagian lagi lisannya tak lepas dari laknat, mencela dan mengumpat dst. Pembicaraan gosip, gibah (bergunjing), adu domba dan berita-berita pertandingan, menjadi suatu yang tidak bisa dihitung banyaknya.&lt;br /&gt;Sebagian majelis tidak disebut kecuali urusan dunia, seperti keadaan kebanyakan majelis dan perkantoran hari ini. Pembicaraan tentang perdagangan, pekerjaan, uang, investasi, problem kerja, kenaikan gaji, promosi, tunjangan dsb menguasai kepedulian banyak orang dalam pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;Sedangkan di rumah –tak mengapa kita ungkapkan - malapetaka dan perkara-perkara mungkar membuat kening muslim berkerut dan membuat kalbu terhenyak. Musik cabul, film porno, percampuran antara peria dan wanita (yang bukan mahram) dan kemungkaran lain yang memenuhi rumah-rumah kamu muslimin. Lingkungan seperti ini akan membuat hati menjadi sakit dan menjadi keras tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Larut dalam rutinitas dunia hingga hati/kalbunya tersandera. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;تعس عبد الدينار  وعبد الدرهم   (ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí ÑÞã 2730)&lt;br /&gt;"Celakalah hamba dinar dan hamba dirham"   &lt;br /&gt;Sabdanya pula -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;إنما يكفي أحدكم ما كان في الدنيا مثل زاد الراكب   (ÑæÇå ÇáØÈÑÇäí Ýí ÇáßÈíÑ 4/78 æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ 2384)&lt;br /&gt;"Sesungguh cukuplah bagi kalian dari perkara dunia seperti berbekalnya seorang yang berkendaraan." &lt;br /&gt;Maksudnya sekadarnya, sekadar cukup sampai ke tujuan. &lt;br /&gt;Apa yang di sampaikan di atas adalah realita yang terjadi sekarang ini, di mana kerakusan terhadap materi dan ketamakan memiliki lebih dari berbagai sisi dunia, menjadikan manusia mengendus-endus di belakang perdagangan, produksi dan investasi-investasi. Benarlah sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-&lt;br /&gt;إن الله عز وجل قال: إنا أنزلنا المال لإقام الصلاة وإيتاء الزكاة ولو كان لابن آدم واد لأحب أن يكون إليه ثان ولو كان له واديان لأحب أن يكون إليهما ثالث  ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب ثم يتوب الله على من تاب   (ÑæÇå ÃÍãÏ 5/219 æåæ ÝÝí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ 1781)&lt;br /&gt;"Allah -azzawajalla- berfirman: 'Sesungguhnya kami turunkan (keberadaan) harta untuk menegakkan shalat dan membayar zakat. Seandainya anak keturunan Adam memiliki satu danau harta niscaya dia ingin memilik dua, jika dia memiliki dua danau niscaya ingin memiliki tiga danau. Dan tidaklah anak Adam akan puas kecuali setelah dipenuhi tenggorokannya oleh tanah, lalu Allah mengampuni siapa saja yang bertaubat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sibuk dengan harta, istri (wanita) dan anak. &lt;br /&gt;Allah -azzawajalla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَة  (الأنفال:28)&lt;br /&gt;"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan..." (QS.al-Anfâl:28)&lt;br /&gt;Dan firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمََٔابِ ١٤   (آل عمران:14)&lt;br /&gt;"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS.Ali Imrân:14)&lt;br /&gt;Makna dari ayat di atas, bahwa kecintaan kepada dunia, -kepada wanita dan anak-anak yang terdepan-, jika lebih didahulukan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dianggap buruk dan pelakunya tercela. Adapun jika kecintaan itu sesuai implementasi syariat, yang membantu dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu terpuji. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;حبب إليّ من الدنيا النساء والطيب وجعل قرة عيني في الصلاة  (رواه أحمد 3/128 وهو في صحيح الجامع 3124)&lt;br /&gt;"Dicintakan kepadaku dari dunia; wanita dan minyak wangi dan dijadikan penyejuk pandanganku pada shalat." &lt;br /&gt;Kebanyakan orang terbuai memuaskan istri sampai pada perkara-perkara haram dan terbuai memuaskan anak-anaknya hingga tersibukkan dari ketaatan kepada Allah. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- telah bersabda:&lt;br /&gt;الولد محزنة مجبنة مجهلة مبخلة  (رواه الطبراني في الكبير 24/241 وهو في صحيح الجامع 1990)&lt;br /&gt;"Anak pembuat kesedihan, kepengecutan, kebodohan juga kebakhilan." &lt;br /&gt;مخبلة (pembuat kebakhilan) : jika seseorang ingin berinfak di jalan Allah, setan mengingatkannya kepada anak-anaknya, sehingga mengatakan, "Anak-anakku lebih berhak. Akan aku tabung untuk mereka, sepeninggalku mereka akan membutuhkannya". Sehingga menjadi bakhil untuk berinfak di jalan Allah.&lt;br /&gt;مجبنة  (pembuat kepengecutan) : jika ia akan berjihad di jalan Allah, setan datang dan berkata kepadanya, "Engkau akan terbunuh dan anak-anakmu akan menjadi yatim!" Sehingga dia pun urung dan tidak pergi jihad.&lt;br /&gt;مجهلة (pembuat kebodohan) : ia menjadi tersibukkan dari menuntut ilmu dan hadir di majelis-majelis ilmu maupun membaca kitab ilmu.&lt;br /&gt;محزنة (pembuat kesedihan) : jika anak sakit ia menjadi sedih. Jika anak meminta sesuatu yang dia tidak mampu, dia menjadi sedih. Jika anak besar dan durhaka kepadanya, menjadikannya sedih dan terus menerus dalam kegalauan.&lt;br /&gt;Hadits di atas bukan memaksudkan untuk tidak menikah dan memiliki keturunan atau mendidik anak-anak. Tetapi maksudnya adalah memperingatkan agar tidak tersibukkan karena itu semua dalam perkara haram.&lt;br /&gt;Mengenai fitnah harta, Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;إن لكل أمة فتنة  وفتنة أمتي المال   (رواه الترمذي 2336 وهو في صحيح الجامع 2148)&lt;br /&gt;"Setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta."  &lt;br /&gt;Ambisi terhadap harta lebih sangat merusak agama dari pada serigala yang menguasai kawanan domba. Inilah makna sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;ما ذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه   (رواه الترمذي رقم 2376 وهو في صحيح الجامع 5620)&lt;br /&gt;"Tidaklah dua ekor serigala lapar masuk ke kawanan domba lebih merusak dari pada ambisi seseorang kepada harta dan tahta terhadap agamanya."  &lt;br /&gt;Karenanya Nabi -shalallahu alaihi wasalam- menganjurkan mengambil sekadar cukup tanpa berlebihan sehingga tidak menyibukkan dari berzikir kepada Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;إنما يكفيك من جمع المال خادم ومركب في سبيل الله   (رواه أحمد 5/290 وهو في صحيح الجامع 2386)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya cukup bagimu mengumpulkan harta sebagai pelayan dan kendaraan di jalan Allah."  &lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasalam- telah mengancam mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang suka bersedekah. Sabdanya,&lt;br /&gt;وَيْلٌ لِلْمُكْثِرِينَ إِلاَّ مَنْ قَالَ بِالْمَالِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا   (رواه ابن ماجه رقم 4129 وهو في صحيح الجامع 7137)&lt;br /&gt;"Celakalah mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang berkata dengan hartanya, demikian, demikian, demikian dan demikian ." &lt;br /&gt;Memberikannya ke empat arah; kanan, kiri, depan dan belakangnya  . &lt;br /&gt;Maksudnya hartanya disedekahkan dan digunakan untuk amalan-amalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Panjang Angan-angan. &lt;br /&gt;Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :   ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ     (الحجر:3)&lt;br /&gt;“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS.al-Hijr:3)&lt;br /&gt;Ali -radiallahu'anhu- berkata,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dari hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah memperturutkan hawa nafsu dan panjang angan-angan. Memperturutkan hawa nafsu menyimpangkan dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan menjadikan lupa pada akhirat.” &lt;br /&gt;Dalam asar lain:&lt;br /&gt;“Ada empat penderitaan: pandangan yang kaku, hati yang keras, panjang angan-angan, tamak dengan dunia.”&lt;br /&gt;Panjang angan-angan membuat malas untuk berbuat ketaatan, jadi penunda, gila dunia, lupa akhirat serta hati yang mengeras. Karena kelembutan hati dan kebersihannya terjadi dengan mengingat kematian, alam kubur, pahala, dosa dan keadaan hari kiamat, sebagaimana firman Allah,&lt;br /&gt;قال تعالى :   فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ  ۖ   (الحديد:16)&lt;br /&gt;“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. “ (QS.al-Hadîd:16)&lt;br /&gt;Sebuah ungkapan: &lt;br /&gt;“Siapa yang pendek angan-angannya akan sedikit kegundahannya dan bercahaya hatinya, karena ketika teringat kematian dia akan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan...”  &lt;br /&gt;8. Yang juga menjadi sebab lemah iman dan kerasnya hati; berlebihan dalam makan, tidur, bergadang, bicara dan bercampur dengan manusia. &lt;br /&gt;Banyak makan memampatkan pikiran, memberatkan badan dalam berbuat ketaatan dan menyuplai tempat jalan setan pada diri manusia, sebagaimana sebuah ungkapan:&lt;br /&gt;من أكل كثيراً شرب كثيراً فنام كثيراً وخسر أجراً كبيراً&lt;br /&gt;"Siapa yang banyak makannya akan banyak minum dan tidurnya sehingga rugi banyak pahala."&lt;br /&gt;Berlebih-lebihan dalam bicara mengeraskan hati. Banyak bercampur dengan manusia menghalangi seseorang dari mengintrospeksi diri dan merenungi urusan-urusannya. Banyak tertawa menghilangkan rasa malu dalam hati dan mematikannya. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dalam hadits sahih:&lt;br /&gt;لا تكثروا الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب   (رواه ابن ماجه 4193 وهو في صحيح الجامع)&lt;br /&gt;"Jangan perbanyak tertawa, sesungguhnya banyak tertawa mematikan hati."  &lt;br /&gt;Demikian pula waktu yang tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah menghasilkan hati yang gersang, tidak bermanfaat baginya peringatan al-Quran dan nasihat keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lemah iman banyak, tidak dapat dibatasi. Akan tetapi mungkin mengambil petunjuk dari apa yang telah disebutkan apa-apa saja yang belum disebutkan. Orang yang berakal dapat menemukannya sendiri. Kita meminta kepada Allah agar membersihkan hati kita dan melindunginya dari keburukan jiwa-jiwa kita.&lt;br /&gt;Ketiga: Terapi lemah iman.&lt;br /&gt;Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab Mustadroknya juga at-Thabarani dalam Mu'jamnya bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;إن الإيمان ليخلق في جوف أحدكم كما يخلق الثوب فاسألوا الله أن يجدد الإيمان في قلوبكم  (ÑæÇå ÇáÍÇßã Ýí ÇáãÓÊÏÑß 1/4 æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ 1585 æÞÇá ÇáåíËãí Ýí ãÌãÚ ÇáÒæÇÆÏ 1/52 ÑæÇå ÇáØÈÑÇäí Ýí ÇáßÈíÑ æÅÓäÇÏå ÍÓä)&lt;br /&gt;"Sungguh keimanan itu dibuat di dalam diri tiap kalian seperti dibuatnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui keimanan kalian." &lt;br /&gt;Maksudnya bahwa iman ditambal sulam di dalam kalbu seperti pakaian yang ditambal sulam jika sudah menjadi usang. Kalbu seorang mukmin terkadang terselubungi debu dari debu kemaksiatan sehingga menjadi gelap. Gambaran seperti ini digambarkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya dalam hadits yang sahih:&lt;br /&gt;ما من القلوب قلب إلا وله سحابة كسحابة القمر بينا القمر مضيء إذ علته سحابة فاظلم  إذ تجلت عنه فأضاء   (ÑæÇå ÃÈæ äÚíã Ýí ÇáÍáíÉ 2/196 æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ 2268)&lt;br /&gt;"Tidak ada kalbu melainkan memiliki selubung seperti selubung bulan. Dia bercahaya, tetapi ketika terselubungi menjadi gelap, jika selubungnya tersingkap ia kembali bersinar."  &lt;br /&gt;Bulan terkadang terselubungi awan sehingga menutupi bias cahayanya. Beberapa waktu kemudian awan itu berlalu dan bulan kembali memancarkan bias cahayanya dan menerangi langit. Demikian pula dengan kalbu orang yang beriman, terkadang dia terselubungi oleh awan gelap dosa akibat maksiat, sehingga cahayanya tertutup, sehingga manusia itu dalam kegelapan dan kegalauan. Jika dia berupaya untuk menambah imannya dan meminta pertolongan Allah -azzawajalla-, gelap dosa yang menyelubungi itu tersingkap, sehingga cahayanya kembali seperti semula.&lt;br /&gt;Di antara pilar penting memahami lemah iman dan memetakan terapinya adalah pengetahuan bahwa iman bertambah dan berkurang. Ini merupakan keyakinan Ahlussunnah Wal Jama'ah. Mereka mengatakan bahwa iman merupakan ucapan lisan, keyakinan hati dan amalan tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Quran dan Sunah. Di antaranya firman Allah -ta'âla-:&lt;br /&gt;قال تعالى :  لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ     (ÇáÝÊÍ:4)&lt;br /&gt;"...supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath:4)&lt;br /&gt;Dan firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ    ( ÇáÊæÈÉ:124)&lt;br /&gt;"... 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?'..." (QS.at-Taubah:124)&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان   (ÇáÈÎÇÑí ÝÊÍ 1/51)&lt;br /&gt;"Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah merubah hal itu dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, jika tidak sanggup maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman."  &lt;br /&gt;Pengaruh ketaatan dan maksiat dalam keimanan berbanding lurus dengan penambahan dan pengurangannya. Hal ini bisa dimaklumi dan terjadi. Jika seseorang pergi ke pasar menonton penampilan para perempuan berbusana minim, mendengar gurauan dan kekonyolan obrolan orang yang ada di pasar, kemudian beralih pergi ke perkuburan, merenungi dirinya, maka dia akan mendapatkan perbedaan yang jelas antara kedua keadaan di atas, kalbunya begitu cepat berubah.&lt;br /&gt;Terkait dengan tema ini, para Salafussoleh berkata,&lt;br /&gt;"Bentuk kefakihan seorang hamba adalah berkomitmen dengan keimanannya dari apa-apa yang menguranginya. Dan di antara bentuk kefakihan seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang. Dan di antara kefakihan seseorang itu mengetahui bilamana gangguan setan itu datang.” &lt;br /&gt;Yang perlu diketahui bahwa manakala imannya berkurang hingga membuatnya meninggalkan kewajiban atau sampai melakukan perbuatan haram atau urung melakukan perbuatan “mustahabah” (baik), misalnya, maka dia musti mengupayakan semampunya agar dapat kembali kepada semangat dan kekuatannya semula dalam beribadah kepada Allah. Inilah manfaat yang dapat diambil dari sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:&lt;br /&gt;لكل عمل شرة - يعني نشاط وقوة - ولكل شرة فترة - يعني ضعف وفتور - فمن كانت فترته إلى سنتي فقد أفلح ومن كانت إلى غير ذلك فقد هلك  (ÑæÇå ÃÍãÏ 2/210 æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÊÑÛíÈ ÑÞã 55)&lt;br /&gt;"Pada setiap amalan ada massa semangat, dan pada tiap massa semangat ada masa lemah. Siapa yang massa lemahnya dalam melakukan sunahku, maka dia beruntung dan siapa yang lemahnya kepada hal lain sungguh dia binasa." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk pada pembicaraan mengenai pengobatan, ada baiknya menyebutkan beberapa catatan:&lt;br /&gt;Kebanyakan mereka yang merasa hatinya mengeras mencari pengobatan eksternal, ingin bergantung dengan orang lain, padahal -jika mau– dia dapat mengobati dirinya sendiri, dan begitulah pada asalnya. Karena iman adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan-Nya. &lt;br /&gt;Berikut ini akan disebutkan beberapa wasilah syariat yang mungkin bagi seorang muslim mengobati lemah imannya dan menghilangkan kekerasan hatinya setelah berserah diri kepada Allah -azzawajalla- dan bertekat untuk berupaya:&lt;br /&gt;1. Menadaburi al-Quran al-Adhzim yang diturunkan Allah -azzawajalla- yang merupakan obat segala sesuatu dan cahaya, yang dengannya Allah menunjuki siapa saja yang dikehendakinya. Tidak diragukan padanya terdapat terapi yang agung dan obat yang efektif. Allah -azzawajalla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ  (الإسراء:82)&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..." (QS.al-Isrâ: 82)&lt;br /&gt;Adapun cara terapinya adalah dengan tafakur dan “tadabur” (merenunginya).&lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- senantiasa menadaburi kitab Allah dan mengulang-ulangi bacaannya ketika shalat di malam hari. Sampai-sampai pada suatu malam hanya mengulang-ulang bacaan satu ayat dalam shalatnya hingga subuh. Beliau membaca firman Allah -ta'âla-:&lt;br /&gt;قال تعالى :    إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١١٨    (المائدة:118)&lt;br /&gt;"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS.al-Maidah:118)  &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menadaburi al-Quran hingga sampai pada tahap yang agung. Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam sahihnya dengan sanad yang baik dari Itharah, katanya:&lt;br /&gt;"Aku dan Ubaidullah Ibn Amr mendatangi Aisyah -radiallahu'anha-. Ubaidullah berkata, 'Ceritakan kepada kami sesuatu yang menakjubkan yang engkau lihat dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-!' &lt;br /&gt;(Aisyah menangis) seraya berkata, &lt;br /&gt;'Pada suatu malam Rasulullah shalat malam dan berkata, 'Wahai Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Tuhan-ku.'&lt;br /&gt;Aku jawab, 'Demi Allah, aku suka berada dekat denganmu dan suka apa pun yang menyenangkanmu.’&lt;br /&gt;Nabi pun pergi bersuci kemudian melaksanakan shalat. Rasulullah terus saja menangis dalam shalatnya hingga pangkuannya basah dan terus saja menangis hingga lantai pun basah. Ketika Bilal datang untuk mengumandangkan azan, dia melihat Rasulullah menangis dan bertanya, &lt;br /&gt;'Wahai Rasulullah, engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?!'&lt;br /&gt;Rasulullah menjawab,&lt;br /&gt;'Tidakkah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?!' Telah turun kepadaku tadi malam ayat-ayat yang celakalah bagi yang membacanya tetapi tidak mentafakuri isinya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ    ( آل عمران:190)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ...." (QS. Ali Imraân:190)" &lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan akan wajibnya menadaburi ayat-ayat-Nya.&lt;br /&gt;Pada al-Quran terkandung: “tauhid” (pengesaan), janji, harapan, hukum-hukum, berita dan kisah-kisah, adab, akhlak maupun berbagai macam pengaruh pada jiwa. Terdapat juga surat-surat tertentu yang membuat hati bergetar melebihi surat-surat yang lain, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda Nabi:&lt;br /&gt;شيبتني هود وأخواتها قبل المشيب   (السلسلة الصحيحة 2/679)&lt;br /&gt;"Kisah Hud dan kaumnya telah membuatku beruban sebelum waktunya."  &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain (disebutkan beberapa ayat):&lt;br /&gt;هود والواقعة والمرسلات وعم يتساءلون وإذا الشمس كورت  (رواه الترمذي 3297 وهو في السلسلة الصحيحة برقم 955)&lt;br /&gt;"(yaitu) Surat Hud, al-Waqiah, al-Mursalât, Amma yatasa'alun dan Idzas Syamsu Kuwwirot." &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menjadi beruban karena apa yang terkandung dari hakikat iman dan pembebanan yang besar yang memenuhi dan memberatkan batin Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- sehingga terlihat pengaruhnya pada rambut dan jasadnya. &lt;br /&gt;قال تعالى :  فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ     (الهود:112)&lt;br /&gt;"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu .... (QS.al-Hûd:112) &lt;br /&gt;Para sahabat Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- membaca al-Quran, menadaburinya dan mendapati pengaruhnya. Abu Bakar -radiallahu'anhu- adalah seorang lelaki yang suka menyesali diri lagi lembut hatinya. Jika mengimami shalat dan membaca Kalamullah, tidak kuasa menahan diri dari tangisnya. Umar pun pernah sakit setelah membaca firman Allah -ta'âla- :&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ٧     ( الطور:7)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya azab Tuhan-mu pasti terjadi." (QS. At-Thûr:7)  &lt;br /&gt;Isak tangisnya terdengar dari saf di belakangnya ketika beliau membaca firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Ya'kub:&lt;br /&gt;قال تعالى :  قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٨٦   ( يوسف:86)&lt;br /&gt;"Ya'qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya’." (QS. Yusuf:86) .&lt;br /&gt;Utsman -radiallahu'anhu- berkata:&lt;br /&gt;"Jika batin kita bersih, hati tidak akan berhenti berpuas-puas dengan Kalamulah."&lt;br /&gt;Utsman -radiallahu'anhu- syahid terbunuh, terzalimi dan darahnya membasahi mushaf al-Quran. Berita tentang hal ini dari para sahabat Nabi banyak sekali. &lt;br /&gt;Ayub berkata, "Aku mendengar Sa'id Ibn Jubair mengulang-ulangi bacaan ayat berikut ini dalam shalatnya lebih dari 20 kali:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ     (البقرة:281)&lt;br /&gt;"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah...." (QS. Al-Baqarah:281)  &lt;br /&gt;Ia merupakan ayat al-Quran yang terakhir turun, yang kelanjutannya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ     &lt;br /&gt;"...kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."&lt;br /&gt;Ibrahim Ibn Basyâr berkata: &lt;br /&gt;"Ayat yang menghantar wafatnya Ali Ibn al-Fudhail: &lt;br /&gt;قال تعالى :   وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بَِٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٧    (الأنعام:27)&lt;br /&gt;"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman." (QS. Al-An'am:27)&lt;br /&gt;Pada saat pembacaan ayat inilah Ali Ibn al-Fudhail wafat, dan aku termasuk orang yang menyalatkan jenazahnya -rahimahullah-. &lt;br /&gt;Hingga pada saat sujud tilawah  pun mereka terpengaruh. Di antaranya kisah seorang lelaki yang membaca firman Allah -azzawajalla-:&lt;br /&gt;قال تعالى:  وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا۩ ١٠٩  (الإسراء:109)&lt;br /&gt;"Dan mereka menyungkurkan muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk'." (QS.al-Isra':109)&lt;br /&gt;Dia pun melakukan sujud tilawah. Kemudian dia berkata mencela dirinya: "Ini adalah sujud, tetapi di mana tangisannya?"&lt;br /&gt;Di antara tadabur yang efektif adalah memperhatikan perumpamaan-perumpamaan al-Quran, karena Allah -subhanahu wata'âla- memberi permisalan dalam al-Quran untuk menggugah kita berpikir dan merenung. Firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى  وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ  (إبراهيم:25)&lt;br /&gt;"...Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim:25)&lt;br /&gt;Firman-Nya yang lain:&lt;br /&gt;قال تعالى  وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ   (الحشر:21)&lt;br /&gt;"...dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (QS.al-Hasyr:21)&lt;br /&gt;Salah seorang salaf, suatu kali mencoba memikirkan permisalan dari permisalan yang ada dalam al-Quran, namun dia tidak dapat memahaminya. Dia pun kemudian menangis. Ketika ditanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Dia menjawab, &lt;br /&gt;"Allah -subhanahu wata'âla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣   ( ÇáÚäßÈæÊ:43)&lt;br /&gt;"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS.al-Ankabût: 43)&lt;br /&gt;Aku tidak dapat memahaminya, berarti aku bukan termasuk orang berilmu. Aku menangisi ilmu yang luput dariku.”&lt;br /&gt;Allah telah memberikan permisalan kepada kita dalam al-Quran dalam jumlah yang banyak, di antaranya: permisalan orang yang menyalakan api, permisalan penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar, permisalan biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, permisalan anjing yang menjulurkan lidah, permisalan keledai yang membawa tumpukan kitab, permisalan lalat, laba-laba, permisalan orang buta dan tuli, permisalan orang yang dapat melihat dan mendengar, perumpamaan tumpukan pasir yang ditiup angin kencang, permisalan pohon yang baik dan pohon yang buruk, permisalan air yang turun dari langit dan lentera yang di dalamnya terdapat cahaya api, permisalan seorang budak yang tak dapat berbuat apa-apa dengan seorang yang memiliki banyak sekutu, serta permisalan-permisalan lain. Maksudnya adalah memperhatikan ayat-ayat yang mengandung permisalan-permisalan itu dan memperlakukannya dengan pelakuan khusus.&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim -rahimahullah- merangkum apa-apa yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim untuk menterapi kekerasan hatinya dengan al-Quran, dengan mengatakan:&lt;br /&gt;"Penuntasnya pada dua perkara: pertama: engkau pindahkan hatimu dari wilayah dunia lalu menempatkannya di wilayah akhirat, kemudian pertemukan hati itu seluruhnya dengan makna al-Quran dan kemuliaannya, tadaburi dan pahami apa maksudnya, untuk apa diturunkan, dan ambil yang kau butuhkan dari setiap ayat-ayatnya. Lekatkan ayat-ayat itu pada penyakit hatimu, jika ayat-ayat itu menyentuh hatimu yang sakit, sembuhlah hati itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Merasakan keagungan Allah -azzawajalla-. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta merenungi dan memahami maknanya. &lt;br /&gt;Menetapi perasaan itu dalam hati dan mengalirkannya ke seluruh tubuh agar direalisasikan dalam praktek amal sesuai dengan perintah hati, karena hati adalah raja dan tuannya, sedangkan anggota tubuh sebagai tentara dan pengikutnya. Jika hati itu baik, baik pulalah amalannya, tapi jika buruk, buruk pulalah amalnya.&lt;br /&gt;Nas-nas al-Quran dan sunah mengenai keagungan Allah banyak sekali. Jika seorang muslim merenungkannya, hati akan bergetar dan jiwanya akan tunduk kepada Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Turut pula tunduk anggota tubuhnya kepada Zat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kekhusyukannya kepada Tuhan seluruh makhluk bertambah. Itu bisa dilihat dari nama-nama-Nya yang banyak dan sifat-sifat-Nya yang suci. Dia Maha Agung, Maha Memelihara, Maha Kuasa, Pemilik segala keagungan, Maha Kuat lagi  Maha Mengalahkan, Maha besar lagi Maha tinggi. Yang Hidup dan tidak akan mati, sementara jin dan manusia mengalami kematian. Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para Malaikat karena takut kepada-Nya, Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab, terus menerus mengurus makhluk-Nya lagi tidak pernah tidur. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Keluasan ilmunya dideskripsikan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩  &lt;br /&gt; ( الأنعام :59)&lt;br /&gt;“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. al-An’âm:59) &lt;br /&gt;Mengenai keagungan-Nya, Allah sendiri mengabarkan:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٧  ( الزمر:67)&lt;br /&gt; “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.az-Zumar:67)&lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya, kemudian berkata, “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia?!” &lt;br /&gt;Hati berdebar-debar dan gemetar ketika merenungi kisah Nabi Musa –alaihissalam-, ketika berkata: &lt;br /&gt;قال تعالى :  رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ &lt;br /&gt;Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau"&lt;br /&gt;Allah menjawab:&lt;br /&gt;قال تعالى :  قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكّٗا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٤٣  (الأعراف:143)&lt;br /&gt;Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".&lt;br /&gt;(QS.al-A’raf:143)&lt;br /&gt;Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menafsirkan ayat ini yang dibacanya sendiri beliau mengisyaratkan dengan tangannya demikian (beliau meletakkan jempol pada buku atas jari kelingking, kemudian -shalallahu alaihi wasallam- berkata, “Gunungpun runtuh.”  &lt;br /&gt;Allah -subhanahu wata'âla- hijabnya cahaya, jika disingkap niscaya terbakarlah seluruh makhluknya. &lt;br /&gt;Di antara keagungan Allah, apa yang disebutkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-. Sabdanya,&lt;br /&gt;إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعاناً لقوله كأنه سلسلة على صفوان فإذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا للذي قال الحق وهو العلي الكبير    (رواه البخاري 7043)&lt;br /&gt;"Jika Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya, tunduk dengan firman-Nya, seperti rantai di atas batu licin. Jika tersadar dari keterkejutan mereka bertanya, 'Apa yang dikatakan Tuhan kalian?' Sebagian menjawab, 'Yang mengatakan al-Hak adalah Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar'." &lt;br /&gt;Nas-nas dalam hal ini banyak sekali. Maksudnya bahwa merasakan keagungan Allah dengan merenungi nas-nas tersebut termasuk yang paling bermanfaat dalam menterapi lemah iman. &lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim mendeskripsikan keagungan Allah dengan ungkapan yang indah:&lt;br /&gt;"Allah mengatur malaikat, memerintah dan melarang, mencipta, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan, memuliakan dan menghinakan, menggantikan malam dengan siang, merotasi hari di antara manusia, melengserkan negeri dan menggantinya dengan yang lain, perintah dan kekuasaan-Nya terlaku pada seluruh langit dan bumi, di permungkaan maupun di dalamnya, di lautan dan udara, ilmunya meliputi segala sesuatu dan mengetahui detail jumlah. Pendengaranya mencapai segala sesuatu, tidak tercampur dan tidak tersamarkan, bahkan mendengar kebisingan dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan hajat mereka. Tidak teralihkan antara satu suara dengan suara lain, tidak tercampur karena banyaknya permintaan, tidak silap dengan banyaknya rintihan mereka yang berhajat, penglihatan-Nya meliputi segala sesuatu, dapat melihat rayapan semut hitam di gurun luas pada malam gelap gulita, yang gaib bagi-Nya ada, yang rahasia bagi-Nya terang benderang..&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَسَۡٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ ٢٩   (الرحمن:29)&lt;br /&gt;(QS.ar-Rahman:29)&lt;br /&gt;Dia mengampuni dosa, memberi jalan keluar, menyingkap kesulitan, menambal yang pecah, mengayakan yang miskin, memberi petunjuk yang tersesat, memberi arahan yang bingung, menolong yang butuh, mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, menyembuhkan yang sakit, memberi keafiatan mereka yang terkena bala, menerima taubat, membalas perbuatan baik, menolong mereka yang teraniaya, menghukum orang yang bengis, menutupi aurat/aib, memberikan keamanan, memuliakan suatu kaum dan menghinakan yang lain.. jika penghuni seluruh langit dan bumi, dari yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya setakwa orang yang paling takwa dari mereka, tidaklah hal itu menambah kerajaan-Nya sedikit pun, jika makhluk-Nya yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya sefajir orang yang paling fajir di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun, jika penghuni langit dan bumi yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya, yang masih hidup dan yang sudah mati, yang kering dan yang basah berkumpul di satu tempat kemudian seluruhnya meminta, niscaya akan diberikan masing-masing apa yang diminta, dan itu tidak mengurangi sebesar biji zarah pun apa yang ada padanya... Dia adalah yang pertama yang tidak ada sesuatu pun sebelumnya, dan Dia yang terakhir yang tidak ada sesuatu pun setelahnya, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, yang paling berhak disebut dan yang paling berhak diibadahi, yang pertama disyukuri, yang paling pemurah dan paling dermawan bagi yang meminta....Dia adalah raja yang tidak ada sekutu baginya, Esa tidak memiliki tandingan, tempat bergantung lagi tidak beranak, Maha Tinggi tidak ada yang menyerupai, segala sesuatu binasa kecuali WajahNya, segala sesuatu sirna kecuali kerajaan-Nya...tidak ada yang berbuat taat kecuali dengan izin-Nya, tidak dimaksiati kecuali dengan sepengetahuan-Nya, jika taat maka disyukuri, jika dimaksiati Dia mengampuni, segala bencana yang ditimpakan adalah keadilan dan segala nikmat yang dicurahkan adalah karunia, saksi yang paling dekat, penjaga yang membimbing, merekam setiap asar dan mencatat ajal, setiap hati kepada-Nya tunduk, dan rahasia bagi-Nya jelas, pemberian-Nya dengan kalam dan azab-Nya juga dengan kalam, firman-Nya,&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيًۡٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢   (íÓ:82)&lt;br /&gt;(QS.Yâsîn: 82) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menuntut ilmu syariat. Ia merupakan ilmu yang pencapaiannya membuahkan rasa takut kepada Allah dan menambah iman kepada Allah -azzawajalla-. Sebagaimana firman Allah -ta'âla-:&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ   (الفاطر:28)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama....” (QS.Fâthir:28)&lt;br /&gt;Tidaklah sama keimanan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana bisa menyamai orang yang mengetahui rincian syariat, makna "syahadatain" dan kandungannya, mengenal kehidupan setelah mati seperti fitnah kubur dan keadaan mahsyar, kejadian kiamat, nikmat surga, azab neraka, hikmah syariat pada hukum halal dan haram, rincian sejarah Nabi -shalallahu alaihi wasallam- dan hal-hal lain dari cabang ilmu. Bagaimana akan sama  yang mengetahui perkara-perkara itu dengan yang bodoh terhadap agama, hukum-hukumnya serta apa-apa yang dijelaskan oleh syariat dalam perkara gaib. Mengetahui agama hanya ikut-ikutan, ilmunya hanyalah barang yang tidak berharga (di akhirat).&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;قال تعالى :  قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ   (الزمر:9)&lt;br /&gt;"...Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"..." (QS.az-Zumâr:9)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Menghadiri majelis-majelis taklim. Hal ini akan menambah keimanan dengan berbagai sebab, di antaranya yang didapat dari berzikir kepada Allah, rahmat yang meliputi, turunnya ketenangan, para malaikat yang menaungi orang-orang yang berzikir, disebut oleh Allah di langit yang tertinggi, dibangga-banggakan kepada malaikat dan diampuni dosa-dosanya, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits-Hadits sahih, di antaranya sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده   (صحيح مسلم رقم 2700)&lt;br /&gt;"Tidaklah berkumpul suatu kaum berzikir kepada Allah, melainkan malaikat menaungi mereka, rahmat meliputi, turun ketenangan dan Allah menyebutkan mereka kepada para malaikat yang ada di sisinya.” &lt;br /&gt;Sahal Ibn Handzolah -radiallahu'anhu- berkata, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;ما اجتمع قوم على ذكر فتفرقوا عنه إلا قيل لهم: قوموا مغفوراً لكم   (صحيح الجامع 5507)&lt;br /&gt;“Tidaklah suatu kaum berkumpul di atas zikir, kemudian membubarkan diri, melainkan dikatakan kepada mereka, 'Berdirilah! dosa kalian telah diampuni'.” &lt;br /&gt;Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata: &lt;br /&gt;"Disebut zikrullah maksudnya adalah kesenantiasaan melakukan amal yang diwajibkan Allah atau disukai, seperti membaca al-Quran, membaca al-Hadits dan mempelajari ilmu."  &lt;br /&gt;Di antara yang menunjukkan bahwa "majelis zikir" menambah Iman adalah apa yang dikeluarkan Imam Muslim -rahimahullah- dalam sahihnya dari Hanzhalah al-Usaidi, katanya:&lt;br /&gt;“Aku bertemu Abu Bakar. Dia berkata: &lt;br /&gt;“Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”&lt;br /&gt;“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik.” Jawabnya &lt;br /&gt;“Mahasuci Allah. Apa yang engkau katakan?!” Ujar Abu bakar.&lt;br /&gt;Hanzhalah berkata,&lt;br /&gt;“Ketika kami bersama Rasulullah, beliau mengingatkan kami akan neraka dan surga, sampai-sampai seolah kami melihatnya. Ketika meninggalkannya, kami kembali bercampur dengan istri anak-anak dan amanah-amanah –maksudnya rutinitas hidup baik harta benda, produksi dll- kami menjadi banyak lupa (dengan peringatan-peringatan Rasulullah).”&lt;br /&gt;Abu Bakar berkata, &lt;br /&gt;“Demi Allah, aku pun mendapati hal itu.” &lt;br /&gt;Aku dan Abu Bakar pun menemui Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Aku berkata kepada Rasulullah, &lt;br /&gt;“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik wahai Rasulullah.”&lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya, &lt;br /&gt;“Mengapa demikian?” &lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, ketika kami bersamamu dan engkau ingatkan kami tentang neraka dan surga seolah kami melihatnya dengan mata kepala kami. Namun setelah meninggalkanmu, bertemu kembali dengan istri, anak-anak dan hal-hal yang melalaikan lain, kami jadi banyak lupa dengan peringatan itu.” Jawab Hanzhalah.&lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata, &lt;br /&gt;والذي نفسي بيده إن لو تدومون على ما تكونون عندي وفي الذكر لصافحتكم الملائكة على فرشكم وفي طرقكم ولكن يا حنظلة ساعة وساعة   (صحيح مسلم رقم 2750)&lt;br /&gt;“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Jika kalian senantiasa dalam kondisi ketika berada bersamaku dan peringatan-peringatanku, niscaya malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian, akan tetapi wahai Hanzhalah, saat dan saat, 3x.” &lt;br /&gt;Para sahabat -radiallahu'anhum- berupaya konsisten untuk hadir di majelis zikir, dan mereka menyebutnya sebagai iman. Muadz -radiallahu'anhu- berkata kepada seorang lelaki, &lt;br /&gt;“Duduklah bersama kami, beriman untuk sesaat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Di antara sebab yang menguatkan iman, memperbanyak amal saleh dan memenuhi waktu dengannya. &lt;br /&gt;Ini merupakan sebab terapi agung dan merupakan perkara agung, pengaruhnya dalam menguatkan keimanan nampak sekali. Abu Bakar ash-Shiddîk merupakan permisalan yang agung dalam hal ini. Ketika Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya kepada para sahabatnya, &lt;br /&gt;“Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?”&lt;br /&gt;Abu Bakar menjawab, “Saya.”&lt;br /&gt;“Siapa yang mengiringi jenazah hari ini?” Tanya Nabi lagi.&lt;br /&gt;“Saya.” Jawab Abu Bakar&lt;br /&gt;“Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Tanya Nabi lagi.&lt;br /&gt;“Saya.” Jawab Abu Bakar.&lt;br /&gt;“Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” tanya Nabi lagi.&lt;br /&gt;“Saya.” Jawab Aku Bakar.&lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata, &lt;br /&gt;“Tidaklah berkumpul hal itu semua pada seseorang melainkan masuk surga.” &lt;br /&gt;Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar as-Shiddîk -radiallahu'anhu- begitu loba untuk memanfaatkan kesempatan dan meragamkan amalan. Momen ini ditanyakan Nabi -shalallahu alaihi wasallam- secara tiba-tiba, yang menunjukkan bahwa hari-hari Abu Bakar -radiallahu'anhu- dipenuhi dengan ketaatan. Generasi Salafussoleh -rahimahullah- dalam mengisi waktu mereka dengan amal saleh telah mencapai tingkat yang agung. Sehingga para Salafussoleh di jadikan permisalan, seperti yang di katakan kepada Hammad Ibn Salamah, Imam Abdurrahman Ibn Mahdi berkata:&lt;br /&gt;“Jika dikatakan kepada Hammad Ibn Salamah, ‘Engkau akan mati besok, tentu dia tidak akan lagi sanggup menambah amalannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim pada amalan-amalan salehnya hendaknya memperhatikan perkara-perkara berikut:&lt;br /&gt;Bersegera melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah -ta'âla-:&lt;br /&gt;قال تعالى :   وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣     (آل عمران:133)&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS.Ali Imran:133)&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan dorongan kepada para sahabat Nabi -shalallahu alaihi wasallam- untuk segera melakukan amal saleh. &lt;br /&gt;Imam Muslim -rahimahullah- meriwayatkan dalam sahihnya dari Anas Ibn Mâlik pada peristiwa perang Badar ketika pasukan kaum musyrikin mendekat, Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata:&lt;br /&gt;قوموا إلى جنة عرضها السماوات والأرض  (صحيح مسلم 1901)&lt;br /&gt;“Berhamburanlah ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”&lt;br /&gt;Umair Ibn al-Hammam al-Anshari berkata,&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?!”&lt;br /&gt;“Ya." Jawab Rasulullah.” &lt;br /&gt;Dia berkata, &lt;br /&gt;“Bakhin, bakhin! .” &lt;br /&gt;“Apa yang membuatmu berkata ‘bakhin bakhin’?” Tanya Rasulullah.&lt;br /&gt;“Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah. Tidak lain hanya ingin menjadi penghuninya.” &lt;br /&gt;“Engkau termasuk penghuninya.” Ucap Rasulullah. &lt;br /&gt;Umair mengeluarkan kurma dari sakunya dan memakannya, seraya berujar, &lt;br /&gt;“Jika aku masih hidup hingga selesai memakan kurma-kurma ini, sungguh merupakan waktu yang panjang.” &lt;br /&gt;Dia pun membuang kurma yang tersisa kemudian memerangi musuh hingga syahid terbunuh. &lt;br /&gt;Sebelum itu, ada kisah Nabi Musa yang ingin bertemu dengan Allah. Musa berkata,&lt;br /&gt;قال تعالى :  ... وَعَجِلۡتُ إِلَيۡكَ رَبِّ لِتَرۡضَىٰ ٨٤    (طه: من الآية 84)&lt;br /&gt;“...dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau rida (kepadaku)". (QS.Thâha:84)&lt;br /&gt;Allah pun memuji Nabi Zakaria dan keluarganya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ ٩٠   (الأنبياء:90)&lt;br /&gt;“...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (QS.al-Anbiya:90)&lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;التؤدة في كل شيء - وفي رواية خير - إلا في عمل الآخرة   (رواه أبو داود في سننه 5/157 وهو في صحيح الجامع 3009)&lt;br /&gt;“Lirih dalam segala hal –dalam riwayat dalam kebaikan-  kecuali pada amalan akhirat.” &lt;br /&gt;Kontinu dalam ketaatan, sebagaimana sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- dalam Hadits Qudsi:&lt;br /&gt;ما يزال عبدي يتقرب إليَّ بالنوافل حتى أحبه   (صحيح البخاري)&lt;br /&gt;“Hambaku masih saja mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan 'nawafil' (sunah) hingga aku mencintainya.” &lt;br /&gt;Ungkapan “masih saja” mengartikan kekontinuan. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;تابعوا الحج والعمرة   (رواه الترمذي رقم 810 وهو في السلسلة الصحيحة 1200)&lt;br /&gt;“Iringi amalan Haji dengan Umroh!” &lt;br /&gt;Mengiringi pengertiannya juga termasuk kekontinuan. Ini adalah permulaan penting dalam menguatkan keimanan, tidak mengabaikan jiwanya hingga menjadi condong pada pengabaian dan penyesalan. Konsisten walau sedikit lebih baik dari banyak yang terputus. Konsisten dalam beramal saleh menguatkan keimanan. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- penah ditanya, &lt;br /&gt;“Amalan apa yang lebih dicintai Allah?” &lt;br /&gt;Beliau menjawab, &lt;br /&gt;“Yang konsisten walau sedikit.” &lt;br /&gt;Dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- jika mengerjakan suatu amalan beliau senantiasa konsisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.&lt;br /&gt;Terapi hati yang keras tidaklah baik jika hanya sewaktu-waktu. Membaik suatu waktu lalu kembali melemah. Yang semestinya adalah perbaikan yang bersambung. Ini tidak akan terwujud kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Allah -subhânahu wata'âla- telah menyebutkan di dalam kitab-Nya akan kesungguhan para wali-wali Allah dalam beribadah di berbagai keadaan, di antaranya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بَِٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ ١٥ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ١٦   (السجدة:15,16)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan setiap rezeki yang Kami berikan.” (QS.as-Sajdah:15-16)&lt;br /&gt;Firman-Nya yang lain:&lt;br /&gt;قال تعالى :  كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩   (الذاريات:17-19)&lt;br /&gt;“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS.adz-Dzariât: 17-19)&lt;br /&gt;Jika menengok keadaan generasi Salafussoleh dalam menetapi sifat-sifat "'âbidin" (ahli ibadah) akan membangkitkan rasa takjub, sehingga menuntun kita untuk meneladani mereka. Di antaranya: mereka mengkhatamkan bacaan al-Quran setiap tujuh hari, mereka tetap melaksanakan shalat malam dalam medan perang dan pertempuran, berzikir kepada Allah dan melakukan shalat tahajud, meskipun dalam penjara, kaki mereka memar-memar, air mata membasahi pipi-pipi mereka, mentafakuri penciptaan langit dan bumi. Di antara mereka ada yang mengguraui istrinya seperti ibu yang guraui momongannya, namun ketika istrinya tertidur, dia pun bangkit meninggalkan selimut dan tempat tidurnya melakukan shalat malam. Mereka membagi malam untuk diri dan keluarga, sedang siangnya untuk berpuasa, belajar, mengajar, mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit dan membantu kesusahan orang lain, bahkan pada sebagiannya tidak pernah tertinggal "takbiratul ihram" bersama imam selama bertahun-tahun, mereka menunggu shalat setelah shalat, menafkahi keluarga saudaranya yang ditinggal mati selama bertahun-tahun. Siapa yang keadaannya seperti itu, maka imannya senantiasa bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan membuat diri menjadi jenuh. &lt;br /&gt;Bukanlah maksud dari kontinuitas dalam ibadah atau bersungguh-sungguh melaksanakannya untuk menjadikan dirinya jenuh dan bosan, tetapi maksudnya agar tidak terputus dalam beribadah selama sanggup dilakukan, dengan berupaya sedapat mungkin, baik dalam keadaan sedang bersemangat maupun ketika sedang lemah. Gambaran seperti ini ditunjukkan oleh hadits-hadits Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- di antara sabdanya:&lt;br /&gt;إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه فسددوا وقاربوا   (صحيح البخاري)&lt;br /&gt;“Agama itu mudah. Tidaklah seseorang itu berlebih-lebihan dalam beragama melainkan dia akan menyerah, karenanya tepatilah (sedapat mungkin) dan serupailah (sedapat mungkin).”  &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;والقصد القصد تبلغوا   (صحيح البخاري)&lt;br /&gt;“Maksudnya adalah engkau sampai kepada maksud.”  &lt;br /&gt;Al-Bukhari -rahimahullah- menyebutkan bab: Mâ Yukrohu Minat Tasydid Fil Ibadah (Apa-apa yang dibenci ketika bersangatan dalam ibadah).&lt;br /&gt;Sahabat Anas -radiallahu'anhu- berkata, &lt;br /&gt;“Nabi -shalallahu alaihi wasallam- masuk masjid, dan didapatinya ada tali merentang. Beliau bertanya, &lt;br /&gt;“Tali apa ini?” &lt;br /&gt;Orang-orang menjawab, &lt;br /&gt;“Itu adalah tali milik Zainab, jika mengantuk dia akan berpegangan.” Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;لا حلوه ليصل أحدكم نشاطه فإذا فتر فليقعد  (صحيح البخاري)&lt;br /&gt;“Jangan demikian. Lepaskanlah tali itu! Hendaknya setiap kalian shalat saat fit, jika lelah hendaknya duduk.”  &lt;br /&gt;Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- tahu bahwa Abdulllah Ibn Amr Ibn al-Ash melakukan shalat sepanjang malam dan berpuasa setiap hari, Nabi -shalallahu alaihi wasallam- melarang hal itu dan menjelaskan sebabnya dengan sabdanya:&lt;br /&gt;فإنك إذا فعلت هجمت عينك - يعني غارت أو ضعفت لكثرة السهر - ونفهت نفسك - يعني كلت  &lt;br /&gt;“Jika engkau melakukan sedemikian engkau merusak matamu –maksudnya melemah karena banyak bergadang- dan jiwamu menjadi lemah.” &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;اكلفوا من العمل ما تطيقون فإن الله عز وجل لا يمل حتى تملوا وإن أحب الأعمال إلى الله عز وجل أدومه وإن قل   (رواه البخاري)&lt;br /&gt;“Laksanakanlah amalan yang mampu kalian lakukan. Sesungguhnya Allah -azzawajalla- tidaklah bosan, hingga kamu sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah -azzawajalla- adalah yang berkesinambungan walaupun sedikit.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengganti amalan yang tertinggal.&lt;br /&gt;Dari Umar Ibn al-Khaththab -radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;من نام عن حزبه من الليل أو شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل   (رواه النسائي وغيره، والمجتبي: 2/68، صحيح الجامع 1228)&lt;br /&gt;“Siapa yang tertidur dari  "hizb"nya (membaca zikir, doa dan al-Quran) pada suatu malam atau sesuatu darinya, hendaknya dibaca setelah shalat Fajar dan Zuhur. Dicatatkan baginya seperti membaca pada malam hari.”  &lt;br /&gt;Aisyah -radiallahu'anha- berkata, &lt;br /&gt;“Dahulu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- jika melakukan suatu shalat akan kontinu melaksanakannya. Jika luput shalat malam karena tertidur atau sakit, beliau melakukan shalat 12 rakaat di siang hari.” &lt;br /&gt;Ketika Ummu Salamah -radiallahu'anha- melihat Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- melakukan shalat dua rakaat setelah shalat Asar, dia pun bertanya kepada Nabi. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab dengan sabdanya:&lt;br /&gt;يا ابنة أبي أمية سألت عن الركعتين بعد العصر وإنه أتاني ناس من عبد القيس فشغلوني عن الركعتين اللتين بعد الظهر فهما هاتان   (رواه البخاري)&lt;br /&gt;“Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya mengenai dua rakaat setelah Asar. Telah datang kepadaku orang-orang dari kabilah Abdul Qois, sehingga menyibukkanku dari melaksanakan dua rakaat setelah zuhur, inilah dua rakaat itu.”  &lt;br /&gt;Jika beliau belum melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum zuhur, beliau akan melaksanakan setelahnya. &lt;br /&gt;Jika terlewat melaksanakan 4 rakaat sebelum zuhur beliau akan melaksanakannya setelah zuhur. &lt;br /&gt;Hadits-Hadits di atas menunjukkan akan "qodho" (mengganti) sunah rawatib. &lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim al-Jauziah -rahimahullah- menyebutkan mengenai puasa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- di bulan Syaban yang lebih banyak dari bulan lain, dengan tiga alasan, pertama: beliau biasa puasa 3 hari setiap bulan. Bila beliau tersibukkan melakukannya selama beberapa bulan, maka beliau ganti pada bulan Syaban agar dapat menyelesaikannya sebelum masuk puasa wajib Ramadhan....  &lt;br /&gt;Rasulullah dahulu beritikaf pada sepuluh hari akhir Ramadhan. Ketika suatu kali beliau tidak sempat melakukannya karena safar, beliau beritikaf dua puluh hari pada tahun berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berharap dikabulkan sembari khawatir tidak diterima.&lt;br /&gt;Setelah bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, semestinya khawatir amalnya tidak diterima. Aisyah -radiallahu'anha- berkata,&lt;br /&gt;“Aku bertanya kepada Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengenai ayat ini: &lt;br /&gt;قال تعالى :  وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ ٦٠    (المؤمنون:60)&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS.al-Mukminun:60)&lt;br /&gt;(Apakah yang takut) mereka yang meminum khamar dan mencuri?” Tanyanya. &lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab, &lt;br /&gt;لا يا ابنة الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات   (رواه الترمذي)&lt;br /&gt;“Tidak, wahai putri as-Shidhdhik. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat dan bersedekah, namun khawatir apa yang dilakukan tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan.”  &lt;br /&gt;Abu Darda -radiallahu'anhu- berkata, &lt;br /&gt;“Jika dapat dipastikan bahwa Allah telah menerima satu shalatku, lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya. Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :     إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٢٧  (المائدة:27)&lt;br /&gt;“...Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS.al-Maidah:27) &lt;br /&gt;Di antara sifat seorang mukmin adalah merendahkan dirinya kepada kewajiban yang merupakan hak Allah -ta'âla-. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;لو أن رجلاً يجر على وجهه من يوم ولد إلى يوم يموت هرماً في مرضاة الله عز وجل لحقره يوم القيامة   (رواه الإمام أحمد المسند 4/185 وهو في صحيح الجامع 5249)&lt;br /&gt;“Jika seorang lelaki mengupayakan sejak lahir hingga mati, total hanya untuk memperoleh rida Allah -azzawajalla-, niscaya dia sendiri akan meremehkan seluruh upayanya itu pada hari kiamat.”  &lt;br /&gt;Siapa yang mengenal Allah dan mengenal dirinya, akan jelas baginya bahwa perbekalan yang dibawanya tidak akan cukup, sekalipun mengerjakan amalan seluruh manusia dan jin. Jika pun Allah -subhânahu wata'âla- menerima amalannya, itu karena kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya. Dia membalas hamba-Nya dengan kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Meragamkan ibadah.&lt;br /&gt;Di antara rahmat Allah dan hikmah-Nya, Dia meragamkan untuk kita ibadah. Ada yang "jasadiah" (jasmaniah) seperti shalat dan ada yang dengan harta seperti zakat, ada juga yang keduanya sekaligus seperti haji dan ada pula yang dengan lisan seperti zikir dan doa. &lt;br /&gt;Pada setiap macamnya pun terbagi lagi; ada yang "fardu" (wajib), sunah dan "mustahabah" (disukai). Yang ibadah fardu pun bertingkat sebagaimana halnya sunah, seperti shalat. Di antaranya sunah rawatib sebanyak 12 rakaat di siang hari. Ada juga yang lebih rendah kedudukannya, seperti 4 rakaat sebelum asar dan shalat dhuha. Atau yang lebih tinggi seperti shalat malam. Masing-masingnya pun memiliki tata cara yang beragam. Ada yang dua rakaat dua rakaat, 4 rakaat kemudian witir, ada yang 5 rakaat atau 7 rakaat, atau 9 rakaat dengan satu tasyahud. &lt;br /&gt;Demikianlah, siapa yang memperhatikan pernik ibadah akan mendapati keragaman yang agung dalam jumlah, waktu, bentuk, cara dan hukum. Bisa jadi hikmahnya agar jiwa tidak menjadi bosan, mau terus melakukan dan memperbaharuinya. Dan lagi, jiwa masing-masing orang tidaklah sama dalam kehendak dan kemampuan. Bisa jadi sebagian jiwa menikmati ibadah tertentu melebihi orang lain. Maha Suci Allah yang telah menjadikan pintu-pintu surga dengan berbagai bentuk ibadah, sebagaimana yang disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah -radiallahu'anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;من أنفق زوجين في سبيل الله نودي من أبواب الجنة: يا عبد الله هذا خير فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ومن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد ومن كان من أهل الصيام دعي من باب الريان ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة   ( رواه البخاري)&lt;br /&gt;“Siapa yang "menginfakkan" (merelakan) 2 suaminya  (berjihad hingga mati syahid) di jalan Allah, akan dipanggil dari seluruh pintu surga; “Wahai hamba Allah, ini kebaikan, barang siapa yang ahli shalat, dipanggil dari pintu shalat, siapa yang ahli jihad, dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli puasa dipanggil dari pintu Royyân, siapa yang ahli sedekah dipanggil dari pintu sedekah.”  &lt;br /&gt;Maksudnya adalah yang memperbanyak ibadah sunah dalam ibadahnya. Adapun 'farâ`id" (kewajiban) semua harus melaksanakannya. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;الوالد أوسط أبواب الجنة   (رواه الترمذي)&lt;br /&gt;“Orang tua (bapak) adalah pintu pertengahan surga.”  &lt;br /&gt;Maksudnya berbakti kepada orang tua.&lt;br /&gt;Keragaman ibadah ini bisa dimanfaatkan untuk mengobati lemah iman. Memperbanyak ibadah yang jiwa condong melakukannya, seraya menjaga "farâ`id wal wajibât" (fardu dan wajib)  yang Allah perintahkan. &lt;br /&gt;Dengan demikian amat mungkin bagi seorang muslim jika mengamati nas-nas ibadah yang ada, mendapati macam ibadah tertentu yang memiliki pengaruh dan membantu jiwanya, yang tidak didapati pada ibadah lainnya. Berikut dua permisalan:&lt;br /&gt;Abu Dzar -radiallahu'anhu- meriwayatkan dari Nabi -shalallahu alaihi wasallam-, sabdanya:&lt;br /&gt;ثلاثة يحبهم الله  وثلاثة يشنؤهم الله - أي يبغضهم - أما الثلاثة الذين يحبهم الله الرجل يلقى العدو في الفئة فينصب لهم نحره حتى يقتل أو يفتح لأصحابه تنحى أحدهم فيصلي حتى يوقظهم لرحيلهم والرجل يكون له الجار يؤذيه جواره فيصبر على أذاه حتى يفرق بينهما موت أو ظعن   (مسند أحمد)&lt;br /&gt;“Ada tiga yang dicintai Allah dan ada tiga yang dimurkai Allah. Adapun tiga yang dicintai Allah adalah seorang lelaki yang menghadapi pasukan musuh, meneroboskan dirinya hingga terbunuh atau berhasil membuka pintu masuk bagi sahabat-sahabatnya, (kedua) suatu kaum melakukan safar, titian perjalanan terasa panjang hingga membuat ingin beristirahat, kemudian mereka pun turun. Salah seorang dari mereka memisahkan diri melakukan shalat hingga tiba waktunya melanjutkan perjalanan dia membangunkan sahabat-sahabatnya. (ketiga) seorang lelaki yang mempunyai tetangga yang senantiasa mengganggunya, namun dia bersabar atas gangguan itu hingga mereka dipisahkan oleh kematian atau pergi....” &lt;br /&gt;Seorang lelaki mendatangi Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mengadukan kekerasan hatinya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata kepadanya,&lt;br /&gt;أتحب أن يلين قلبك وتدرك حاجتك  أرحم اليتيم وامسح رأسه وأطعمه من طعامك يلن قلبك وتدرك حاجتك   (الحديث رواه الطبراني)&lt;br /&gt;“Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan hajatmu tersampaikan?! Sayangilah anak yatim, usap kepalanya, beri ia makan dari makananmu, maka hatimu akan menjadi lembut dan hajatmu akan terpenuhi.”  &lt;br /&gt;Ini adalah keterangan eksplisit untuk tema mengobati lemah iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Takut "Su’ul Khatimah" (buruk pengakhiran). &lt;br /&gt;Takut akan su’ul khatimah akan mendorong seorang muslim untuk berbuat ketaatan dan memperbaharui iman dalam hatinya. &lt;br /&gt;Su’ul khatimah sendiri sebabnya banyak, di antaranya:&lt;br /&gt;- Lemah iman dan larut dalam kemaksiatan. &lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah menggambarkannya seperti sabdanya:&lt;br /&gt;من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ - أي يطعن - بها في بطنه في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً ومن شرب سماً فقتل نفسه فهو يتحساه - أي يشربه في تمهل ويتجرعه- في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبدا   (صحيح مسلم)&lt;br /&gt;“Siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi itu akan berada di tangannya menikami perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya. Siapa yang minum racun hingga membunuh dirinya, maka dia akan meminum racun itu dengan perlahan dalam api neraka jahanam kekal selamanya. Siapa yang menjatuhkan dirinya dari atas bukit untuk bunuh diri, maka dia akan menjatuhkan dirinya ke dalam api neraka jahanam kekal selamanya.”  &lt;br /&gt;Pada masa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- hal ini terjadi. di antaranya kisah seorang lelaki yang berada bersama pasukan kaum muslimin memerangi tentara kafir. Tidak ada seorang pun yang menandingi cara berperangnya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata:&lt;br /&gt;“Adapun dia, dia termasuk ahli neraka.”&lt;br /&gt;(Mendengar itu) salah seorang kaum muslimin mengikutinya. Lelaki itu mendapat banyak luka parah. Ayalnya ia tergesa-gesa untuk mati. Ditempelkannya ujung pedangnya di dadanya lalu dia sandarkan dirinya pada pedang itu sehingga membunuh dirinya. &lt;br /&gt;Keadaan manusia yang su’ul khatimah banyak. Ahli ilmu menutupi kisah beberapa di antaranya. Dari yang diungkap seperti yang disebutkan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- dalam kitab ‘ad-Dâ’ wad-Dawâ’; ketika dikatakan kepada seseorang yang sedang sekarat, "ucapkan la ilaha illallah!" dia berkata, “Aku tidak bisa”, sebagian lagi ketika diminta mengucapkan la ilaha illallah malah bernyanyi. Ketika dikatakan kepada seorang tajir yang lalai dari zikrullah karena perniagaannya, ketika datang kematian diminta mengucapkan la ilaha illallah malah mengatakan, “Ini barang bagus, harganya sesuai dan murah” hingga kematiannya. &lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa sebagian tentara Raja an-Nâshir menghadapi kematian. Ketika anak mereka memintanya mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “an-Nâshir tuanku. anaknya terus menuntunnya tetapi bapaknya tetap mengatakan, an-Nashir tuanku, an-Nashir tuanku hingga mati.” Yang lain dituntun mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “Perbaikilah dar fulaniah jadi sedemikian dan kebun fulani jadikanlah demikian dan demikian”. Dikatakan kepada seorang pendidik saat mendekati ajalnya, ucapkan la ilaha illallah, dia malah mengatakan, “sepuluh dikalikan satu sepuluh...terus mengulang-ulanginya” Hingga mati. &lt;br /&gt;Sebagian lagi wajahnya menjadi hitam atau berubah dari sebelumnya. Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata, “Aku telah mendengar mengenai sebagian orang yang aku kira banyak kebaikannya, pada beberapa malam menjelang kematiannya mengatakan, “Tuhankulah yang telah menzalimi aku” –Maha Suci Allah dari apa yang diucapkannya-. Dia menuduh Allah dengan kezaliman di ranjang kematiannya. Ibnul Jauzi melanjutkan, “Aku pun masih saja risau dan tertarik untuk menemukan yang serupa atas pengalaman hari itu”. &lt;br /&gt;Maha Suci Allah. Berapa banyak manusia yang menyaksikan pelajaran dari kejadian seperti ini. Yang tidak terungkap dari orang-orang yang menyaksikan mereka yang sekarat lebih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Memperbanyak mengingat kematian. &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;أكثروا من ذكر هادم اللذات يعني الموت)    رواه الترمذي (&lt;br /&gt;“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian.”  &lt;br /&gt;Mengingat kematian dapat mengerem kemaksiatan dan melunakkan hati yang keras. Dengan mengingatnya seseorang yang merasa sempit hidupnya akan merasa lapang dan yang merasa lapang hidupnya akan berasa sempit. &lt;br /&gt;Pengingat kematian terbesar adalah ziarah kubur. Karena itu Nabi -shalallahu  alaihi wasallam- memerintahkan dengan sabdanya:&lt;br /&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة ولا تقولوا هجراً)  رواه الحاكم  (&lt;br /&gt;“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, tetapi sekarang ziarahilah, karena ia dapat melembutkan hati, meneteskan air mata dan mengingatkan akhirat. Namun janganlah berkata yang tidak pantas.” &lt;br /&gt;Bahkan diperbolehkan bagi muslim menziarahi perkuburan kafir  untuk mengambil pelajaran. Dalilnya apa yang terdapat dalam Hadits sahih bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menziarahi kubur pamannya kemudian menangis, sehingga menangislah orang di sekitarnya. Beliau berkata:&lt;br /&gt;استأذنت ربي في أن أستغفر لها فلم يأذن لي واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي فزوروا القبور فإنها تذكر الموت) رواه مسلم  (&lt;br /&gt;“Aku meminta izin kepada Tuhan-ku untuk mengampuninya tetapi Tuhan tidak mengizinkanku. Aku meminta izin untuk menziarahinya maka Tuhan mengizinkanku. Ziarahilah kubur karena akan mengingatkan pada kematian.”  &lt;br /&gt;Ziarah kubur termasuk wasilah besar meluluhkan hati dan bermanfaat bagi penziarahnya untuk mengingat kematian. Ia bermanfaat juga bagi penghuni kubur dengan mendoakan mereka. Di antara sunah ketika berziarah kubur sebagaimana doa Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;(السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم للاحقون))    رواه مسلم (&lt;br /&gt;“Keselamatan atas kalian penghuni kubur dari orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Kami insyaAllah akan menyusul kalian.”  &lt;br /&gt;Bagi siapa saja yang hendak berziarah kubur, hendaklah memperhatikan adab-adab dan menghadirkan hatinya ketika mendatanginya. Maksudkanlah ziarah itu hanya untuk mengharap wajah Allah dan membetulkan hatinya yang rusak. Andaikan dirinya sebagai orang yang berada di bawah tanah terpisah dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya. Merenungi keadaan yang telah berlalu dari saudara-saudaranya, bagaimana upaya teman-temannya mencapai angan-angan dan mengumpulkan harta, kemudian angan-angan itu terputus dan harta tidak dapat mencukupkan mereka. Tanah telah melumat ketampanan paras mereka, tubuh mereka lebur di dalam kubur dan istri-istri mereka menjanda. Ingatlah bencana akibat terperdaya oleh sebab-sebab dan mengandalkan kesehatan dan masa muda, condong kepada bersenang-senang dan bermain-main. Akhirnya mau tidak mau pasti mengalami kematian. Pikirkanlah keadaan penghuni kubur, bagaimana kedua kakinya hancur, kedua matanya meleleh, lidahnya dimakan cacing dan tanah melusuhkan gigi-giginya.  &lt;br /&gt;Syair:&lt;br /&gt;Waktu, dunia dan langit yang tinggi tidak akan bertahan&lt;br /&gt;Tidak pula cahaya matahari dan bulan&lt;br /&gt;Semuanya akan tinggalkan dunia walau dengan keberatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang banyak mengingat kematian dimuliakan dengan tiga perkara: disegerakan bertaubat, ketenangan hati dan giat beribadah. &lt;br /&gt;Siapa yang melupakan kematian mengakibatkan pada tiga perkara: menunda untuk bertaubat, tidak rida dengan kecukupannya dan malas untuk beribadah. &lt;br /&gt;Yang juga dapat membekas dalam jiwa menyaksikan orang yang sekarat. Melihat mayat, menyaksikan orang yang meregang nyawa, nyawa yang tercabut dan membayangkan keadaan setelah kematiannya dapat memutus kenikmatan-kenikmatan dari jiwa, mencegah mata tertidur dan badan beristirahat, sehingga membangkitkannya untuk beramal dan menambah kesungguhan.&lt;br /&gt;Hasan Al-Bashri menjenguk orang sakit dan didapatinya dalam keadaan sakaratul maut. Dia perhatikan kepayahan dan kesusahan orang itu sampai meninggal. Ketika kembali kepada keluarganya, air mukanya berbeda dengan saat dia keluar. Keluarganya menawarkan makan kepadanya, “Makanlah! Semoga Allah merahmatimu.” Hasan berkata, “Wahai keluargaku. Nikmatilah makanan dan minuman kalian. Demi Allah, aku telah melihat seorang yang meregang nyawa dan masih saja memikirkannya.”&lt;br /&gt;Dari kesempurnaan merasai kematian turut menyalati jenazah, turut mengusung jenazah di pundaknya sampai ke kuburan, turut mengubur dan menimbunkan tanah ke atas kubur. Semua itu mengingatkan kepada akhirat. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;عودوا المرضى واتبعوا الجنائز تذكركم الآخرة)   رواه أحمد  (&lt;br /&gt;“Jenguklah orang sakit dan iringi jenazah, yang demikian itu mengingatkan kalian pada akhirat.” &lt;br /&gt;Lebih dari itu, ada pahala besar bagi yang mengiringi jenazah. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menyebutkan dalam sabdanya,&lt;br /&gt;من شهد الجنازة من بيتها - وفي رواية: من اتبع جنازة مسلم إيماناً واحتساباً - حتى يصل عليها فله قيراط ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان من الأجر&lt;br /&gt;“Barang siapa bertakziah dari rumah duka -dalam riwayat lain: Barang siapa yang mengantarkan jenazah muslim dengan keimanan dan berharap pahala- hingga menyalatinya, maka baginya satu qirath, dan barang siapa bertakziah hingga penguburan maka baginya dua qirath pahala.”&lt;br /&gt;Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, dua qirath itu apa?” Beliau menjawab, &lt;br /&gt;مثل الجبلين العظيمين)   رواه الشيخان وغيرها (&lt;br /&gt;“Seperti dua gunung yang besar.” &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain, setiap qirath besarannya seperti gunung Uhud.” &lt;br /&gt;Dahulu para salaf -rahimahumullah- menasihati dengan mengingatkan kematian manakala ada seseorang yang terjerumus dalam maksiat. Ketika di majelis salah seorang salaf -rahimahullah- ada seseorang yang menghibah (menggunjing) orang lain, dia menasihati orang yang menghibah dengan mengatakan, “Ingatlah pada kapas bila diletakkan di kedua matamu.” Maksudnya ketika dikafankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Di antara perkara-perkara yang memperbaharui iman dalam hati, mengingat kejadian akhirat. &lt;br /&gt;Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: “Jika seseorang sehat akal pikirannya dia diberi "bashiroh" (kesadaran) berupa cahaya di hati. Menyadari janji dan ancaman, surga dan neraka dan apa yang Allah janjikan di dunia untuk wali-walinya dan musuh-musuhnya. Jadilah dia manusia yang paling sadar. &lt;br /&gt;Sungguh manusia akan keluar dari kubur-kuburnya bergegas memenuhi seruan yang hak. Malaikat langit turun mengelilingi mereka. Allah telah datang, dan telah ditegakkan kursi-Nya untuk memutuskan perkara. Terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhan-nya; diberikan buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi. Timbangan (amal) telah ditegakkan, lembaran-lembaran (catatan amal) beterbangan, berkumpul orang yang berselisih, tersangkut setiap yang berhutang dengan piutangnya. Ditampakkan telaga dan gelas-gelasnya dari dekat, banyak yang kehausan dan hanya sedikit yang mendatangi telaga itu. Jembatan telah di bentangkan untuk menyeberang dan manusia pun berdesak-desakan terhadapnya. Cahaya dibagikan mengusir kegelapannya untuk dapat menyeberang, sementara api neraka menyala-nyala satu sama lain di bawahnya. Sekelompok berjatuhan dan sekelompok lain selamat. Dibukakan dalam hatinya mata yang melihat hal itu, hatinya seolah menyaksikan kejadian akhirat, peristiwa demi peristiwa dan kekekalannya, sedang dunia begitu cepat berakhir. &lt;br /&gt;Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang kejadian hari akhir seperti yang terdapat pada surat Qaaf, surat al-Waaqi’ah, Al-Qiyaamah, Al-Mursalat, An-Nabaa, Al-Muthaffifîn dan At-Takwir. Demikian juga dalam kumpulan Hadits disebutkan dalam bab kiamat, padang mahsyar, surga dan neraka. Selain itu semua, perlu juga kita membaca buku-buku para ulama yang setema, seperti kitab Haadii Al-Arwah (petunjuk ruh) karya Ibnul Qayyim, An-Nihaayah fi Al Fitan  (akhir dari ujian) karya Ibnu Katsir, At-Tadzkirah fi Ahwaal Al Mauta wa Umuril Âkhirah (pengingat peristiwa kematian dan perkara akhirat) karya Qurthubi, Al-Qiyamat Al Kubra, Al-Janah wa An-Naar (Surga dan neraka) karya Umar Al Asyqari dan yang lainnya. Tujuannya adalah untuk menambah keimanan, dengan mengetahui kejadian hari kiamat seperti kebangkitan, "ma'sar" (pengumpulan), syafa’at, penghitungan, pembalasan, qishash, timbangan, telaga, daarul qarar, surga dan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Di antara perkara-perkara yang dapat memperbaharui iman, respek dengan tanda-tanda alam. &lt;br /&gt;Al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- jika melihat awan mendung atau angin berubah air mukanya.” &lt;br /&gt;Aisyah -radiallahu'anha- berkata, “Wahai Rasulullah, aku perhatikan orang-orang jika melihat mendung gembira, berharap akan turun hujan. Namun aku perhatikan jika melihatnya engkau justru nampak khawatir.” &lt;br /&gt;Nabi menjawab,&lt;br /&gt;يا عائشة ما يؤمنني أن يكون فيه عذاب قد عذب قوم بالريح وقد رأى قوم العذاب فقالوا: (هذا عارض ممطرنا)    (رواه مسلم)&lt;br /&gt;“Wahai Aisyah, apa yang menjamin, bisa jadi itu adalah azab. Telah diazab kaum terdahulu dengan angin, dan mereka melihat sendiri azab itu datang seraya berkata, “Ini adalah hujan yang datang.” &lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- spontan berdiri ketika melihat gerhana, sebagaimana yang disebutkan dalam sahih al-Bukhari dari Abu Musa -radiallahu'anhu- katanya, &lt;br /&gt;“Terjadi gerhana matahari. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- spontan berdiri, khawatir terjadi kiamat.” &lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memerintahkan kita ketika terjadi gerhana matahari maupun bulan untuk bersegera melaksanakan shalat. Beliau mengabarkan bahwa keduanya adalah tanda-tanda yang Allah berikan untuk mempertakuti hamba-Nya. &lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa respons hati terhadap kejadian dan spontanitas memperbaharui keimanan dalam hati dan mengingatkan azab Allah, kekerasan azab-Nya, kedahsyatan-Nya, kekuatan-Nya dan siksa-Nya. &lt;br /&gt;Aisyah -radiallahu'anha-  berkata, “Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menghela tanganku kemudian menunjuk ke bulan, seraya berkata,&lt;br /&gt;يا عائشة: استعيذي بالله من شر هذا فإن هذا هو الغاسق إذا وقب  (رواه أحمد)&lt;br /&gt;“Wahai Aisyah, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan ini, sesungguhnya ini adalah kejahatan malam jika telah gelap gulita.” &lt;br /&gt;Contoh yang lain:  merasakan pengaruh ketika lewat di tempat bekas bencana, azab atau kubur orang-orang yang zalim. &lt;br /&gt;Ibnu Umar -radiallahu'anhuma- meriwayatkan bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata kepada para sahabatnya ketika sampai al-Hijr: &lt;br /&gt;لا تدخلوا عليهم هؤلاء المعذبين إلا أن تكونوا باكين فإن لم تكونوا باكين فلا تدخلوا عليهم لا يصيبكم ما أصابهم    (رواه البخاري)&lt;br /&gt;“Janganlah masuk ke dalamnya, mereka itu diazab, kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis janganlah masuk ke dalamnya, agar kalian tidak mengalami apa yang mereka alami.” &lt;br /&gt;Demikianlah. Namun sekarang ini orang-orang mendatanginya untuk berwisata dan berfoto. Maka renungkanlah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Yang juga merupakan perkara yang amat penting dalam pengobatan lemah iman adalah zikrullah -ta'âla-. &lt;br /&gt;Ia merupakan pembersih hati dan penyembuh. Obat di kala sakit. Ia merupakan ruh amal saleh. Allah -subhânahu wata'âla- telah memerintah berzikir dengan firman-Nya,&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا   (الأحزاب:41)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan sebanyak-banyaknya.” (QS.al-Ahzab:41)&lt;br /&gt;Allah menjanjikan keberuntungan bagi siapa yang banyak melakukannya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٤٥   (الأنفال:45)&lt;br /&gt;“...dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS.al-Anfâl: 45)&lt;br /&gt;Zikrullah lebih besar dari segala-galanya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ   (العنكبوت:45)&lt;br /&gt;“...dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)....” (QS.al-Ankabut:45)&lt;br /&gt;Ia merupakan wasiat Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bagi yang tidak mampu menjalankan syariat Islam dengan maksimal:&lt;br /&gt;لا يزال لسانك رطباً من ذكر الله   (رواه الترمذي)&lt;br /&gt;“Senantiasakan lisanmu basah berzikir kepada Allah.” &lt;br /&gt;Zikrullah diridai Allah yang Maha penyayang dan mengusir setan, penghilang kegalauan dan kerisauan, pendatang rezeki, pembuka pintu-pintu makrifat, menjadi tanaman di surga dan sebab terselamatkan dari ketergelinciran lisan. Ia merupakan pelipur kesedihan fakir miskin yang tidak mampu bersedekah. Allah mengganti ketidakmampuannya dengan zikir, menggantikan kedudukan ketaatan badaniah dan harta. &lt;br /&gt;Meninggalkan zikrullah menjadi sebab kerasnya hati.&lt;br /&gt;Syair:&lt;br /&gt;Lupa berzikir kepada Allah adalah kematian hati mereka&lt;br /&gt;Tubuh mereka menjadi kubur sebelum perkuburan&lt;br /&gt;Ruh-ruh mereka terperangkap dalam jasad&lt;br /&gt;Tidak ada bagi mereka kebangkitan pada hari kebangkitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, siapa yang ingin mengobati lemah imannya haruslah memperbanyak zikrullah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :  إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا ٢٤    (الكهف:24)&lt;br /&gt;“...dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa....” (QS.al-Kahfi:24)&lt;br /&gt;Allah -subhânahu wata'âla- menjelaskan pengaruh zikrullah terhadap hati:&lt;br /&gt;قال تعالى :  أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨  (الرعد :28)&lt;br /&gt;“...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.ar-Ro’du:28)&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim –rahimahullahu ta'âla- berkata mengenai pengobatan dengan berzikir, &lt;br /&gt;“Pada hati ada kekerasan yang tidak bisa dilembutkan kecuali dengan zikrullah (menyebut dan mengingat Allah). Hendaklah seorang hamba mengobati kekerasan hatinya dengan berzikir kepada Allah -ta'âla-. Seseorang berkata kepada al-Hasan al-Bashri -rahimahullah-, &lt;br /&gt;'Wahai Abu Sa’id (panggilan al-Hasan), aku mengadu kepadamu akan kekerasan hatiku! &lt;br /&gt;Al-Hasan menjawab, &lt;br /&gt;'Lembutkan dengan zikir'. &lt;br /&gt;Karena ketika hati bertambah lalai, semakin keras pulalah ia. Jika dia berzikir kepada Allah -ta'âla-, lenyaplah kekerasan itu seperti timah yang meleleh terkena api. Tidak ada yang melembutkan kekerasan hati seperti zikrullah -azzawajalla-. Zikir adalah kesembuhan hati dan obatnya, sedangkan kelalaian adalah penyakitnya. Kesembuhan dan obat hati ada pada zikrullah -ta'âla-. Makhul berkata, &lt;br /&gt;“Zikrullah (menyebut dan mengingat Allah) adalah obat, sedangkan 'zikrunnâs' (mengingat manusia) adalah penyakit.”  &lt;br /&gt;Dengan berzikir seorang hamba telah mengalahkan setan, sebagaimana setan mengalahkan manusia dengan lalai dan lupa. Sebagian salafussoleh berkata, “Jika zikir telah bertempat dalam hati, tatkala setan mendekat, ia mengalahkannya, seperti manusia yang mendekat kepada setan, setan akan mengerumuninya –maksudnya mengerumuni untuk berusaha mendekati hati orang beriman-, mereka akan mengatakan, “Tidak ada peluang untuk yang ini.” Dikatakan pula, “Dia telah disusupi jiwa manusia!”. &lt;br /&gt;Manusia yang tersurupi setan kebanyakannya adalah yang biasa lalai dan tidak membentengi diri dengan wirid maupun zikir. Karena itulah mudah bagi setan untuk menyurupinya.&lt;br /&gt;Sebagian mereka yang mengeluhkan lemah iman, terasa berat bagi mereka terapi "qiyamullail" (shalat malam) dan ibadah sunah. Sehingga cocok bagi mereka pengobatan dengan menggunakan zikrullah dan mengonsistenkannya. Hafalkan zikir-zikir mutlak dan ulang-ulangilah bacaannya, seperti: &lt;br /&gt;لا إله إلا الله لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير&lt;br /&gt;[laa ilaaha illallah laa syarikalahu, lahulmulku walahul hadmu wahua ‘ala kulli syai`in qodiir]&lt;br /&gt;Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak memiliki sekutu, milik-Nya Kerajaan dan segala pujian dan Dia mampu atas segala sesuatu.”&lt;br /&gt;سبحان الله وبحمده وسبحان الله العظيم&lt;br /&gt;[subhanallah wabi hamdihi wa subhanallahal adzim]&lt;br /&gt;Artinya: “Maha suci Allah dan segala pujian-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Agung.”&lt;br /&gt;لا حول ولا قوة إلا بالله&lt;br /&gt;[laa haula walaa quwwata illa billah] &lt;br /&gt;artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan Allah.”&lt;br /&gt;Serta zikir-zikir lainnya.&lt;br /&gt;Hafalkan juga "zikir-zikir muqoyyadah" (zikir yang terikat dengan tempat dan waktu) yang terdapat dalam sunah, ulang-ulangi bacaannya sesuai waktu dan tempatnya, seperti zikir pagi dan petang, ketika tidur, bangun dari tidur, ketika bermimpi, ketika makan, masuk kamar mandi, melakukan safar, ketika turun hujan, ketika mendengar azan, ketika masuk masjid, beristikharah, ketika mendapat musibah, melewati kubur, ada angin kencang, melihat hilal (awal bulan), naik kendaraan, ketika bersin, mendengar kokok ayam, ringkikan keledai, penutup majelis dan melihat tempat yang terkena musibah. &lt;br /&gt;Tidak diragukan, bahwa siapa yang menghafal semua doa itu akan mendapati pengaruh dalam hatinya. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah memiliki risalah yang bermanfaat mengenai zikir yang dinamakan al-Kalim at-Thayyib, diringkas oleh al-Albani dengan nama Sahih al-Kalim at-Tayyib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Di antara perkara yang memperbaharui iman adalah bermunajat kepada Allah dan luluh di hadapan Allah -azzawajalla-. &lt;br /&gt;Semakin hamba itu merendah dan tunduk, semakin dekat dia dengan Allah. Karena itu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثروا الدعاء   (رواه مسلم)&lt;br /&gt;“Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Perbanyaklah berdoa (ketika itu).” &lt;br /&gt;Yang demikian karena sujud adalah posisi merendah dan menunduk, tidak seperti posisi lain. Ketika seorang hamba menempelkan keningnya di tanah –sementara Allah Maha Tinggi- menjadilah dia paling dekat dengan Tuhan-nya. Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam ungkapan yang indah dengan bahasa merendah dan luluh bagi orang yang bertaubat di hadapan Allah:&lt;br /&gt;“Bagi Allah ucapan yang indah sebagaimana ungkapan seorang:&lt;br /&gt;أسألك بعزك وذلي إلا رحمتني أسألك بقوتك وضعفي وبغناك عني وفقري إليك هذه ناصيتي الكاذبة الخاطئة بين يديك عبيدك سواي كثير لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك أسألك مسألة المساكين وأبتهل إليك ابتهال الخاضع الذليل وأدعوك دعاء الخائف الضرير سؤال من خضعت لك رقبته ورغم لك أنفه وفاضت لك عيناه وذل لك قلبه&lt;br /&gt;“Aku memohon dengan kemuliaan-Mu dan kehinaanku agar Engkau merahmatiku. Aku meminta dengan kekuatan-Mu dan kelemahanku, dengan kekayaan-Mu dan kefakiranku kepada-Mu, ini adalah diriku yang pembohong lagi pembuat salah berada di hadapan-Mu, engkau punya hamba-hamba yang banyak selain diriku, tidak ada tempat kembali dan mengadu kecuali kepada-Mu, aku meminta kepada-Mu seperti permintaan seorang miskin, mengiba kepada-Mu pengibaan orang yang tunduk dan rendah, aku bermohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang takut dan teraniaya, permintaan dari seorang yang merendahkan dirinya dan di bawah kendali-Mu, untuk-Mu kedua matanya menangis, dan untuk-Mu hatinya merendah .”&lt;br /&gt;Manakala seorang hamba menghadap dengan ungkapan-ungkapan seperti di atas, bermunajat kepada Rab-nya, maka iman dalam hatinya akan berlipat ganda.&lt;br /&gt;Menampakkan kefakiran di hadapan Allah juga menguatkan iman. Allah -subhânahu wata'âla- telah mengabarkan akan kefakiran kita dan kebutuhan kita kepada-Nya. Firman-Nya:&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥  (فاطر:15)&lt;br /&gt;“Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah; dan Allah, Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS.al-Fâthir:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Memendekkan angan-angan. Ini penting sekali dalam memperbaharui keimanan. &lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata:&lt;br /&gt;“Di antara yang agung mengenai hal ini adalah ayat-ayat berikut :&lt;br /&gt;قال تعالى :  أَفَرَءَيۡتَ إِن مَّتَّعۡنَٰهُمۡ سِنِينَ ٢٠٥ ثُمَّ جَآءَهُم مَّا كَانُواْ يُوعَدُونَ ٢٠٦ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يُمَتَّعُونَ ٢٠٧    (الشعراء :205)&lt;br /&gt;“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ`:205-207)&lt;br /&gt;قال تعالى : كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةٗ مِّنَ ٱلنَّهَارِ  (يونس :45)&lt;br /&gt;“...(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat di siang hari....” (QS.Yunus:45)&lt;br /&gt;Sebegitulah dunia, hendaklah manusia jangan memanjangkan angan-angannya dengan mengatakan, “Aku akan hidup dan terus hidup.”&lt;br /&gt;Sebagian Salafussoleh mengatakan kepada seorang lelaki, &lt;br /&gt;“Shalatlah zuhur bersama kami!” &lt;br /&gt;Dia menjawab, &lt;br /&gt;“Jika aku shalat zuhur bersama kalian, shalat asarnya tidak akan shalat bersama kalian!” &lt;br /&gt;Maka dikatakan kepadanya: “Seolah engkau berangan-angan akan hidup sampai tiba waktu shalat asar. Kami berlindung kepada Allah dari panjangnya angan-angan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Merenungi kehinaan dunia, hingga pupus ketergantungan kepada dunia dari hati seorang hamba.&lt;br /&gt;Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى : ... وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ١٨٥   &lt;br /&gt;(آل عمران:185)&lt;br /&gt;“...kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.Ali Imrân:185)&lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;إن مطعم ابن آدم قد ضرب للدنيا مثلاً فانظر ما يخرج من ابن آدم وإن قزحه وملحه قد علم إلى ما يصير    (رواه الطبراني)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya makanan anak Adam merupakan permisalan dunia. Lihatlah apa yang dikeluarkan anak Adam, padahal itu adalah bumbu dan garam (yang semula dimakannya), sehingga sadar akan menjadi apa dia.” &lt;br /&gt;Abu Hurairah -radiallahu'anhu- berkata, aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه أو علماً أو متعلماً     (رواه ابن ماجه)&lt;br /&gt;“Dunia terlaknat serta apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali zikrullah dan yang berkaitan dengannya atau ilmu atau mempelajari ilmu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Yang juga perkara yang dapat memperbarui keimanan dalam hati, mengagungkan "hurumatillah" (hak-hak Allah). &lt;br /&gt;Allah -ta'âla- berfirman,&lt;br /&gt;قال تعالى:  وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢  ( الحج:32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS.al-Hajj: 32)&lt;br /&gt;Hurumatillah adalah hak-hak Allah -ta'âla-. Bisa pada perorangan, tempat maupun pada waktu. Di antara bentuk pengagungan hak-hak Allah pada perorangan seperti menunaikan hak-hak Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Di antara bentuk mengagungkan pada tempat seperti mengagungkan tanah suci (Mekkah dan Madinah), dan pada waktu seperti mengagungkan bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;قال تعالى :  وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ  (الحج/30)&lt;br /&gt;“...dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhan-nya....” (QS.al-Hajj:30)&lt;br /&gt;Di antara bentuk mengagungkan hak-hak Allah, tidak meremehkan dosa-dosa kecil. Abdullah Ibn Mas’ud -radiallahu'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;إياكم ومحقرات الذنوب فإنهن يجتمعن على الرجل حتى يهلكنه    (رواه أحمد )&lt;br /&gt;“Hindarilah dirimu dari dosa-dosa remeh, sesungguhnya dia terkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”&lt;br /&gt;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memberikan contoh seperti suatu kaum yang datang ke suatu gurun, mulailah seorang demi seorang mengumpulkan ranting hingga menjadi gundukan besar, kemudian dinyalakanlah api hingga menghancurkan apa saja yang dimasukkan ke dalamnya.” &lt;br /&gt;Syair:&lt;br /&gt;Jangan meremehkan sesuatu yang kecil&lt;br /&gt;Sesunguhnya gunung berasal dari batu kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Shaidul Khatr:&lt;br /&gt;“Kebanyakan manusia menganggap biasa perkara-perkara remeh padahal mengandung cela pada asalnya. Seperti melepaskan pandangan pada perkara haram atau meminjam buku dan tidak memulangkannya.”&lt;br /&gt;Sebagian salafussoleh berkata:&lt;br /&gt;“Aku meremehkan satu suapan sehingga memakannya, dan kini aku telah berumur 40 tahun dari waktu itu.” &lt;br /&gt;Ini adalah bentuk "ketawadu'annya" (kerendahan hati) -rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16- Yang dapat memperbaharui iman dalam hati: "wala' dan baro`" yaitu bersikap loyal terhadap orang mu’min dan berlepas diri terhadap orang kafir. &lt;br /&gt;Jika hati terkait dengan musuh Allah akan lemah dan pupuslah aqidah di dalamnya. Apabila loyalitas dimurnikan kepada Allah, maka akan loyal kepada hamba-hamba Allah yang beriman, membela mereka, dan membenci dan memusuhi musuh-musuh Allah, sehingga menjadi hiduplah keimanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Kerendahan hati memiliki pengaruh dalam memperbaharui keimanan dan kemuliaan hati dari dampak kesombongan. &lt;br /&gt;Karena rendah hati dalam berbicara dan bersikap merupakan cerminan kerendahan hati kepada Allah. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: &lt;br /&gt;(البذاذة من الإيمان) رواه ابن ماجه &lt;br /&gt;“Kesederhanaan pada pakaian sebagian dari iman” &lt;br /&gt;Artinya rendah hati pada tubuh dan berpakaian &lt;br /&gt;Sabda beliau pula:&lt;br /&gt;(من ترك اللباس تواضعاً لله وهو يقدر عليه دعاه الله يوم القيامة على رؤوس الخلائق حتى يخيره من أي حلل الإيمان شاء يلبسها) رواه الترمذي &lt;br /&gt;“Siapa yang meninggalkan berpakaian mewah "tawadu'an" (rendah hati) karena Allah sedangkan ia mampu untuk itu, Allah akan menyerunya pada hari kiamat di antara makhluk-Nya hingga dipersilahkan untuk mengenakan perhiasan iman yang dikehendakinya."  &lt;br /&gt;Abdurrahman ibn Auf -radiallahu'anhu- dahulu tidak dapat dibedakan dengan para hamba sahayanya jika sedang berada di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Ada amalan-amalan hati yang penting dalam memperbaharui keimanan seperti "mahabbatullah" (cinta kepada Allah), takut kepada-Nya, mengharap kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, rida kepada Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya, bersyukur kepada-Nya, membenarkan-Nya, yakin kepada-Nya, percaya kepada-Nya, taubat kepada-Nya dan amalan-amalan hati lainnya.&lt;br /&gt;Ada pula "maqamat" (kedudukan) yang selayaknya seorang hamba sampai kepadanya untuk menyempurnakan penyembuhan, seperti "istiqamah" (konsisten dalam beramal), "inabah" (kembali kepada Allah), mengingat-Nya, berpegang teguh kepada kitab dan sunah, khusyu’, "al zuhdu wal wara’" (sederha dan rendah hati), dan "muraqabah" (merasa dalam pengawasan Allah). &lt;br /&gt;Maqomat ini telah dipaparkan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah- dalam kitabnya Madâriju as-Sâlikîn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Mengintropeksi diri juga penting dalam memperbaharui hati.&lt;br /&gt;Allah -azzawajalla- berfirman:&lt;br /&gt;قال تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ  )الحشر :18(&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (Q.S.al-Hasyr:18)&lt;br /&gt;Umar ibn Khatthab -radiallahu'anhu- berkata, &lt;br /&gt;“Introspeksilah (hitung-hitung) diri kalian sebelum kalian dihitung.” &lt;br /&gt;Al-Hasan berkata, &lt;br /&gt;“Janganlah kamu bertemu seorang mukmin kecuali introspeksilah diri.” &lt;br /&gt;Maimun ibn Mahran pun berkata, &lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang bertakwa lebih ketat menghitung dirinya sendiri dari pada teman yang kikir." &lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata, &lt;br /&gt;“Celakalah jiwa yang lalai menghitung dirinya dan memperturutkan hawa nafsunya.”&lt;br /&gt;Seorang muslim hendaknya meluangkan waktunya untuk "berkhalwat" (menyendiri) merenungi dirinya sendiri, mengevaluasi, menghitung dan memperhatikan keadaannya, bekal apa yang telah dipersiapkan untuk hari kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Sebagai penutup, doa kepada Allah -azzawajalla- merupakan sebab yang terkuat yang selayaknya seorang hamba mengupayakannya. Sebagaimana Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;إن الإيمان ليخلق في جوف أحدكم كما يخلق الثوب فاسألوا الله أن يجدد الإيمان في قلوبكم&lt;br /&gt; “Sesungguhnya iman itu diciptakan di dalam diri setiap kalian sebagaimana pakaian dibuat, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati kalian.”&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang baik dan sifat-sifat-Mu yang tinggi agar memperbaharui iman dalam hati-hati kami. Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada keimanan dan hiasilah ia pada hati-hati kami. Jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, jadikanlah kami orang-orang yang diberi petunjuk. Maha suci Tuhan yang Maha Perkasa dari apa yang disifati-Nya dan keselamatan atas para Rasul pengemban risalah dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-4370719814787157457?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4370719814787157457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4370719814787157457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/09/fenomena-lemahnya-iman.html' title='Fenomena Lemahnya Iman'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-8546289686450620312</id><published>2011-06-07T08:32:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T08:34:53.132-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FATWA ULAMAK MUKTABAR'/><title type='text'>Hukum Bertawassul 01</title><content type='html'>Pengertian Tawassul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawassul dalam bahasa berarti mencari cara untuk mendekatkan diri kepada sesuatu. Dalam istilah berarti upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الوَسِيلَة &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya.” (Al-Maidah: 35). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi hukum tawassul terbagi menjadi dua: Tawassul masyru’ (disyariatkan) dan tawassul mamnu’ (dilarang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawassul masyru’. Tawassul ini mempunyai beberapa bentuk: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Tawassul kepada Allah dengan nama dan sifatNya, artinya Anda menyebut nama Allah dan beribdah kepadaNya sesuai dengan tuntutan maknanya. Hal ini tercantum dalam firman Allah Ta'ala, “Hanya milik Allah Asmaa`ul Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asmaa`ul Husna itu.” (Al-A’raf: 180). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Tawasshul kepada Allah dengan iman dan amal shalih yang dilakukan oleh yang bersangkutan bukan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu.’ Maka kamipun beriman. ‘Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (Ali Imran: 193). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tersebut memohon kepada Allah agar mengampuni mereka, menghapuskan kesalahan mereka dan mewafatkan mereka bersama orang-orang baik, namun sebelum itu mereka menyatakan beriman kepada seruan Nabi saw yang mengajak mereka untuk beriman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw menceritakan tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua oleh sebongkah batu besar, ketiganya berhasil lolos dari maut setelah masing-masing berdoa kepada Allah dengan bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul kepada Allah dengan baktinya kepada bapak ibunya, orang kedua dengan sikap menahan diri dari yang haram dan orang ketiga dengan amanatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Tawassul kepada Allah dengan mengakui dosa-dosa dan menampakkan kebutuhan dan ketergantungan kepadaNya. Seperti yang dilakukan oleh Musa, “Musa berkata, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.” (Al-Qashash: 16). Seperti doa Ayyub, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya`: 83). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- Tawasshul kepada Allah dengan doa orang shalih yang masih hidup. Ketika para sahabat ditimpa kekeringan, mereka meminta kepada Nabi saw agar berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan, ketika itu Nabi saw masih hidup. Sesudah beliau wafat para sahabat meminta paman beliau Abbas bin Abdul Mutthalib untuk berdoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawassul mamnu’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawassul ini mempunyai beberapa bentuk, di antaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Tawassul dengan berdoa kepada orang mati. Ini tidak boleh karena orang mati tidak mampu berdoa, tidak untuk dirinya dan tidak pula untuk orang lain. Orang mati didoakan bukan dimintai doa, kalau orang mati bisa berdoa tentu dia akan berdoa untuk dirinya sendiri. Berdoa kepada orang mati hanya akan membebaninya saja, kalau dia bisa berkata maka dia akan bilang kepada orang yang meminta kepadanya, “Kurang ajar kamu, bukannya membantuku, malah justru memperberat bebanku. Aku sendiri belum tahu nasibku, ini kamu meminta sesuatu kepadaku yang tidak aku miliki bahkan untuk diriku sendiri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat sepeninggal Nabi saw berkali-kali ditimpa masalah besar, tetapi tidak ada yang datang ke kuburan Nabi saw untuk meminta kepada beliau supaya memohon kepada Allah, sebaliknya mereka datang kepada orang hidup yang doanya mustajab seperti yang dilakukan oleh Umar dengan Abbas paman Nabi saw ketika meminta hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Tawassul dengan kedudukan Nabi saw dan kedudukan orang lain selain Nabi saw. Dalam hal ini ada hadits palsu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam dalam Majmu' al-Fatawa 10/319 yang berbunyi “Jika kalian meminta kepada Allah maka memintalah kepadanya dengan kedudukanku karena kedudukanku di sisi Allah agung.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada dalil shahih yang menetapkan bolehnya tawassul model ini, sehingga yang tepat adalah bahwa ia tidak boleh karena ibadah berpijak kepada dalil bukan karangan atau rekayasa akal belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Tawassul dengan hak makhluk, karena makhluk tidak mempunyai hak wajib atas Allah, justru sebaliknya Allah-lah yang memberikannya kepada makhluk sebagai sebuah karunia. Kalau Allah membalas kebaikan kepada orang-orang yang taat, itu semata-mata anugerah dan karunia bukan layaknya balasan makhluk kepada makhluk yang lain. Di samping itu hak yang Allah berikan itu adalah hak khusus bagi penerimanya dan tidak ada kaitannya dengan orang lain, maka jika ada orang lain yang bertawassul kepada Allah dengan hak tersebut berarti dia bertawassul dengan sesuatu yang asing yang tidak ada kaitannya dengan dirinya dan itu tidak berguna, karena usaha orang hanya berguna bagi yang bersangkutan bukan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- Tawassul dengan dzat makhluk dengan mengatakan, “Ya Allah aku memohon kepadamu dengan (perantara ) fulan.” Tawassul ini tidak boleh karena Allah tidak pernah menyatakan bahwa pengangkatan fulan sebagai perantara antara pendoa dengan Allah sebagai sebab dikabulkannya doa di samping Dia memang tidak mensyariatkannya bagi hamba-hambaNya. Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kitab Tauhid karya Dr. Shalih al-Fauzan Juz 3. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari ;http://www.alsofwah.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-8546289686450620312?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/8546289686450620312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/8546289686450620312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/06/hukum-bertawassul-01.html' title='Hukum Bertawassul 01'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-1647328454552636031</id><published>2011-05-15T07:07:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T07:10:01.727-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Cara berubat dengan Al Quran</title><content type='html'>Cara Pengobatan Dengan Al Quran&lt;br /&gt;﴿ كيف تعالج مريضك بالرقية الشرعية ﴾&lt;br /&gt;]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Al-Sadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah : Muzaffar Sahidu&lt;br /&gt;Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009 - 1430&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﴿ كيف تعالج مريضك بالرقية الشرعية ﴾&lt;br /&gt;« باللغة الإندونيسية »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; عبد الله بن محمد السدحان&lt;br /&gt;قدم له:&lt;br /&gt;الشيخ: عبد الله المنيع&lt;br /&gt;الشيخ: عبد الله الجبرين&lt;br /&gt;الشيخ: ناصر العقل&lt;br /&gt;الشيخ: محمد الخميس&lt;br /&gt;الشيخ: عبد المحسن العبيكان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة: مظفر شهيد محصون &lt;br /&gt;مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009 - 1430&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ&lt;br /&gt;KEUTAMAAN AL-QUR'AN DAN MEMBACANYA&lt;br /&gt;P e r s e m b a h a n&lt;br /&gt;Kepada setiap orang yang mengarahkan dirinya untuk mencari kebenaran, bertaqwa kepada Allah, dan mengembalikan pemahamannya secara textual pada nash sebagimana yang telah tetapkan oleh para ulama, sebagai orang yang ahli dalam bidang ilmu syara', aqidah dan sebagai spesialisasinya sehingga pemahaman tersebut sesuai dengan standar sayara' yang benar, demi mengantisifasi segala kekurangan dan kerancuan serta melaksanakan perintah Allah Azza Wa Jalla: &lt;br /&gt;وَلَـوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَإِلَى أُوليِ اْلأَمْـرِ مِنْـهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِـطُوْنَهُ مِنْـهُمْ وَلَوْ لاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعـْتُمُ الشَّـيْـطَانَ إِلاَّ قَلِيْلاً&lt;br /&gt;"Dan kalau mereka menyerahkan kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)." &lt;br /&gt; Kepada setiap orang yang memahami dengan baik apa yang terkandung di dalam buku ini; bukan seperti orang yang dikatakan oleh Al-Taqiyyus Subky rahimahullah dalam kitabnya (Qoidah Fil Jarhi Wat Ta'dil, hal. 93) ia berkata: "Aku melihat banyak orang yang mendengar sebuah perkataan namun memahaminya bukan seperti apa yang dimaksudkan, sehingga merubah isi kitab, maksud pengarang, sebagai orang yang bergelut dan mengamalkan isi kitab tersebut. Padahal, sang penulis tidak menghendaki pemahaman yang disimpulkan oleh sang pendengar tersebut".&lt;br /&gt; Kepada setiap orang yang melandaskan pendapatnya pada dalil lalu meyakini kebenarannya dan bukan sebaliknya, sebab seorang yang bertqlid buta -semoga Allah mengampuni kita dan mereka- terkadang mengingkarimu hanya karena pendapatmu bersebrangan dengan pendapat seorang penimba ilmu yang tidak didasarkan pada dalil. Mereka seperti apa yang diungkapkan oleh Al-Mawardi rahimahullah dalam kitabnya: Adabud Dunia Wad Din hal. 78, dia berkata: "Aku telah melihat contoh orang yang termasuk di dalam kelompok ini; seorang lelaki yang berdebat pada sebuah majlis yang dihadiri oleh khalayak, lawannya telah mengemukakan dalil-dalil yang benar, sebagai jawaban balik terhadap dalil tersebut dia mengatakan: "Sesungguhnya ini adalah penyimpulan hukum yang salah dan kesalahannya adalah karena guru saya tidak menyebutkan masalah tersebut dan sesuatu yang tidak disebutkan oleh guru saya tidak memiliki nilai kebaikan padanya. Akhirnya lawan debatnya diam terheran".&lt;br /&gt; Ibnu Qutaibah rahimhullah berkata di dalam kitabnya, Muqaddimah Ishlahi Galathi Abi Ubaid, hal. 47: "Dahaulu kita memohon maaf karena kebodohan kita, namun sekarang kita memohon maaf karena ilmu yang kita miliki, dahulu kita berterima kasih kepada orang lain karena dia mengingatkan dan menunjuki kita, namun sekarang kita rela dengan sikap diam, keadaan ini bukanlah hal yang aneh saat kondisi telah berubah, dan tidak pula diingkari saat zaman telah berubah. Hanya kepada Allah kita berharap agar diberikan pengganti yang baik dan hanya kepadaNyalah kita mohon pertolongan".&lt;br /&gt; Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabtnya,,,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar&lt;br /&gt;Abdullah bin Sulaiman Al-Mani'&lt;br /&gt;Kepala Pengadilan Tinggi Bagian Barat Makkah Al-Mukarramah dan Anggota Majlis Ulama Kerajaan Saudi Arabia&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memlihara manusia, Sembahan manusia, Tuhan yang menguasai subuh, apa yang dikehendakiNya pasti terjadi, dan apapun yang tidak dikehendakiNya pasti tidak akan pernah terjadi, tiada daya dan upaya kecuali dengan kehendakNya, shalawat dan salam kepada Rasul Allah, keluarga dan para shahabatnya, Amma Ba'du:&lt;br /&gt;Aku telah membaca buku ini, yang telah ditulis oleh yang mulia Syekh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Sadhan, yang membahas tentang ruqyah syari'yah dan pengaruhnya, sebagai terapi dari berbagai macam penyakit, terutama penyakit ain  berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: &lt;br /&gt;                             لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْحَمَةٍ   &lt;br /&gt;"Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit ain atau (imflikasi sengatan yang) beracun". Saya melihatnya sebagai hasil tulisan yang yang sangat berharga dan bermanfaat, sumbernya adalah kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wa Sallam serta apa-apa yang dibukakan oleh Allah bagi para hambanya berupa do'a, rintihan pengaduan, permohonan dan ketergantungan hanya kepada Allah; tidak kepada selainNya.&lt;br /&gt;Tidak meragukan lagi bahwa pembahasan tentang masalah ini sangat penting dan dibutuhkan pada setiap zaman dan tempat, penulisnya adalah seorang yang sudah dikenal kelurusan aqidahnya, kelurusan pemikiran dan ketaqwaannya, semoga Allah memberikan balasan yang baik bagi dirinya, dan menjadikan tulisan ini, ilmu dan upaya pengarang yang hanya mencari keredhaan Allah sebagai usaha yang memberikan manfaat bagi saudara-saudaranya yang seiman, yaitu mereka yang terjengkit penyakit hasad, orang-orang yang bersifat hasad dan orang yang terkena penyakit ain (Ma'yun) serta orang-orang yang menyebarkan penyakit ain (Aa'in).&lt;br /&gt;Sangat disayangkan, sebagian orang berprasangka buruk terhadap saudaranya sendiri, padahal sebagian dari prasangka buruk adalah dosa, dan ini merupakan prasangka buruk yang mendatangkan dosa bagi pelakunya. Mereka berprasangka negatif terhadap aqidah dan pemikiran saudaranya sendiri saat melihat atau mendengar bahwa ia bertanya kepada pasiennya: Apakah ada orang terabayang di dalam benakmu? (saat meruqyah seorang pasien) dan prasangka ini bukan pada tempatnya, padahal saudaranya tersebut sedang mempraktikkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam saat beliau meruqyah Sahl bin Hunaif: "Apakah engkau mencuriagai seseorang?". Dia dengan apa yang ditanyakannya sedang melaksanakan dan menjalani sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia telah menyebutkan bahwa beberapa pasien saat diruqyahnya dan bertanya kepadanya: Apakah engkau mencurigai seseorang?, Apakah ada orang yang tergambar di dalam benakmu? Apakah engkau melihat sesuatu yang menyakitimu di dalam mimpimu?, dan wawancaranya ini bersama pasien bukanlah tindakan yang mesti menimbulkan keraguan di dalam aqidah dan kebenaran kayakinannya, sebagaimana hal ini juga tidak termasuk praktik paranormal, kebohongan dan perdukunan saat dirinya menampilkan tindakan seakan-akan mengetahui seluk beluk penyakit, sebab-sebab dan obatnya. Saudara yang kita cintai ini sangat jauh dari apa yang dituduhkan tersebut dan tidak termasuk golongan mereka yang sesat.&lt;br /&gt;Allah telah memberikan manfaat dengan ruqyahnya tersebut orang-orang yang telah terserang penyakit jiwa dan pasien yang lainnya, dari mereka yang terjangkit penyakit jasmani, dan Allah memberikan nikmat baginya dengan kesuksesan menjalankan praktik ruqyah, hal ini termasuk karomah dari Allah. Dan semoga sebab keberhasilan ini adalah karena ketaqwaannya kepada Allah, dan harapan hanya untuk mendapakan pahala dan bertaqarrub kepada Allah serta memberikan manfaat bagi saudaranya yang seiman. Dan tidak diragukan lagi bahwa buku ini menyingkap hakekat pemikirannya dan keselamatan dirinya dari apa yang diprasangkakan, juga tidak diragukan lagi bahwa perkaranya seperti apa yang sebutkan oleh Allah: &lt;br /&gt;إِنَّ بَعْـضَ الظَّـنِّ إِثْـمٌ&lt;br /&gt; "Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa" &lt;br /&gt;Untuk menyempurnakan manfaat pembahasan buku ini, aku sangat senang mempersembahkan sebuah tulisan yang berhubungan dengan ruqyah syar'iyah agar menjadi bagian dari buku anak kita ini, yang mulia syekh: Muhammad Al-Sadhan, semoga Allah memberikan taufiq dan inayahNya bagi pengarang buku ini.&lt;br /&gt;Ditulis pada tanggal 6/3/1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar&lt;br /&gt;Syekh Abdullab bin Abdur Rahman bin Al-Jibrin&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan sebab musabbab, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan semua tuhan, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya shallallahu alaihi wa sallam, dan kepada keluarga dan shahabatnya. Wa Ba'du:&lt;br /&gt;Aku telah membaca risalah yang cukup penting, yang berhubungan dengan ruqyah syar'iyah, dalil-dalil dan metodenya, yang telah disusun oleh salah seorang murid saya syekh Abdullah bin syekh Muhammad bin Abdur Rahman Al-Sadhan, dia termasuk seorang murid yang mengkhususkan dirinya dalam membahas ruqyah dan do'a-do'a yang bersumber dari Rasulullah. Banyak buku-buku serupa yang telah ditulis, semoga Allah memberikan manfaat dengannya, di mana buku-buku tersebut mendapat sambutan yang hangat dari kalangan para pembaca untuk menggali manfaat yang terdapat padanya. Surve membuktikan bahwa bahwa ain (sihir mata) diikuti oleh setan dari jenis jin untuk mempengaruhi obyeknya dengan izin Allah secara kauni qodarii  berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: &lt;br /&gt;اَلْعَيْنُ حَـقُّ وَلَوْ كَانَ شَيْئُ سَابِـقُ اْلقَـدَرِ سَبَقَتْـهُ الْعَيْنُ&lt;br /&gt;"Ain itu hak dan seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului qodar, maka mesti didahului oleh ain". &lt;br /&gt;Dan telah jelas, bahwa pada dasarnya saat seseorang mengobati seorang pasien maka dia dituntut untuk mengetahui Aa'in, sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada keluarga pasien (Ma'yun/Maa'in): "Siapakah orang yang kamu curigai", namun jika Aa'in tidak diketahui maka barulah dianjurkan membaca ruqyah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٌ  (Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit ain dan sengatan beracun). Dan sebatas pengetahuan saya, buku ini sangat baik dalam bab yang membahas masalah ini, banyak orang yang memanfaatkannya, di mana dia mengarahkan masyarakat kepada terapi dengan menggunakan Al-Qur'an dan do'a-do'a yang ma'tsur  serta membentengi diri dari wabah dan penyakit dengan menggunakan zikir kepada Allah dalam semua kondisi, sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta'ala tentang hambaNya dalam sebuah firmanNya:              َألَّذِيْنَ يَذْكُـرُوْنَ اللهَ قِـيَامًا وَقُـعُوْدًا وَعَلىَ جُـنُوْبِهِـمْ &lt;br /&gt;"Orang-orang yang menyebut Allah baik dengan berdiri, duduk dan berbaring".  Maka dengan berzikir kepada Allah seorang muslim akan selamat dari racun lisan dan fitnah ungkapan:&lt;br /&gt;وَلاَ تَكُـوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُـوْا اللهَ فَأَنْسَاهُـمْ أَنْفُسَهُمْ أُوْلئِكَ هُـمُ اْلفَاسِقُوْنَ&lt;br /&gt;"Dan janganlah  kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq". &lt;br /&gt;Maka barangsipa yang memuji seseorang yang lalai maka setan akan memanfaatkan kelalaiannya untuk menyakitinya saat dia lupa menyebut nama Allah, Tuhannya. Maka wajib bagi kita untuk membentengi diri dengan berzikir kepada Allah Ta'ala agar kita selamat dari tipu daya setan dan pengikutnya. Kemudian kami tegaskan bahwa metode Ittiham  tidak membuka pintu permusuhan dan saling benci sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang, sebab bahaya penyakit ain terkadang tidak terbayangkan di dalam benak seorang Aa'in, dan bertanya tentang orang yang dicurigai ini dilakukan untuk mengamalkan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar memudahkan seseorang untuk mengambil bekas dirinya baik keringat atau ludahnya atau sesuatu yang pernah dipegangnya seperti alat untuk mencuci sepatu  atau pakaiannya atau kedua bekas tangannya sekalipun tanpa sepengetahuan dirinya, lalu bekas tersebut ditumpahkan kepada pasien yang sedang sakit maka dia akan bisa sembuh dan bermanfaat dengan izin Allah Ta'ala sebagaimana yang dibuktikan oleh pengalaman dan diperkuat oleh hadits yang shahih. Oleh karenanya, tindakan ini jangan sampai membuka peluang terjadinya permusuhan dan saling memutus hubungan, maka jadikanlah itu sebagai pengalaman yang bermanfaat dan sebab terjadinya persatuan dan saling mencintai dengan memberikan manfaat yang baik kepada seorang muslim dan menghindarkannya dari kemudharatan.&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi dan menjaga kita dari setiap bahaya dan keburukan, berlindung kepadaNya dari kedengkian orang yang dengki dan tipu daya orang yang menipu. Hanya Allah yang mengetahui, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatanya.&lt;br /&gt;Ditulis pada tanggal 17/8/1418 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar&lt;br /&gt;Syekh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al-Aql&lt;br /&gt;Dosen Universitas Islam Imam Ibnu Su'ud, jurusan Ushuluddin, bagian Aqidah dan pemikiran moderen.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Wa Ba'du: &lt;br /&gt;Saya telah membaca buku yang berjudul: &lt;br /&gt; كَيْفَ تُعَالِجُ مَرَضَكَ بِالرُّقْيَةِ اّلشَرْعِيَّةِ  karangan syekh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Sadhan, membacanya lebih dari sekali, dan saya menyimpulkannya sebagai buku ilmiyah yang sangat bermanfaat yang menggabungkan antara orisinalitas syara' dan pengalaman yang benar, dan tidak nampak bagiku di dalam kitab tersebut sesuatu yang menyalahi prinsip-prinsip aqidah. Fenomena yang muncul pada akhir-akhir ini tentang takhyil (ilustrasi), di mana saya telah membahasnya dengan syekh Abdullah, maka saya menemukan pemikiran beliau yang benar sesuai dengan syara', alhamdulillah. Dan kita telah sepakat bahwa gambaran apapun yang menghampiri seorang pembca ruqyah (roqi) atau ilustrasi apapun yang tersirat pada benaknya tentang pribadi beberapa orang yang tidak ada di hadapannya, yang dianggap menyebabkan terjadinya mudharat bagi seseorang baik dengan penyakit ain, sihir dan yang lainnya tidak mempunyai dasar secara syara'. Namun jika pasien tersebut mengingat dan menyadari suatu peristiwa, sikap dan kalimat atau yang lainnya, di mana dia bisa menyebutkan seseorang yang dicurigai menyebabkan penyait ain pada keadaan tersebut atau sesuatu yang menyakitinya, maka perbuatan ini mempunyai landasan di dalam syara' seperti yang sebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: "Sipakah yang engaku curigai?", atau Allah memuliakan orang yang dikehendakiNya dengan memberikannya karomah tertetentu atau mimpi baik yang memberikan manfaat baginya, maka dia adalah sebagian dari tanda datangnya kabar gembira apabila memenuhi syarat-syarat syar'i.&lt;br /&gt;Adapun jika seorang qori/roqi( )  memaksakan diri untuk berilustrasi dan menjadikannya sebagai dalil yang qoth'I (pasti) untuk mengetahui aa'in atau orang yang menyebabkan penyakit ain maka perbuatan ini tidak mempunyai dasar syar'I, sebatas yang saya ketahui, bahkan bisa menjadi medan bagi tipu daya jin dan setan. &lt;br /&gt;Inilah yang bisa saya tulis, saya mohon kepada Allah semoga kita semua mendapat taufiq, kebenaran dan petunjukNya. &lt;br /&gt;Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluaraga dan para shahabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis pada tanggal, 20/8/1418 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar&lt;br /&gt;Syekh DR. Muhammad bin Abdur Rohman AL-Khamis&lt;br /&gt;Dosen Universitas Islam Imam Ibnu Su'ud, jurusan Ushuluddin, bagian Aqidah dan pemikiran moderen.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Wa Ba'du:&lt;br /&gt;Kepada Saudara: Abdullah Al-Sadhan               Semoga Allah menjaganya.&lt;br /&gt;Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu.&lt;br /&gt; Saya  telah membaca kitab anda yang berjudul:&lt;br /&gt;كَيْفَ تُعَالِجُ مَرَضَكَ بِالرُّقْيَةِ اّلشَرْعِيَّةِ&lt;br /&gt;saya mendapatkannya sebagai sebuah buku yang sangat bermanfaat yang menggabungkan antara adanya pengaruh dan manfaat ruqyah syar'iyah dan berda'wah dengannya, serta antara adanya pengaruh obat medis yang materi dan tidak mengingkari manfaatnya. Buku ini telah berusaha untuk menggabungkan anatara dua proses terapi ini, yang diperkaya dengan atsar-atsar yang menjelaskan masalah ini, dan didukung oleh pengalaman panjang sang penulis (buku ini) di dalam bidang yang bersangkutan, terlebih pada zaman kita sekarang ini, di mana banyak orang yang dijangkiti berbagai penyakit karena meremehkan syari'at Allah dan lalai mengingatNya. Banyak di antara mereka yang tidak menoleh kepada ruqyah syar'iyah dan tidak memberikan perhatian baginya, hanya mencukupkan diri dengan memanfaatkan obat-obatan medis yang bersifat materi semata. Sebagian orang membantah adanya penyakit ain dan pengaruhnya, sehingga tidak menganjurkan mempergunakan ruqyah syar'iyah. Fenomena ini terjadi pada saat penyembhan secara medis tidak mampu menagani banyak penyakit. Oleh karena itulah, saya mendapatkan buku ini terbit pada waktu yang tepat dan sangat bermanfaat di dalam bidangnya.&lt;br /&gt;Saya mohon kepada Allah semoga Dia berkenan memberikan ganjaran yang baik bagi penulis dan menjadikannya pada timbangan amal kebaikannya pada hari kiamat.&lt;br /&gt;Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluaraga dan para shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muqaddimah Cetakan Ke-empat&lt;br /&gt;Segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan prilaku kami, barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tiada seorangpun yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkanNya tiada sorangpun yang mampu memberikannya petunjuk. &lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Wa ba'du:&lt;br /&gt;Saya telah mengajukan materi yang terdapat di dalam kitab ini kepada beberapa ulama, mereka -dengan rahmat Allah- mendukung metode yang saya dalam buku ini, yaitu Ittiham ( sebuah metode terapi yang berlandaskan pada prasangka terhadap seseorang) dan meruqyahnya dengan niat memberikan petunjuk dan penyembuhan, namun sebagian kecil dari penuntut ilmu tidak puas dengan metode ini, hal ini kembali pada ketidakadaan gambaran di dalam benak mereka tentang masalah ini, dan hukum terhadap sesuatu didasarkan gambaran tentang sesuatu tersebut, atau karena tidak dipraktikkan, karena taqlid atau keinginan untuk membantah, atau alasan ingin bersikaf wara' yang tercela.&lt;br /&gt;Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Oleh karenanya, seorang yang kuatt agamanya dan bersikap wara' membutuhkan pengetahuan yang banyak tentang kitab, sunnah dan pemahaman yang mendalam tentang agama, sebab jika tidak demikain, sikaf wara' yang menyimpang lebih banyak merusak daripada memberikan manfaat, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan para ahli bid'ah, seperti kelompok Khawarij, Rawafidh dan yang lainnya". &lt;br /&gt;Maka, orang yang membela pendapat yang tidak kuat dengan kedok bersikap wara', sangat tepat baginya hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ نَصَرَ قَوْمَهُ عَلىَ غَيْرِ اْلحَقِّ فَهُوَ كَالْبَعِيْرِ الَّذِي رُدِّي فَهُوَ يُنْزَعُ بِذَنَبِهِ&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang membela kaumnya bukan dengan landasan kebenaran, sama seperti onta yang terpeosok, lalu ekornya ditarik (untuk menyelamatkannya)". &lt;br /&gt;Perbuatan seperti ini bisa membunuh potensi berfikir yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, imam Al-Syaukani berkata: "Sesungguhnya sikap obyektif seseorang tidak akan terbentuk sampai orang tersebut mengambil setiap bidang ilmu dari spesialisnya, siapapun orangnya. Namun jika seseorang menimba ilmu dari yang bukan ahlinya, menguatkan pendapat orang yang berilmu pada suatu bidang yang dia tidak ahli padanya, dan berpaling dari pendapat orang yang ahli pada bidangnya, maka dia akan mengacau dan mencampur adaukkan masalah, juga akan mengemukakan perkataan dan menguatkan pendapat yang jauh dari standar penguasaan, dan dia mesti menemui kenyataan tersebut". &lt;br /&gt;Seorang penyair berkata:      أَسَأْتَ إجَابَةً وَأَسَأْتَ فَهْمًا      إِذَا لَمْ يَكُنْ لَكَ حُسْنُ فَهْمٍ &lt;br /&gt;     Jika anda tidak memiliki penguasaan yang baik&lt;br /&gt;Anda akan buruk saat menjawab dan memahami.&lt;br /&gt;Demi Allah!. Tidak ada seorangpun yang berdiskusi dengan kami dalam masalah ittiham (dalam rangka pengobatan penyakit ain) kecuali mereka membutuhkan metode seperti ini-dengan karunia Allah semata. Semoga Allah membukakan segala kesulitannya! Agar Allah berkenan menampakkan yang hak dengan kalimahNya, sungguh kami telah meninggalkan berdebat dalam masalah ini dan mencukupkan diri dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sang penunjuk jalan kebenaran:&lt;br /&gt;أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ اْلَجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ اْلِمرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقَّا                     &lt;br /&gt;"Saya akan menjamin sebuah rumah di sebuah tempat di surga bagi orang yang meninggalkan berdebat seklipun dia benar". , Aku berpesan kepada orang yang berjalan dengan metode ini: Berjalanlah dengan curahan berkah dari Allah, dan camkanlah perkataan Imam Wahab bin Manbah: (Tinggalkanlah bangga diri dan perdebatan. Sungguh, engaku tidak pernah dikalahkan oleh dua orang: orang yang lebih alim dari kamu, sebab bagimana mungkin anda akan mendebat orang yang lebih alim dari dirimu? Dan orang, di mana anda lebih mengerti dari dirinya, bagaimana mungkin anda akan memusuhi dan mendebat orang di mana anda lebih mengerti dari dirinya, sementara dia tidak memberikan manfaat apapun bagimu". &lt;br /&gt; Berangkat dari firman Ta'ala:     فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَئٍ فَرُدُّوْهُ إِلىَ اللهِ وَالرَّسُوْلِ&lt;br /&gt;"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rsaul (sunnahnya)". . Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk memahami nash-nash wahyu sebagaimana mestinya dan sesuai dengan metode yang telah ditetapkan oleh syara' yaitu dengan kembali kepada ulama umat ini. Pada mulanya, saya mengajukan kitab ini kepada syeikh Abdullah bin Jibrin semoga Allah memanjangkan umurnya, maka beliau mendukung kami dengan ungkapan yang terukir dengan tinta emas dan memberikan motifasi bagi kami untuk melanjutkan pembahasan-semoga Allah menjadikannya sebagai amal shaleh bagi diri beliau-lalu saya mengajukannya kepada syeikh Abdul Aziz bin Baz-semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau-pada saat beliau masih hidup, saya juga memperoleh dukungan yang penuh dari beliau, kitab ini telah dibacakan kepada beliau oleh yang mulia syeikh Muhammad Musa,- semoga Allah menjaganya- selaku penanggung jawab kantor beliau pada saat itu. Di dalam kitab ini beliau memberikan dua catatan sebagai masukan: Pertama: Masalah meminum bekas aa'in (orang yang menjadi sebab penyakit ain). Syeikh menegaskan bahwa pada dasarnya dalam masalah ini adalah seseorang yang terkena harus mandi (dengan air bekas orang yang menjadi sebab penyakit ain), sebab nash menerangkan hal yang demikian. Lalu saya bertanya: "Apakah ada larangan jika seseorang meminumnya?, sebab realita ini sudah dikenal oleh masyarakat di negeri ini?. Lalu syekh menambahkan: Pada dasarnya hanya dengan mandi saja". Lalu seorang yang hadir berkata:  "Demi Allah wahai syekh kami tidak sembuh kecuali dengan meminumnya". Maka syekh tersenyum, lalu saya segera bertanya: "Bagaimana paendaptamu wahai syaekh?" Beliau menjawab dengan satu kata: "Jika demikian maka dia boleh mandi dan meminumnya". &lt;br /&gt;Masukan yang kedua, tentang tulisan saya di dalam buku ini yang menjelaskan adanya gelombang kekuatan tertentu yang terkandung di dalam ludah, keringat, rambut, kuku dan darah seseorang. Beliau bertanya: Apakah gelombang ini dapat dibuktikan secara ilmiyah?. Aku menjawabnya bahwa gelombang ini adalah kekuatan permanent yang telah pastikan keberadannya di dalam ilmu radiology yang dikaji di Eropa, dan saya sendiri telah meneliti tentang kenyataan ini melalui alat video back. Maka syekh -Semoga Allah mencurahkan rahmat baginya- mengatakan: "Jika ia dipastikan wujudnya secara ilmiyah, maka aku mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menundukan ilmu pengetahuan untuk membuktikan kebenaran agama ini".&lt;br /&gt; Setelah wafatnya syekh bin Baz rahimahullah, aku mengajukan buku ini kepada guru kami, yang mulia syaekh Muahmmad bin Utsaimin rahimhullah pada masa hidup beliau, dan merupakan kemuliaan bagi saya untuk bisa bertemu dengan beliau dan beberapa penuntut ilmu selama dua bulan, beliau menyetujui dan mendukung penulisan buku ini, beliau menegaskan: "Manfaatkanlah sesuatu apapun yang (dibolehkan)  untuk pengobatan".&lt;br /&gt; Terakhir saya mengajukan buku ini kepada yang mulia guru kami Abdullah bin Sulaiman Al-Mani', semoga Allah menjaganya dan menjadikannya bermanfaat bagi umat ini, beliau –alhamdulillah-mengakui kebolehan metode ittiham, sebab fatwa yang diputuskan oleh badan riset  ilmiyah dan fatwa kerajaan Saudi Arabia berhubungan dengan larangan terhadap metode penyembuhan secara takhyiil  (yaitu mengkhayalkan atau menggambarkan tentang rupa orang yang tertuduh menjadi sebab terjadinya penyakit ain. Pen.), sebab metode ini mengandung unsur kerja sama sengan setan. Dan syaekh-semoga Allah menjaganya-teramsuk salah satu anggota yang teragabung di dalam badan fatwa yang terhormat ini, dan beliau pasti telah mengetahui tentang isi fatwa tersebut. Saya sangat tertarik untuk mengetengahkan metode ittiham terhadap aa'in dan kebolehannya secara syara', serta perebedaan antara metode takhyiil yang diharamkan dan metode ittiham yang perbolehkan di dalam hadits, dengan tujuan memutuskan jalan pemikiran orang yang meragukan kebolehannya dan orang yang masih mancari tentang kebolehan secara syara' bagi experiment yang terdapat dalam kitab ini, di mana saya berusaha secara maksimal untuk mengembalikan kitab ini pada dasarnya yang syar'I, segala puji saya ucapkan hanya kepada Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad. &lt;br /&gt;أُلئِكَ آباَئيِ فَـجِئْنِي بِمِثْلِهِمْ   إِذَا جَمَعَتْنَا يَا جَرِيْرُ الْمَجَامِعُ&lt;br /&gt;Mereka adalah bapak-bapakku, berikanlah aku orang seperti mereka&lt;br /&gt;Saat kita dipertemukan wahai Jarir, dalam sebuah pertemuan.&lt;br /&gt;Abdullah Al-Sadhan, Ramdhan yang penuh berkah 1/ 9 / 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah berfirman:&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ&lt;br /&gt;"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada dalam) dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". &lt;br /&gt;Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muahmmad yang telah bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ لَمْ يُنْـزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْـزَلَ لَهُ شِـفَاءً عَلِمَهُ مَـنْ عَلِمَهُ وَجَهِلـَهُ مـَنْ جَهِلَهُ&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan baginya penawar, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya".  Amma Ba'du:&lt;br /&gt; Di akhir-akhir ini muncul fenomena terafi dengan Al-Qur'anul Karim,  tentu ini adalah sebuah fenomena yang bagus. Akan tetapi, hal yang sangat mengherankan dan disayangkan adalah terjunnya orang-orang yang bodoh yaitu orang-orang tidak memiliki ilmu syara' padanya, akhirnya berubah menjadi transaksi yang beroirentasi keuntungan materi dan memakan harta orang dengan cara yang bathil. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat masih sangat respect terhadap pengobatan jasmani semata dan meninggalkan pengobatan secara syar'I. Realita inilah yang mendorong saya untuk menyusun buku yang sederahana ini, yaitu saat saya menyaksikan kebutuhan masayarakat, khususnya para ahli ruqyah untuk merivisi aqidah yang mereka yakini (padahal mereka adalah umat yang bertauhid), dengan menjauhkan mereka dari ketergantungan kepada perbuatan bid'ah, mantra-mantra dan khurofat para pelaku tasauf yang datang dari luar, di samping kelalaian para dokter dengan asfek keimanan dalam mengobati penyakit dan sikap mereka yang meremehkan ruqyah syara' yang benar.&lt;br /&gt; Harus ada batasan-batasan tertentu yang menjadi rambu-rambu, dan harus ada klinik Al-Qur'an untuk menjaga aktifitas ini dari pemanfaatan para dukun dan para pembohong, dibarengi dengan penjelasan tentang hukum-hukum syara' tentang masalah ruqyah ini, yang didasarkan pada dalil-dalil yang benar, Al-Qur'an dan As-Sunnah. Klinik Al-Qur'an ini diupayakan berdampingan dengan klinik-klinik kedokteran jasmani dan pengobatan kejiwaan di berbagai rumah sakit dibawah payung yang remsi. Bersamaan dengan itu, harus dibarengi dengan upaya menyeleksi para pembaca ruqyah yang  handal, yang sudah diakui kebaikan akhlaqnya dan kemampuan ilmu syara'nya  berdasarkan standar pengawasan yang baku, sehingga dengan aktifitas ini akan terhimpun dua landasan, yaitu landasan penyembuhan, yaitu ruqyah syariyah, dan sebab penyembuhan yaitu upaya-upaya medis. Dan metode inilah yang dikembangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  dalam mengobati suatu penyakit, beliau bersabda:&lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِالشِّفَائَيْنِ الْقُرْآنُ وَالْعَسَلُ&lt;br /&gt;"Hendaklah kalian memanfaakan dua pengobatan: Al-Qur'an dan madu". &lt;br /&gt;Imam Al-Suyuthi berkata: "Dalam sabda ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggabungkan dua usaha penyembuhan yaitu usaha manusiawi dan penyembuhan ilahiy". &lt;br /&gt;Sebab, biasanya beberapa penyakit disebabkan oleh ain, dan makna hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: "اَلْعَيْنَ حَقٌّ" Ain itu adalah haq adalah sebuah ungkapan (kekaguman, pujian dan lain-lain) tanpa dibarengi menyebut nama Allah (Dia adalah racun lidah), yang dimaksud bukan indra mata. Namun dinamakan dengan nama (ain) sebab matalah yang tahu tentang realita sesuatu, maka pada saat itulah setan-setan yang hadir disekitar dirinya meluncur (bersama ungkapan tersebut) dan berjalan untuk menyakiti obyek (orang yang disifati) dengan izin Allah, dan difinisi syar'I tentang masalah ini-sepengetahuan saya- belum disebutkan oleh para ulama. Oleh karena itulah saya sangat memperhatikan dan memperkuat urgensinya secara syara' dengan meminta bantuan Allah Azza Wa Jalla, kemudaian bantuan guru-guru kami yang secara khusus membidangi aqidah, dan inilah yang terpenting. &lt;br /&gt;Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Mulia, Tuhan Arsy yang agung memberikan manfaat dengan tulisan ini setiap orang yang membacanya dan menyebarkannya serta berdo'a bagi pengarangnya: &lt;br /&gt;إِنْ أُرِيْدُ إِلاَّ اْلإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ&lt;br /&gt; "Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan".  &lt;br /&gt;Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluaraga dan para shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P A S A L     P E R T A M A&lt;br /&gt;C A R A    P E N G O B A T A N&lt;br /&gt;Sebelum mengobati penyakit apapun, terdapat beberapa langkah dan kaidah-kaidah penting yang harus dimanfaatkan, yaitu:&lt;br /&gt;1-Firasat&lt;br /&gt;Firman Allah Ta'ala:                                                    إِنَّ فِي ذلِكَ َلآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِيْنَ&lt;br /&gt;Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda". QS. Al-Hijr: 75. Pirasat menempati salah satu kedudukan "إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإَِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ" sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitabnya: Madarijus Salikin. Mujahid menafsirkan ayat (لِلْمُتَوَسِّمِيْنَ) dengan mengatakan: bagi orang-orang yang berfirasat, Ibnu Abbas radhiallahu anhu berakata: bagi orang-orang yang memperhatikan, Qotadah berkata bagi orang-orang yang mengambil ibrah, dan Muqotil berkata bagi orang-orang yang berfikir.&lt;br /&gt; Firasat adalah menjadikan keadaan yang terlihat untuk menyingkap situasi yang tidak terlihat. Landasan kita dalam masalah ini adalah hadits riwayat Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang wanita di rumahnya, dan pada wajahnya terdapat saf'ah, maka beliau bersabda: اِسْتَرْقُوْا لَهَا فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ "Ruqyahlah dia, sesungguhnya dia ditimpa penyakit yang disebabkan oleh pengelihatan". Kata "Saf'ah" Ibnu Hajar mengatkan di dalam kitab Fathul Bari: Ibrahim Al-Harbi mengatakan: warna kehitam-hitaman yang menyelimuti wajah, Al-Ashma'I mengatakan: warna kemerah-merahan yang diliputi warna hitam, dikatakan juga maknanya adalah warna kekuning-kiningan, Ibnu Qutaibah berkata: sebuah warna (yang menempel pada wajah) yang berbeda dengan warna wajah, semua penafsiran di atas saling berdekatan, jika warna asli wajah adalah merah maka saf'ah berwarna hitam pekat, jika kulit wajah putih maka saf'ah berwarna kuning, dan jika kulit wajah berwarna hitam maka saf'ah berwarna merah yang diliputi warna hitam.  Oleh karenanya harus melihat pada perubahan warna wajahnya jika orang yang terkena tersebut seorang lelaki, adapun permpuan maka tidak diperbolehkan untuk melihat pada wajahnya keculai jika orang yang membaca ruqyah tersebut sebagai mahrom bagi perempuan tersebut.&lt;br /&gt; 2-Mendiagnosa Jenis Penyakit.&lt;br /&gt; Tindakan memukul, mencekik, memasukkan zat tertentu ke dalam hidung dan strum listrik pada tahap awal adalah tindakan yang terkadang tidak mendatangkan manfaat, bahkan bisa membawa pada akibat yang fatal baik bagi orang yang membaca ruqyah atau pasien yang diruqyah. Oleh karenanya, bertahap dalam langkah pengobatan dibutuhkan, sebab masuknya jin secara total atau sebagiannya ke dalam kemungkarannya harus dirubah sesuai dengan derajat kemungkaran yang sedang dilakukan. Dan mengawali pengobatan dengan membaca ruqyah kepada pasien, pada dasarnya termasuk proses penyembuhan. Pada saat yang sama, dibarengi mengajak jin yang sedang merasuki tubuh tersebut kepada hidayah. Kalau kita perhatikan keadaan orang-orang sakit karena kesurupan jin dan cara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam mengobatinya maka engkau akan tahu setelahnya hikmah dan pengaruh bacaan tersebut. Di antaranya: &lt;br /&gt;1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwa seorang wanita datang dengan membawa anaknya dan mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah! anakku ini mengidap penyakit gila. Terkadang, saat kami makan siang atau makan malam dia tidak sadar dan akhirnya membuat kerusakan", Ibnu Mas'ud melanjutkan: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengusap dadanya dan berdo'a baginya; akhirnya anak tersebut terbatuk-batuk dan keluar dari tenggorokannya sesuatu seperti anak anjing hitam lalu berjalan". &lt;br /&gt;2. Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Ummu Abban binti Al-Wazi', dari bapaknya, dia bercerita: bahwa kakeknya pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan seorang anakknya yang mengidap penyakit. Rasulullah berkata kepadanya: "Dekatkanlah dia kepadaku dan jadikanlah punggunggnya menghadapku", Maka beliau mengumpulkan ujung atas dan bawah bajunya lalu memukul punggungnya sambil berkata: "Hinalah kamu wahai musuh Allah", setelahnya, anak tersebut berbalik dan memandang dengan pandangan yang benar. Dalam riwayat Ibnu Majah dari Utsman bin Abil Ash diriwayatkan dengan lafaz: "Keluarlah wahai musuh Allah". &lt;br /&gt;3. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Dala'ilun Nubuwah dalam sebuah hadits yang panjang riwayat Usamah bin Zaid berkata: Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam perjalanan melaksanakan ibadah haji, lalu datanglah seorang wanita di sebuah tempat bernama Bathnir Rauha' sambil membawa seorang anak lelakinya dan mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah anakku ini tidak pernah sadar sejak aku melahirkannya samapai hari ini", maka Rasulpun mengambil anak tersebut lalu meletakkannya di antara dada beliau dan tunggangan ontanya dan meludah pada mulutnya sambil berkata: "Keluarlah wahai musuh Allah, sesungguhnya saya adalah Rasulullah", kemudian beliau memberikannya kepada ibunya: "Ambillah, dia tidak apa-apa". &lt;br /&gt;4. Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dari Hansy Al-Shan'ani dari Abdulah bin Mas'ud bahwa dia membaca ruqyah pada telinga seorang yang ditimpa penyakit, kemuidan orang tersebut sadar, maka Rasulullah berkata kepadanya: Apa yang engkau baca pada telinganya? "Aku membaca firman Allah Ta'ala: "أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا ,,،," Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main…." Beliau membaca dari surat Al-Mu'minun ayat 115-118. Maka Rasulullah menjawab: "Seandainya seorang lelaki yang diberikan taufiq oleh Allah membacanya di hadapan gunung-gunung, niscaya gunung tersebut akan lenyap". Al-Haitsami berkata: dalam sanad hadits tersebut terdapat Ibnu Luhai'ah dan dinyatakan lemah, haditsnya hasan sementara sanad-sanad yang lain shahih. &lt;br /&gt;Keberagaman ini disebabkan adanya keberagaman keadaan dan cara pengobatan, kenyataan inilah yang bisa menjelaskan bagi kita kegagalan beberapa pembaca ruqyah saat menghadapi pasien; mereka berpegang secara monoton pada satu keadaan saja.&lt;br /&gt; 3. Al-Qur'an adalah Penyembuh bagi segala penyakit.&lt;br /&gt; Pada dasarnya, setiap pengobatan harus menggunakan Al-Qur'an, setelahnya barulah menggunakan obat-obatan sekalipun pada penyakit jasmani. Tidak seperti yang diyakini oleh para pembaca ruqyah yang bodoh, bagi orang yang berpenyakit jasmani diharuskan ke rumah sakit, dan orang yang berpenyakit jiwa wajibkan pergi ke rumah sakit jiwa dan jika penyakitnya bersifat rohani, maka pengobatannya dengan menggunakan bacaan ruqyah!!, Dari mankah mereka mendapatkan pembagian seperti ini?. Al-Qur'an adalah penawar dan obat bagi hati, penyehat badan dan penyembuh baginyanya, Allah berfirman:&lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ اْلقُـرْآنِ مَا هُـوَ شِـفَاءٌ&lt;br /&gt;     "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar".  Perhatikan ungkapan Al-Qur'an pada kata:  شِـفَاءٌ(yang berariti penawar dalam bahsa Indonesia) dan tidak dengan menggunakan kata دَوَاءٌ (yang berarti obat) sebab hasilnya nyata, sementara obat, mungkin dengan sebab obat tersebut orang bisa sembuh atau terkadang tidak mempunyai pengaruh. Ibnul Qyyim dalam kitabnya Zadul Ma'ad mengatakan: Al-Qur'an sebagai penawar total bagi semua penyakit, baik penyakit hati dan penyakit badan, di dunia dan ahkirat. Dan tidak semua orang diberikan kesiapan dan kemudahan untuk sembuh dengan Al-Qur'an, jika orang yang sakit berobat dengan cara yang baik (dengan ruqyah), dan mengobati penyakitnya dengan keyakinan yang mantap, iman yang kuat, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang teguh, dan memenuhi semua syaratnya niscaya penyakit tidak akan mampu menghadapinya, bagaimana mungkin suatu penyakit mampu menghadapi firman Allah, Tuhan langit dan bumi, yang apabila firman tersebut diturunkan kepada gunung-gunung niscaya dia meluluhkannya atau kepada bumi niscaya akan menghancurkannya.  Dan tidaklah ada penyakit baik, penyakit hati dan badan kecuali Al-Qur'an telah menunjukkan baginya cara pengobatan dan sebab-sebab penyembuhannya. Orang yang tidak sembuh dengan Al-Qur'an tidak akan disembuhkan oleh Allah, orang yang tidak mencukupkan diri dengan Al-Qur'an, maka dia tidak akan pernah dicukupkan oleh Allah". &lt;br /&gt;Oleh karenanya harus diberengi dengan keyakinan dan berbaik sangka kepada Allah: (sebab di antara syarat agar obat bermanfaat bagi seorang yang sakit adalah sikapnya yang menerima obat tersebut dan meyakini manfaatnya bagi kesembuhan dirinya)  dan firman Allah tidak boleh dijadikan sebagai obyek experiment sebab tindakan ini adalah cermin kerancuan di dalam keyakinan, namun sendainya seseorang mencoba air zam-zam dan hal tersebut bermanfaat bagi kesembuhannya, maka hendaklah diyakini dan dipercayai bahwa manfaat tersebut datang dengan izin Allah.&lt;br /&gt;Pembahasan tentang penyambuhan dengan mempergunakan Al-Qur'an untuk penyakit jasmani adalah pembahasan yang panjang, namun demikian saya ingin memberikan beberapa contoh: Terdapat beberapa penyakit baik jasmani atau kejiwaan, di mana setan berperan besar dalam perkembangan penyakit tersebut, hal itu disebabkan karena setan mempunyai kemampuan dalam mengendalikan peredaran darah sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam: &lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ&lt;br /&gt;"Sesungguhnya setan berjalan dalam diri anak Adam dalam peredaran darahnya".  Di antara hal negatif yang diperankan adalah:&lt;br /&gt;Memunculkan Marah. Marah adalah sebab utama bagi timbulnya berbagai penyakit, oleh karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepada seorang yang berkata kepada beliau: "Berikanlah aku wasiat", beliau mengaskan: "Janganlah engkau marah", beliau mengualngi wasiatnya berkali-kali: "Janganlah engkau marah".  Pengaruh marah terahdap badan sangat jelas, seperti luk pada lambung (stomach ulcer) yang dibarengi rasa panas dan radang usus besar (nervus spastic colon) adalah akibat marah yang berlebihan. Begitu juga dengan penyakit gula (diabetes) pada sebagian orang adalah akibat rasa cemas yang disebabkan oleh marah. Banyak lagi penyakit dalam yang diakibatkan oleh marah. Di kepala, seperti penyakit rasa pusing, tersendatnya pembuluh darah (thrombosis), tersumbatnya pembuluh darah di dalam otak (cerebral thrombosis), dan lumpuh yang mendadak. Begitu juga penyakit di dalam hati, seperti penyakit kejang jantung (angina pectoris) di mana marah memiliki peran yang besar dalam menimbulkan dan memuncaknya penykit tersebut. Dia adalah sebab utama terjadinya semua keburukan. Marah berasal dari setan. Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala:  &lt;br /&gt;وَاذْكُـرْ عَبْدَ أَيُّوْبَ إِذْنَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ&lt;br /&gt;"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya; "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".  Sampai dikatakan bahwa Ayyub ditimpa dengan seluruh penyakit baik penyakit jasmani dan jiwa. Maka firman Allah yang mengatakan: بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ yaitu keletihan, penyakit dan kepedihan jiwa, dan smuanya dinisbatkan kepada setan, sebab dialah yang menyebabkannya, sebagai sikap berdab kepada Allah. &lt;br /&gt; Dan segala pujiku bagi Allah, ruqyah telah banyak dibaca untuk menanggulangi berbagai penyakit, khususnya penyakit cronis yang mungkin disebabkan oleh ulah setan, seperti penyakit kanker, tersumbatnya pembuluh darah, asma yang berkepanjangan (acut), lumpuh pada seluruh tubuh (quadrplegia), mandul, diabetes, penyakit hati dan lain-lain, dan semua dapat sembuh dengan karunia dan pertolongan Allah. Sama seperti penyakit tidak teraturnya masa menstrubasi pada sebagian wanita, baik terlambat datangnya atau masanya yang melampaui batas tanpa ada sebab yang jelas, maka sebabnya adalah jin, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya dua kali tentang masalah tersebut, pada jawaban pertma beliau menjawab: "Itu adalah urat darimu"  Pada jawaban yang kedua, pada saat beliau ditanya oleh Hamnah binti Jahsy, dia beratanya: Aku sedang dilanda menstrubasi yang berlebihan, maka beliau menjawab: "Sesungguhnya kejadian itu adalah sebab dari hentakan setan".  Maka setan berusaha untuk menahan sebagian darah lalu darah tersebut keluar kembali setelah berlalunya masa haid agar wanita tersebut tidak shalat dan tidak pula membaca Al-Qur'an!. Atau setan tersebut melukai tempat darah untuk membuat wanita tersebut bingung sehingga tidak bisa membedakan darah tersebut. Akibatnya, dia terhenti shalat. Begitu juga dengan penyakit lumpuh, jin menahan anggoa tubuh yang terkena lumpuh pada sebagian orang yang menderita lumpuh sehingga menghentikan gerakannya, keadaan ini dibarengi dengan rasa: tekanan jiwa, dada sesak dan pusing yang berkelanjutan. Namun jika  dibacakan ruqyah pada bagian tersebut dia merasakan kesemutan pada bagian yang ditimpa kelumpuhan, senadainya dia tidak merasakan kesesmutan berarti jin telah meninggalkan tempat tersebut setelah merusak bagian tubuh yang ditempatinya dan bagian tubuh tersebut tetap pada penyakitnya sampai melewati masa yang cukup panjang, keadaan seperti sangat kronis dan membutuhkan kesabaran serta tetap membacakan ruqyah baginya secara berkesinambungan dengan niat agar disemuhkan oleh Allah untuk mengembalikannya pada fungsi yang semula.&lt;br /&gt;Contohnya: penyakit pada alat-alat pencernaan, urat dan tulang, penanggulangannya dengan cara seorang roqi meletakkan tangannya pada bagian yang sakit sambil membaca:&lt;br /&gt;7x أَعُوْذُ بِقُدْرَةِ اللهِ وَعِـزَّتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِر)) ))&lt;br /&gt;rasa sakit akan hilang dengan izin Allah.&lt;br /&gt;Adapun penyakit jiwa yang ditimbulkan oleh setan adalah:&lt;br /&gt;Schizophrenia. Sebuah penyakit pada otak yang sangat berbahaya, di mana para ahli jiwa mengobatinya dengan tablet atau suntikan, sangat  sedikit pasien yang sembuh secara total, dan sungguh Allah telah memberikan manfaat yang sangat besar dengan ruqyah ini bagi mereka yang menderita penyakit seperti ini, di mana mereka kembali sembuh seperti semula.&lt;br /&gt;Hyipochondriasis (Was-was, cemas dan sedih yang tidak beralasan) adalah suatu penyakit yang terkadang disebabkan oleh jin (karena jin tersebut berusaha memutuskan hubungan hamba dengan penciptanya) dia memulai dari wudhu' lalu melangkah menanmkan keraguan kepada manusia dalam masalah aqidah, adapun penyembuhannya: &lt;br /&gt;Pertama: Was-was dalam pikiran: Peyambuhannya dengan berzikir kepada Allah dan tidak menghiraukan was-was tersebut, bahkan harus menentangnya, lalu berlindung dari setan sambil meniup ke sebelah kiri, serta menyibukkan dirinya dan pikiran dengan berzikir kepada Allah, berbuat yang bermanfaat, berkumpul bersama teman dan bersilaturrahmi.&lt;br /&gt;Was-was dalam perasaan (Para psikolog menyebutnya dengan obsessive compulsive) Penyakit ini lebih berbahaya dari was-was dalam pikiran, di mana seseorang meraskan sakit yang tidak tertentu pada bagian tubuhnya. Penanggulangannya -selain apa yang telah disebutkan sebelumnya-hendaklah di mengobatinya dengan tindakan yang nyata: Orang tersebut harus banyak beraktifitas menghilangkan keamalasan dengan mengunjungi kerabat, berkumpul bersama teman-teman, silaturrahmi, mandi dengan air yang dingin untuk mengaktifkan peredaran darah, berolah raga, safar, membangkitakan semangat optimisme, senyum di hadapan saudar semuslim dan rela dengan segala qodar Allah atas dirinya. Dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah, Allah Subahanahu Wa Ta'ala berfirman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atas lisan Ayyub Alaihis Salam: &lt;br /&gt;وَاذْكُـرْ عَبْدَ أَيُّوْبَ إِذْنَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ&lt;br /&gt;"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya; "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".  Allah tidak mengatkan berzikirlah kepada Allah untuk mengusir setan tersebut, sebab dia adalah was-was yang bersifat real, maka penanggulangannya haris bersifat nyata pula, bahkan Allah menegaskan: &lt;br /&gt;أُرْكُـضْ بِـرِجْلِكَ هذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَـرَابٌ&lt;br /&gt;(Allah berfirman): "Hentakanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".  Yang dipandang adalah keumuman mkana yang dikandung oleh suatu lafaz bukan kekhususan sebabnya, seperti yang diungkapakan oleh para ulama ushul fiqh.&lt;br /&gt; Lihatlah kepada Imam Ahmad rahimahullah, sebagaimana yang diceritakan oleh seorang muridanya, Abu Bakr Al-Marwazi: Aku keluar bersama Abi Abdullah …menuju mesjid, pada saat memasuki mesjid maka dia bangkit untuk shalat dua rekaat, dan aku melihatnya mengeluarkan tangannya dari telapak tangannya, yaitu memberi isyarat dengan dua jarinya dan menggerakkan keduanya; pada saat dia menyelesaikan shalatnya, aku bertanya: Wahai Abu Abdullah aku melihatmu memberi isyarat dengan dua jarimu saat engkau sedang shalat? Ia menjawab: Sesungguhnya setan datang menghampiriku dan mengatakan: Engkau belum mencuci kakimu. Aku berkata: Datangkan dua orang saksi. &lt;br /&gt;Defressi Mental: Pengobatannya dengan tinggal di dalam mesjid, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersbada: وَجُعِلَتْ قُـرَّةُ عَـيْنِي فِي الصَّلاَةِ               &lt;br /&gt;"Dan dijadikan kesenanganku pada shalat"  Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika didatangi oleh perkara yang berat. Jin berusaha agar manusia menyendiri untuk mempermudah mengendalikan dirinya, oleh karena itulah seseorang dilarang menyendiri baik saat tidur, terjaga dan safar. Sehingga apabila setan tidak mampu menggodanya, dia berusaha mengisolirnya secara perasaan, akhirnya dia tidak merasakan keberadaan dirinya di tengah-tengah orang banyak, berfikir yang tidak menentu dan bercerai berai.&lt;br /&gt; Berbicara tentang cara menanggulangi penyakit jasanai dan rohani dengan Al-Qur'an adalah pembahasan yang panjang, pembahsan lebih luas harus merujuk pada kitab zadul Ma'ad karangan Ibnul Qoyyim, dan cukuplah (sebagai bukti yang harus) kamu ketahui bagaimana syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengobati penyakit jasmani dengan Al-Qur'an pada saat dia menuliskan sebuah ayat bagi orang yang sedang pendarahan: &lt;br /&gt;وَقِيْلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَاسَـمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيْضَ اْلَماءُ وَقُـضِيَ اْلأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى اْلُجوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا ِللْقُـوْمِ الظَّالِمِيْنَ&lt;br /&gt;"Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahterapun berlabuh di atas bukit Judi dan dikatakan: Binasalah orang-orang yang zalim."  &lt;br /&gt;Lihatlah pada keagungan firman Allah yang bukan semata untuk angin topan, syaikhul Islam mengumpamakan manusia dengan bumi, dan ini pada dasarnya metode Al-Qur'an di dalam penyembuhan.  Ambillah kata bumi di dalam Al-Qur'an dan kiaskanlah dia dengan manusia: Dan Penyakit tegang dalam urat dan rematik, bacakanlah firaman Allah Azza Wa Jalla atasnya: &lt;br /&gt;وَإِذَا اْلأَرْضُ مُدَّتْ وَأَلْقَتْ مَا فِيْـهَا وَتَخَلَّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبِّـهَا وَحُقَّتْ&lt;br /&gt;"Dan apabila bumi diratakan, dan memunathkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). . Dan untuk penyakit dada, firman Allah Azza Wa Jalla: &lt;br /&gt;أَلَمْ نَشْـرَحْ لَكَ صَدْرَكَ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ الَّذِي أَنْقَـضَ ظَهْـرَكَ&lt;br /&gt;"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan daripdamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu".  &lt;br /&gt;Dan untuk penyakit dalam firman Allah Ta'ala:          إِذَا زُلْزِلَتِ اْلأَرْض زِلْزَالَهَا&lt;br /&gt;"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat)".  Begitulah selanjutnya. &lt;br /&gt; Kesimpulan pembahasan kita di dalam bab ini adalah perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Aisyah saat beliau masuk kepadanya, sementara seorang wanita sedang mengobatinya, Rasulullah memerintahkan:   عَالِجِيْهَا  بِكِتَابِ اللهِ     "Obatilah dia dengan kitab Allah". &lt;br /&gt;Peringatan Penting: Dengan penjelasn ini bukan berarti seseorang meninggalkan pengobatan secara medis!. Seperti pergi ke rumah sakit untuk mendiagnosa jenis penyakit, akan tetapi pengobatan suatu penyakit pada dasarnya menggunakan terapi Al-Qur'an dan do'a-do'a yang warid dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, di tembah dengan pengobatan secara medis, yang dibarengi dengan suatu keyakinan bahwa kesembuhan datangnya dari Allah, maka apabila Allah menurunkan kesembuhan bagi seseorang maka obat tersebut akan bermanfaat bukan sebaliknya. Sebab Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;وَإِذَا َمرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِي&lt;br /&gt;" Apabila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkan aku" .&lt;br /&gt;Oleh karenanya, menggunakan obat medis adalah salah satu bentuk terapi, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sebagian haditsnya telah mengisyaratkan pada tuntunan ini, seperti apa yang disebutkan dalam sebuah hadits: &lt;br /&gt;لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ بَرِئَ بِإِذْنِ اللهِ عَـزَّ وَجَلَّ&lt;br /&gt;"Setiap penyakit mempunyai obat, maka apabila suatu obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan izin Allah Azza Wa Jalla". &lt;br /&gt;Dalam sabda yang lain beliau menegaskan: &lt;br /&gt;إِنْ كَانَ فِي شَيْئٍ مِنْ أَدْوِيَتِكمْ خَيْرٌ  فَفِي شرْطَةِ مِحْجَمٍ  أَوْ شُـرْبَةِ عَسَلٍ&lt;br /&gt;"Jika pada obat-oabatan ada manfaat yang baik maka hal itu ada pada belahan untuk berbekam atau minum madu".  Maka ucapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;إِنْ كَانَ فِي شَيْئٍ مِنْ أَدْوِيَتِكمْ خَيْرٌ&lt;br /&gt;(Jika pada obat-oabtanmu ada manfaat yang baik) maka pengertiannya adalah terkadang  suatu obat tidak bermanfaat, sebab dia adalah terapi semata, dan pada dasarnya pengobatan tersebut dilakukan dengan menggunakan ruqyah syar'iyah. Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِـهذِهِ الْحَبَّةِ السَّـوْدَاءِ فَإِنَّ فِيْهَا شِفـَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ وَالسَّامُ اْلمَوْتُ&lt;br /&gt;"Hendaklah kalian mempergunakan habbah sauda' sebab di dalamnya terdapat penawar bagi setiap penyakit kecuali penyakit al-saam, yaitu mati". &lt;br /&gt;Dan beliau memerintahkan kepada seorang lelaki yang perutnya terasa bergerak-gerak: "Minumkanlah madu kepadanya". &lt;br /&gt;Dari Usamah bin Syarik berkata: Aku berada di sisi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu orang-orang badui datang kepadanya dan berakta: Wahai Rasulullah! Apakah kita harus berobat? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab:&lt;br /&gt;نَعَمْ عِبَادَ اللهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ وَهُوَ اْلَهرَمِ&lt;br /&gt;"Ya kalian harus berobat, sebab sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia telah mennurunkan baginya obat, kecuali satu yaitu penyakit tua".  Maka ucapan Rasulullah: تَدَاوَوْا berarti berobatlah atau pakailah obat-obatan, tetapi obat-obatan ini pada dasarna tidak menyembuhkan hanya sebagai sebab semata.&lt;br /&gt; 4. Bacaan secara imijinatif&lt;br /&gt; Tidak cukup sekedar membaca ruqyah saja, akan tetapi harus mengimijinasikan makana-makna ayat tersebut dan terlarut padanya, dan jika engkau mengiginkan kekuatan pengaruh bacaan ini terhadap jin atau penyakit jasmani, maka hendaklah engkau mengimijinasikan makna yang terkandung di dalam ayat tersebut. Bacaan ini terhadap jin akan berpengaruh  dan terhadap anggota tubuh akan menyebabkan kesembuhan, lihatlah kepada cara yang diterapkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada pembahsan yang telah lewat, bagimana dia mengimijinasikan bacaan tersebut dengan imijinasi yang bersifat terapi untuk penyakit pendarahan, di mana beliau menyerupakan bumi dengan manusia, dan pendarahan tersebut ditelan bumi, sumber pendarahan mengering, pendarahan menghilang, dan perkaranya telah diputuskan serta berakhir!. Akhirnya, penyakit tersebut sembuh.&lt;br /&gt; Jika engkau ingin agar khusyu' di dalam shalat, dalam membaca Al-Qur'an dan ruqyah maka bacalah sebagaimana para shahabat membaca:  Salah seorang di antara mereka menggambarkan adanya surga di samping dirinya, maka dia tersentuh dengan kenikmatan surga tersebut, dan disebelah kirinya tergambar neraka dengan panas apinya yang membakar dan kepedihannya, maka mereka tersentuh dengan pengaruh kepedihannya yang mendorong diri mereka berlindung darinya, juga mengimijinasikan arsy Ar-Rahaman di hadapan mereka dan diri mereka tenggelam padanya, terdengar di dalam diri mereka suara isak tangisan seakan suara air yang mendidih di dalam periuk karena khusyu', hilanglah rasa diri mereka dari dunia ini, seandainya tembok mesjid terjatuh niscaya mereka tidak akan merasakan hal tersebut!. Kita menginginkan imijinasi dan keyakinan yang seperti ini, niscaya semua penyakit kita akan bisa disembuh, dan Al-Qur'an ini jika diturunkan kepada gunung-gunung niscaya akan meluluhkan gunung tersebut, apakah dia tidak cocok untuk tubuh yang hanya terdiri dari gumpalan daging dan darah.&lt;br /&gt;5. Kesembuhan Di Tangan Allah Saja.&lt;br /&gt;Terakadang terapi dilaksanakan secara sempurna seperti membaca ruqyah syar'iyah dan pengobatan secara medis, adanya kesiapan dari pasien untuk menerima pengobatan secara ruqyah dan medis, namun bersamaan dengan hal tersebut sang pasien tidak juga sembuh! Kesembuhan bukanlah hal yang pasti turun. Sebab, setelah melaksanakan terapi tersebut ada kehendak Allah Azz Wa Jalla (sebagai penentu kesembuhan). Hal ini jelas, sama seperti terjadinya gempa pada suatu daerah, dan Allah menghendaki hancurnya suatu gedung yang mengakibatkan korban kematian bagi orang-orang tertentu, sementara yang lain hidup padahal bersama dalam menghadapi bencana yang menimpa orang yang telah meninggal tersebut, begitu juga halnya dengan sesorang yang telah menyempurnakan sebab-sebab yang lazim untuk menyihir orang lain, namun bersamaan dengannya,  sihir tidak berpengaruh pada orang yang dimaksud, sebab Allah Ta'ala telah mengaskan:                                                   وَمَا هُمْ بِضَارِّيْنَ بِهِ مِنْ أَحَـدٍ إِلاَّ بِإذْنِ اللهِ&lt;br /&gt;"Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah" .&lt;br /&gt;Terkadang Allah menghendaki bertahannya suatu penyakit pada seseorang bersamaan dengan sempurnanya tindakan  medis yang pernah dijalankan, karena suatu hikmah yang dikehendaki oleh Allah, yaitu agar orang tersebut menyerahkan urusannya kepada Allah, mencuci dosa-dosa, atau suatu ujian baginya karena Allah mencintainya, sebagaimana terjadi pada Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan -pada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam-, yaitu saat Nabi Ibrahim Alaihis Salam dicampakkan ke dalam api neraka dan terlempar ke dalamnya, api menyentuhnya dengan kepanasan yang membakar, pada saat tersebut Allah berfirman:&lt;br /&gt;قُلْنَا ياَ نَارُ كُوْنيِ بَرْدًا وََسَلاَمًا عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ      &lt;br /&gt;"Kami berfirman: Wahai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" . Maknanya adalah "Kami berfirman: "Wahai api", pada saat Nabi Ibrahim berada di dalam api tersebut. Namun apakah pengaruh Al-Qur'an terhadap seorang yang diuji dengan penyakit tersebut? Yaitu dengan diturunkannya pada dada seorang yang sakit tersebut kehangatan harapan sehat, yakin dengan penuh kesabaran akan janji sembuh yang akan diberikan oleh Allah, sehingga dirinya tenang bersama penyakit yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6-Ain Adalah sebab yang paling banyak menimbulkan berbagai penyakit yang terjadi pada manusia, sementara yang lain adalah penegcualian saja.&lt;br /&gt;Dalil atas ungkapan ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:                                              أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِالْعَيْنِ&lt;br /&gt;"Sebagian besar orang yang meninggal dari umatku setelah taqdir Allah (kepada mereka), juga disebabkan oleh penyakit ain". &lt;br /&gt;اَلْعَيْنُ تدْخِلُ الرَّجُلَ الْقَبْرَ وَالْجَمَلَ اْلقِدْر&lt;br /&gt;"Penyakit ain bisa menggeret seseorang ke dalam kubur dan memasukkan onta ke dalam panci".  &lt;br /&gt; Kita menemukan banyak orang yang meninggal dunia karena penyakit dan penderitaan yang bermacam-macam, seperti penyakit menular, kanker, tabrakan dan lain-lain, serta banyak penyakit dan penderitaan yang disebabkan oleh ain setalah qodho' dan qodar Allah Azza Wa Jalla.&lt;br /&gt; Setelah menggunakan firasat dalam usaha menemukan sebab penyakit, seperti yang dijelaskan di atas bahwa adanya As-Suf'ah, yaitu menguningnya kulit wajah dan perbuahan warna yang terjadi padanya. Dengan tanda ini diketahui bahwa sebagian besar orang yang sakit, terjangkiti penyakit ain, yaitu ain jiwa yang kotor dan ain orang yang hasad. Suatu istilah tidak perlu diperdebatkan, sebutlah dengan nama yang engkau kehendaki, dan penjelasannya akan diketengahkan pada pembhasan di bawah ini.&lt;br /&gt; Banyak roqi yang salah menduga-semoga Allah memberikan mereka petunjuk- dengan menimbulkan kekacauan dan kebencian pada benak pasien dan mengatakan bahwa di dalam dirinya ada sihir putih atau merah, atau jin sedang menguasai dirinya baik pada bagian bawah atau bagian atasnya, sehingga mengakibatkan putus asa dari rahmat Allah, dan menyiksanya dengan memukul atau mencekiknya dan jin menguasai dirinya dengan rasa was-was, hal ini tidak termasuk tuntunan agama, hendaklah mereka yang membaca ruqyah ini bertqwa kepada Allah dan janganlah menjadi penolong setan terhadap saudaranya semuslim.&lt;br /&gt; Adapun sihir, maka dia ada namun tidak seperti tersebarnya penyakit ain, dan sebagian besar datang bersamaan dengan para tenaga kerja yang ke negeri ini, dan kalau diperhatikan, ternyata tempat terbanyak bagi tersebarnya sihir ada di tempat orang-orang Yahudi, dalilnya adalah Lubaid Ibnul A'sham yang telah menyihir Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan di laut serta sungai, sebab iblis membangun istananya di lautan, dari sanalah dia mengutus para utusannya untuk membuat kerusakan antara manusia. &lt;br /&gt; Adapun cinta (kecintaan seorang jin) sangat sedikit, atau menyakiti seseorang karena orang tersebut menyakti jin, keadaan ini ada, terkadang sebabnya adalah saling menyakiti, pengobatnnya dengan membaca ruqyah syar'iyah, namun membutuhkan waktu dan kesabaran agar dia terbebas dari jin tersebut dengan izin Allah.&lt;br /&gt; Inilah beberapa langkah real yang harus dipegang saat akan membaca ruqyah terhadap pasien. Wallahu A'lamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASAL KEDUA&lt;br /&gt;A L – A I N U     H A Q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  &lt;br /&gt;اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ آدَمَ&lt;br /&gt;"(Penyakit yang ditimbulkan oleh) mata adalah benar adanya, yang dibarengi oleh setan dan sifat dengki anak Adam". &lt;br /&gt; Hadits ini mejelaskan bahwa setiap manusia dikelilingi oleh jin dan setan yang siap menjerumuskannya, setiap manusia mungkin bisa terjerumus pada penyakit hasad bahkan hampir setiap individu tidak terlepas darinya kecuali mereka yang dijaga oleh Allah.&lt;br /&gt;Syaekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya, Al-Suluk: (Hasad adalah salah satu jenis penyakit jiwa, dan penyakit ini menyebar sampai tidak ada seorangpun yang mampu selamat darinya kecuali sedikit, sehingga ada sebuah ungkapan mengatakan: "Tidak ada satu jasadpun yang terbebas dari penyakit hasad, namun orang berjiwa hina menampakkannya padahal Allah yang Maha Mulia menyembunyikannya". Makna ungkapan: "Orang yang hina menampakkannya" yaitu ungkapan kekaguman seorang dalam menyifati saudaranya semuslim tanpa menyebut nama Allah (seperti masyaallah dan lain-lain). Al-Hasan Al-Bashri pernah ditanya: Apakah seorang muslim bisa dijangkiti penyakit hasad? Beliau menjawab: "Apakah yang melupakanmu dengan cerita saudara-saudara Yusuf, tidak ada bapak bagimu (ungkapan bermakna mengecam) rasa bimbang karena kedengkian menggelora di dalam dadamu, dan dia tidak akan memudaratkanmu selama engkau tidak melampiaskanya dengan tindakan tangan dan lisan".  Sebagian ulama salaf mengatakan: "Penyakit hasad adalah maksiat pertama terhadap Allah yang terjadi di langit, yaitu kedengkian iblis terhadap Adam as, dan kemaksiatan pertama terhadap Allah yang terjadi di bumi, yaitu kemaksiatan salah seorang anak Adam terhadap saudaranya sampai ia membunuhanya" , Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِالْعَيْنِ&lt;br /&gt;"Sebagian besar orang yang mati dari umatku selain karena ketentuan qodha' dan qodar Allah juga karena penykait yang disebabkan oleh ain". &lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Barangsiapa yang merasakan kedengkian di dalam dirinya terhadap orang lain maka hendaklah dia mengobatinya dengan taqwa dan kesabaran, niscaya dia akan membenci sifat tersebut dari dirinya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tiga hal di mana tidak ada seorangpun bisa selamat darinya, yaitu: hasad, buruk sangka dan thiayarah, dan saya akan memberitahukan kepada kalian tindakan yang bisa mengeluarkan kalian dari penyakit tersebut; jika engkau hasad janganlah marah, jika berburuk sangka janganlah wujudkan buruk sangka tersebut, dan jika engkau merasa sial (untuk bepergian) karena keyakinan berupa thiarah maka pergilah". HR. Ibnu Abid Dunia Dalam kitab sunan disebutkan bahwa  Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ اْلأُمَـمِ قَبْـلَكُمْ  اَلْحَسَـدُ وَاْلبَغْـضَاءُ وَهِـيَ اْلحَالِـقَةُ لاَ أَقُـوْلُ تَحْـلِقُ الشّـَعْرَ وَلكِنْ تَحْـلِقُ الِّدِيْن&lt;br /&gt;"Telah merasuk kepada kalian penyakit umat-umat sebalum kalian, yaitu penyakit dengki dan saling membenci, inilah penyakit yang memotong kalian, akau tidak mengatkan memotong rambut akan tetapi memotong agama". Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam menamakannya penyakit. &lt;br /&gt;Kita kembali kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu':                                          اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ آدَمَ&lt;br /&gt;"(Penyakit yang ditimbulkan oleh) mata adalah benar adanya, yang dibawa oleh setan dan sifat dengki anak Adam".  Ibnu Hajar berkata: (Sebagian orang merasa bingung, mereka bertanya:  Bagaimanakah cara kerja ain sehingga bisa memudharatkan orang dari jarak yang jauh?, sudah banyak sekali orang yang tertimpa sakit dan kekuatannya melemah hanya karena pandangan mata, semua itu terjadi karena Allah menciptakan  di dalam unsur ruh suatu kekuatan yang bisa memberikan pengaruh, dan  karena pengaruh tersebut sangat berkaitan dengan mata maka pengaruh yang ditimbulkannya disebut al-ain (mata), sebenarnya bukan mata yang memberikan pengaruh akan tetapi yang sebenaranya terjadi adalah pengaruh ruh, maka pandangan yang keluar melalui mata seorang (yang hasad atau kagum) adalah panah maknawi yang jika mengenai suatu jasad yang tidak berprisai maka panah tersebut akan mempengaruhi badan dan jika tidak berpengaruh berarti ia tidak mengenai sasarannya akan tetapi kembali kepada pemiliknya, persis sama dengan panah biasa" . &lt;br /&gt;Oleh karenanya, panah yang keluar dari mata adalah panah berupa ungkapan tentang sifat seseorang, ia adalah racun lisan, buktinya adalah seorang yang buta bisa menimpakan penyakit ain kepada orang lain, dan setan yang selalu mengintai melahap ungkapan lisan yang tidak dibarengi dengan menyebut nama Allah sehingga bisa berpengaruh pada jasad orang yang didengki dengan izin Allah jika jasad tersebut tidak dibentengi (dengan zikir dan wirid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori Aa'in (Orang Yang Menyebarkan Penyakit Ain)&lt;br /&gt;1. Aa'in berjiwa busuk, yaitu orang yang tidak percaya dengan qodho' dan qodar Allah, jiwa yang lemah imannya, jiwanya tidak tenang kecuali dengan hilangnya nikmat dari orang lain, maka orang tersebut mengungkapkan suatu perkataan yang tidak dibarengi dengan menyebut nama Allah atau do'a keberkahan, maka dilahaplah ungkapan tersebut oleh setan yang mengintainya dan siap untuk menyakiti orang mu'min, akhirnya ungkapan tersebut -dengan kehendak Allah dan keberadaan jasad yang tanpa benteng -menjadi sebab kebinasaan, proses inilah yang disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: &lt;br /&gt;اَلْعَيْنُ تدْخِلُ الرَّجُلَ الْقَبْرَ وَالْجَمَلَ اْلقِدْر&lt;br /&gt;"Penyakit ain bisa menggeret seseorang ke dalam kubur dan memasukkan onta ke dalam panci". Rasa dengki seperti ini adalah rasa dengki Yahudi dan orang-orang seperti mereka. (Semoga Allah melindungi kita darinya).&lt;br /&gt;2. Aa'in berjiwa baik, namun dalam gelanggang perlombaan  seseorang melemparkan suatu ungkapan yang tidak dibarengi dengan zikir kepada Allah, maka setan yang telah siap mengintai melahap ungkapan tersebut lalu berusaha menyakiti sasarannya baik pada jasad dan anggota badannya, atau meyakiti jiwanya dengan menanamkan rasa sesak dan takut yang bergelora di dalam dadanya dan lain-lain. Dia sebatas penyakt ain yang menimbulkan gangguan semata. Dan pengobatan penyakit ini sangat mudah dengan izin Allah. Contoh bagian ini adalah apa yang diriwayatkan dalam hadits yang shahih riwayat Amir bin Rubai'ah  dan Sahl bin Hunaif, dan hadits tersebut akan kami cantumkan pada pembahasan berikutnya.&lt;br /&gt;3. Hendaklah diketahui bahwa setiap orang bagaimanapun tingkat ketaqwaannya bisa memudharatkan saudaranya -seizin Allah-dengan satu syarat: Dia mengungkapkan tentang sifat saudaranya tanpa dibarengi dengan zikir kepada Allah. Perbuatan ini hukumnya haram sebab dia termasuk racun lidah yang dilarang melakukakannya. Ibnu Hajar berkata: Sesungguhnya penyakit ain bisa terjadi karena adanya perasaan kagum seklipun perasaan tersebut tidak dibarengi dengan rasa dengki, walaupun datangnya dari seorang yang mencintai dirinya atau orang yang shaleh. Maka sepantasya bagi seorang yang kagum dengan sesuatu yang terdapat pada diri temannya untuk secepatnya berdo'a bagi keberkahan sesuatu yang dikaguminya tersebut, dan hal itu sebagai ruqyah baginya dari penyakit ain.  &lt;br /&gt;4. Adapun cerita tentang Amir bin Rabi'ah dan Sahl bin Hunaif diriwayatkan oleh Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata: Bapakku Sahl bin Hunaif mandi di kali al-KHarrar, sebuah sungai di kota Madinah, saat melapas jubah yang dipakainya Amir bin Rabi'ah memandang kepadanya, Sahl adalah seorang yang putih dan berkulit halus, saat memandangnya Amir terkagum: "Aku tidak pernah melihat seperti apa yang aku lihat  pada hari ini,  dan tidak ada kulit yang tersembunyi (dalam sebuah  pakaian), yang seakan kulit gadis (sehalus yang aku lihat), akhirnya Sahl mengidap panas yang tinggi pada badannya, maka Rasulullahpun diberitahukan tentang panas yang menimpanya, dikatakan kepada beliau: "Dia tidak bisa mengangkat kepalanya", Rasulullahpun berkata: Apakah kalian mencurigai seseorang?, mereka manjawab: "Amir bin Rabi'ah". Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memanggilnya sambil marah dan berkata kepadanya: "Dengan apakah seseorang membunuh saudaranya?", Tidakah engkau berdo'a agar diberikan berkah baginya?, mandilah untuknya!". Maka Amir bin Rabi'ahpun mandi untuknya, dia mencuci wajahnya, kedua tangan, siku, lutut, ujung kaki dan bagian dalam sarungnya sambil (mengumpulkan bekas air mandi tersebut) dalam sebuah bejana lalu ditumpahkan kepada Sahl dari arah belakangya,  akhirnya dia sembuh pada saat itu juga)).  Dalam riwayat yang lain disebutkan:  ((Dan aku menyangka dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya, lalu dia mengambil beberapa teguk air untuk diminumnya)).  Dalam sebuah riwayat disebutkan: ((Amir bin Rabi'ah berkata: Aku memandang kepada Sahl, lalu menimpakan penyakit ain kepadanya, dan aku mendengar gelmbung air, maka aku datang dan memanggilnya namun  tidak menjawabku, lalu saya pergi menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau apa yang terjadi, maka beliau bergegas pergi dan mencebur ke dalam air sampai sekan diriku melihat pada kedua betisnya yang putih, lalu beliau memukul dada Sahl sambil berkata: &lt;br /&gt;اَللّهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ حَرَّهَا وَبرَْدَهَا وَوَصَبَهَا&lt;br /&gt;"Ya Allah jauhkanlah dirinya dari kepanasannya, kedinginannya dan keletihannya". Kemudian, barulah dia sadar. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa di antara kalian yang melihat dari dirinya, hartanya, atau saudaranya sesuatu yang disenanginya maka hendaklah dia berdo'a agar diberikan berkah padanya, sebab ain itu benar-benar ada". &lt;br /&gt;Ibnul Qoyyib berkata di dalam kitabnya, Zadul Ma'ad: Sesungguhnya lekuk-lekuk persendian, ujung anggota badan bagian belakang dan bagian dalam sarung adalah tempat yang istimewa bagai jiwa-jiwa setan.  Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dengan sanad yang hasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlindung dari kejahatan jin dan mata manusia. &lt;br /&gt;Kesimpulan yang dapat diambil dari hadist ini adalah:&lt;br /&gt;Pertama: Pada saat Amir mensifati Sahl, sementara dia tidak menyebut nama Allah dan berdo'a agar diberikan keberkahan, pada saat itulah setan melesat dari Amir dengan penuh rasa kagum terhadap sifat yang telah disebutkan tadi, lalu menimpakan penykait kepada Sahl, maka para shahabat segera bergegas menuju Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan memberitahukan kejadian tersebut. Lalu pertanyaan pertama yang ditanayakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka adalah: Apaka kalian mencurigai seseorang?. Pertanyaan ini akan diikuti oleh pertanyaan lainnya dan harus diterima oleh seorang yang sedang ditimpa penyakit ain, yaitu:&lt;br /&gt;1-Adakah kalian curiga terhadap seseorang yang menyebutkan ciri-ciri dirimu dengan suatu sifat tertentu?&lt;br /&gt;2-Apakah seseorang memberithukan kepadamu bahwa ada orang lain yang menyebutkan ciri-ciri dirimu?.&lt;br /&gt;3-Apakah engkau bermimpi melihat seseorang yang menyakitimu secara terus menerus?.&lt;br /&gt;4-Apakah engkau pernah bermimpi melihat hewan, seperti anjing, onta, kucing, monyet, ular, kalajengking dan kumbang yang menyerangmu? &lt;br /&gt; Jika jawaban atas pertanyaan yang pertama adalah "Ya", maka diharuskan untuk mengambil bekas orang yang mensifati tersebut, baik liur atau keringatnya lalu dicampur dengan air, kemudian dituangkan satu kali pada kepala orang yang terjangkiti penyakit ain tersebut, dan air tersebut juga diminum jika penyakit ainnya menimpa perut, namaun mengumpulkan dua cara pengobatan tersebut lebih baik.&lt;br /&gt; Jika jawaban atas pertanyaan yang keempat adalah "Ya", maka hendaklah sesorang berindak seperti apa yang disebutkan di dalam sebuah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:        &lt;br /&gt;لِلرُّؤْيَا كُنًى وَأَسْمَاءٌ فَكُنُّوْها وَاعْتَبِرُوْها بِأَسْمَاِئهَا     &lt;br /&gt;    "Mimpi itu menyimpan makna kuniyah dan nama-nama maka berikanlah kuniyah kepada mimpimu tersebut dan bayangkanlah nama-nama tersebut".  Oleh karenanya, kita harus bertanya kepada orang yang sedang sakit ini, apakah hubungan hewan tersebut dengan keluarga, teman dan tetanggamu, atau kita bertanya kepadanya: Di manakah engkau melihat hewan tersebut?, dan akan tergambar di dalam benaknya sekelompok orang; hendaklah dia mengambil bekas orang-orang tersebut dengan tetap berbaik sangka kepada mereka, sebab seorang yang selalu berzikir kepada Allah secara terus menerus sebenarnya sedang menyakiti setan yang merasuki dirinya melalui  kata-kata tersebut dengan zikir yang selalu diucapkannya. Oleh karena itulah, orang tersebut akan bermimpi melihat orang yang menyebabkan penyakit ain baginya atau hewan yang mengisyaratkan tentang orang yang menyebarkan penyakit ain, sehingga dia melepas dirinya dari keadaan yang menimpanya, sekan setan (berwujud hewan) tersebut berkata: inilah orang yang menyebarkan penyakit ain itu, ambillah bekasnya dan bebaskanlah aku dari siksa ini; sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُنْصِي -وَفِي رِوَايَةٍ لَيُضْنِي- شَيْطَانَهُ كَمَا يُنْصِي أَحَدُكُمْ بَعِيْرَهُ فِي السَّفَرِ&lt;br /&gt;"Sesungguhnya seseorang di antara kalian akan membuat letih setannya sebagaimana dia membuat letih bagi ontanya di dalam perjalanan".  Yaitu membuatnya letih dengan banyak berzikir.&lt;br /&gt;Kedua: Berdo'a agar diberikan keberkahan saat mengungkapakan tentang sesuatu (yang dilihatnya secara lisan) dan berzikir kepada Allah akan mencegah masuknya jin kepada ma'yuun (orang yang menjadi obyek penyakit ain tersebut). Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mengatakan: "Tidakah engkau berdo'a agar diberikan berkah baginya?. Mengandung makna di atas. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;                                    سِتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ قَوْلُ بِسْمِ اللهِ&lt;br /&gt;"Pemisah antara mata jin dan aurat bani Adam adalah ucapan:  بِسْمِ اللهِ" &lt;br /&gt;Ketiga: Perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Amir untuk mandi. Ibnul Qoyyim berkata: "Lekuk-lekuk tubuh dan ujung badan mempunyai arti penting bagi setan.  Artinya manusia mempunyai bau yang khusus bagi dirinya, di mana setiap indifidu tidak mempunyai bau yang sama dengan yang lainnya, hal ini sangat diketahui oleh anjing pelacak dan setan yang keluar dari aa'in. Maka pada saat seseroang aa'in diambil bekas dirinya, keringat atau ludahnya lalu dipergunakan untuk mandi atau minum, maka jika penyakit ain itu menyakti perutnya, maka setan akan menjauh darinya sebab dia sedang terikat dengan kata-kata (tentang sifat tubuh) yang dikaguminya, maka aa'in seakan menguasai setan yang masuk itu setelah masuknya keringat tersebut ke dalam tubuh ma'yun ini, maka saat itulah setannya akan terlepas darinya.&lt;br /&gt;Keempat: "صُبَّ عَلَيْهِ مِنْ وَرَائِهِ" yaitu dari belakang bagian tubuh yang dilihat oleh Aa'in. Sebab setan yang meluncur karena kata-kata yang dilontarkannya,  yaitu putihnya kulit, tersebar di seluruh tubuhnya, maka dia harus diguyur dengan air agar air tersebut bisa membasahi seluruh tubuhnya yang telah dikuasai oleh penyakit ain, seandainya seorang yang terkena penyakit ain karena banyak makannya sehingga menimbulakan ras sakit di dalam tubuhnya, maka bekas aa'in tersebut baik ludah dan keringat harus sampai ke dalam perutnya, sebab penyakit tersebut ada di dalam perutnya, dan begitu juga kasus yang lainnya, sehingga orang ini tidak perlu mandi. &lt;br /&gt;Point penting. Telah terbukti secara ilmiyah bahwa ludah, keringat, rambut, kuku dan darah mengirim gelombng tertentu dari badan pemiliknya seklipun anggota badan ini telah berpisah dari tubuh, oleh karena itulah, seorang penyihir biasanya mempergunakan kuku dan rambut dalam proses penyihiran karena adanya gelombang (yang terdapat di dalam bagian tubuh tersebut) yang dimanfaatkan oleh jin sehingga menjdikan obyek sihir tersebut menderita.&lt;br /&gt;Kelima:  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memukul dada Sahl radhiallahu anhu seraya berkata:   &lt;br /&gt;َللّهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ حَرَّهَا وَبرَْدَهَا وَوَصَبَهَا&lt;br /&gt;"Ya Allah jauhkanlah dirinya dari kepanasannya, kedinginannya dan keletihannya". &lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan secara yakin bahwa ain diikuti oleh setan sehingga menyebabkan orang yang terkena penyakit ain ini menderita pada bagian tubuhnya dan membuat dadanya merasa sempit –karena tekanan yang dilakukan oleh setan-, dan di antara tanda masuknya setan di dalam dirinya adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, yaitu punggung yang panas, ujung tubuh yang dingin dan keletihan pada seluruh bagian tubuh, ditambah dengan perasaan sempit yang terwujud dalam bentuk keinginan untuk sering muntah, menguap dan cepat marah.&lt;br /&gt;Jika tidak mencurigai seseorang maka berulah ditanggulangi dengan membacakan ruqyah kepadanya, namun sebelumnya harus mengingatkan orang yang sakit tersebut dengan beberapa perkara dan akan disebutkan pada halaman berikut ini ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah cara mengetahui bahwa seseorang terkena penyakit ain?&lt;br /&gt; Di antara tanda bahwa seseorang terkena penyakit ain adalah kepala pusing, wajah yang menguning, banyak berkeringat, banyak kencing, sering ingin muntah dan menguap, sedikit tidur atau banyak tidur, tidak mempunyai nafsu makan, basah pada kedua tangan dan kaki yang disertai dengan kesemutan, hati bergetar, perasaan takut yang tidak normal, marah dan temperamental yang berlebihan, sedih dan sempit di dalam dada, terasa nyeri pada bagian bawah punggung dan antara dua pundak serta tidak bisa tidur pada waktu malam. Tanda-tanda ini terkadang ada baik semuanya atau sebagiannya, tergantung pada kekuatan ain tersebut dan banyaknya orang yang menyebabkan penyakit ain, sebagaimana tanda-tanda ini juga terdapat pada orang yang tidak terkena penyakit ain atau karena orang tersebut dijangkiti penyakit pada anggota badannya atau jiwanya…&lt;br /&gt;Perkara Yang Diharuskan Bagi Seorang Pembaca Ruqyah sebelum meruqyah.&lt;br /&gt;1. Yakin dan berbaik sangka kepada Allah, yaitu meyakini bahwa Al-Qur'an ini adalah penwar dari semua penyakit, dan firman Allah tersebut tidak dijadikan sebagai obyek percobaan namun uantuk diyakini.&lt;br /&gt;2. Membaca secara imijinafi, yaitu orang yang membaca ruqyah dan dibacakan baginya ruqyah tersebut menggambarkan di dalam benaknya bahwa ayat-ayat yang dibaca tersebut bisa menyebabkab bagi kesembuhan orang yang sakit dan memberikan kesadaran serta petunjuk bagi jin yang sedang mengganggunya, dengan inzin Allah.&lt;br /&gt;3. Mengembangkan metode Ittiham. Yaitu mencurigai seseorang, seperti yang disebutkan dalam kisah Amir yang terdahulu disebutkan: "مَنْ تَـتَّهِمُوْنَ" (Siapakah yang kamu curigai?), dan ini adalah hadits shahih, maka wajib beramal dengan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam menetapkan kecurigaan kepada orang yang tergambar di dalam perasaan dan akalnya. Ini tidak termasuk zalim dan merusak, sebab orang yang dibacakan ruqyah diharuskan berbaik sangka kepada orang yang dicurigai dan ungkapan tentang dirinya yang keluar (dari seorang aa'in) adalah canda dan bersenda gurau semata, dan keluarnya ungkapan tersebut tidak dibarengi dengan zikir sehingga setan memanfaatkan moment ini untuk menyakiti orang tanpa diketahui oleh orang yang mengugkapkan sifat tersebut (wasif). Oleh karena gangguan setan yang disebabkan oleh kata-kata tersebut bersifat external, maka dia mengganggu dan menyakiti dari luar, namun mempunyai kekuatan pengaruh di dalam tubuh, sehingga menimbulkan perubahan di dalam susunan kimiawi badan, seperti rasa dingin pada ujung setiap bagian tubuh, rasa panas pada punggung, kedua mata, mulut menjadi kering, temperamental yang berlebihan dan lintasan pikiran yang aneh. Berarti merasuknya jin bersifat farsial bukan menyeluruh ke dalam bagian tubuh, sehingga memudahkan untuk berkomunikasi dengannya.  Maka dia menjadi bagian dari metode ittiham yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu mengimijinasikan orang tertentu di dalam benak tentang pribadi yang dicurigai menjadi sebab penyakti ain tersebut, maka hal ini termasuk bagian metode ittiham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB KETIGA&lt;br /&gt;AYAT-AYAT DAN WIRID-WIRID YANG DIBACA UNTUK ORANG YANG TERKENA PENYAKIT AIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Di antara ayat-ayat tersebut adalah surat Al-Fatihah, awal surat Al-Baqarah, ayat kursi, penutup surat Al-Baqarah, awal surat Aali Imron, akhir surat Al-Hasyr, firman Allah Ta'ala:  &lt;br /&gt;         فَسَيَكْـفِيْكَهُمَ اللهَ وَهَـوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ&lt;br /&gt;"Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".  &lt;br /&gt;وَإِنْ يَكَادُ الَّذِيْـنَ كَفَـرُوْا لِيَـزْلِقُوْنَكَ بِأَبْصَارِهِـمْ لَمَّا سَـمِعُوْا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّهُ لَـمَجْنُوْنٌ&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendenarkan Al-Qur'an dan mereka berkata: "Sesungguhnya  ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila".  &lt;br /&gt;أَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلىَ مَاآتاَهُـمُ اللهِ مِنْ فَـضْلِهِ فَقَـدْ آتَـيْنَا آلَ إِبْـرَاهِيْمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُـمْ مُلْكًا عَـظِيْمًا&lt;br /&gt;"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?, Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hukmah kepada keluarga Ibarhim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar". &lt;br /&gt;فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُـطُوْرٍ&lt;br /&gt;"Maka lihatlah berulang-ulang, adakah yang kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang". &lt;br /&gt;يَاقَوْمَنَا أَجِيْـبُوْا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنوْا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمِ وَيُـجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ&lt;br /&gt;"Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan brimanlah kepada-Nya, niscaaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih". &lt;br /&gt;وَنُنَـزِّلُ مِنَ اْلقُـرْآنَ مَا هُـوَ شِـفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارً ا&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian". &lt;br /&gt;قٌـلْ هُـوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُـوْا هُدًى وَشِـفَاءٌ&lt;br /&gt;"Katakanlah: Al-Qur'an adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman". &lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ&lt;br /&gt;"Hai mannusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman" .&lt;br /&gt;َويَشْـفِ صُـدُوْرَ قَـوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ  &lt;br /&gt; "Serta melegakan dada orang-orang yang beriman" &lt;br /&gt;َوإَذَا مَرِضْتُ فَـهُوَ يَشْفِيْنِ &lt;br /&gt;"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara do'a yang harus diucapkan:&lt;br /&gt;((أَسْـأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَـرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ)) 7x&lt;br /&gt;"Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan arasy yang agung agar Dia berkenan menyembuhkanmu".&lt;br /&gt;((أُعِيْذُكَ بِكُلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ)) 3x&lt;br /&gt;"Aku melindungi kamu dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap tipu daya setan dan dari binatang yang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat".&lt;br /&gt;((اَللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ اْلبَاسْ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ  شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا)) 3x&lt;br /&gt;"Ya Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah! Engkaulah yang menyembuhkan,  tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang Engkau kehendaki, yaitu kesembuhan yang tidak emninggalkan penyakit".&lt;br /&gt;((حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُـوَ عَلَيْهِ تَـوَكَّلْتُ وَهُـوَ رَبُّ الْعَـرْشِ اْلعَظِيْمِ))7x &lt;br /&gt;"Cukuplah Allah bagiku, tiada tuhan kecuali Dia, kepadanyalah kami bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan arasy yang agung". &lt;br /&gt;((بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَئٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)) 3x  &lt;br /&gt;"Dengan menyebut nama Allah, yang (jika menyebutnya) sesautu apapun tidak akan (ditimpa) bahaya baik di bumi atau di langit dan Dia adalah Tuhan Yang Maha Mendengar atau Maha Mengetahui".&lt;br /&gt;((اَللّـهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ حَـرَّهَا وَ بَرْدَهَا وَوَصَبَهَا))&lt;br /&gt;"Ya Allah, hilangkanlah darinya rasa panasnya, dan rasa dingin serta keletiahan yang ditimbulkannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Peringatan Penting:&lt;br /&gt;• Semua ayat-ayat Al-Qur'an adalah ruqyah jika diniatkan untuk penyembuhan dan petunjuk.&lt;br /&gt;• Ruqyah mempunyai cara yang telah dijelaskan oleh Nabi saw, yaitu: &lt;br /&gt;1. Membaca ruqyah bersama tiupan yang dibarengi dengan sedikit ludah pada akhir bacaan setiap ayat atau beberapa ayat atau pada akhir bacaan semua ayat.&lt;br /&gt;2. Membaca ruqyah tanpa dibarengi dengan tiupan.&lt;br /&gt;3. Membaca ruqyah kemudian mengambil ludah dengan jari, lalu mencampurnya dengan tanah, barulah mengusap bagian tubuh yang merasakan sakit dengannya.&lt;br /&gt;4. Membaca ruqyah yang dibarengi dengan mengusap tempat penyakit.&lt;br /&gt;• Yang lebih utama agar seseorang tidak memperbanyak bacaan ruqyah atas pasien pada tahap awal, dan cukup dengan bebearapa bacaan ruqyah saja, sebab dia berfungsi seperti obat, maka tidak boleh kurang atau lebih, sehingga tidak menimbulkan kebosanan baik bagi orang yang meruqyah atau diruqyah, dan kisah tentang seorang yang disengat lalu diruqyah hanya dengan Al-Fatihah adalah dalil atas apa yang kami katakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Keempat&lt;br /&gt;HUBUNGAN ANTARA HASAD DAN SIHIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Hasad&lt;br /&gt;1. Hasad yang dianjurkan, disebut Gibthah, yaitu: Sikap tidak suka atas kelebihan orang lain atas dirinya, sehingga mendorongnya berusaha agar menjadi seperti orang tersebut atau lebih baik darinya tanpa berniat buruk agar kelebihan orang tersebut hilang dari dirinya. Ini adalah bentuk berlomba-lomba  dalam kebaikan, seperti apa yang dilakukan oleh Umar radhiallahu anhu saat dia berkata keapda Abu Bakr radhiallahu anhu: "Aku tidak bisa mengunggulimu  dalam sesuatu apapun selamanya" saat dia datang dengan membawa seluruh hartanya (sebagai infaq di jalan Allah). Syaikhul Islam berkata: Apa yang dikerjakan oleh Umar, baik berlomba dalam kebaikan dan gibthah yang diperbolehkan adalah hal yang terpuji, dan keadaan Abu Bakr Al-Shiddiq lebih baik dari dirinya, di mana dia terbebas dari sikap ingin bersaing secara mutlaq dan dia melakukan kebaikan tersebut tanpa melihat kepada orang lain. &lt;br /&gt; Begitu juga keadaan seorang shahabat yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: &lt;br /&gt;يَدْخُلُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ&lt;br /&gt; (Akan masuk kepada kalian seorang lelaki dari penduduk surga), Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali, lalu pada saat Abdullah bin Amru bertanya (langsung) kepada orang (yang diceritakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam) tersebut tentang Apakah yang menyebabkan dirinya masuk surga), orang tersebut menjawab: "Aku tidak (memendam) di dalam diriku terhadap seorang muslimpun perasaan ingin mengelabui atau perasaan dengki atas kebaikan yang diberikan oleh Allah atas dirinya". Lalu Abdullah berkomentar: "Tingkatan yang kamu rasakan inilah yang tidak bisa kami raih",  Begitu juga dengan Musa alahis salam terhadap Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada peristiwa Isro' ketika Nabi Musa alaihis salam menangis. Itulah perasaan gibthah yang disebut oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai hasad, seperti yang dijelaskan di dalam Sabdanya: &lt;br /&gt;لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَـهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَرَجُـلٌ آتَاهُ اللهُ الْمَالَ فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ فِي الْحَقِّ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ&lt;br /&gt;"Tidak dibolehkan hasad kecuali dalam dua hal: Soerang lelaki yang diberikan oleh Allah Al-Qur'an dan dia beramal dengannya pada waktu malam dan siang dan seorang lelaki yang diberikan oleh Allah harta dan dia menginfakkannya dalam kebenaran pada waktu malam dan siang". Oleh karena itulah iman Abu Bakr menyamai berat iman umat ini karena sifat terebut, dia termasuk orang yang dikatakan oleh Allah:&lt;br /&gt;اَلسَّابِـقُوْنَ السَّابِـقُوْنَ أُولئِكَ اْلُمقَـرَّبُوْنَ&lt;br /&gt;"Dan orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan oleh Allah". &lt;br /&gt; 2. Hasad Mubah (yang dibolehkan), yaitu pada perakara-perkara duniwai, dengan dua syarat: Berdo'a agar mendapat berkah dan dibarengi dengan berzikir kepada Allah dan tidak berangan-angan agar nikmat tersebut hilang (dari orang lain).&lt;br /&gt; 3. Hasad Makruh (yang dibenci), yaitu mengungkapkan sifat saudaranya tanpa disertai dengan do'a agar diberikan keberkahan padanya atau tidak menyebut nama Allah padanya. Orang yang mengerjakannya, berarti membuka peluang bagi setan untuk mengganggu sekalipun dia tidak berangan-angan hilangnya nikmat tersebut (dari saudaranya), namun karena tidak dibarengi dengan zikir, maka dia berbalik menjadi sesuatu yang tercela, sebab pada dasarnya setiap orang harus berzikir kepada Allah pada setiap waktu, di mana Allah memuji mereka yang selalu berzikir kepadaNya baik dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan bukan sekedar berzikir semata, tetapi harus dibarengi dengan tidak membuka pintu bagi setan untuk menyakiti orang lain, seperti yang terjadi pada diri Amir bersama Sahl radhiallahu Anhuma. &lt;br /&gt; 4. Hasad yang diharamkan. Apabila terlepas dari sifat-sifat yang telah kami sebutkan di atas, yaitu tidak berdo'a agar diberikan keberkahan pada saat mengungkapkan sifat (sesuatu yang mengagumkan), dan berangan-angan agar nikmat tersebut sirna dari orang lain, maka dia akan menyebarkan penyakit ain yang bisa mematikan, dan dia tidak muncul kecuali dari jiwa yang busuk, kita berlindung kepada Allah dari jiwa yang buruk. Dan hal ini sama seperti hasadnya orang Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Hubungan Sihir Mata (mata) Dengan Sihir?&lt;br /&gt;Ketika Allah Subhanhu Wa Ta'ala menjelaskan:&lt;br /&gt;وَمِنْ شَـرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي اْلعُقَدِ وَمِنْ شَرِّحَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ&lt;br /&gt;"Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan Dari  kejahatan orang yang dengaki apabila ia dengki."  Dalam ayat ini Allah menyebut secara bersama antara sihir dan hasad, hal ini menunjukkan adanya hubungan antara keduanya, yaitu orang yang menyihir menghembus pada buhul-buhul seperti rambut atau kuku (yang dimanfaatkan) untuk mengikat setan demi menyakiti orang yang disihir, sementara  seorang yang dengki (aa'in) akan mengikat setan dengan sifat yang dikaguminya, yang tidak disertai dengan menyebut nama Allah untuk menyakiti sasarannya (ma'yun), maka setiap mereka berdua bertujuan yang sama dalam menimbulkan kemudharatan; yaitu sama hasil kemudharatannya, namun berbeda  dalam cara (menimbulkan kemudharatan tersebut).&lt;br /&gt;Point Penting: Firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;    وَمِنْ شَـرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي اْلعُقَدِ&lt;br /&gt;"Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul". (Apakah sebabnya Allah menyebtukan kata: النَّفَّاثَاتِ dalam bentuk ma'rifat (yang sudah jelas) sementara kata yang sebelumnya atau sesudahnya disebutkan dalam bentuk nakiroh (umum)?,( yaitu pada kata: غاسق dan حاسد) seabab setiap orang yang menghembus/tukang sihir pasti memiliki kejahatan, dan tidak semua malam dan orang yang dengki mempunyai kejahatan. &lt;br /&gt;• Point penting: Orang-orang awam mengatakan: Apabila seorang aa'in mengetahui bahwa bekas dirinya telah diambil, maka bekas tersebut tidak bermanfaat. Keyakinan ini salah karena bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan dalam hadits tentang kisah Amir dan Shal, di mana Rasulullah memerintahkan kepada Amir b: Mandilah untuk saudaramu, dan dia mengetahui (bahwa bekas mandinya akan diambil), namun penyakit ain tersebut berhenti.&lt;br /&gt;• Point penting: Pandagan beracun sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, begitu juga dengan apa yang terjadi pada ular yang berekor pendek dan pada punggungnya terdapat dua garis, diberikan kekuatan dasar untuk menyemburkan racun sebagaimana yang terjadi pada ayam jantan, diberikan pengelihatan yang tajam sehingga bisa melihat malaikat, anjing dan himar dalam melihat setan, adapun kekuatan beracun yang terdapat pada manusia bukanlah kekuatan yang bersumber dari diri sendiri, melainkan datang dari sebuah ungkapan kata karena tidak dibarengi dengan menyebut nama Allah, sebagaimana &lt;br /&gt;ditegaskan dalam sebuah hadits: &lt;br /&gt;                                                         َلْعَيْنُ حَـقٌّ يَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ&lt;br /&gt;"(Penyakit yang ditimbulkan oleh) mata adalah benar adanya, yang dibawa oleh setan". Penyakit ini terjadi bukan dengan perantara indra mata (melainkan perantara setan), sebagiamana yang tegaskan oleh Ibnu Hajar dalam pembahsan yang telah lewat, makna ini diperjelas oleh perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, di mana beliau berlindung kepada Allah dari kejahatan jin dan mata manusia, karena adanya hubungan antara keduanya.&lt;br /&gt;•  Point Penting. Orang awam mengatakan: "Apabila jin merasuki sesorang, maka mesti di dalam tubuh seorang wanita terdapat jin lelaki dan di dalam diri seorang lelaki terdapat jin wanita, keyakinan ini bertentangan dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mengatakan:&lt;br /&gt;                                                                 اُخْرُجْ عَدُوَّا للهِ إِنِّي رَسُوْلُ الله        &lt;br /&gt;"Keluarlah wahai musuh Allah sungguh saya adalah Rasulullah" Kalimat ini beliau ucapkan bagi seorang lelaki yang sedang kerasukan jin lelaki.&lt;br /&gt;•  Point penting. Sebagian ulama menyebutkan tentang manfaat yang terdapat pada daun bidara dan mandi dengannya untuk menghilangkan sihir, keyakinan ini tidak didasarkan pada hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, melainkan  pengalaman Wahb bin Manbah sebagaimana yang disebutkan oleh pengarang kitab  Fatul Bari, kelebihan daun bidara ini adalah bisa mengingatkan jin dengan sidratul muntaha, tempat surga al-ma'wa, juga mengingatkannya dengan pohon bidara yang tidak berduri di dalam surga, sebab jin memiliki perasaan yang tajam dan peka, oleh karenanya memakai daun bidara untuk menghilangkan sihir atau lainnya bisa  menyakiti jin dan manfaat bidara ini tidak hanya untuk kesembuhan sihir saja.&lt;br /&gt;•  Point Penting tentang urgensi ruqyah syar'iyah untuk berdakwah ke jalan Allah. Firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى اْلخَيْرِ&lt;br /&gt;"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan"  Syekh Utsaimin rohimahullah mengomentari ayat ini dengan bertanya: Meyeru siapa? Obyek seruan bagi ayat tersebut tidak disebutkan, Berarti obyeknya mencakup semua mahluk yang harus menerima da'wah, yaitu semua manusia, dan apakah jin termasuk dalam obyek tersebut? Ya, jinpun juga terkena dengan perintah ini, oleh karena itulah obyek perintah berd'wah tersebut tidak disebutkan agar pengertiannya tetap pada maknanya yang umum" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Kelima&lt;br /&gt;Membentengi Diri Dari Penyakit  Ain, Sihir Dan Lainnya&lt;br /&gt;  Diantara tindakan prefentif untuk membentengi diri dari bencana sebelum terjadinya -dengan izin Allah- adalah: &lt;br /&gt; 1-Seorang hamba harus menjaga perintahTuhannya, seperti menjaga shalawat lima waktu secara berjama'ah di mesjid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ صَلىَّ الصُّبْح فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ فَلاَ يَطْلُبنًَّكُمُ اللهُ بِشَئٍ&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang shalat subuh secara berjama'ah maka dia sedang berada di dalam tanggaungan Allah, oleh karenanya jangan sampai Allah menuntutmu dengan sesuatu…". &lt;br /&gt;Selain itu berbakti kepada kedua orang tua, puasa dan shalat sunnah serta membaca Al-Qur'an …., dan menjauhi laranganNya dengan menjauhi pandangan yang diharamkan, tidak menonton film-film cabul, meninggalkan nyanyian dan mendengarkannya dan tidak mendatangi pesta-pesta yang menghadirkan kemungkaran, niscaya engkau akan menang dengan penjagaan Allah bagimu, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:  اِِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ "Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu". &lt;br /&gt;2-Memperanyak membaca zikir dan wirid. Yaitu zikir yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah yang suci, dan selalu berzikir kepada Allah dalam semua waktu, seperti zikir-zikir setelah shalat, wirid harian dari Al-Qur'an dan Al-Sunnah, wirid pagi dan petang, do'a seblum dan sesudah tidur, firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى &lt;br /&gt;"Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan Untuk Menghilangkan Penyakit Setelah Terjadi&lt;br /&gt;1-Yakin dan berbaik sangka kepada Allah Azza Wa Jalla saat membaca ruqyah syar'iyah, oleh karenanya dia tidak boleh mengatkan saya ingin mencoba firman Allah ini akan tetapi dia harus meyakini bahwa di dalam firman tersebut terdapat kesembuhan dan itulah penawar yang utama dalam proses penyembuhan. Firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُـرْآنِ مَا هُـوَ شِـفَاءٌ وَرَحْمَـةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian". &lt;br /&gt;2-Mengagungkan Allah, sang Pencipta dan kembali kepdaNya, serta bergantung, bertaubat dan berdo'a kepadaNya, hanya Dialah yang bisa menyembuhkan. Ruqyahmu terhadap diri sendiri lebih baik dari ruqyah orang lain bagi dirimu.&lt;br /&gt;3-Berbuat baik kepada manusia dan bersehedeqah kepada mereka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنَ يَسَّرَ عَلىَ مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَ اللهُ فِي عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang meringankan bagi seorang mu'min satu kesusahan di dunia niscaya Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat, barangsiapa yang mempermudah kesulitan orang sedang kesulitan niscaya Allah akan mempermudah kesulitannya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah akan selalu membantu seorang hamba selama hamba tersebut membantu saudaranya". &lt;br /&gt;Dari Abi Umamah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;دَاوَوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ&lt;br /&gt;"Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan bersedeqah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bawah Ini Beberapa Do'a Pilihan   Yang Dibaca Setiap Hari Baik Setelah Shalat Fajar Dan Setelah Shalat Magrib &lt;br /&gt;Wirid Harian Jumlah bacaan Keutamaan dan manfaat&lt;br /&gt;Membaca Ayat Kursi  Dibaca Satu kali pada waktu pagi  ,sore, saat akan tidur dan setelah melaksanakan shalat fardhu. Dijaga oleh malaikat, mengusir setan dari rumah dan sebab masuk surga&lt;br /&gt;Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah Dibaca satu kali pada waktu sore, atau sebelum tidur atau dibaca dirumah Akan menjagamu dari kejahatan segala sesuatu dan akan mengusir setan selama tiga hari&lt;br /&gt;Membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan Al-Nas Dibaca 3x pada waktu pagi dan 3x pada waktu sore, satu kali saat akan tidur dan setiap shalat fardhu. Menjagamu dari kejahatan segala sesuatu dan menjagamu dari kejahatan jin dan mata manusia&lt;br /&gt;لاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ Memperbanyak mengucapkannya tanpa pembatasan jumlah tertentu Simpanan harta di surga dan sebagai obat bagi 99 macam penyakit, penyakit yang terendah ialah rasa bimbang&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ الذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اْسمِهِ شَئٌ في اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ Dibaca 3x pada waktu pagi dan 3x pada waktu sore Pencegah bahaya dan tidak ditimpa oleh bencana yang mendadak, atau dimudharatkan oleh sesuatu apapun.&lt;br /&gt;أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامََّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ Dibaca 3x pada waktu sore Benteng bagi suatu tempat dari keburukan dan Penawar bagi racun yang disebabkan oleh sengatan kalajengking dan yang lainnya&lt;br /&gt;حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهَوَ رَبُّ اْلعرْشِ اْلعَظِيْمُ Dibaca 7x pada waktu pagi dan 7x pada waktu sore Pencegah kebimbangan dunia dan akhirat&lt;br /&gt;لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلُملْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهوَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيْر Dibaca 10x pada waktu pagi, dan 10 x pada waktu sore, 100 x atau lebih dalam sehari. Benteng diri yang agung, ditulis baginya 100 kebaikan, dihapuskan 100 keburukan, mendapat pahala seperti pahala memerdekakan 10 budak&lt;br /&gt;لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلُملْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهوَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيْريُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَـيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ اْلخَيْرُوَهـُوَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيْـر Dibaca 1x saat memasuki pasar Akan ditulis baginya beribu-ribu kebaikan, dihapuskan darinya beribu-ribu keburukan dan akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلىَ اللهِ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ 1x saat akan keluar dari rumah Tiga lipat kekuatan penjagaan dari setan: Allah akan mencukupkan dan menjaganya, serta setan akan menjauh darinya&lt;br /&gt;أَعُوْذُ بِاللهِ اْلعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ اْلكَرِيْمِ وَبِسُلْطَانِهِ اْلقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ Dibaca sekali saat memasuki masjid Akan dijaga dari tipu daya setan sehari penuh&lt;br /&gt;أَسْتَغْفِـرُاللهَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هوَ الْحَـيُّ اْلقَـيُّوْمُ وَأَتُـوْبُ إِلَيْهِ Dianjurkan untuk banyak megucapkannya Untuk menghilangkan kebimbangan, mendatangkan rizki dan aman dari azab Allah&lt;br /&gt;Memperbanyak mengucapkan shalwat kepada Nabi saw, seperti mengucapkan:&lt;br /&gt; اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ atau membaca shalawat Ibrahimiyah dan shalawat  inilah yang lebih afdhal  Tidak ada batasan bagi jumlah bacaan, paling sedikit 10x pada waktu pagi dan 10x pada waktu sore Menghindarkan seseorang dari kebimbangan, akan mendapat pengampunan dosa, penghimpun kebaikan di dunia dan akhirat dan untuk mendapatkan syafa'at Nabi saw&lt;br /&gt;Menjaga shalat berjama'ah di masjid dan tetap menjaganya Shalat lima waktu Menjaga diri dari tipu daya setan, jin dan manusia, serta semua kejahatan&lt;br /&gt;أَسْـتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِي لاَ تَضِـيْعُ وَدَائِـعُهُ Dibaca satu kali pada setiap sesuatu yang ingin dijaga Untuk menjaga harta, anak dan lainnya dari kerusakan dan pencurian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB KEENAM&lt;br /&gt;BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG PENYAKIT AIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pertanyaan Pertama:  Bagaiamanakah cara membedakan antara hasad dan kagum?&lt;br /&gt; Jawaban: Orang yang kagum adalah orang yang tidak berangan-angan hilangnya nikmat (dari seseorang) bahkan berkeingnan agar dia mendapat nikmat yang sama, dan apabila dia mengungkapkan tentang sesuatu tanpa dibarengi dengan do'a agar mendapat keberkahan pada sesuatu yang dikagumi tersebut, sementara setan ada pada tempat itu, maka ungkapan ini akan menyekiti orang yang dikagumi dengan perantara setan, hal ini bisa terjadi dari orang yang mencintai atau orang yang shaleh tanpa disengaja.&lt;br /&gt;  Adapun orang yang hasad, -semoga Allah menjauhkan kita darinya-yaitu soerang berangan-angan agar nikmat tersebut sirnah dari orang yang didengki, maka apabila dia mengungkapkan suatu sifat tanpa diiringi dengan do'a keberkahan sementara setannya ada pada tempat itu, maka dia pasti membinasakan orang yang didengki dengan izin Allah, inilah kedengkian patal yang menjerumuskan onta ke panci (sebab dia harus disemblih karena sakit) dan seseorang ke dalam kubur (karena penyakit ain yang dideritanya) serta menjatuhkannya dari jurang yang tinggi, dan kedengkian ini tidak muncul kecuali dari jiwa yang busuk, memiliki kerancuan dalam memehami iman terhadap qodha' dan qodar, hasad yang seperti ini sama seperti hasadnya orang-orang Yahudi dan orang yang seperti mereka.&lt;br /&gt; Pertanyaan Kedua: Bagaiamankah cara mengambil bekas seseorang, dan apakah bekas tersebut bermanfaat jika Aa'in mengetahui bahwa bekas dirinya diambil?&lt;br /&gt; Jawaban: Cara mengambil bekas seseorang: Mengambil bekasnya dari apa yang pernah disentuh oleh Aa'in baik berupa liur atau keringat, sebab maksud pengambilan ini adalah bau Aa'in yang berguna untuk mengusir setannya yang merasuki ma'yun (orang yang terkena penyakit ain), seseorang bisa mengambil bekas makan atau minumnya, atau barang-barang mubah yang disentuh oleh tangannya seperti gagang pintu, sekalipun satu kali, hal ini bermanfaat insyaallah sebagaimana yang kita buktikan. Dan tidak perlu mengambil bekas aa'in secara berulang-ulang, sebab dia sama seperti imunisasi yang cukup dengan sekali saja. Adapun pengetahuan Aa'in bahwa bekas dirinya diambil maka pengetahuan ini tidak memberikan pengaruh negatife sedikitpun, seperti kisah Amir sebagai Aa'in yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mandi bagi saudaranya, seperti &lt;br /&gt;yang disebutkan dalam sabdanya:    &lt;br /&gt;  اِغْتَسِلْ ِلأَخِيْكَ&lt;br /&gt;"Mandilah untuk saudaramu!" dan dia mengetahui bahwa dirinya telah menyebabkan Sahl tertimpa penyakit ain.&lt;br /&gt; Pertanyaan ketiga: Bagaimanakah cara memperaktikkan metode ittiham (dalam kaitannya dengan penyakit ain)?&lt;br /&gt; Jawaban: Baik dengan cara mendengar atau cerita dari orang lain bahwa seseorang telah mengungkapkan sebuah sifat tentang diri ma'yun yang tidak diiringi dengan do'a keberkahan (bagi ma'yun) atau ma'yun bermimpi melihat sesuatu yang mengarah kepada inisil Aa'in. Adapun timbulnya perasaan tidak enak atau sikap tidak layak terhadap sebagian orang tanpa sebab yang jelas, atau saat seseorang dibacakan Al-Qur'an lalu tergambar pada diri ma'yun beberapa orang yang dicurigai biasanya sebagai aa'in, maka cara seperti ini perkiraan semata yang tidak membawa kepastian akan tetapi bisa dimanfaatkan untuk proses pengobatan yang diiringi dengan sikap husnuz zhon kepada semua orang. &lt;br /&gt; Pertanyaan Keempat: Bagaimanakah cara membedakan antara metode ittiham dan metode takhyil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jawab: Perbedaan keduanya sangat besar, metode ittiham adalah perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih saat beliau bertanya kepada ma'yun: "Siapakah orang yang kamu curigai?", Perbuatan ini diperintahkan berdasrakan hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;  Adapun takhyil adalah bentuk meminta bantuan kepada setan untuk mengetahui penyakit ain dan sihir, perbuatan ini diharamkan, dan lembaga tetap urusan riset dan fatwa Saudi Arabia telah memfatwakan tentang haramnya perbuatan tersebut dalam fatwanya nomer (20361) tanggal 17/4/1427 H.&lt;br /&gt; Pertanyaan Kelima: Apakah penyakit ain bisa menimbulkan gangguan jasmani, problmatika materi dan sosial?&lt;br /&gt; Jawab: Benar bahwa penyakit ain bisa berimflikasi pada jasmani sehingga mengakibatkan penyakit tersebut tidak sembuh bahkan membuatnya kambuh, begitu juga bisa menimbulkan problematika dalam urusan materi, hubungan suami istri dan musibah lainnya, bagaimana hal itu bisa dipungkiri sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:  &lt;br /&gt;      أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِالْعَيْنِ&lt;br /&gt;"Sebagian besar orang yang meninggal dari umatku setelah taqdir Allah (kepada mereka), juga disebabkan oleh penyakit ain".  Maka musibah yang lebih ringan dari kematian lebih mudah dijangkiti penyakit ain.&lt;br /&gt; Pertnyaan Keenam: Apakah cukup dengan mengambil satu kali bagi bekas aa'in atau harus berualng-ulang?&lt;br /&gt; Jawab: Cukup mengambil bekasnya satu kali saja, sebab tindakan ini seperti imunisasi sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, dan tidak dianjurkan mengulanginya sebab bisa membuka pintu bagi tipu daya setan, kecuali orang yang sudah terkenal sebagai penyebar penyakit ain maka dianjurkan mengambil bekasnya secara berulang-ulang karena setannya terlalu banyak, seyogyanya untuk berbaik sangka kepda aa'in dan tidak memutuskan hubungan atau benci terhadapnya sebab setiap orang berpotensi untuk (menjadi aa'in)&lt;br /&gt; Pertanyaan Ketujuh: Apakah menambah air dan minyak yang sudah diruqyah secara berkesimabungan akan melemahkan pengaruh pengobatan ain?&lt;br /&gt; Jawab: Sebaliknya, dia tidak sekali-kali memperlemah pengaruhnya, sebab Al-Qur'an adalah penawar bagi penyakit, dia adalah cahaya yang tidak akan pernah terputus selamanya, penglaman membuktikan hal tersebut, seperti yang ditegaskan dalam sebuah sabda Rasulullahh shallallahu alaihi wa sallam: &lt;br /&gt;مُدُّوْهُ مِنَ اْلمَاءِ فَـإِنَّهُ لاَ يَزِيْدُهُ إِلاَّ طَيِّبًا&lt;br /&gt;"Berikanlah air baginya sebab dia tidak menambah kecuali keabaikan".  Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini, berhubungan kelebihan air wudhu' beliau yang diberikan kepada sebagian shahabat, untuk disiramkan pada tanah yang telah dijadikan sebagai tempat ibadah mereka (pada masa sebelumnya), lalu tempat ibadah tersebut dihancurkan dan dibagun sebuah mesjid padanya. Dan (siraman air tersebut) sebagai upaya mengambil berkah dari kelebihan air wudhu' beliau shallallahu alaihi wa sallam, kalau hal ini dilakukakn  karena keberkahan air dari bekas wudhu' Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka bagaiamana dengan dengan keberkahan air karena bacaan kalam Allah Yang Maha Pencipta.&lt;br /&gt; Pertanyaan Kedelapan: Apabila air bekas seorang Aa'in diambil, apakah air tersebut dipergunakan (untuk pengobatan) sebagaimana adanya atau harus direbus samapai mendidih?&lt;br /&gt; Jawab: Yang lebih afdhal adalah menggunakan air tersebut sebgaimana adanya sekalipun satu tegukan, mudah-mudahan bermanfaat, namun jika direbus sampai mendidih atau dikurangi maka tidak berefek negatife insyaallah.&lt;br /&gt; Pertanyaan Kesembilan: Apakah boleh mengumpulkan bekas beberapa aa'in atau setiap aa'in harus dengan bekasnya masing-masing?&lt;br /&gt; Jawaban: Kedua cara tersebut bermanfaat dengan izin Allah, pada dasarnya harus segera mengambilnya dan secepatnya membebaskan diri dari ain.&lt;br /&gt;Pertanyaan Kesepuluh: Apakah mengambil bekas seseorang bisa menimbulkan permusuhan?&lt;br /&gt;Jawab: Mengambil bekas yang sedikit bisa memberikan manfaat dengan izin Allah, dan tidak akan menimbulkan permusuhan, dan metode ittiham adalah metode yang bersifat praduga yang tidak memiliki kepastian, akan tetapi diamalkan.&lt;br /&gt;Pertanyaan Kesebelas: Apakah bekas yang menempel pada gagang pintu akan tetap ada seklipun banyak tangan yang telah memeganganya atau jika masanya sudah berlalu lama? &lt;br /&gt;Jawab: Benar, bahwa bekasnya pasti tetap ada, maksudnya adalah bau orang yang menjadi aa'in, contoh yang paling nyata adalah anjing yang bisa mencium bau sesuatu seklipun masanya telah berlalu lama, maka apalagi setan, mahluk yang indra penciumnya lebih peka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu: &lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْـطَانَ حَسَّاسٌ لحَـَّاسٌ فَاحْذَرُوْهُ عَلىَ أَنْفُسِكُمْ&lt;br /&gt;"Sesungguhnya setan adalah mahluk yang sangat peka dan penjilat maka jagalah diri kalian dari tipu dayanya". &lt;br /&gt;Petanyaan Keduabelas: Apakah seseorang bisa terkena penyakit ain jika dia membentengi diri dengan zikir, dan apakah orang yang alim bisa terkena juga?&lt;br /&gt;Jawab: Benar, seseorang akan terkena jika tempramentnya tegang, terutama kemarahan, sebab dia datang dari setan, dan bisa memperlemah kekuatan pembentengan dirinya sehingga menjadi pintu bagi masuknya setan, dan bukti yang paling nyata adalah peristiwa Abban bin Utsman pada saat dia membacakan sebuah hadits dari Nabis shallallahu alaihi wa sallam yang mengatakan: "Barangsiapa yang membaca:&lt;br /&gt;باِسْمِ اللهِ الذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اْسـمِهِ شَـئٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ&lt;br /&gt;Maka tidak ada sesuatupun yang akan memberikan kemudharatan baginya". Akhirnya, teman bicaranya memandang (kepadanya dengan pandangan keheranan) sebab keadaannya yang telah ditimpa kelumpuhan. Dia bertanya: Mengapa kamu memandang saya (dengan pandangan kehearanan)? Demi Allah aku tidak berbohong kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, akan tetapi aku marah (sehingga aku ditimpa kelumpuhan). Orang yang alim ini ditimpa padahal dialah yang menceritakan hadits ini, maka orang yang lebih rendah kedudukannya lebih besar kemungkinan terkenanya, maka barangsiapa yang tidak bisa mengontrol tempramentalnya maka hendaklah dia mengulang kembali pembentengan dirinya (dengan zikir).&lt;br /&gt;Pertnyaan Ketigabelas: Apakah memusuhi aa'in akan menjaga seseorang dari penyakit ain?&lt;br /&gt;Jawab: Tidak benar, tidak ada yang menjaga seseorang dari penyakit ain kecuali membentengi diri (dengan zikir) dengan izin Allah dan itulah yang bermanfaat.&lt;br /&gt;Pertnyaan Keempatbelas: Apakah penyembuhan (dengan riqyah) berfungsi untuk menanggulangi penyakit jasmani dan jiwa saja?&lt;br /&gt;Jawab: Tidak benar, ruqyah adalah dasar penyembuhan sementara yang lainnya adalah sebab pengobatan, yang lebih baik adalah tidak menghamburkan uang yang banyak untuk suatu penyakit yang belum jelas, mendiagnosa dan mempergunakan sinar lasser, mengorbankan waktu, usaha dan harta, membebani negara dengan uang yang banyak, padahal bisa diimbangi dengan membuka klinik ruqyah secara resmi dan standar yang ketat untuk menseleksi para raaqi yang professional dari kalangan penuntut ilmu yang hanya mengarap pahala dari Allah semata, juga dibarengi dengan sebab-sebab lain berupa pengobatan untuk penyakit jasmani atau penyakit jiwa, sebagai aplikasi sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِالشِّفَائَيْنِ اْلقُرْآنُ وَالْعَسَلُ     &lt;br /&gt;"Hendaklah kalian menggunakan dua penawar, Al-Qur'an dan madu". &lt;br /&gt;Pertanyaan Kelimabelas: Apakah rahsia sebab berkuasanya setan pada masa kita sekarang ini khususnya, dan sebab menyebarnya penyakit ain?&lt;br /&gt;Jawab: Tidak diragukan bahwa berkuasanya setan jin dan manusia pada masa sekarang ini sangat mengundang perhatian, hal tersebut kembali kepada beberapa sebab yaitu: Tekanan hidup dan godaannya yang telah berubah menjadi kesibukan inti manusia, dan menghancurkan ikatan-ikatan Islam bersamaan dengan minimnya berzikir, dalam kondisi inilah setan menemukan kesempatannya untuk menerkam hati-hati yang kosong dari berzikir kepada Allah.&lt;br /&gt; Adapun tentang menyebarnya penyakit ain pada masa ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskannya dalam sebuah sabdanya: &lt;br /&gt;أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِالْعَيْنِ&lt;br /&gt;"Sebagian besar orang yang meninggal dari umatku setelah taqdir Allah (kepada mereka), juga disebabkan oleh penyakit ain".  , beliau mengingatkan para shahabat dalam sebuah sabdanya: &lt;br /&gt;مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلِكنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا فَتَـتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ&lt;br /&gt;"Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan akan menimpa kalian, akan tetapi aku takut jika dibukakan dunia lalu kalian bersaing sebgaimana mereka bersaing, akhirnya dia mencelakakan kalian sebagimana dia telah mencelakakan mereka." Sebagiaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pada zaman dahulu para shahabat makan dan minum dari satu bejana, jika di antara mereka terpendam rasa dengki maka hal itu akan terkikis dengan terambilnya bekas mereka pada saat makan dan minum bersama. Adapun sekarang, setiap orang makan, minum dan berpakian secara sendiri-sendiri, akhirnya banyak orang yang terjangkit kesurupan pada masa sekarang ini, maka muncullah kebutuhan yang mendesak akan didirikannya sebuah klinik resmi yang menggunakan Al-Qur'an dan ruqyah, sama dengan ilmu-ilmu Islam lainnya yang telah tertata secara resmi, dan masyarakat pada zaman dahulu tidak membutuhkan ruqyah sebab mereka selalu membaca zikir pada sebagian besar waktu mereka sehingga setan tidak mempunyai peluang dalam diri mereka. Namun, pada zaman kita sekarang ini seklipun banyak buku-buku tentang zikir yang telah dicetak dan direkam tetapi sangat disayangkan tidak diamalkan sesuai dengan cara yang ajarkan, zikir tersebut tidak dibaca kecuali saat dibutuhkan atau pada waktu luang dan dipraktikkan dalam bentuknya sebagai kebiasaan lebih dominan dari praktiknya sebagai ibadah.        &lt;br /&gt;Pertanyaan Keenambelas: Apakah sebab kegagalan sebagian orang yang membaca ruqyah dalam menghadapi pasiennya? Dan apakah tanggapan bapak dengan sikap sebagian dokter yang mengingkari peran ruqyah syar'iyah dalam mengobati penyakit jasmani seperti patah tulang, dia mengatkan bahwa tidak ada hubungan antara patah tulang dengan ruqyah, penyembuhannya dengan menggunakan perban.&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt; (اَلْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ ِلمَا قُرِئَ لَهُ Al-Qur'an untuk apa yang niatkan saat membacanya). Qo'idah ini harus melekat di dalam diri kita, Al-Qur'an di pada saat membaca ruqyah berfungsi tiga hal: 1) Penyembuh bagi penyakit-penyakit jasmani dan yang lainnya. 2) Sebagai petunjuk bagi jin dan manusia yang memasuki tubuh manusia, firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;قُـلْ هُـوَ لِلَّذِِيْنَ آمَـنُوْا هُـدًى وَشِِـفَاءٌ&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Dia bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh". 3) Sebagaimana juga dimanfaatkan untuk membakar jin yang berada di dalam jasad manusia yang dirasukinya.&lt;br /&gt;Sangat disayangkan, sebgian besar para pemabaca ruqyah melalaikan pemanfaatan yang pertama dan kedua, dan memanfaatkan untuk kepentingan yang ke tiga saja, yaitu untuk membakar jin, sehingga menimbulkan penolakan dan keletihan saat menghadapi jin yang merasuki seseorang baik bagi orang yang diruqyah dan yang membaca ruqyah secara bersama,  akhirnya masa pengobatan menjadi lama bahkan bertahun tahun, lain halnya jika dia berfikir untuk memberikan petunjuk bagi jin yang merasuki tersebut tanpa harus berkomunikasi dengannya niscaya orang tersebut akan sembuh  dalam waktu kurang dari tiga hari. Orang yang sakit tersebut akan kembali pulih seperti semula. Kami telah mencoba metode da'wah ini dan ternyata memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan air dan minyak zaitun jika dibaca dengan niat seperti ini, yaitu penyembuhan dan petunjuk niscaya dia akan memberikan manfaat yang sangat jelas.&lt;br /&gt;Kita kembali kepada pertnyaan selanjutnya, yaitu apakah ruqyah bermanfaat bagi orang yang patah tulang? Kami katakan: "Ya" dengan setegasnya, bahkan  kesembuhannya sangat cepat sebagaimana yang kita saksikan, contohnya orang yang sudah ditetapkan untuk mencabut perbannya setelah dua bulan dari awal pemasangannya, namun dengan menggunakan ruqyah syar'iyah anggota yang diperban telah sembuh dalam jangka yang kurang dari dua bulan dengan izin Allah, sebagaimana yang kita lihat, dan kenyataan ini terbukti dalam catatan medis, jauh sebelumnya sebuah riwayat sebagai bukti dalam masalah ini, yaitu kisah seorang yang disengat oleh kalajengking di mana dia kembali pulih setelah dibacakan ruqyah, dan sengatan adalah penyakit jasmani, dan di antara kita dengan para dokter-dokter professional yang menerapkan metode ruqyah terdapat kerjasama yang besar dengan izin Allah.&lt;br /&gt;Pertnyaan Ketujubelas: Apakah syarat sebuah percobaan agar bisa sebut sebagai parktik yang sesuai dengan syara'? Dan apakah ruqyah termasuk sebuah ilmu atau praktik ibadah?&lt;br /&gt;Jawab: Ilmu-ilmu umum (terapan) didasarkan pada percobaan, begitu juga ruqyah syar'iyah didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang khusus, dan syarat agar dia sesuai dengan syar'iat adalah: 1) Harus dikonsultasikan kepada para ulama yang memahami syara'. 2)  Tidak mengandung syirik, seprti yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;                       اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ&lt;br /&gt;"Perlihatkanlah ruqyahmu kepadaku, tidak mengapa dengan ruqyah selama terbebas dari kesyirikan".&lt;br /&gt;Ruqyah adalah bidang ilmu yang berdiri sendiri, bahkan dia adalah dasar pengobatan, namun sayang sekali, diremehkan. Bahkan syakhul Islam Ibnu Taimiyah menganggapnya sebagai bentuk jihad, yaitu jihad para Nabi dan  para reformis dalam menghadapi musuh yang abstrak ini, yaitu setan yang terkutuk, dia adalah ilmu dan ibadah, kalau orang-orang barat berlomba-lomba dalam membangun klinik-klinik rohani dan konsen dalam menyediakan orang yang membidanginya pada rumah sakit-rumah sakit yang ada di barat, maka kita umat Islam lebih utama dan berhak sebab kita adalah umat pembawa misi, maka ruqyah syar'iyah bukan untuk mendapat keberkahan semata, dia adalah bidang ilmu yang memiliki keriteria, oleh karenanya seseorang tidak dianjurkan menggelutinya kecuali setelah mengetahui keiteria khusus yang harus dipenuhinya.&lt;br /&gt;Pertnyaan Kedelapanbelas: Apakah cukup bagi sesorang mengambil bekas yang sedikit dari seorang aa'in atau mesti mandi dengan bekasnya tersebut?&lt;br /&gt;Jawab: Berdasarkan pengalaman, bekas yang sdikit cukup bagi seseorang dengan izin Allah, maksud sebanarnya adalah bau khusus bagi seorang aa'in, dan jika mandi dengannya maka hal itu labih baik, namun secara umum maksudnya adalah mendapatkan bau (khusus bagi aa'in). Dan jika dimasak sampai mendidih untuk menghindari penularan penyakit dan kotoran, maka hal itu tidak mengapa.&lt;br /&gt;Pertnyaan Kesembilanbelas: Bagaimanakah cara menjaga diri dari penyakit ain?&lt;br /&gt;Jawab: Menjaga diri dari penyakit ain dengan dua cara: &lt;br /&gt;Pertama: Menjaga diri dengan zikir kepada Allah secara terus menerus bersama bacaan wirid pagi dan petang. &lt;br /&gt;Kedua: Menjaga keindahan diri yang dikhawatirkan bisa menyebabkan terkena penyakit ain, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bagawi  bahwa Utsman radhiallahu anhu melihat seorang anak kecil yang ganteng, maka dia berkata: "minyakilah lesung pipitnya agar dia tidak terkna penyakit ain". (Karena lesung pipitnya tersebut bisa mengundang kekaguman orang lain, sehingga orang lain memujinya tanpa dibarengi berzikir kepada Allah. Pen.)&lt;br /&gt;Pertanyaan Keduapuluh: Sebagian pembaca ruqyah mensyaratkan bagi ruqyahnya dengan waktu tertentu, seperti waktu tenggelamnya matahari, bagaimanakah pendapat syekh dengan hal tersebut?&lt;br /&gt;Jawab: Ruqyah adalah bentuk pengobatan yang jika dibutuhkan oleh sesorang maka dia memanfaatkannya tanpa pengkhususan dengan waktu tertentu, dan barangsiapa yang mengkhususkannya maka dia harus mendatangkan dalil.&lt;br /&gt;Pertnyaan Keduapuluh satu: Sebagian pemabca ruqyah terkadang merasa letih saat meruqyah seorang pasien, terkadang dia menguam atau ingin muntah, lalu berkata kepada orang yang sakit tersebut: "Engkau terkena penyakit ain, sebab aku menguam atau ingin muntah, bagaimanakah kebenaran peraktaan tersebut?&lt;br /&gt;Jawab: Ini adalah dalil yang jelas bahwa orang yang meruqyah tersebut terkena penyakit ain namun dia tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;Keduapuluh Dua: Hadits Utsman bin Abil Ash ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam memukul dadanya, dan berkata kepada setannya:  (Keluarlah wahai musuh Allah!), riwayat ini sebagai dalil dibolehkannya menggunakan kekerasan saat menjalankan aktifitas ruqyah, padahal di sisi lain ruqyah digunakan dengan niat kesembuhan bagi tubuh ini dan petunjuk bagi jin yang sedang merasuki tubuh tersebut, bagaimanakah cara mengkompromikan antara hadits ini dengan kenyataan tersebut?&lt;br /&gt;Jawab: Permulaan hadits ini sebagai jawaban atas pertanyaan ini, Utsman bin Abil Ash mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan ucapannya: Ada sesuatu yang menggangguku dalam shalatku sampai aku tidak mengetahui berapa rekaatkah aku shalat, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Itu adalah setan", maka ini adalah kondisi khusus yang membutuhkan sikap keras sebab dia adalah setan kafir, dalilnya adalah dia tidak ingin shalat, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memaksanya keluar dan tidak membunuhnya, maka ini adalah salah satu cara merubah dan menghilangkan kemungkaran, tidak mesti hal ini menjadi sebuah kaidah, dan bertahap dalam merubah kemungkaran adalah tuntutan syara'. Wallahu A'alamu.&lt;br /&gt;Keduapuluh Tiga: Sebagian ahli jiwa tetap menganggap metode ittiham -yang dibenarkan oleh syara'- sebagai metode takhyiil (menggambarkan tentang seseorang) dan tidak mau membedakan antara keduanya serta melemahkan hadits yang mengatakan:&lt;br /&gt;" اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ آدَمَ"&lt;br /&gt;Bagaimankah pendapat syekh tentang hal tersebut?&lt;br /&gt;Jawab: Benar, sebagian besar mereka menganggap demikian, semoga Allah memaafkan mereka, bahkan mereka menganggapnya sebagai salah satu cara pengobatan jiwa yang sudah lama, atau apa disebut dengan iha' (daya ilustrasi), dan orang yang mencari kebenaran di antara mereka pasti akan mendapatkan (perbedaannya), adapaun berdebat, maka kami telah  meninggalkannya, padahal kami tahu bahwa kami benar demi mengharap pahala dari Allah. Adapun hadits tersebut telah diteliti kwalitasnya pada bab yang kedua dari buku ini, maka hendaklah dia kembali memeriksanya. Seandainya hadits tersebut lemah, maka dia mempunyai penguat lain dalam Shahih Muslim dari riwayat Jabir, dia berkata:  Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْطََانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْئٍ مِنْ شَأْنِهِ&lt;br /&gt;"Sesungguhnya setan menyertai salah seorang di antara kalian dalam setiap kondisinya".  Aku bertanya: Apakah dia tidak menyertainya saat terjadi penyakit ain?, semenatara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْئٍ   Maha Suci Allah! Ya Allah, tunjukanlah kepada kami kebenaran sebagai sesuatu yang benar dan berikanlah kemampuan bagi kami untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kepada kami kebathilan serta berikanlah kemampuan bagi kami untuk menjauhinya, shalawat dan salam kepada Nabi kita dan seluruh keluarganya.&lt;br /&gt;Keduapuluh Empat: Apakah dalil bagi dianjurkannya meminum bekas seorang yang menjadi aa'in?&lt;br /&gt;Jawab: Pada akhir hadits Sahl binHunaif terdapat tambahan: &lt;br /&gt;"Aku menyangka dia berkata:&lt;br /&gt;فَأَمَرَهُ فَحَسَا مِنْهُ حَسَوَاتٍ (أَيْ شَرِبَ مِنْهُ&lt;br /&gt; (menyuruhnya lalu dia meneguk beberapa tegukan air dan meminum darinya) .&lt;br /&gt;Keduapuluh Lima: Apakah mungkin bagi seseorang memanfaatkan jin yang shaleh?&lt;br /&gt;Jawab: Memanfaatkan jin yang sholeh dibolehkan oleh sebagian ulama, seperti syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah, pendapat saya adalah boleh dimanfaatkan secara teori, adapun prkatiknya sangat sulit direalisasikan, karena beberapa sebab: Perbedaan penciptaan antara kedua mahluk, ketidak tahuan manusia tentang jin tersebut, kemungkianan penipuan jin (terhadap manusia), di mana mereka (secara sengaja) memberitahukan seorang muslim dengan kesholehannya; mendorong seseorang untuk berzikir demi menyibukkannya dari perbuatan yang lebih afdhal, memberikan hukuman kepada orang tersebut jika meninggalkan ketaatan agar terbentuknya rasa takut kepada jin bukan kepada Allah, dan berbagai konspirasi lainnya, dan prilaku ini bisa merusak aqidah seseorang karena melemahkan rasa tawakkal dan memohon bantuan seseorang kepada Allah, kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mencukupi segala sesuatu.&lt;br /&gt;Dalam Sebuah Seminar, Pada Hari Selasa Di Kantor Koran "Al-Riyadh", Di Mana Penulis Teramsuk Peserta Yang Ikut Dalam Seminar Tersebut. Seminar Juga Dihadiri Oleh Beberapa rooqi, Saat Itu, Kami Mengajukan Beberapa Pertanyaan Kepada Syekh DR. Nashir Bin Abdul Karim Al-Alql-Dekan (Lama) Jurusan Aqidah Dan Pemikiran Moderen Universitas Islam Imam Ibnu Su'ud, yaitu:&lt;br /&gt;Pertanyaan Keduapuluh enam: Apakah ruqyah bertentangan dengan tawakkal?&lt;br /&gt;Jawab: Ruqyah tidak bertentangan dengan tawakkal, sebab dia adalah salah satu tindakan yang disyari'atkan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melakukannya dan mengakuinya, bahkan memerinthakannya; termasuk di dalam pengertian umum hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang shahih ketika ditanya tentang berobat: "Benar, wahai hamba Allah, beobatlah…." Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Asma' binti Umais menggunakan ruqyah dalam sebuah sabda beliau: &lt;br /&gt;مَا لِي أَرَى أَجْسَامَ بْنَ أَخِي ضَارِعَةً تُصِيْبُهُمُ الْحاَجَةُ ؟ قَالَتْ: لاَ, وَلكِنْ الْعَيْنَ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ, قَالَ: اِرْقِيْهِمْ, قَالَتْ: فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ, فَقَالَ: اِرْقِيْهِمْ&lt;br /&gt;"Kenapa tubuh-tubuh anak saudara saya lesu seakan menginginkan sesuatu? Lalu Asma' menjawab: "Tidak, akan tetapi penyakit ain telah menyerang mereka, Rasulullah memerintahkan: "Ruqyahlah mereka" Lalu dia berkata: "Maka aku menawarkan kepadanya untuk meruqyah mereka" Namun beliau menjawab: "Bacakanlah ruqyah kepada mereka".  Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika mengidap sesuatu maka Jibril Alaihis Salam meruqyahnya sebagaimana yang dijelaskan di dalam Shahih Muslim. Sebagaimana dijelaskan di dalam sebuah hadits tentang ruqyah apakah bisa menolak taqdir Allah? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dia termasuk taqdir Allah. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk memanfaatkan ruqyah yang terbebas dari kesyirikan, yaitu ruqyah yang memenuhi syarat syar'I, seperti yang dijelaskan dalam sabdanya: &lt;br /&gt;اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ&lt;br /&gt;"Ajukanlah ruqyahmu kepadaku, tidak mengapa dengan ruqyah selama terbebas dari kesyirikan".&lt;br /&gt;Pertanyaan Keduapuluh Tujuh: Apakah ruqyah bersifat tauqifiyah seperti ibadah-ibadah lainnya atau dia tergntung ijtihad dan pengalaman sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ&lt;br /&gt;Jawab: Ruqyah tunduk pada ketentuan ijithad dan pengalaman dengan syarat-syaratnya, yaitu: &lt;br /&gt;1-Mempergunakan kalam Allah Ta'ala yaitu Al-Qur'an, do'a-do'a yang datang dari Rasulullah saw dan do'a-do'a yang benar yang tidak mengandung kesyirikan, bid'ah dan dipahami, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;ِاعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ&lt;br /&gt;"Ajukanlah ruqyahmu kepadaku, tidak mengapa dengan ruqyah selama terbebas dari kesyirikan".&lt;br /&gt;2-Terbebas dari tanda-tanda yang tidak dimengerti, tulisan-tulisan mantra, do'a-do'a yang tidak dipahami atau gerakan-gerakan yang tidak jelas.&lt;br /&gt;3-Orang yang meruqyah dan diruqyah meyakini bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah semata, dan semua terapi yang dilakukan hanya bisa bermanfaat dengan taqdir Allah.&lt;br /&gt;4-Ikhlash dalam berniat dan mengharap kepada Allah semata saat membaca ruqyah atau berdo'a.&lt;br /&gt;Pertanyaan Keduapuluh Delapan: Apakah ruqyah syar'iyah bermanfaat untuk mengobati penyakit jasmani dan penyakit jiwa, dan apakah hukum orang yang mengejek praktik ruqyah syar'iyah yang muncul dari kalangan dokter dan para ilmuan, dan bagaimanakah pendapat syekh dengan orang yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara bacaan ruqyah dengan penyakit-penyakit ini dan ini adalah salah satu bentuk khurofat?&lt;br /&gt;Jawab: Benar bahwa ruqyah adalah sebab syar'I yang ditaqdirkan oleh Allah bisa bermanfaat untuk penyembuhan dengan izin Allah bagi penyakit  jiwa dan jasmani, pengakuan terhadap manfaat ini sangat bergantung pada iman dan ketundukan diri kepada Allah Ta'ala serta apa-apa yang datang dari Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, seperti yang diceritakan dalam kisah orang yang disengat (yaitu orang yang disengat oleh kalajengking lalu ditimpa oleh racunnya) maka Allah menyembuhkannya dengan bacaan surat Al-Fatihah baginya, lalu Nabi saw shallallahu alaihi wa sallam membenarkan tindakan pembaca ruqyah tersebut.&lt;br /&gt;Seorang muslim, baik sebagai dokter atau lainnya wajib menerima apa yang telah terbukti secara syar'I tentang penyembuhan dengan menggunakan ruqyah apalagi ruqyah yang berasal dari Al-Qur'an, di mana Allah menyebutnya sebagai (هُدًى وَشِـفَاءٌ) dan&lt;br /&gt;(وَشِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ)&lt;br /&gt;dan benar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diruqyah oleh Jibril Alahis Salam dengan membaca: بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ (Dengan menyebut nama Allah yang akan membebaskanmu dan menyembuhkanmu dari setiap penyakit".  Dan ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: مِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ sebagai dalil bagi ruqyah yang bersifat gelobal bagi setiap jenis penyakit baik rohani atau jasmani. &lt;br /&gt;Dalam pembuktian yang dijelaskan oleh sunnah bahwa penyakit-penyakit yang dapat sembuh dengan ruqyah pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah penyakit-penyakit jasmani, dan mereka tidak mengenal penykait rohani yang banyak terjadi pada zaman kita sekarang ini.&lt;br /&gt;Adapun, ungkapan mereka yang mengatakan bahwa ini adalah bentuk khurofat, dan Al-Qur'an tidak mempunyai hubungan apapun dengan penyembuhan berbagai jenis penyakit ini, adalah bukti nyata akan kebodohan mereka dengan agama Allah, dan sedikitnya pemahaman meraka dengan syara' Allah. Banyak di antara mereka yang menjadikan ilmu-ilmu terapan sebagai standar kebenaran terapi yang bersifat syar'I, dan ini adalah kesalahan dalam keyakinan beragama bagi seseorang, semoga Allah menyelamatkan kita darinya. Seandainya mereka menyadari bahwa Allahlah yang mengajarkan bagi mereka ilmu-ilmu alam seperti ilmu tentang kedokteran, Dialah yang mensyari'atkan bagi hambaNya untuk melakukan terapi syar'I (sebab-sebab yang bersifat abstrak bukan medis) seperti ruqyah dan mengambil bekas bagi aa'in, niscaya mereka tidak akan mengingkari apa yang disyari'atkan oleh Allah berupa ruqyah dan pengaruhnya yang sudah terbukti. Adapun sebab-sebab yang tidak disyari'atkan seperti meramal, tulisan–tulisan mantra dan sihir dan yang lainnya adalah terapi yang diharamkan oleh Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;Pertanyaan Keduapuluh sembilan:  Imam Ibnu Hajar Rahimhullah berkata: (Penyakit ain bisa terjadi karena rasa bangga seseorang sekalipun tanpa dibarengi dengan perasaan dengki, bisa terjadi dari orang yang mencintai atau orang yang shaleh…), Saya sangat mengahrapkan agar syekh berkenan menerangkan kalimat ini, dan apakah mesti seorang aa'in harus dengki? Dan bisakah penyakit ain muncul dari teman, keluarga dan orang yang shaleh baik hanya karena bergurau atau memuji?&lt;br /&gt;Jawab: Pada dasarnya penykit ain terjadi dari orang yang dengki, bisa juga terjadi karena perasaan gibthah (perasaan iri tapi tidak menghendaki nikmat tersebut hilang darinya) tanpa dibarengi dengan hasad yang jelas. Penyakit  Ain juga bisa terjadi dengan sebuah ungkapan yang  tidak dibarengi perasan dengki; baik yang muncul dari seorang teman atau kerabat, akan tetapi kalimat tersebut bisa mempengruhi jin yang selalu menyertai manusia, seperti yang disebutkan dalam riwayat yang muttafaq alaihi tentang seorang yang mendapatkan warna kemerah-merahan pada wajahnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan: اِسْتَرْقُوْا لَهَا فَإِنَّ بَهَا النَّظْرَةَ  (Bacakanlah ruqyah baginya sebab pada dirinya ada tanda-tanda (terkena penyakit yang disebabkan) pandangan. Karena jin. Oleh karenanya penyakit ain bisa disebabkan oleh seorang teman, kerabat dan orang yang shaleh karena ungkapan yang lontarkannya, dengan bersenda gurau atau pujiannya baik pada saat serius atau saat main-main. Dengan kata lain bahwa seorang teman, kerabat dan orang shaleh bisa menyebabkan terjadinya penyakit ain baik dengan seganja atau tanpa sengaja dan inilah yang sering terjadi.&lt;br /&gt;Pertanyaan Ketigapuluh:  Disebutkan dalam hadits Umamah bin Sahl bin Hunaif sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: مَنْ تَتَّهِمُوْنَ؟  (Sapakah yang engkau curigai/tuduh) apakah makna Ittiham, dan tingkat kebolehannya secara syara' dalam mengobati penyakit ain? Dan apakah harus memberitahukan orang yang dicurigai menyebabkan penyakit ain, baik karena dengki atau bangga dalam rangka mengambil bekas dirinya, atau bekas tersebut diambil tanpa sepengetahuan aa'in, baik keringatnya atau liurnya agar tidak menimbulkan permusuhan?&lt;br /&gt;Jawab: Makna Ittiham sudah jelas, yaitu orang yang yang ditimpa penyakit ain dianjurkan untuk mengingat-ingat kondisi yang telah berlalu yang mungkin menyebabkan dirinya tertimpa ain, dengan menggambarkan di dalam benaknya orang-orang yang mungkin mengungkapakan tentang sifat dirinya yang bisa menimbulkan perasaan dengki, gibthah atau mengungkapkan sebuah sifat di sisi orang lain, atau melihat darinya sesuatu yang menumbuhkan sifat gibthah atau iri.&lt;br /&gt;Hal ini dipertegas oleh ucapan salah seorang shahabat ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya: "Siapakah yang engaku curigai?" yaitu orang yang menyebabkan Sahl tertimpa penyakit ain. Mereka menjawab: Amir bin Rabi'ah, sebab mereka mendengarnya berkata bahwa kulit Sahl seperti kulit seorang wanita pingitan.&lt;br /&gt;Adapun tentang memberitahukan orang yang dituduh sebagai aa'in, maka hal ini kembali pada perkara yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut dan akibat yang muncul jika dilaksanakan; jika orang yang dituduh tersebut dewasa dan menerima kenyataan ini tanpa menimbulkan kerusakan, maka lebih baik diberitahukan dan diminta untuk mandi atau dia sendiri yang mengusap bekasnya dirinya. Namun jika perkaranya tidak seperti apa yang disebutkan di atas, maka sebaiknya bekasnya diambil tanpa sepengeatahuannya, dan semuanya bermanfaat insyaallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB KETUJUH&lt;br /&gt;KISAH NYATA TENTANG PENGARUH RUQYAH SYAR'IYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Cerita tentang seorang yang pingsan.&lt;br /&gt;Seorang wanita selalu pingsan dalam acara ( gembira) apapun, baik perayaan hari raya atau pernikahan, dia merasa tercekik secara terus menerus pada setiap acara tersebut namun berkuarang pada hari-hari lainnya, lalu pada saat ruqyah dibacakan dia menyebut salah seorang kerabatnya, maka Al-Roqi menyuruhnya untuk segera mengambil bekas kerabat tersebut tanpa sepengetahuannya dan berbaik sangka kepadanya, namun dia mengindahkan perintah tersebut. Akhirnya, pada sebuah acara pernikahan anaknya, wanita tersebut kembali pingsan di dalam ruang acara pernikahan tersebut, lalu dia dibawa dengan mobil ambulan menuju  salah satu rumah sakit spesialis dan dimasukkan ke dalam ruang perwatan  dalam kondisi pingsan dan sulit diharapkan sembuh, akibatnya pernikahan dibatalkan, lalu salah seorang putrinya pergi mengambil bekas makan wanita yang dicurigai lalu dimasukkan dalam sebuah botol air, kemudian dia membawanya menuju ruang perawatan intensif dan meletakkan sebagian bekas tersebut pada mulut ibunya, hingga menimbulkan perkara yang mengagetkan! Di mana wanita tersebut bangkit dari pingsannya dan duduk pada hamparan dipan lalu terbatuk-batuk dengan keras, yang menyebabkan para dokter dari inggris bertepuk tangan terheran, lalu wanita tersebut keluar dari rumah sakit pada hari yang sama dalam keadaan sehat yang sempurna, lalu seorang seorang suster menutup catatan wanita tersebut sambil berkomentar: (Terkadang badan tersebut mengobati dirinya secara langsung). Maha Suci Allah.&lt;br /&gt;2) Seorang yang lumpuh!!&lt;br /&gt;Seorang lelaki datang membawa anaknya yang tertimpa lumpuh pada seluruh tubuhnya dalam sebuah selimut, dia mengadu kepada seorang Roqi: Aku telah mengelilingi sebagian besar negara-negara di dunia ini untuk mengobati anakku dengan berbagai pengoatan medis, aku telah rugi tenaga, harta dan waktu, semua referensi medis menegaskan bahwa kelumpuhan ini bukan disebabkan oleh sebab-sebab medis!! Lalu roqi membacakan ruqyah baginya (dengan niat penyembuhan dan hidayah bagi jin yang bersarang pada dirinya), kemudian dia bertanya kepada anak tersebut: Apakah engkau mencurigai seseorang? Pertanyaan ini diajukan dalam rangka mengamalkan hadits Nabi saw: Siapakah yang engkau curigai?" Maka anak tersebut menjawab: Aku tidak berfikir saat ini kecuali bapakku ini!, lalu bapaknya terheran-heran sambil berkata: Apakah aku yang menyebabkannya tertimpa penyakit ain padahal aku telah mengerahkan harta dan waktuku bagi kesembuhannya!, Lalu sang roqi menjelaskan bahwa ain tersebut bisa dipancarkan dari seorang yang paling disayang, dan bukan menajdi syarat bahwa ain tersebut mesti dari orang yang dengki dan pemarah, akan tetapi pada saat seseorang mengungkapkan kekagumannya tanpa dibarengi dengan zikir kepada Allah, biasanya setan menghadiri keadaan tersebut danm memanfaatkannya, seperti yang dijelaskan dalam sabda Nabi saw:                                                                     اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ   &lt;br /&gt;"(Penyakit yang ditimbulkan oleh) mata adalah benar adanya, yang dibarengi oleh setan". Setan tidak melihat pada kabikan niat orang yang mengungkapkan pujian tersebut, dia hanya mengetahui apakah seseorang berzikir atau orang yang dikagumi apakah dia membentengi dirinya atau tidak dengan zikir atau yang lainnya untuk mencegah masuknya setan kepada orang yang dipuji tersebut, berdasarkan sabda Nabi saw: &lt;br /&gt;سِتْرُ مَا بَيْنَ عَوْرَاتِ اْلإِنْسَانِ وَالْجِنِّ قَوْلُ بِسْمِ اللهِ&lt;br /&gt;"Penghalang antara aurat seseorang dengan jin adalah ucapan: بِسْمِ اللهِ&lt;br /&gt;Lalu bekas orang tuanya diambil melalui segelas the yang diminumnya, maka anaknyapun meminumnya, akhirnya muncullah keajaiban yang tidak terduga!, Di mana anak tersebut mulai bergerak tanpa kehendaknya, dia mulai merayap ke bumi, lalu bangkit sedikit demi sedikit dengan berat, kemudian dia menggerak-gerakkan seluruh anggota badannya, lalu melangkah beberapa langkah lalu terjatuh dan ia kembali bangkit! Bapakanya menangis terharu lalu berkata: Aku mengingat, dua tahun yang silam saat para tamu berkunjung ke rumah, aku memuji anakku ini karena pelayanannya yang baik kepada para tamu, namun pujian itu tanpa dibarengi zikir kepada Allah. "Demi Allah, tidak ada anak yang bermamfaat bagiku kecuali anak ini" Pujiku baginya tanpa menyebut nama Allah. Setelah itu anakku ini merasakan sakit yang kronis sampai dia lumpuh selama dua tahun, dan tidak ada dokter yang specialis penyakit lumpuh baik di dalam negeri atau di luar negeri kecuali aku pergi kepadanya. Akhirnya, orang tuanya berterima kasih kepada roqi sambil berkomentar:&lt;br /&gt;حَامِلُ دَاهُ بُرْدَاهُ&lt;br /&gt;(Pembawa penyakit dirinya pada selimutnya, maksudnya: Dia capek mencari obat di luar padahal dia sendiri yang menjadi sebab penyakit tersebut), akhirnya anak tersebut pulang sambil membawa selimut yang dipakainya. Segala puji bagi Allah atas karuniaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Usus Yang Berlilit.&lt;br /&gt;Seorang penuntut ilmu syara' menghadiri jamuan makan pada sebuah pesta untuk walimah. Saat makan berlangsung, dia selalu membantu teman-temannya memotong daging lalu membagikannya kepada para tamu. Lalu salah seorang mereka bercanda:&lt;br /&gt;بَطْنُكَ كَالْكَسَّارَةِ&lt;br /&gt;(Perutmu seperti pemecah batu). Akhirnya para tamu tertawa dengan kalimat tersebut. Di akhir walimah orang orang tersebut merasa sakit pada perutnya, selalu ingin muntah dan mencret. Lalu dia segera ke dokter dan mendiagnosa tempat yang sakit dengan sinar  lasser, ternyata ususnya berlilit di dalam perutnya, dan harus menempuh jalan oprasi untuk meluruskan usus-usus yang berlilit tersebut. Proses operasi berlangsung sukses dan dia boleh meninggalkan rumah sakit setelah beristirahat padanya satu bulan penuh untuk meniunggu kesembuhan luka pada oprasi tersebut, saat berjalan pulang dan sampai di pintu keluar, orang tersebut terserang rasa sakit pada tempat yang sama di perutnya, lalu proses diagnosapun diulangi oleh seorang dokter yang telah menanganinya sebelum ini dan terheran dengan berlilitnya usus dalam waktu yang cepat. Dan dokter tersebut memutuskan untuk menjalankan operasi kedua kalinya untuk meluruskan usus yang sedang berlilit, lalu beristirahat di rumah sakit tersebut selama satu bulan tambahan, saat sudah sembuh dan ingin keluar, dia kembali merasakan rasa sakit yang sama, namun pada saat ini, dokter memutuskan mustahil menjalankan operasi ketiga kalinya sebab kelemahan badan untuk menahan tiga kali operasi untuk jenis penyakit yang sama. Dokter menerangkan bahwa penyakit ini adalah yang pertama terjadi di dunia dan tidak diketahui sebabnya.&lt;br /&gt;Pasien keluar dengan membawa rasa sakitnya, lalu seorang roqi membacakannya ruqyah dengan niat penyembuhan dan petunjuk dan menyebutkan orang yang dicurigai. Lalu sang roqi menyuruhnya untuk berbaik sangka padanya dan mengambil bekas dirinya baik liur atau keringat. Lalu sang pasien mengambil bekas tersebut dan disiramkan pada badannya namun tidak memberikan pengaruh apapun,  rasa perihpun masih tetap dirasakan, kemudian mengadu kepada roqi, dan sang roqopun bertanya kepadanya: "Apakah engkau telah meminum bekas tersebut? "Tidak" Jawanya. "Aku hanya menyiramkannya pada tubuhku" Jelasnya. Lalu sang roqi menjelaskan: Penyakit ain ini telah menimpa perutmu dan bekas tersebut seharusnya sampai di tempat yang ditimpa penyakit ain tersebut. Lalu dia kembali mengambil bekas aa'in dan meminumnya, akhirnya usus-ususnya kembli pada posisi semula dan pasien hidup seperti sediakala, kemudian dia kembali ke rumah sakit untuk meyakinkan tentang kondisinya, pihak rumah sakit menegaskan kesehatan ususnya dengan karunia Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Penyakit Yang Tidak Diketahui Jenisnya. &lt;br /&gt;(Kami tulis seperti apa yang diceritakan oleh yang bersangkutan)&lt;br /&gt;Sebelum sepeuluh tahun yang silam aku terkena penyakit ginajl yang kronis sampai aku kencing darah (Semoga Allah memuliakanmu). Aku pergi ke sebuah rumah sakit terbesar dan mendapatkan darinya hasil diagnosa yang terlampir di bawah. Para dokter menegaskan: Penyakit ini tidak mempunyai obat sama sekali, dan tidak mempunyai sebab yang jelas di dalam teori kedokteran, penyakit ini disebut: IGA. Bertahanlah di rumah, engkau tetap akan decontrol saja sebab tidak ada seorangpun yang bisa selamat dari penyakit sejenis ini, bahkan bisa berakibat pada kegagalan ginjal yang cepat semoga Allah tidak memperkenankan hal itu terjadi.&lt;br /&gt;Setelahnya dunia sempit bagiku kecuali dari rahmat Allah, lalu aku pergi menuju syekh Abdullah Al-Sadhan-semoga Allah memberikan gajnaran baik baginya-untuk dibacakan ruqyah. Beliau berkata: Saya akan membacakan beberapa ayat-ayat Allah bagimu dan semoga Allah menyembuhkanmu isyaallah dan aku membacanya dengan niat penyembuhan dan ittiham dalam rangka mengamalkan hadits yang mengatakan:&lt;br /&gt; مَنْ تَتَّهِمُوْنَ (siapakah yang engkau curigai?). Saat membaca ruqyah dia bertnya kepadaku: Apakah engkau mencurigai ada orang yang pernah mengungkapakan sebuah kaliamat tentang dirimu? Apakah engkau pernah melihat sebuah peristiwa atau mimpi? Apakah di dalam benakmu tergambar seseorang yang pernah menimpakan penyakit ain bagimu? Dalil-dalil ini berdifat praduga yang tidak dipastikan namun tetap dilaksnakan dan dibarengi dengan baerbaik sangka kepada mereka yang diambil bekas dirinya. &lt;br /&gt;Setelah pertnyaan ini, aku mencurigai beberapa orang lalu aku mengambil bekas mereka, maka darah tersebut terhenti secara tiba-tiba, kecuali rasa perih. Pada euqyah yang kedua aku melihat orang lain lalu akupun pergi mengambil bekas mereka maka rasa sakitpun hilang. Segala puji hanya bagi Allah. Kemudian aku mengecek badanku ternyata kesehatanku membaik 70%, lalu pada saat dibacakan ruqyah yang ketiga kalinya penyakit tersebut hilang secara semppurna dan segala puji hanya bagi Allah, akhirnya keadaanku mnejadi stabil.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, saya menasehatkan kepada saudara-saudaraku yang sedang sakit untuk memanfaatkan ruqyah syar'iyah, sebagai dasar penyembuhan yang sudah diremehkan, dan pergola menuju pembaca ruqyah yang hanya mengharap pahala dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FATWA PENEGASAN PARA ULAMA TENTANG KEBOLEHAN&lt;br /&gt;M E T O D E    I T T I H A M&lt;br /&gt;Yang mulia: syekh kami Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin semoga Allah tetap melindunginya.&lt;br /&gt;Assalamu alaikum Wa Rahmatullahi Wa Baraktuhu&lt;br /&gt;Sebagian orang mengingkari kami dengan praktik pengalaman ruqyah yang tidak bertentangan dengan syara', bahkan masuk dalam penertian hadits Rasulullah saw:     &lt;br /&gt;اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ&lt;br /&gt;"Perlihatkanlah ruqyahmu kepadaku, tidak mengapa dengan ruqyah selama dia terbebas dari kesyirikan". (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim no: 1462, dipahami dari sabda Rasulullah yang ini:&lt;br /&gt; اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ َ &lt;br /&gt;(Perlihatknlah kepadaku penglamanmu dalam ruqyah). Dan penglaman ini telah kami perlihatkan kepada kepada yang mulia syekh Abdul Aziz bin Baz, syekh Ibnu Utsaimin, syekh Abdul Muhsin Al-Ubaikan, dan yang lainnya dan kepada yang syekh sendiri, sebagian besar mereka mendukungnya.  Semuanya terwujud karena karunia Allah semata. Di antara yang kami perlihatkan adalah: &lt;br /&gt;1) Membaca ruqyah kepada orang yang ma'yun dengan niat mengekang setan yang mersuk, kemudian dikatakan kepada Ma'yun: Siapakah yang engkau curigai?, maka akan terbayang di dalam benaknya orang yang menjadi Aa'in, berdaarkan hadits: " مَنْ تَتَّهِمُوْنَ", kemudian diambillah bekas aa'in baik liur atau keringat lalu dipergunakan untuk mandi dan minum maka setan aa'in akan meninggalkannya dengan izin Allah, begitu juga dianjurkan mengamalkan hadits Abi Hurairah yang marfu': &lt;br /&gt;اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ آدَمَ&lt;br /&gt;"(Penyakit yang ditimbulkan oleh) mata adalah benar adanya, yang dibarengi oleh setan dan sifat dengki anak Adam". (Fathul Bari 10/12). Pengalaman menunjukkan tentang manfaat metode ittiham ini, bahkan dengan karunia Allah engkau tidak mendapatkan sakit kembali pada keadaannya semula. Pengalaman ini tidak bisa pungkiri oleh siapapun.&lt;br /&gt;2) Membaca Al-Qur'an dengan niat penyrmbuhan dari berbagai penyakit; baik penyakit rohani atau penyakit jasmani, berdasarkan firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar". Kata ((شِفَاءٌ)) bermakna umum yang tidak dibatasi dengan sesuatu. Dan ketika Jibril Alaihis Salam meruqyah  Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dia membaca:&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ&lt;br /&gt;(Dengan menyebut nama Allah yang akan membebaskanmu dan menyembuhkanmu dari setiap penyakit". (Mukhtashar Shahih Muslim no: 1443, maka kata: ( َمِنْ كُلِّ دَاءٍ) umum untuk setiap penyakit, tidak seperti apa yang dipahami oleh orang-orang terdahulu yang membatasinya hanya pada penyakit ain,seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ  (Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit ain), dan makna yang shahih bagi hadits ini adalah: Tidak ada utama yang lebih utama mendapat ruqyah kecuali orang yang tertimpa penyakit ain dan racun sengatan". Mereka membantah praktik yang berdasarkan pada penglaman yang tidak bertentangan dengan syara' dengan anggapan bahwa praktik tersebut akan memabawa pada kesyirikan, mereka akhirnya memantah praktik pengobatan dengan meniup pada air dan berobat dengan daun bidara, bahkan di antara mereka ada yang berlebihan dalam mengingkarinya generasi terdahulu umat ini, karena mereka menjalankan praktik ruqyah ini dan penegasan mereka tentang kebolehannya, seperti Imam Ahmad Bin Hambal, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim rahimhumullah dan ulama umat di negara ini dengan alasan, sebagiamana  yang disebutkan oleh penulis kitab: Al-Nazirul Uryan?. Hai ini adalah sikap merendahkan kedudukan Al-Qur'an sebagai penwar bagi penyakit dan meremehkan para ulama, (Janganlah engkau bertanya tentang kebiansaan suatu ummat yang bisa menimpa orang yang merendahkan kedudukan ulamanya). Saya mengharapkan kepada syekh untuk menjelaskan masalah ini, semoga Allah memberikan taufiqnya kepadamu dan meluruskan langkah-langkahmu dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.  &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Abdullah Muhammad Al-Sadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban syekh Abdullah Bin Jibrin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asslamu alaikum warahmatullahi wabaraktuhu&lt;br /&gt; Saya setuju dengan apa yang anda tulis tentang perkataan Syekh bin Baz, Ibnu Utsaimin dan Ibnu Ubaikan, saya tegaskan bahwa penglaman ini bermanfat dan berguna dengan izin Allah, dan tidak mesti setiap ruqyah harus bersifat manqul  (dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam) akan tetapi setiap ruqah yang memberikan pengaruh positif yang terbebas dari kesyirikan boleh dikerjakan berdasarkan hadits yang disebutkan di atas, baik ruqyah tersebut untuk penyakit ain atau kerasukan dan penyakit lainnya, dengan syarat bahwa ruqyah tersebut terbebas dari kata-kata yang tidak diketahui maknanya, terbebas dari catatan mentera atau huruf-huruf yang terputus-putus atau yang sepertinya, berjalanlah pada jalan yang engkau tempuh dengan curhan berkah dari Allah, Allah bersamamu dan tidak akan mengurangi pahala amal kalian. Semoga Allah memberikan ganjaran yang baik bagimu. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, pada tanggal 2/1/ 1416 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P E N U T U P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa lisan bisa membawa seseorang beruntung atau binasa, banyak ucapan yang menjerumuskan pelakunya pada neraka Jahannam. Semoga Allah melindungi kita darinya. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  &lt;br /&gt;                وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ عَلىَ مَنَاخِـرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتـِهمْ&lt;br /&gt;"Dan tidakkah banyak munusia yang digeret pada batang hidungnya kecuali karena jebakan lidah-lidah mereka?". Lisan adalah alat yang paling besar yang dipergunakan oleh setan untuk menimpakan kemudharatan bagi kaum muslimin, khususnya mata yang didorong kedengkian, oleh karena itulah menjaga lisan termasuk upaya yang paling besar untuk melawan setan, maka seharusnya bagi seorang muslim untuk tidak berkata kecuali dengan perkataan yang bermanfaat, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:                 &lt;br /&gt;مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلَمرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ&lt;br /&gt;"Termasuk tanda kebaikan keisalman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya".&lt;br /&gt; Inilah yang bisa saya ungkapakan dalam catatan yang kecil ini tentang pengalaman saya pada medan yang besar ini, yaitu ruqyah syar'iyah, yang dikatakan oleh syekhul Islam Ibnu Taimiyah: Termasuk perbuatan yang paling afdhal, aktifitas para Nabi dan orang-orang yang shaleh, sesungguhnya para Nabi dan orang-orang shaleh senantiasa menghalau setan-setan dari Bani Adam dengan jalan yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;Jika aku diberi taufiq padanya, maka segala puji bagi Allah dengan pujian yang semestinya, yang sesuai dengan kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu, namun jika yang terjadi sebaliknya,  maka aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung:&lt;br /&gt;إِنْ أُرِيْدُ إِلاَّ اْلإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيْقِي إِلاَّ بِاللهِ عَلَيْهِ  تَوِكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيْبُ&lt;br /&gt;"Aku hanya menginginkan perbaikan semampuku, dan tidak ada yang memberikan taufiq kepadaku kecuali Allah, kepadaNyalah aku bertwakkal dan kepadaNya pula aku kembali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَادَعْوَةٌ أَنْفَعُ يَا صَاحِبِي    مِنْ دَعْـوَةِ الْغَائِبِ لْلْغَائِبِ&lt;br /&gt;نَاشَدَتُّكَ الرَّحْمنَ يَاقَارِئًا  أَنْ تَسْأَلَ اْلغُفْرَانَ لِلْكَاتِبِ&lt;br /&gt;Tiada do'a bermanfaat wahai shahabatku&lt;br /&gt;Dari do'a orang yang gaib bagi orang yang gaib&lt;br /&gt;Demi Zat Yang Pengasih, wahai pembaca&lt;br /&gt;Mintalah ampunan bagi bagi penulis buku ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyadh, 1 Ramhdan 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Sadhan&lt;br /&gt;P.O.  Box. 154033, Riyadh 11736&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RISALAH&lt;br /&gt;PEMBEDA ANTARA TERAPI SECARA SYAR'I DAN KHUROFAT PARA DUKUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Mulia Syekh  Abdullah bin Sulaiman Al-Mani'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, aku memujinya, memohon ampunan dan bartaubat kepadaNya, aku berlindung kepada Allah dari keburukan perilakuku, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagiNya dalam uluhiyah, rububiyahNya dan kesempurnaan zat dan sifatNya, persaksian yang dengannya aku bertemu dengan Tuhanku. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, imam orang-orang yang bertaqwa dan penghulu para Rasul, pemimpin orang-orang yang bercahaya mukanya padahari kiamat. Semoga Allah memberikan kesejateraan baginya sampai hari kiamat. Amma Ba'du: &lt;br /&gt;Allah telah menciptakan manusia dengan tanganNya yang mulia, dan meniupkan baginya ruh yang suci, menjadikannya menjelma dengan ruh dan jasad, menjadikan ruh sebagai inti kehidupan, Dia telah menjamin kelanggengan hidupnya, menjadikan jasad sebagai sebagai sarana yang menjaganya sampai batas waktu tertentu, pengikat kemampuannya dari kebebasan terbang dan bergentayangan pada penjuru kecuali pada saat jasad terbujur tidur, ruh tersebut bebas bergentayangan pada saat tidur saja, firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;اَللهُ يَتَوَفَّى اْلأَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا اْلَموْتَ وَيُرْسِلُ اْلأُخْـرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذلِكَ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ&lt;br /&gt;"Allah memgang jiwa orang ketika matinya, dan memgang jiwa orang yang belim mati ketika tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematinnya Dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir". &lt;br /&gt;Hanya Allahlah yang memiliki kesempurnaan yang mutlaq, menetapkan bagi mahluknya kekurangan dalam harta, jiwa dan buah-buahan karena hikmah yang dikehendakiNya, dan rahasia yang ditunutut oleh kebijakasanaan, pengetahuan dan ilmuNya, firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَئٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ&lt;br /&gt;"Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". &lt;br /&gt;Manusia adalah satu bagian dari mahluk Allah yang terbentuk dari unsur ruh dan jasad, dan setiap unsur tersebut memiliki kekurangan dalam penciptaan, prilaku, perasaan dan kepekaan. Ruh adalah zat yang hidup yang mempunyai kekurangan dan keteledoran, bisa dijangkiti penyakit jiwa seperti kebingungan, kebimbangan, kegoncangan jiwa, defresi mental, temperament yang tidak menantu dalam perasaan dan pikiran, kekhawatiran yang membawa pada sikap ragu-ragu dan was-was, minder dan mentalitas yang labil.&lt;br /&gt; Dan jasad adalah zat yang hidup selama ruh menempatinya, dan dia bisa ditimpa penyakit jasmani yang bermacam-macam, baik pada pendengaran, pengelihatan dan kekuatannya yang beragam yaitu kekuatan lahir dan bathin.&lt;br /&gt; Melihat bahwa Allah telah membedakan manusia dalam penciptaannya dan melebihkannya dari mahluk yang lain dengan aqal yang dimilikinya, dia mengetahui dengannya sesuatu yang baik dan buruk, petunjuk dan kesesatan, diberikan hati untuk berifir dan melihat, dan otak yang menunjukkannya kepada jalan yang sesuai dengan fitrah yang telah tetapkan oleh Allah bagi ciptaannya. Selain itu, Allah memberikan kepada manusia kemampuan untuk maju dalam ilmu pengetahuan dan menembus lapisan alam demi menyingkap keistimewaan dan keajaibannya, kemudian memanfaatkan kandungan alam ini untuk membangun peradaban yang akan memudahkan segala urusan hidupnya, baik untuk menjaga diri dan hak-haknya, dan sebagai sarana untuk menjaga keselamatan pribadinya dari berbagai penyakit sehingga membuatnya mampu mengemban amanah membangun bumi dan mejalankan tugas menjadi khalifah di dunia. Selain itu, hidup yang penuh dengan nilai peradaban ini juga mampu menjamin terjaganya kemuliaan, kelebihan dan keutamaan manusia dari berbagai mahluk yang telah diciptakanNya. Lebih dari itu,  Allah menjaga manusia agar selalu istiqomah dalam jalan yang benar dan jalan petunjuk dengan mengirim bagi mereka para Rasul dan Nabi-NabiNya, Allah menurunkan bagi mahlukNya kitab-kitab sebagai penjelasan bagi setiap sesuatu, sebagai petunjuk, nasehat dan kabar gembira bagi orang yang berakal.&lt;br /&gt; Telah terebentuk pada manusia sarana-sarana untuk mencapai kebagaiaan, ketenangan, keistimewaan dan meraih ilmu dari wahyu Allah dan hasil kerja aqal, sehingga menjadikannya mampu megarahkan bahtera kehidupan dunia menuju apa yang kita lihat sekarang ini berupa kemajuan pada berbagai bidang  ilmu untuk memenuhi kebutuhan ruh, jasad dan kehidupan.&lt;br /&gt; Di sana ada ilmu tentang hikmah exsistensi dan kebenaran zat yang menciptakannya, ilmu tentang filosofi alam, ilmu social yang membahas tentang perbedaan dan aktifitas suatu masyarakat, potensi mereka, sebab-sebab kemajuan dan kemunduran mereka, ilmu jiwa dan ilmu tentang kesehatan jasmani, ruh memiliki bidang ilmu tersendiri, disebut ilmu jiwa, dan jasmani inipun memiliki bidang ilmu tersendiri, disebut dengan ilmu kedokteran umum, dan setiap bidang ilmu tersebut memilki dokter dan obat-obtan yang khsus.&lt;br /&gt; Melihat bahwa ruh adalah zat yang hidup, yang urusannya diserahkan kepada Allah, rahsianya hanya Allah yang mengetahuinya, maka ruh terkadang dijangkiti penyakit yang mengakibatkan sulit baginya untuk memberikan rasa bahagia bagi tempat bersemayamnya, yaitu jasad. Maka untuk menanggulangi berbagai penyakit ruh, telah berkembang berbagai macam terapi, di antaranya ada terapi dengan menggunakan jarum medis, terapi dengan metode menembus dinding jiwa atau dengan do'a dan ruqyah syar'iyah. Bersamaan dengan itu, telah menjamur berbagai klinik yang menangani jiwa yang ditangani oleh orang-orang spesialis, sekaligus penyediaan obat-obtan yang khusus baginya.&lt;br /&gt; Pembahasan kita adalah klinik jiwa yang khusus menangani penyakit jiwa dan gangguan setan, yaitu suatu penyakit yang secara hakiki ada. Dia menyerupai ruh dari sisi keberadaan ruh tersebut secara hakiki dan dari sisi hakekat ruh yang tidak bisa dijangkau secara indrawi, baik indra pendengaran, pengelihatan dan perasa.&lt;br /&gt; Sekelompok orang yang exstrim dalam mengagungkan rasio dan perasaan mengingkari keberaadaan penyakit seperti ini, begitu juga terapi pengobatannya, dengan alasan kebebasan jasmani dari penyakit ruh seperti ini, dan mengingakari adanya suatu penyakit di dalam tubuh yang tidak mempunyai tempat yang nyata (secara indrawi). Semua itu-menurut mereka –adalah iliusi dan khayal.&lt;br /&gt; Sebab munculnya fenomena ini, kembali kepada kesempitan di dalam memandang sesuatu dan mengingkari keberadaan (suatu yang tidak bisa dijangkau oleh indra), kurang iman dan mengandalkan akal dalam menentukan keberadaan atau meniadakan sesautu, serta membatasi keberadaan sesuatu tersebut pada apa yang bisa dilihat saja.&lt;br /&gt; Kebenaran yang didukung oleh realita adalah keberadaan sesuatu tidak terbatas pada apa yang bisa diraba dan dilihat saja.&lt;br /&gt; Arus listrik, sebagai sesuatu yang hidup yang mengalir dalam kawat-kawat kabel, adalah kekuatan yang dimanfaatkan untuk kebutuhan yang beragam, dia adalah kekuatan yang bisa menghancurkan, kekuatan ini tidak bisa dibedakan (secara indrawi) oleh orang yang menghubungkannya pada dua saluran, salah satunya dihubungkan dengan tenaga listrik sedang yang lain tidak dihubungkan dengan aliran listrik, begitu juga dengan angin dan topan, dia adalah kekuatan yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, dan Allah juga mengirimnya untuk keperluan pembiakan, dan membawa berita gembira bagi datangnya rahmat Allah, bersamaan dengan itu, kekuatan tersebut tidak bisa didengar dan diraba secara indrawi. Ruh anak manusia, jin dan malaikat, hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah ruh yang ada secara hakiki, dan tidak ada seorangpun yang berakal sehat yang membantah keberadannya, serta tidak mungkin untuk dilihat dan diraba.&lt;br /&gt; Kenyataan ini, memberikan kepuasan bagi kita tentang adanya pengaruh nyata bagi proses kerja yang tidak bisa dijangkau indra, baik indra pendengaran, pengelihatan dan peraba.&lt;br /&gt; Melihat bahwa kenyataan alami ini adalah sesuatu yang telah diyakini dan diterima oleh seluruh penganut ajaran samawi, khususnya umat Islam, maka sungguh, telah ditemukan adanya orang yang mengaku memiliki ilmu dan pengetahuan (tentang maslah ruh) yaitu mereka yang menyebut dirinya sebagai ulama dalam berbagai penyakit ruh dan jiwa, terlebih ilmu yang berhubungan dengan mantra, jimat dan do'a-do'a, mereka mengetahuinya dengan menggeluti bidang perduknan, dan peramalan dengan memanfaatkan setan dan jin nakal, mereka menggunakan racikan dan simbol-simbol tertentu. Akhirnya, mereka terjerumus memberikan label pengobatan secara syar'I bagi prkatik ini untuk penyakit yang berhubungan dengan rohani dan jasmani sebagai bentuk pengelabuan, penyesatan dan mencampur antara hak dengan bathil, antara hakikat dan khayal.&lt;br /&gt; Oleh karenanya, bagi orang yang memiliki kelebihan dan ilmu, yaitu orang yang memiliki akidah yang lurus dan iman yang benar untuk menjelaskan bagi kaum muslimin jalan petunjuk dan tetap mengingatkan masyarakat pada bahaya pelaku kebohongan, khurofat dan para dukun, dari golongan orang penyembah jin dan setan. Mereka diwaspadai karena perbuatan syirik dan pengelabuan yang mereka lakukan, juga tindakan mereka yang memanfaatkan kesempatan untuk mengambil harta orang lain, menguasai harga diri orang, merusak jiwa dan hati, para ulama harus menjelaskan tentang perbedaan antara mantra dan ruqyah syar'iyah dengan apa yang tampilkan oleh para dukun yang pombohong dari bentuk keburukan, kejelekan, kesesatan dan  penyesatan.&lt;br /&gt; Maka ruqyah syar'iyah dan do'a-do'a yang disyari'atkana adalah terapi  bagi jiwa yang harus diterima tanpa ragu dan harus diakui, apalagi bagi seorang muslim yang meyakini rububiyah dan uluhiyah Allah Ta'ala, sebagai Tuhan yang menyembuhkan dan menyehatkan, yang tiada daya dan upaya kecuali karena Allah Ta'ala, apa yang inginkanNya maka pasti terjadi dan apa-apa yang tidak dikehendakiNya maka dia tidak akan pernah terjadi. &lt;br /&gt; Banyak sekali dalil-dalil syara dari kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan tentang manfaat Al-Qur'an sebagai petunjuk dan penyembuhan, firman Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;قٌـلْ هُـوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُـوْا هُدًى وَشِـفَاءٌ&lt;br /&gt;"Katakanlah: Al-Qur'an adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman". &lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian". &lt;br /&gt;وَإِمَّا يَنْـزَغَـنَّكَ مِنَ الشَّـيْطَانِ نَـزْغٌ فَاسْتَـعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُـوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ &lt;br /&gt;"Dan jika kamu ditimpa suatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui".&lt;br /&gt;َوإَذَا مَرِضْتُ فَـهُوَ يَشْفِيْنِ&lt;br /&gt;"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku". &lt;br /&gt;Dan disebutkan di dalam sunnah pada kita Shahih Muslim dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengadu suatu penyakit maka Jibril meruqyahnya dengan membaca: &lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِيْ عَيْنٍ&lt;br /&gt; (Dengan menyebut nama Allah yang akan membebaskanmu dan menyembuhkanmu dari setiap penyakit, dan dari kejahatan orang yang dengki jika bersikap dengki serta kejahatan orang yang memiliki ain".  &lt;br /&gt;Dan diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Jibril meruqyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan do'a seperti ini. &lt;br /&gt;Disebutkan oleh imam Muslim dari Aisyah radhiallahu anha berkata: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika salah seorang di antara kami mengidap suatu penyakit maka dia mengusapnya dengan tangan kanan beliau sambil membaca: &lt;br /&gt;اَللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ اْلبَاسْ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ  شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا 3x&lt;br /&gt;"Ya Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah! Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang Engkau kehendaki, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit". Maka pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditimpa suatu penyakit dan semakin parah maka aku mengusapkan tanganku padanya, dengan melakukan seperti apa yang beliau lakukan, maka beliau mencabut tangannya dari tanganku kemudian membca:&lt;br /&gt;اَللّـهُمَّ اغْفِـرْلِي وَاجْـعَلْنِي مَـعَ الرَّفِيـْقِ اْلأَعْـلىَ&lt;br /&gt;"Ya Allah ampunilah aku dan jadikanlah aku bersama orang-orang yang menempati tempat yang tertinggi" Lalu aku memandang kepada beliau namun tiba-tiba beliau telah tidak bernafas lagi. &lt;br /&gt;Dan dari Aisyah berkata: Apabila salah satu keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengidap suatu penyakit maka beliau meniupnya dengan Al-Mu'awwidzat, dan pada saat beliau ditimpa penyakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia maka aku meniup beliau dan mengusapnya dengan tangan beliau sendiri, sebab tangannya lebih berkah dari tanganku. &lt;br /&gt;Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika salah seorang merasakan suatu penyakit, atau terkena penyakit bisul atau terluka maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan dengan jari seperti ini-maka beliau meletakkan telunjuknya pada bumi kemudian mengangkatnya dan berkata: &lt;br /&gt;بِاسْـمِ اللهِ تُـرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا لِيَشْفِي بِهِ سَقِيْمَنَا بِإذْنِ رَبِّنَا&lt;br /&gt;"Dengan nama Allah, tanah bumi kita, dengan air liur sebagian kita, untuk menyembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan kita".  Dan dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya membaca ruqyah dari penyakit ain.  Dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan keringanan dalam menjalankan praktik ruqah pada penyakit ain, humah dan namlah".  Imam Nawawi berkata: Al-Namlah adalah penyakit sejenis korengan, bisul yang muncul pada pinggir-pinggir badan, dan penyakit Humah adalah penyakit karena sengatan binatang yang beracun.  Pada shahih muslim diriwayatkan dari Auf Al-Asyja'I berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ&lt;br /&gt;"Perlihatkanlah ruqyahmu kepadaku, tidak mengapa dengan ruqyah selama dia terbebas dari kesyirikan".  َ&lt;br /&gt;Dan disebutkan dalam riwayat Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu bahwa beberpa orang shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada dalam sebuah perjalanan, mereka melewati sebuah perkampungan Arab, maka para shahabat meminta izin sebagai tamu pada perkampungan tersebut, namun mereka enggan menjamu mereka. Mereka bertanya: "Apakah di antara kalian ada yang membaca ruqyah? Sesungguhnya peminpin kaum ini sedang terkena sengatan" Jelas mereka. Salah seorang shahabat menjawab: "Ya" Lalu dia mendatanginya dan meruqyahnya dengan membaca surat Al-Fatihah, akhirnya orang tersebut sembuh. Lalu dia diupah dengan beberapa ekor kambing namun enggan menerimanya, sambil berkata: "Sampai aku menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam". Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyebutkan peristiwa yang mereka alami: Wahai Rasulullah aku tidak meruqyahnya kecuali dengan membaca surat Al-fatihah" Jelasnya, maka Rasulullah tersenyum dan berkata: "Dari manakah engkau mengetahui kalau dia adalah ruqyah" Kemudian melanjutkan: "Ambillah dari kambing mereka dan berikanlah beberapa bagian untukku".  Pada riwayat yang lain disebutkan: Maka dia membaca ummul qur'an dan mengumplkan ludahnya lalu meniupkannya,  akhirnya lelaki tersebut sembuh".&lt;br /&gt;Nash-nash di atas, yang diambil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah menjelaskan bagi kita bahwa ruqyah disyari'atkan, dan tidak diragukan lagi bahwa syari'at Allah hak dan benar, serta wajib diimani, maka ruqyah syar'iyah adalah penyembuh bagi penyakit rohani dan jasmani dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan: &lt;br /&gt;      لاَ بَأْسَ بِالـرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْكٌ" &lt;br /&gt;Tidak mengapa dengan ruqyah selama terbebas dari kesyirikan".&lt;br /&gt;Melihat kenyataan adanya usaha memperburuk citra do'a-do'a yang terdapat di dalam ruqyah, maka sebagian ahli ilmu dan orang yang membidangi ruqyah ini telah menuliskan beberapa syarat bagi kebolehan suatu ruqyah, yaitu: &lt;br /&gt;1) Ruqyah tersebut berasal dari kitab Allah Ta'ala atau dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atau dari do'a-do'a yang dibolehkan yang berisi tentang menggantungkan diri kepada Allah Yang Esa, yang tiada sekutu bagiNya dalam mendatangkan mamfaat dan menolak keburukan, dan hanya Allahlah yang menyembuhkan, Allah berfirman:&lt;br /&gt; َوإَذَا مَرِضْتُ فَـهُوَ يَشْفِيْنِ &lt;br /&gt;"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku". &lt;br /&gt;2) Tidak mengandung sesuatu yang tidak dimengerti seperti isyarat dan garis-garis symbol dan lain-lain.&lt;br /&gt;3) Harus berbahasa Arab, untuk menghindari terjadinya kekurangan dan kekaliruan dalam berdo'a dan adanya sikap bergantung kepada selain Allah jika mempergunakan bahasa yang lain.&lt;br /&gt;4) Tidak meyakini bahwa pada ruqyah tersebut atau darinya kesembuhan secara langsung, akan tetapi ruqyah adalah sebab semata dan yang menyembuhkn adalah Allah Ta'ala, di mana Dia telah menjadikan ruqyah sebagai sebab, sementara yang menyembuhkan adalah Allah semata. &lt;br /&gt;5) Orang yang meruqyah adalah orang yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan yang mengatur alam dan yang wajib disembah, hanya miliknya segala daya dan upaya, apa-apa yang dikehendakiNya mesti akan terjadi dan apa-apa yang tidak dikehendakiNya maka dia tidak akan terjadi. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;   وَنُـنَزِّلُ مـِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian". &lt;br /&gt;6) Orang yang meruqyah bukan orang sesat dan menyelewng, bergantung kepada selain Allah, bertaqarrub kepada mahluk tempat dirinya bergantung baik dari setan dan jin nakal dengan ibadah dan ketundukan, seperti orang yang meruqyah tersebut meminta kepada pasien bagian dari pakian, kuku dan rambutnya atau keadaan keluarga dan yang lainnya, dari perbuatan yang sering dan biasa dilakukan oleh para pelaku kebohongan, para dukun dan penyembah setan.&lt;br /&gt;  Apabila salah satu syarat ruqyah tersebut tidak terpenuhi maka dia berubah menjadi praktik kebohongan, angan-angan dan perdukunan yang terkadang bisa membawa pada kesyirikan. Dan praktik inilah yang dikecualikan dari kebolehan menggunakan ruqyah yang disebutkan dalam hadits Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam:   &lt;br /&gt;     لاَ بَأْسَ بِالرُّقىَ مَا لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ شِـرْك&lt;br /&gt; Kesimpulan pembahasan ini adalah manusia terdiri dari ruh dan materi, dan keselamatan seseorang dan kemampuannya menjalani kehidupan dan interaksinya yang bergam, biasanya bergantung pada kesehatan ruh dan jasadnya. Badan adalah tempat ruh, maka ruh tidak akan tenang dan lapang kecuali dengan sehatnya badan dari penyakit dan badan tidak sehat dan bugar, terasa bebas kecuali dengan selamatnya ruh dari penyakitnya.&lt;br /&gt; Penyakit ruh lain dengan penyakit jasad, dan penyakit jasad lain dengan penyakit ruh, dan kenyataan inilah yang bisa menjelaskan kepada kita tentang ungkapan para dokter pada saat dia bertanya: Engkau tidak mengidap suatu penyakit namun sekedar dibuntuti bayang-bayang perasaan ". Mereka mengatakan hal ini karena tidak mengetahui penyakit ruh. Dan tidak ragukan lagi bahwa penyakit ruh mempunyai dampak pada terjadinya penyakit jasmani, pada saat rohani seseorang terasa sempit dan tertekan, tidak tenang dan tidak menentu, maka hal tersebut akan mengakibatkan lemahnya peredaran pembuluh darah dan kelemahan pada kekebalan tubuh, yang akhirnya firus menyerbu tubuh dan menimbulkan penyakit jasmani.&lt;br /&gt; Maka, penciptaan manusia terdiri dari dua unsur gabungan yaitu rohani dan jasmani, maka tidak ada kehidupan baginya tanpa dibarengi dengan ruh dan tidak ada ruh tanpa ada jasad, dan setiap unsur ini mempunyai sifat-sifat khusus baik dalam bentuknya, kecendrungan dan penyakit yang menimpanya, dan para dokter yang spesialis, ilmuan social dan ahli filsafat telah mengetahui kenyataan ini, maka mereka membentuk ilmu kedokteran jiwa, dan terdapat banyak ilmuan yang membidangi masalah ini, dengan spesialisasinya sendiri-sendiri baik pada jenis-jenis penyakitnya dan obat-obatannya, bahkan sampai ilmu tentang kedoteran jiwa menjadi sejajar dengan kedokteran jasmani, dari sisi urgensi, manfaat dan spesialisasi. Akhirnya, didirikanlah rumah sakit-rumah sakit yang khusus menangani penyakit jiwa, serta diadakanlah berbagai penelitian baik dalam konprensi, seminar dan kajian-kajian ilmiyah yang membahas tentang keadaan jiwa serta apa-apa yang mempengaruhinya dari tekanan bayang-bayang, was-was, perasaan, pikiran yang tidak stabil, dan tidak bisa berpikir dan berpandangan normal. Lebih dari itu, terdapat kuliah dan jurusan yang khusus baginya pada berbagai universitas-universitas internasional, serta pusat-pusat penelitian yang secara khusus meneliti tentang jiwa, apa-apa yang menyebabkannya beraktifitas atau menyeleweng, begitu juga tentang penyakit dan pengobatannya. Hal ini adalah sikap mengakui terhadap keberadaan ruh, dan dia adalah sesuatu yang hidup yang bisa mengidap apa-apa yang dirasakan oleh jasad dari penyakit, rasa pedih dan pengaruh benda-benda. Hanya sanya hakekat zat yang aneh ini dan wujudnya adalah hal yang pengetahuannya hanya dimiliki secara khusus oleh Allah. Firman Allah Ta'ala:  &lt;br /&gt;         وَيَسْأَلُوْنَكَ عَـنِ الرُّوْحِ قُلِ الـرُّوْحُ مِنْ أَمْـرِ رَبِّي وَمَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً&lt;br /&gt;"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: "Sesungguhnya ruh adalah urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberikan ilmu kecuali sedikit". &lt;br /&gt;Dan menjadi sesuatu hal yang mesti diterima oleh orang-orang yang berakal bahwa ruh adalah inti kehidupan, dan penyakit yang menimpanya berbentuk keadaan yang sebagian besarnya bersifat maknawi, yang terkadang kelompok matrealis tidak mengakui pengaruhnya dalam proses penyembuhan, namun kenyataan yang mereka lihat memukul mereka sehingga menjadikan mereka sangat kebingungan pada saat melihat jiwa seorang yang sakit sembuh dengan izin Allah, dan pengobatnnya dengan sesuatu yang bersifat maknawi di mana obat-obatan medis tidak memiliki pengaruh padanya.&lt;br /&gt; Tidak diragukan lagi bahwa pengobatan secara maknawi mempunyai pengaruh dengan izin Allah seperti apa yang dihasilkan oleh obat-obatan yang bersifat materi, berupa kesembuhan, sebagaimana juga mempunyai pengaruh untuk penjagaan diri dari terserang penyakit jiwa sama seperti apa yang ditimbulkan oleh obat-obatan medis untuk menanggulangi penyakit tersebut, dan pernyataan ini tidak bisa dibantah oleh orang mengingkari terhadap adanya sesuatu yang tidak mempunyai wujud secara nyata dan materi.&lt;br /&gt;Ain itu adalah haq, dan Allah telah memerintahkan kita untuk berlindung darinya, disbutkan dalam firmanNya:&lt;br /&gt;قُلْ أَعُـوْذُ بِـرَبِّ الْفَلَـقِ مِـنْ شَـرِّ مَا خَلَـقَ وَمِنْ شَـرِّ غَاسِـقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِنْ شَرِّ النَّـفَّاثَاتِ فِي الْعُـقَدِ وَمِنْ شَرِّ حاَسِـدٍ إِذَا حَسَدَ&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan mahluqNya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.  Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki" .&lt;br /&gt;Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits riwayat Muslim di dalam shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata: &lt;br /&gt;اَلْعَيْنُ حَـقُّ وَلَوْ كَانَ شَيْئُ سَابِـقُ اْلقَـدَرِ سَبَقَتْـهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوْا&lt;br /&gt;"Ain itu hak dan jika ada sesuatu yang bisa mendahului qodar niscaya akan didahului oleh ain, jika kalian diminta mandi maka mandilah". &lt;br /&gt;Sihir itu hak dan Allah memerintahkan kita untuk berlindung dari para tukang sihir wanita, dan para peniup pada buhul-buhul sebagai proses sihir mereka. Allah Yang Maha Suci tidak memerintahkan kita berlindung kecuali pada sesauatu yang benar-benar terjadi dan mungkin terjadi. Firman Allah Ta'ala mengatakan: &lt;br /&gt;وَاتَّـبَعُوْا مَاتَتْلوُاْ الشَّيَاطِيْنُ عَلىَ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَـرَ سُلَيْمَانُ وَلكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَـرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْـرَ وَمَا أُنْـزِلَ علَىَ الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ َومَارُوْتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَـتَّى يَقُـوْلاَ إِنَّـمَا نَحْنُ فِتْـنَةٌ فَلا َتَكْفُـرْ  فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَـرِّقُـوْنَ بِهِ بَيْنَ اْلَمرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّيْنَ بِهِ مِنْ أَحَـدٍ إِلاَّ بِإذْنِ اللهِ&lt;br /&gt;"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir yang mengerjakan sihir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah" .&lt;br /&gt;Dan pandangan mata yang kasat tidak memiliki bagian dalam melihat proses penyakit ain dan sihir, namun walau demikian, kedua-duanya adalah hakiki, dan pengaruh keduanya bisa dirasakan dan disaksikan, dan obat bagi kedua penyakit ini tidak bisa dijangkau oleh pengelihatan mata, dia adalah perkara maknawi yang memiliki pengaruh di dalam menjaga diri dari penyakit dan penyembuhannya, sama seperti sifat kedua penyakit ini yang tidak mungkin bisa dilihat secara nyata.&lt;br /&gt; Maka penyakit ain adalah pantulan busuk dari seorang aa'in, di mana mata nyata tidak memiliki kemampuan untuk melihatnya, begitu juga pengobatannya, berupa ruqyah yang merupakan kumpulan beberapa terapi seperti membaca ruqyah yang dibarengi dengan meniup, maka pengaruhnya bersifat maknawi, di mana pengelihatan tidak mempunyai kemampuan untuk memandangnya, begitu juga sebaliknya baik penyakit dan pengobatannya.&lt;br /&gt; Begitu juga dengan ruh serta apa-apa yang menimpanya, berupa penyakit-penyakit selain sihir dan ain, maka penyakit seperti ini dan pengobatannya, biasanya mata tidak mampunyai kemampuan untuk mengetahuinya.&lt;br /&gt; Semoga goresan yang telah saya persembahkan bisa menyumbangkan pemikiran dalam membedakan antara medical syar'I dengan medical khurofat, perdukunan dan kebohongan, dan menegaskan tentang ruh yang bisa dijangkiti suatu keadaan sehingga mempengaruhinya dan menjadikannya sehat atau sakit, dan terjaganya dari penyakit jiwa hanya bisa terealisir dengan  kembali kepada Allah semata, firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;أَمَّـنْ يُجِيْبُ اْلُمضْطَـرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشْـفُ السُّـوْءَ&lt;br /&gt;"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepadaNya".&lt;br /&gt;وَإِمَّا يَنْـزَغَـنَّكَ مِنَ الشَّـيْطَانِ نَـزْغٌ فَاسْتَـعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُـوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ &lt;br /&gt;"Dan jika kamu ditimpa suatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui".&lt;br /&gt;وَقُلْ رَبِّ أَعُـوْذُبِكَ مِنْ هَمـَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ  وَأَعُـوْذُبِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُـرُوْنِ&lt;br /&gt;"Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan".&lt;br /&gt;قُلْ أَعُـوْذُ بِـرَبِّ الْفَلَـقِ مِـنْ شَـرِّ مَا خَلَـقَ وَمِنْ شَـرِّ غَاسِـقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِنْ شَرِّ النَّـفَّاثَاتِ فِي الْعُـقَدِ وَمِنْ شَرِّ حاَسِـدٍ إِذَا حَسَدَ&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan mahluqNya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.  Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki" .&lt;br /&gt;Selalu berdo'a dengan do'a yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seperti:  &lt;br /&gt;                         أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِـنْ شَـرِّمَا خَلَـقَ&lt;br /&gt;"Aku berlindung kepada Allah dengan kalimatNya yang sempurna dari kejahatan yang telah diciptakanNya" dan membaca wirid-wirid pagi dan petang, dan hanya Allah-lah yang menjaga dan menyembuhkan.&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan taufiqNya, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua shahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis di Mekkah Al-Mukarramah pada tanggal 7/8/ 1420 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D    a    f    t    a    r        I   s    i &lt;br /&gt;H a l&lt;br /&gt;P e r s e m b a h a n 1-2&lt;br /&gt;Kata Pengantar Syekh Abdullah bin Sulaiman Al-Mani' 3-4&lt;br /&gt;Kata Pengantar Syekh Abdullab bin Abdur Rahman bin Al-Jibrin 5-7&lt;br /&gt;Kata Pengantar Syekh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al-Aql 8-9&lt;br /&gt;Kata Pengantar Syekh DR. Muhammad bin Abdur Rohman Al-Khomis 10&lt;br /&gt;Muqoddimah Cetakan Keempat  11-15&lt;br /&gt;Pendahuluan    16-18&lt;br /&gt;Pasal   Pertama : Cara   Pengobatan  19-32&lt;br /&gt; 1 Firasat  19-20&lt;br /&gt; 2 Mendiagnosa Jenis Penyakit.  20-21&lt;br /&gt; 3 Al-Qur'an Adalah Penyembuh Bagi Segala Penyakit 21-29&lt;br /&gt; 4 Bacaan Secara Imijinatif  29-30&lt;br /&gt; 5 Kesembuhan Di Tangan Allah Semata  30-31&lt;br /&gt; 6 Ain Adalah Sebab Yang Paling Banyak Menimbulkan Berbagai Penyakit Yang Terjadi Pada Manusia, Sementara Yang Lain Adalah Pengecualian 31-32&lt;br /&gt;Pasal Kedua : Al-ainu Haq  32-42&lt;br /&gt;  Kategori Aa'in (Orang Yang Menyebarkan Penyakit Ain) 35-41&lt;br /&gt;  Cara Mengetahui Bahwa Seseorang Terkena Penyakit Ain 41&lt;br /&gt;  Perkara Yang Diharuskan Bagi Seorang Pembaca Ruqyah sebelum meruqyah 41-42&lt;br /&gt;Bab Ketiga : Ayat-Ayat Dan Wirid-Wirid Yang Dibaca Untuk Orang Yang Terkena Penyakit Ain 43-45&lt;br /&gt;Bab Keempat : Antara Hasad Dan Sihir  46-50&lt;br /&gt;  Macam-Macam Hasad 46-48&lt;br /&gt;  Apakah Hubungan Ain Dengan Sihir? 48-50&lt;br /&gt;Bab Kelima : Membentengi Diri Dari Penyakit  Ain, Sihir Dan Lainnya 51-54&lt;br /&gt;Bab Keenam : Beberapa Pertanyaan Tenang Penyakit Ain 55-60&lt;br /&gt;Bab Ketujuh : Kisah Nyata Tentang Pengaruh Ruqyah Syar'iyah 70-74&lt;br /&gt;  Fatwa Penegasan Para Ulama Tentang Kebolehan Metode Ittiham 75-76&lt;br /&gt;  Jawaban Syekh Abdullah Bin Abdurrahman Bin Jibrin 77&lt;br /&gt;Penutup    78-79&lt;br /&gt;Risalah  Tentang  Pembeda Antara Perawatan Secara Syar'i Dan Khurofat Para Dukun 80-92&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-1647328454552636031?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/1647328454552636031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/1647328454552636031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/05/cara-berubat-dengan-al-quran.html' title='Cara berubat dengan Al Quran'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-4864971707124349919</id><published>2011-04-19T01:16:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T01:17:13.291-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Punca Perpecahan Umat dan Cara Mengatasinya</title><content type='html'>Sebab-Sebab Perpecahan Umat dan Cara Mengatasinya&lt;br /&gt;﴿  الافتراق: مفهومه، أسبابه ، سبل الوقاية منه  ﴾&lt;br /&gt;]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun : Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah :  Abu Ihsan Al-Atsari&lt;br /&gt;Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009 - 1430&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﴿  الافتراق: مفهومه، أسبابه ، سبل الوقاية منه ﴾&lt;br /&gt;« باللغة الإندونيسية »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تأليف : الدكتور ناصر بن عبد الكريم العقل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة: أبو إحسان الأثري&lt;br /&gt;مراجعة: إيكو هاريانتو أبو زياد  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009 – 1430&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; MUKADIMAH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami. Siapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Siapa disesatkan-Nya, niscaya tiada seorangpun yang dapat memberinya hidayah. Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Yang berfirman dalam kitab-Nya.&lt;br /&gt;"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya" [Al-An'am : 153]&lt;br /&gt;Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Yang telah memperingatkan umat dari musibah yang bakal terjadi, yakni bid'ah dan perpecahan, dalam sabda beliau.&lt;br /&gt;"Artinya : Kalian akan mengikuti umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga sekiranya mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya" [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;Wa ba'du&lt;br /&gt;Topik utama yang harus dianggkat dan dibahas oleh para ahli ilmu dan para penuntut ilmu sekarang ini dalah masalah "perpecahan umat!" Mafhumnya, etiologi serta solusinya. Masalah ini sangat perlu diketahui segenap kaum muslimin, lebih-lebih bagi para penuntut ilmu. Apalagi di zaman sekarang ini kelompok-kelompok ahli bid'ah mulai mengembangkan sayapnya. Hawa nafsu semakin menggila hingga menguasai manusia. Sehingga kejahatan dan kemunafikan merajalela ke segala penjuru.&lt;br /&gt;Benar! Sekalipun majlis-majlis ilmu menjamur di mana-mana, namun bid'ah-bid'ah juga semakin berkembang pesat. Memang pada hari ini ilmu banyak disebar, namun banyak yang tidak mendapat berkah dan faidah dari ilmunya. Barangkali karena ia menuntut ilmu tidak dari sumber aslinya, yaitu tidak mengacu kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah serta atsar para imam yang dijadikan panutan yang tersebar dalam karya-karya mereka. Atau barangkali mereka menimbanya bukan dari ahli ilmu, atau tidak mengikuti manhaj ahli ilmu dan ahli fiqih dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;Meskipun sarana menuntut ilmu terbuka luas pada hari ini, namun nikmat tersebut justru berdampak negatif terhadap banyak orang. Mereka menjadi tergesa-gesa dalam menimba ilmu tidak sebagaimana mestinya! Di samping mereka merasa cukup tanpa harus belajar kepada para ulama. Tentu saja itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berlindung diri dari hal semacam itu.[[1]]&lt;br /&gt;Ilmu yang mendatangkan berkah hanyalah ilmu yang direngguk dari ulama. Itulah pedoman utama yang merupakan jalan orang-orang yang beriman. Adapun hanya mencukupkan menuntut ilmu melalui sarana-sarana (seperti buku dan kaset) belaka, tentu manfaatnya hanya sedikit. Hal itu juga bisa menjadi katalisator munculnya bid'ah dan penyimpangan pemikiran serta perpecahan dan perselisihan dalam agama.&lt;br /&gt;Maka dari itu, topik kita kali ini seputar perpecahan umat, mafhum, etiologi dan solusinya. Pembahasan kali ini akan kami rangkum dalam lima pokok permasalahan [akan disalin dalam beberapa nomor -peny]&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Dalam sebuah hadits riwayat, Muslim dari Zaid bin Arqam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata dalam do'anya : 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat'. Lihat Shahih Muslim kitab Adz-Dzikr hadits no. 2723&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBEDAAN ANTARA IKHTILAF (PERSELISIHAN) DAN IFTIRAQ (PERPECAHAN)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membedakan antara perpecahan dan perselisihan termasuk perkara yang sangat penting. Para ahli ilmu seyogyanya memperhatikan masalah ini lebih banyak lagi. Karena mayoritas manusia -terlebih para du'at dan sebagian penuntut ilmu yang belum matang dalam medalami ilmu agama- tidak dapat membedakan antara permasalahan khilafiyah dengan perpecahan! Kelirunya, sebagian mereka menerapkan sanksi hukum akibat perpecahan dalam masalah-masalah ikhtilaf.&lt;br /&gt;Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal. Penyebabnya tidak lain karena tidak tahu tentang hakikat perpecahan, kapankah perbedaan itu disebut perpecahan? Bagaimana terjadinya perpecahan? Siapakah yang berhak memvonis bahwa seseorang atau kelompok tertentu telah memecah dari jama'ah?&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, sudah sewajarnya mengetahui perbedaan antara perpecahan dan perselisihan. Ada lima perbedaan yang kami angkat sebagai contoh.&lt;br /&gt;Pertama : Perpecahan adalah bentuk perselisihan yang sangat tajam. Bahkan dapat dikatakan sebagai buah dari perselisihan. Banyak sekali kasus yang membawa perselisihan ke muara perpecahan ! Meski kadang kala perselisihan tidak mesti berujung kepada perpecahan. Jadi, perpecahan adalah sesuatu yang lebih dari sekedar perselisihan. Dan sudah barang tentu, tidak semua ikhtilaf (perselisihan) disebut perpecahan. Maka dapat kita katakan :&lt;br /&gt;Kedua : Tidak semua ikhtilaf disebut perpecahan ! Namun setiap perpecahan sudah pasti ikhtilaf! Banyak sekali persoalan yang diperdebatkan kaum muslimin termasuk kategori ikhtilaf, dimana masing-masing pihak yang berbeda pendapat tidak boleh memvonis kafir atau mengeluarkan salah satu pihak dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah.&lt;br /&gt;Ketiga : Perpecahan hanya terjadi pada permasalahan prinsipil, yaitu masalah ushuluddin yang tidak boleh diperselisihkan. Yakni masalah-masalah ushuluddin yang ditetapkan oleh nash yang qath'i, ijma atau sesuatu yang telah disepakati sebagai manhaj (pedoman operasional) Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Siapa saja yang menyelisihi masalah di atas, maka ia termasuk orang yang berpecah dari Al-Jama'ah. Adapun selain itu, masih tergolong perkara ikhtilaf.&lt;br /&gt;Jadi, ikhtilaf hanya terjadi dalam masalah-masalah yang secara tabiat boleh berbeda pendapat dan boleh berijtihad yang mana seseorang memiliki hak berpendapat, atau masalah-masalah yang mungkin tidak diketahui sebagian orang, atau ada unsur paksaan dan takwil. Yakni pada masalah-masalah furu' dan ijtihad, bukan masalah ushuluddin. Bahkan juga sebagian kesalahan dalam persoalan ushuluddin yang masih bisa ditolerir menurut alim ulama yang terpercaya. Seperti halnya beberapa persoalan aqidah yang disepakati dasar-dasarnya namun diperselisihkan rincian furu'nya, misalnya masalah isra' dan mi'raj yang disepakati kebenarannya, namun diperselisihkan apakah dalam mi'raj tersebut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Rabb Ta'ala dengan mata kepala atau mata hati ?&lt;br /&gt;Keempat : Ikhtilaf bersumber dari sebuah iijtihad yang disertai niat yang lurus. Dalam hal ini, mujtahid yang keliru mendapat satu pahala karena niatnya yang jujur mencari kebenaran. Sementara mujtahid yang benar mendapat pahala lebih banyak lagi. Kadang kala pihak yang salah juga pantas dipuji atas ijtihadnya. Adapun bila ikhtilaf tersebut bermuara kepada perpecahan, tidak syak lagi hal itu tercela.&lt;br /&gt;Sementara perpecahan yang tidak berpangkal dari ijtihad atau niat yang tulus. Pelakunya sama sekali tidak mendapat pahala bahkan mendapat cela dan dosa. Maka dapat kita katakan bahwa perpecahan itu berpangkal dari bid'ah, menuruti hawa nafsu, taqlid buta dan kejahilan.&lt;br /&gt;Kelima : Perpecahan tidak terlepas dari ancaman dan siksa serta kebinasaan. Tidak demikian halnya dengan ikhtilaf walau bagaimanapun bentuk ikhtilaf yang terjadi diantara kaum muslimin, baik akibat perbedaan dalam masalah-masalah ijtihadiyah, atau akibat mengambil pendapat keliru yang masih bisa ditolerir, atau akibat memilih pendapat yang salah karena ketidaktahuannya terhadap dalil-dalil sementara belum ditegakkan hujjah atasnya, atau karena uzur, seperti dipaksa memilih pendapat yang salah sementara orang lain tidak mengetahuinya, atau akibat kesalahan takwil yang hanya dapat diketahui setelah ditegakkan hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELURUSKAN BEBERAPA KESALAH PAHAMAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada beberapa kekeliruan sebagian orang sekarang ini yang mesti diluruskan, berkaitan dengan beda antara perpecahan dengan ikhtilaf. Khususnya bagi para penegak amar ma'ruf nahi mungkar dan para juru dakwah. Yang lebih banyak lagi disebabkan karena lemahnya ilmu dan pemahaman dalam agama serta minimnya pengalaman, atau karena ketidakjelian dan salah persepsi. Terlebih lagi bagi para penopang dakwah islamiyah pada hari ini.&lt;br /&gt;Beberapa kekeliruan itu di dantaranya.&lt;br /&gt;Pertama : Mengingkari terjadinya perpecahan dalam umat ini. yang berakibat sebagian orang menolak hadits ifftiraq yang telah dinukil secara shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini merupakan kesalahan fatal! Beberapa orang berasumsi atau mendakwahkan bahwa perpecahan umat tidak mungkin terjadi! Selintas kelihatannya ia ingin menampakkan keinginan yang tulus bagi umat. Melihat umat secara lahir saja (yaitu semuanya muslimun), Akibatnya ia menolak hadits iftiraq, atau mentakwilkannya kepada makna lain, atau beranggapan bahwa perpecahan hanya terjadi pada kelompok-kelompok yang jelas-jelas di luar Islam atau kelompok-kelompok Islam yang secara jelas telah murtad dari Islam. Ini jelas keliru, bahkan jelas bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan nash-nash dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menunjukkan terjadinya perpecahan umat. [[1]]&lt;br /&gt;Umat memang telah dilanda perpecahan, realita itulah yang benar-benar telah terjadi. Perpecahan termasuk bala', sementara kebenaran tidak akan tampak kecuali dengan lawannya (kesesatan). Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menuliskannya dalam catatan takdir bahwa pengikut kebenaran sangat sedikit jumlahnya. Oleh sebab itu, meyakini terjadinya perpecahan bukan berarti berburuk sangka terhadap umat! Bahkan begitulah realita yang harus diakui. Berita yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam harus dibenarkan. Dan fenomena perpecahan itu sendiri bukan berarti seorang muslim harus menerimanya tanpa usaha menghindar. Apalagi beranggapan bahwa berpecah itu dibolehkan, rela berpecah, tidak berusaha mencari kebenaran karena pasrah menerima takdir. Namun sebaliknya, perpecahan yang pasti terjadi itu justru mendorongnya mencari dan memegang teguh kebenaran. Memicunya mengenal keburukan untuk dihindari dan dijauhi. Dan hendaklah ia ketahui bahwa kebenaran hanya terdapat pada manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam serta manhaj Salafus Shalih.&lt;br /&gt;Kedua : Asumsi bahwa perpecahan pasti terjadi, berarti umat harus menerimanya dengan rela. Dan para du'at harus menerima kenyataan ini, menerima kesesatan yang ada tanpa berusaha memperbaikinya. Asumsi seperti ini sering dijadikan alasan melegitimasi perpecahan. Mereka beranggapan seorang muslim bebas memilih kelompok manapun! Beralasan dengan realita perpecahan yang pasti terjadi. Sehingga setiap orang bebas memilih kelompok manapun yang disukainya, meski jelas-jelas bid'ah dan sesat. Beranggapan boleh bertoleransi dengan kelompok-kelompok tersebut atau berusaha menyatukan mereka.&lt;br /&gt;Ini merupakan anggapan batil, bahkan termasuk memperdayai kaum muslimin. Sudah barang tentu tidak boleh menjadikan hadits iftiraq tersebut sebagai alasan untuk berpecah belah! Atau sebagai dalih menerima bid'ah dan menuruti hawa nafsu atau rela berada di atas kesalahan. Sebab hadits tersebut diucapkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam konteks larangan dan peringatan keras terhadap hal itu.&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, sebagian orang yang mengaku juru dakwah berpendapat, selagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membenarkan terjadinya perpecahan umat, maka kita terima dan kita benarkan saja bid'ah dan kesesatan yang terjadi sebagai suatu realita ! Bukankah kita tahu bahwa pasti dalam beragama itu ada cemar dan kurangnya! Jelas ini pendapat yang batil, bahkan termasuk perangkap setan yang menjerat umat manusia. Sebab, di samping Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghabarkan terjadinya perpecahan, beliau juga mengabarkan bahwa akan tetap ada satu kelompok yang teguh diatas kebenaran, yaitu Ath-Thaifah Al-Manshurah. Golongan yang senantiasa memegang teguh kebenaran, menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Golongan yang menegakkan hujjah yang nyata. Yang membawa panji hidayah bagi siapa yang menghendakinya. Yang menjadi panutan bagi yang ingin kebenaran, kebaikan dan sunnah!.&lt;br /&gt;Jadi, hujjah mesti selalu tegak, kebenaran pasti senantiasa tampak, tidak akan tersamar sedikitpun bagi orang-orang yang memiliki bashirah dan bagi para pencari al-haq yang jujur. Siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Selama kebenaran masih tampak jelas dan panji sunnah masih tetap tegak, siapapun tidak boleh berpaling darinya, meski dengan itu pengikutnya jadi berkurang, baik ia seorang da'i atau bukan. Dan ia tidak boleh menerima bid'ah dan kesesatan meski dengan begitu pengikutnya semakin betambah banyak. Golongan yang selamat (Al-Firqatun Najiyah) hanya satu dari tujuh puluh tiga kelompok umat ini. Camkanlah hal itu baik-baik.&lt;br /&gt;Maka menerima bid'ah dan kesesatan dengan dalih takdir tidaklah dibolehkan! Anggapan seperti itu termasuk memperdayai kaum muslimin, termasuk pembenaran bagi kebatilan serta berpaling dari kebenaran, dan termasuk juga selain jalan orang-orang yang beriman. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi kita semua.&lt;br /&gt;Ketiga : Menjadikan ikhtilaf sebagai alasan memvonis sesat yang berseberangan dengannya, atau menghukumi mereka keluar dari agama atau dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Serta beberapa sikap kelewat batas lainnya dalam menghukumi pihak yang berseberangan. Tanpa merujuk kepada kaidah-kaidah syari'at dan metode alim ulama dalam masalah ini. Perlu diketahui bahwa dalam memvonis kafir ada batasan dan kaidah yang perlu diperhatikan. Meskipun terhadap ahli bid'ah dan ahli ahwa' (hawa nafsu). Sebab vonis kafir, bara'ah (berlepas diri), bughdu (kebencian), hajr (pemboikotan) dan tahdzir (peringatan) tidak boleh dilakukan tanpa meneliti dan menegakkan hujjah terlebih dahulu. Maksudnya, tidak boleh terburu-buru memvonis seseorang keluar dari jama'ah karena bid'ah yang ada padanya atau karena menyalahi syari'at dan menyelisihi sunah. Sebab barangkali ia tidak tahu hukumnya, seorang yang jahil tentunya mendapat uzur (dimaklumi) hingga ia mengetahui ilmunya. Banyak sekali kaum muslimin yang terperangkap lingkungan yang mengitarinya, hingga jatuh kedalam penyelisihan. Hal itu banyak terjadi di beberapa negara-negara Islam. Banyak orang yang mencukur jenggotnya, meninggalkan shalat berjama'ah, melakukan amal-amal yang menyalahi syari'at bahkan mengucapkan kalimat kufur karena lingkungan memaksanya. Sekiranya tidak melakukannya mereka bisa dibunuh, disiksa, atau dirusak kehormatannya! Jadi, bilamana ia lakukan itu semua karena 'terpaksa', maka seorang hakim yang bijaksana hendaknya dapat menggambarkan hukum apa yang layak diajatuhkannya. Boleh jadi seorang pelaku bid'ah dan seorang yang meyakini i'tiqad sesat meyakininya karena takwil (anggapan keliru), sementara hujjah belum ditegakkan atasnya. Dalam kasus ini, hujjah harus ditegakkan atas mereka! Barangkali diantara kita pernah melihat seorang melakukan sebuah bid'ah yang pada umumnya dilakukan oleh pengikut kelompok-kelompok sesat, misalnya bid'ah maulid nabi, jika ternyata dia seorang awam yang tidak tahu, maka kita tidak boleh tergesa-gesa memvonis ia orang sesat dan tidak boleh pula menghukuminya keluar dari jama'ah sebelum dijelaskan duduk perkara tersebut dan ditegakkan hujjah atasnya. Adapun perbuatannya dapat kita hukumi sebagai bid'ah. Namun jangan cepat-cepat memvonisnya keluar dari jama'ah atau menghukumi sebagai pengikut aliran sesat hanya karena bid'ah yang dilakukannya sebelum ditegakkan hujjah. Kecuali bid'ah mukaffirah (yang menyebabkan pelakunya kafir), akan tetapi risalah kecil ini tidak mungkin memuat perinciannya.&lt;br /&gt;Bahkan sebaliknya, terburu-buru memvonis orang lain keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam masalah-masalah furu termasuk bid'ah dan penyimpangan yang tidak boleh dilakukan. Sikap seperti itu sangat tercela. Bila ia melihat saudaranya jatuh dalam perbuatan bid'ah, hendaknya mengecek terlebih dahulu, menanyakannya kepada ahli ilmu, serta menganggap orang yang melakukannya jahil/tidak tahu, atau melakukannya karena takwil atau ikut-ikutan saja dan butuh nasihat serta bimbingan. Dan hendaknya ia perlakukan saudaranya itu dengan lemah lembut terlebih dahulu. Sebab tujuan kita adalah membimbingnya kepada hidayah bukan memojokkannya.&lt;br /&gt;Keempat : Tidak mengetahui perkara mana saja yang dibolehkan berbeda pendapat dan mana yang tidak boleh. Yaitu tidak dapat membedakan perkara-perkara khilafiyah dan perkara-perkara yang tidak boleh diperselisihkan. Hal ini banyak menimpa orang awam, bahkan juga para du'at. Kami akan berikan beberapa contoh.&lt;br /&gt;1.                              Sebagian orang menggolongkan beberapa masalah khilafiyah ke dalam masalah ushul (pokok). Tanpa merujuk kaidah dan arahan ahli ilmu serta tanpa bimbingan dari ahli fiqih yang dapat membantu mereka dalam hal ini.&lt;br /&gt;2.                              Tidak membedakan antara perkara mukaffirah (yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam) dan ghairu mukaffirah (yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam).&lt;br /&gt;3.                              Tidak memperhatikan tingkatan-tingkatan bid'ah, di antara bid'ah ada yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam dan ada yang tidak. Banyak sekali kesalahan yang dilakukan seseorang, sebuah kelompok atau jama'ah di vonis kafir secara terburu-buru oleh sebagian oknum. Sebenarnya tidak demikian caranya. Sebab setiap orang yang mengetahui perkara-perkara yang dapat menyebabkan kekafiran, seperti meyakini bahwa Al-Qur'an makhluk, lalu ia menerapkan hukum kafir itu atas setiap orang yang meyakini demikian tanpa membedakan antara menghukumi ucapan dan menghukumi orang yang mengucapkannya, maka ia telah menyelisihi kaidah Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jama'ah.&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah wal Jama'ah membedakan antara menghukumi kafir, bid'ah atau fasik terhadap sesuatu secara umum dengan menghukumi orang tertentu. Boleh jadi kita menghukumi kufur suatu amalan atau sebuah ucapan, namun bukan berarti setiap orang yang meyakininya, mengucapkannya atau melakukannya jatuh kafir. Banyak sekali orang yang tidak membedakan hal ini. Mereka menjatuhkan vonis kafir secara zhahir saja tanpa memperhatikan kaidah-kaidah takfir (pengkafiran). Padahal vonis kafir tidak boleh dijatuhkan sehingga benar-benar diteliti, ditegakkan hujjah dan dalil, serta telah diketahui tidak adanya alasan dan uzdur lainnya yang menghalangi vonis tersebut terhadap seseorang tertentu. Boleh jadi karena ia jahil, dipaksa atau mentakwil.&lt;br /&gt;Masalah takfir (mengkafirkan), seseorang perlu penelitian lebih dalam dan perlu mendatangi orang yang bersangkutan serta perlu meneliti kondisinya disamping perlu diajak diskusi dan diberi nasihat. Janganlah kita memvonis kafir setiap orang yang melakukan perbuatan kufur, mengucapkan dan meyakini keyakinan kufur. Kecuali dalam masalah-masalah prinsipil yang sudah dikenal luas oleh segenap kaum muslimin. Seperti mengingkari syahadat Laa ilaaha illallah, mengingkari nubuwah nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan masalah-masalah prinsip lainnya.&lt;br /&gt;Perlu diketahui, bahwa ada juga beberapa permasalahan usuhuluddin yang tersamar perinciannya atas sebagian orang awam. Seperti masalah sifat Allah, masalah takdir, masalah melihat Allah pada hari Kiamat, masalah syafa'at, mensikapi sahabat dan beberapa permasalahan lain yang tidak diketahui orang awam secara rinci. Bahkan juga tersamar perinciannya atas sebagian ilmu. Kadang kala mereka mengucapkan kalimat kufur tanpa mereka sadari, tanpa mereka sengaja dan tanpa mereka ketahui serta tanpa memperhatikan dengan seksama ucapan yang dilontarkan. Apakah harus dihukumi kafir ? Jawabannya tentu saja tidak!.&lt;br /&gt;Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh beberapa oknum-oknum yang suka menghukumi orang lain adalah tidak berhati-hati dalam masalah ini sehingga jatuh dalam bahaya. Khususnya penuntut ilmu yang masih pemula dan masih muda serta belum matang mendalami ilmu agama melalui para ulama, namun hanya belajar secara otodidak dari buku-buku dan sarana-sarana lainnya, tanpa dibimbing dan dituntun para ulama, dan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah dalam pengambilan dalil dan penetapan hukum. Mereka kerap kali keliru dalam menempatkan kaidah umum dan dalam menerapkan kaidah itu pada perkara-perkara parsial dan kasus-kasus tertentu.&lt;br /&gt;Hukum kufur dan kafir atas sebuah perkara dan atas jenis orang tertentu, bukan berarti hukum kafir bagi setiap orang yang melakukan, mengucapkan dan meyakininya. Demikian pula halnya hukum-hukum yang berkaitan dengan al-wala' (monoloyalitas) serta al-bara' (berlepas diri), bukan berarti setiap orang divonis kafir lalu diterapkan padanya hukum-hukum tersebut.&lt;br /&gt;Sehingga perkaranya menjadi jelas. Maksud kami adalah hukum-hukum al-bara', sementara al-wala', adalah hak bagi setiap muslim. Tidak boleh memutus al-wala', sebab al-wala' wajib diberikan kepada setiap orang yang menunjukkan identitas dirinya sebagai muslim sehingga kita mendapatinya menyelisihi identitas tersebut.&lt;br /&gt;Di antara kesalahan mereka juga adalah : Tidak memperhatikan maslahat dan mafsadat serta tidak mengetahui kaidah-kaidah yang berkaitan dengan maslahat dan mafsadat. Hal ini juga merupakan salah satu pemicu utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Akan kami sebutkan nash-nash qath'i yang menunjukkan terjadinya perpecahan umat pada pasal-pasal mendatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REALITA PERPECAHAN UMAT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah perpecahan benar-benar melanda umat Islam ? Benarkah hal itu terjadi ?. Persoalan ini terangkum dalam sembilan point.&lt;br /&gt;Pertama. &lt;br /&gt;Hadits mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai perpecahan yang melanda umat. Di antaranya adalah hadits iftiraq yang berbunyi.&lt;br /&gt;"Artinya : Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan umat Nasrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan"&lt;br /&gt;Hadits Nabi ini sangat masyhur, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dan dicantumkan oleh para imam dan huffazh dalam kitab-kitab sunan, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya'la Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shahih oleh beberapa ahli ilmu di antaranya ; At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, As-Suyuthi, Asy-Syathibi dan lainnya. Di samping banyak terdapat jalur sanad bagi hadits ini, secara keseluruhan dapat mencapai derajat hadits shahih.&lt;br /&gt;Kedua. &lt;br /&gt;Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umat ini bakal mengikuti tradisi umat-umat terdahulu. Hadits tersebut berbunyi.&lt;br /&gt;"Artinya : Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya. "Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : 'Siapa lagi kalau bukan mereka!" [Hadits Riwayat Al-Bukhari, silakan baca Fathul Bari, 8/300 dan Muslim hadits no. 2669] Hadits ini shahih muttafaqun alaihi, tercantum dalam kitab-kitab shahih dan sunan&lt;br /&gt;Dalam beberapa matan dan lafalnya secara eksplisit hadist ini menjelaskan makna "menyerupai dan mengikuti" yang dimaksud. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;"Artinya : Ibarat bulu-bulu anak panah yang sama persis" &lt;br /&gt;Dan beberapa lafal lainnya yang sama menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan bahaya perpecahan yang bakal melanda umat ini. Bahwa hal itu pasti menimpa umat ini. Dan perpecahan yang bakal terjadi itu bukanlah cela dan cacat atas Islam, atas Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan atas Ahlul Haq, namun merupakan kecaman terhadap orang-orang yang memisahkan diri dari jama'ah. Orang-orang yang memisahkan diri dari jama'ah tentunya bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah, yang tetap berada di atas nilai-nilai ke-Islaman. Merekalah para penegak kebenaran yang dibangkitkan Allah kepada manusia hingga hari Kiamat.&lt;br /&gt;Jadi, perpecahan pasti terjadi berdasarkan berita yang sangat akurat, meskipun relitas dan logika belum mampu membuktikan kebenarannya!. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikannya melalui hadits-hadits beliau yang shahih dengan beragam lafal. Peringatan terhadap bahayanya juga telah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan. Peringatan yang disampaikan berkali-kali itu merupakan sinyalemen bahwa perpecahan pasti terjadi tanpa bisa dihindari!.&lt;br /&gt;Ketiga.&lt;br /&gt;Adanya nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mencakup larangan mengikuti jalan-jalan hawa nafsu dan perpecahan!&lt;br /&gt;Di antaranya adalah.&lt;br /&gt;1.      Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ &lt;br /&gt;"Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai" [Ali Imran : 103]&lt;br /&gt;2.      Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ &lt;br /&gt;"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]&lt;br /&gt;3.      Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ&lt;br /&gt;"Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka" [Ali Imran : 105]&lt;br /&gt;4.      Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ &lt;br /&gt;"Artinya : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya" [Asy-Syura : 13]&lt;br /&gt;5.      Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ&lt;br /&gt;"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya" [Al-An'am : 153]&lt;br /&gt;Secara gamblang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan ayat di atas, beliau menarik sebuah garis lurus yang panjang kemudian menarik garis-garis ke kanan dan ke kiri menyimpang dari garis lurus tadi. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa garis lurus tersebut adalah jalan Allah, sementara garis-garis ke kanan dan ke kiri adalah jalan buntu yang menyimpang dari jalan yang utama yang lurus tadi [[1]]. Beliau juga menjelaskan bahwa pada jalan-jalan kesesatan tadi terdapat juru-juru dakwah yang menyeru kepada jalan setan.&lt;br /&gt;Siapa mengikuti mereka, niscaya akan dilemparkan ke dalam jurang kehancuran [[2]]&lt;br /&gt;Keempat.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang kita berbantah-bantahan dalam firmanNya.&lt;br /&gt;"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]&lt;br /&gt;Sementara berbantah-bantahan itulah yang terjadi di antara kelompok-kelompok itu hingga berpecah-belah menjadi bergolong-golongan.&lt;br /&gt;Kelima.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam siapa saja yang menyimpang dari jalan orang-orang yang beriman (sahabat) dalam firmanNya.&lt;br /&gt;"Artinya : Dang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali" [An-Nisaa : 115]&lt;br /&gt;Ternyata apa yang disebutkan dalam ayat diatas benar-benar dilakukan oleh segerombolan orang yang menentang Allah dan RasulNya serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman. Mereka itulah kaum munafikin, kaum penentang dan kaum sempalan. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan. Jalan orang-orang yang beriman itulah jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.&lt;br /&gt;Keenam.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan beberapa sanksi atas orang yang memisahkan diri dari jama'ah, juga menjadi salah satu dalil bahwa hal itu pasti terjadi! Dengan keras beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam siapa saja yang memisahkan diri dari jama'ah, berikut sabda beliau.&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusa Allah kecuali dengan tiga alasan :&lt;br /&gt;(1) berzina setelah menikah. (2) Membunuh jiwa tanpa hak (qishash). (3) Murtad dari Islam yang memisahkan diri dari jama'ah" [Muttafaqun 'alaih, Al-Bukhari IV/317 dan Muslim V/106]&lt;br /&gt;Ketujuh.&lt;br /&gt;Secara implisit Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan sinyalemen terjadinya perpecahan ketika beliau menyinggung tentang kelompok Khawarij. Beliau menyebutkan bahwa kelompok Khawarij ini akan memisahkan diri dari umat, akibatnya mereka melesat keluar dari agama. Istilah 'keluar dari agama' bukan berarti kafir keluar dari Islam, akan tetapi maknanya adalah keluar dari asas Islam, keluar dari hukum-hukum dan batas-batasnya. Istilah 'keluar dari agama' kadang kala berarti kekafiran kadang kala tidak sampai kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri dari umat Islam, yaitu dari jama'ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yang dilalui oleh Ahlus Sunnah, yang merupakan Ahlu Islam sejati.&lt;br /&gt;Kedelapan.&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang memisahkan diri dari jama'ah, sebagaimana yang disinggung dalam hadits di atas tadi. Sanksi tersebut merupakan sebuah ketetapan bagi sesuatu yang pasti terjadi. Sebab sangat mustahil ketetapan Nabi itu ngawur dan hanya kira-kira belakan.&lt;br /&gt;Kesembilan.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari jama'ah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah[[3]]. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa perpecahan itu adalah azab, menyempal itu adalah kehancuran dan beberapa perkara lainnya yang menunjukkan bahwa perpecahan pasti terjadi. Peringatan terhadap bahaya perpecahan bukanlah gurauan belaka ! Pasti melanda umat sebagai bala'. Perpecahan tidak akan terjadi bila kaum muslimin berada di atas keterangan ilmu, mengenal kebenaran, mengenal Al-Qur'an dan As-Sunnah serta berpedoman Salafus Shalih, mencari kebenaran tersebut hingga dapat membedakan antara haq dan batil. Siapa saja yang mendapat hidayah, maka ia mendapatkannya dengan petunjuk ilmu. Dan siapa saja yang sesat, maka ia sesat berdasarkan keterangan yang nyata. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan dari kesesatan.&lt;br /&gt;Kesimpulannya.&lt;br /&gt;Berdasarkan dalil-dalil qathi di atas, perpecahan pasti melanda umat ini. Perpecahan adalah bala' dan adzab yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan dan tidak akan berubah! Perpecahan dengan beragam bentuknya adalah tercela. Setiap muslim harus mengetahui bentuk-bentuk perpecahan dan para pelakunya sehingga ia dapat menghindar dari jurang kesesatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Hari ini disebutkan dalam sejumlah hadits, sebagian dari jalaur sanad itu dinyatakan shalih oleh Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. Silakan lihat kitab As-Sunnah karangan Ibnu Abi Ashim 1/13-14&lt;br /&gt;[2] Ibid&lt;br /&gt;[3] Hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH HITAM PERPECAHAN UMAT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak sekali faidah yang dapat dipetik dari pembicaraan seputar sejarah perpecahan umat. Berbagai peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut sarat dengan ibrah (pelajaran). Tentunya kami tidak mampu menyuguhkan sejarah perpecahan itu secara terperinci, akan tetapi ada beberapa point yang dapat kita jadikan pelajaran. Sembari meluruskan beberapa persepsi keliru sebagian orang sekitar masalah tersebut dewasa ini.&lt;br /&gt;Pertama.&lt;br /&gt;Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i'tiqad dan pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar oleh kaum muslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba'iyah yang merupakan cikal bakal aqidah Syi'ah dan Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di tengah-tengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan hasutan-hasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka. Hal ini ditinjau dari sudut pandang aqidah dan keyakinan sesat yang pertama kali muncul yang menyelisihi asas Islam dan Sunnah.&lt;br /&gt;Adapun kelompok sempalan yang pertama kali muncul yang memisahkan diri dari imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij. Benih-benih Khawarij ini sebenarnya berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang yang mengira keduanya berbeda, padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal dari pemikiran kotor Saba'iyah. Perlu diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah menjadi dua kelompok utama : Khawarij dan Syi'ah.&lt;br /&gt;Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok, namun dasar-dasar pemikirannya setali tiga uang. Baik Khawarij maupun Syi'ah muncul pada peristiwa fitnah atas diri Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu. Fitnah diprakarsai oleh Abdullah bin Saba' lewat ide, keyakinan dan gerakannya. Dari situlah muncrat aqidah sesat, yaitu aqidah Syi'ah dan Khawarij.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara Khawarij dan Syi'ah direkayasa sedemikian rupa oleh tokoh-tokohnya supaya dapat memecah belah umat. Ibnu Saba' dan konco-konconya menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu itu. Kemudian membuat trik seolah-olah antara kelompok-kelompok itu terjadi permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana yang terjadi dewasa ini. Itulah yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum muslimin, yakni dengan istilah yang mereka namakan blok kanan dan blok kiri. Mereka mengkotak-kotakan kaum muslimin menjadi berpartai-partai, partai sayap kanan dan partai sayap kiri. Begitu berhasil melaksanakan program, mereka munculkan babak permainan baru dengan istilah sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif, ekstrimisme, radikalisme dan lain-lain. Semuanya adalah permainan yang sama, dari sumber yang sama pula. Para pencetusnya juga itu-itu juga demikian pula tujuannya, hanya saja corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara keseluruhan ini mencerminkan kuatnya kebatilan, kendati satu sama lain saling bermusuhan.&lt;br /&gt;Kedua.&lt;br /&gt;Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni dalam sejarah tidak kita temui para sahabat saling berpecah belah satu sama lain. Yang terjadi diantara mereka hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala diselesaikan dengan ijma' (kesepakatan), atau salah satu pihak tunduk kepada pendapat jama'ah serta tetap komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi dikalangan sahabat.&lt;br /&gt;Tidak ada seorang sahabat-pun yang memisahkan diri dari jama'ah. Tidak ada satupun diantara mereka yang melontarkan ucapan bid'ah atau mengada-ada perkara baru dalam agama. Sungguh, para sahabat merupakan imam dalam agama yang mesti diteladani oleh kaum muslimin. Tidak satupun dari kalangan sahabat yang memecah dari jama'ah. Dan tak satupun ucapan mereka yang menjadi sumber bid'ah dan sumber perpecahan. Adapun beberapa ucapan dan kelompok sempalan yang dinisbatkan oleh sejumlah oknum kepada para sahabat adalah tidak benar! Hanyalah dusta dan kebohongan besar yang mereka tujukan terhadap para sahabat. Sangat keliru bila Ali bin Abi Thalib disebut sebagai sumber Syi'ah, Abu Dzar Al-Ghifari sebagai sumber sosialisme, para sahabat Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua'wiyah diklaim sebagai sumber Jabariyah, Abu Darda' dituduh sebagai sumber Qadariyah, atau sahabat lain menjadi sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan bid'ah dan perkara baru, atau punya pendirian yang menyempal! Jelas itu semua merupakan kebatilan murni! [[1]]&lt;br /&gt;Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi'ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu dan Umar Radhiyallahu 'anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu 'anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya. Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan yang timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula disangka mereka kurang tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran, keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan kekuatan. Akan tetapi ketentuan Allah pasti terjadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Termasuk di antara kebatilan tersebut ialah klaim sebagian kaum sufi bahwa asal-usul bid'ah mereka adalah para shabat Ahlu Suffah Radhiyallahu anhu ajma'in. Sekali-kali tidak demikian ! Bahkan sebaliknya, kita katakan kepada mereka, "Teladanilah sunnah sahabat Ahlus Suffah tersebut jika kalian orang-orang yang benar!".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOKOH-TOKOH AHLI BID'AH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah berbicara tentang sejarah perpecahan umat, ada baiknya kita lanjutkan pembicaraan tentang asal usul bid'ah. Guna mengetahui tokoh-tokoh pencetus kelompok-kelompok sesat yang merupakan biang perpecahan. Yaitu oknum-oknum yang mengusung bid'ah tersebut hingga menjadi pemimpin-pemimpin sesat sampai hari Kiamat. Hingga sepeninggal mereka, terbuka lebarlah pintu perpecahan, semakin bertambahlah orang-orang yang menyesatkan. Di antara oknum-oknum tersebut ialah.&lt;br /&gt;1. Pelopor perpecahan : Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba' Al-Yahudi, seorang Yahudi yang mengaku-ngaku beragama Islam. berikut pengikut dan konco-konconya. Ide kotornya pertama kali muncul sekitar tahun 34H. Ibnu Sauda' ini memadukan antara bid'ah Khawarij dan Syi'ah. &lt;br /&gt;2. Setelah itu Ma'bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80H) meluncurkan pemikiran bid'ah seputar masalah takdir sekitar tahun 64H. Ia menggugat ilmu Allah dan takdir-Nya. Ia mempromosikan pemikiran sesat itu terang-terangan sehingga banyak meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang mengikutinya juga banyak. Namun bid'ahnya ini mendapat penentangan yang sangat keras dari kaum Salaf, termasuk di dalamnya para sahabat yang masih hidup ketika itu, seperti Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma. &lt;br /&gt;3. Kemudian muncullah Ghailan Ad-Dimasyqi yang mengibarkan pengaruh cukup besar seputar masalah-masalah takdir sekitar tahun 98H. Dan juga dalam masalah ta'wil, ta'thil (mengingkari sebagian siaft-sifat Allah) dan masalah irja[[1]] Para salaf pun menentang pemikirannya itu. Termasuk diantara yang menentangnya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menegakkan hujjah atasnya, sehingga Ghailan menghentikan celotehannya sampai Umar bin Abdul Aziz wafat. Namun setelah itu, Ghailan kembali meneruskan aksinya. Ini merupakan ciri yang sangat dominan bagi ahli bid'ah, yaitu mereka tidak akan bertaubat dari bid'ah. Sekalipun hujjahnya telah dipatahkan, mereka tetap kembali menentang dan kembali kepada bid'ahnya. Ghailan ini akhirnya dibunuh setelah dimintai taubat namun menolak bertaubat pada tahun 105H. &lt;br /&gt;4. Setelah itu muncullah Al-Ja'd bin Dirham (yang terbunuh tahun 124H). Ia mengembangkan pendapat-pendapat sesat itu. Dan meracik antara bid'ah Qadariyah dengan bid'ah Mu'aththilah[[2]] dan ahli ta'wil. Kemudian ia menyebarkan pemikiran rancu (syubhat) di tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga para ulama Salaf memberi peringatan kepadanya dan menghimbaunya untuk segera bertaubat. Namun ia menolak bertaubat. Para ulama membantah pendapat-pendapat Al-Ja'd ini dan menegakkan hujjah atasnya, namun ia tetap bersikeras. Maka semakin banyak kaum muslimin yang terkena racun pemikirannya, para ulama memutuskan hukuman mati atasnya demi tercegahnya fitnah (kesesatan). Ia pun dibunuh oleh Khalid bin Abullah Al-Qasri. Kisah terbunuhnya Al-Ja'd ini sangat mashur, Khalid berpidato seusai menunaikan shalat 'Idul Adha : &lt;br /&gt;"Sembelihlah hewan kurban kalian, semoga Allah menerima sembelihan kalian, sementara aku akan menyembelih Al-Ja'd bin Dirham, karena telah mendakwahkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Nya dan Allah tidak mengajak Nabi Musa berbicara ...... dan seterusnya". Kemudian beliau turun dari mimbar dam menyembelihnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 124H.&lt;br /&gt;5. Sesudah peristiwa itu, api kesesatan sempat padam beberapa waktu. Hingga kemudian marak kembali melalui tangan Al-Jahm bin Shafwan. Yang mengoleksi bid'ah dan kesesatan generasi pendahulunya serta menambah bid'ah baru. Akibat ulahnya muncullah bid'ah Jahmiyah serta kesesatan dan penyimpangan kufur lainnya yang ditularkannya. Al-Jahm bin Shafwan ini banyak mengambil ucapan-ucapan Ghailan dan Al-Ja'd, bahkan ia menambah lagi dengan bid'ah ta'thil (penolakan sifat-sifat Allah), bid'ah ta'wil, bid'ah irja', bid'ah Jabariyah[[3]], bid'ah Kalam[[4]], tidak meyakini Allah bersemayam di atas Arsy, menolak sifat Al-'Uluw (yang maha tinggi) bagi Allah, menolak ru'yah[[5]]. Al-Jahm dihukum mati pada tahun 128H &lt;br /&gt;6. Dalam waktu yang bersamaan, munculah pula Washil bin Atha' dan Amr bin Ubeid. Mereka berdua meletakkan dasar-dasar pemikiran Mu'tazilah Qadariyah.&lt;br /&gt;Setelah itu terbukalah pintu perpecahan. Kelompok Rafidhah mulai berani menyatakan terang-terangan aqidah dan keyakinannya. Kemudian sekte Syi'ah ini terpecah belah menjadi beberapa golongan. Lalu muncullah kaum Musyabbihah[[6]] dari kalangan Syi'ah melalui tokoh-tokohnya seperti Daud Al-Jawaribi, Hisyam bin Al-Hakam, Hisyam bin Al-Jawaliqi dan lain-lain. Mereka itulah peletak dasar ajaran Musyabbihah dan pelopornya. Mereka juga termasuk pengikut ajaran Syi'ah. Kemudian muncullah Al-Mutakallimun (Ahli Kalam) seperti Al-Kullabiyah[[7]], Al-Asy'ariyah[[8]] dan Al-Maturidiyah. Lalu muncul pula aliran-aliran sufi dan ahli-ahli filsafat. dengan demikian, pintu perpecahan terbuka luas bagi setiap orang sesat, ahli bid'ah dan pengiku hawa nafsu. Sehingga tertancaplah dasar-dasar perpecahan di antara kaum muslimin sekarang ini. Sampai hari ini, ekses-ekses perpecahan masih terlihat di antara kaum muslimin. Bahkan terus bertambah dengan muculnya bid'ah-bid'ah dan penyimpangan-penyimpangan baru di samping perpecahan yang sudah ada, sejalan dengan hawa nafsu manusia yang sudah begitu akrab dengan bid'ah kesesatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mengira bahwa kelompok-kelompok bid'ah ini sudah sirna dan sudah menjadi koleksi sejarah masa lalu. Entah karena kejahilan mereka atau karena pura-pura tidak tahu! Asumsi seperti itu jelas keliru. Setiap golongan sesat yang besar dan berbahaya di masa lalu masih tetap ada sampai sekarang di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan semakin banyak, semakin berbahaya dan semakin menyimpang. Rafidhah dengan sekte-sektenya yang batil serta golongan Syi'ah lainnya, Khawarij, Qadariyah, Mu'tazilah, Jahmiyah, Ahli Kalam, Kaum Sufi dan Ahli Filsafat, masih berusaha menyesatkan umat. Bahkan mereka mulai berani menampakkan taring, mempromosikan aqidah mereka dengan cara yang lebih keji dari pada sebelumnya. Karena pada hari ini mereka mengklaim ajaran mereka sebagai ilmu pengetahun, wawasan dan pemikiran. Disamping minimnya pemaham kaum muslimin tentang agama mereka dan kejahilan mereka tentang aqidah yang benar. Cukuplah Allah sebagai pelindung kita, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Pemikiran bahwa Iman itu statis, tidak bertambah dan tidak berkurang&lt;br /&gt;[2] Orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah&lt;br /&gt;[3] Radikal dalam penetapan takdir hingga meyakini bahwa manusia tidak ikhtiar dalam amal perbuatannya&lt;br /&gt;[4] Yaitu meyakini bahwa Al-Qur'an adalah mahluk bukan Kalamullah &lt;br /&gt;[5] Yaitu menolak meyakini Allah dapat dilihat kaum mukminin di Surga pada hari Kiamat&lt;br /&gt;[6] Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluknya&lt;br /&gt;[7] Pengikut Ibnu Kullab. Inti aqidah mereka ialah hanya menetapkan beberapa sifat Allah saja yang menurut mereka dapat diterima falsafah akal mereka. &lt;br /&gt;[8] Pengikut Abul Hasan Al-Asy'ari yang inti aqidah mereka sama dengan Al-Kullabiyah dengan sedikit perbedaan-perbedaan&lt;br /&gt;SEBAB-SEBAB PERPECAHAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seandainya kita berusaha menelusuri sebab-sebab perpecahan sejak awal mula perpecahan itu terjadi sampai pada hari ini niscaya kita dapati banyak sekali faktor-faktor yang memicu terjadinya perpecahan. Bahkan hampir-hampir tidak terhitung banyaknya. Setiap mecuatnya sebuah pemikiran, tradisi dan bid'ah baru, pasti menimbulkan sebuah perpecahan baru pula. Namun dalam hal ini, ada beberapa faktor dominan yang juga merupakan sumber utama penyebab terjadinya perpecahan dari dulu hingga sekarang. Kami akan meringkasnya sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.      Perpecahan Adalah Bentuk Perselisihan Yang Lebih Tajam&lt;br /&gt;Faktor terpenting yang memicu terjadinya perpecahan dan yang terdahsyat efeknya terhadap umat adalah konspirasi dan makar yang dilancarkan oleh berbagai kaum pemeluk agama, seperti kaum Yahudi, Nashrani, Shabi'un (penyembah binatang dan dewa-dewa), Majusi dan Dahriyun (atheis).&lt;br /&gt;Demikian pula barisan sakit hati yang masih menyimpan dendam terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena jihad Islam telah menyudahi kekuasaan mereka dan menghapus kejayaan mereka dari muka bumi. Seperti kerajaan Persia dan Romawi. Di antara mereka masih tersisa segelintir oknum yang bertahan di atas kekafirannya serta masih menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka lebih memilih jalan kemunafikan dan zindiq, yaitu menampakkan ke-Islaman secara lahiriyah saja. Atau lebih memilih tetap memeluk agama mereka yang lama dengan membayar jizyah (upeti) sebagai jaminan keselamatan dan keamanan supaya dapat hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Merekalah faktor paling dominan yang menciptakan perpecahan dengan menebar tipu daya melalui pemikiran, prinsip-prinsip, bid'ah-bid'ah dan hawa nafsu di tengah-tengah kaum muslimin.&lt;br /&gt;2.      Tidak Semua Perselisihan Merupakan Perpecahan&lt;br /&gt;Pentolan-pentolan ahli ahwa (pengikut hawa nafsu) yang berusaha mengeruk keuntungan pribadi atau kelompok di balik awan hitam perpecahan. berikut para pengikutnya yang senantiasa menebar huru hara. Banyak kita dapati di antara pengikut-pengikut golongan sesat yang berusaha meraih keuntungan pribadi dibalik perpecahan tersebut demi memuaskan syahwat dan hawa nafsu atau demi kepentingan golongan, suku, kabilah dan lainnya. Bahkan mereka acap kali berperang demi membela kepentingan hawa nafsu atau karena fanatisme golongan. Merekalah yang berperan sebagai katalisator perpecahan. Dan mereka pula yang memperbanyak jumlah pengikut-pengikut kelompok sesat yang memang punya kepentingan sama, yaitu sama-sama mencari keuntungan.&lt;br /&gt;Kelompok ini akan selalu ada kapan dan di mana saja. Setiap kali muncul pemikiran nyeleneh, bid'ah atau pengikut hawa nafsu, pasti selalu saja ada orang yang mengikutinya, baik dari kalangan pengikut hawa nafsu ataupun orang yang punya kepentingan pribadi. Orang-orang model begini pasti selalu ada di sepanjang zaman, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.&lt;br /&gt;3.      Perpecahan Hanya Terjadi Dalam Masalah Prinsipil&lt;br /&gt;Kebodohan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya perepecahan. Kebodohan merupakan penyakit akut yang sangat sulit disembuhkan, yang pada waktu bersamaan menciptakan atmosfir-atmosfir perpecahan. Kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam bidang agama, baik kebodohan dalam aspek aqidah maupun aspek syari'at. Jahil terhadap sunnah serta kaidah-kaidah dan metodologinya. Bukan hanya buta tentang beberapa disiplin ilmu saja, sebab seperangkat ilmu yang menjadi pelindung diri dan pedoman operasional agama sudah cukup bagi mereka untuk disebut alim terhadap masalah agama sekalipun tidak menguasai seluruh disiplin ilmu. Akan tetapi ada juga sebagian orang yang memiliki maklumat yang lumayan banyak, namun jahil tentang kaidah-kaidah dasar agama. Ia tidak mengerti kaidah-kaidah dasar aqidah, etika-etika dalam berbeda pendapat, kaidah-kiadah dalam menghadapi perpecahan dan menyikapinya serta etika-etika mu'amalah dengan orang lain. Ini sungguh musibah yang sangat besar yang sangat banyak menimpa umat manusia sekarang ini.&lt;br /&gt;Misalnya seseorang yang memiliki sejumlah maklumat agama atau seorang yang banyak menimba ilmu dari berbagai sumber, namun ternyata ia jahil tentang masalah aqidah dan fiqih. Tidak mengerti etika bermu'amalah, prosedur memvonis orang lain. Tidak memahami kaidah-kaidah dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar, sehingga tanpa disadari ia telah berbuat kerusakan. Jelaslah, kejahilan merupakan musibah dan penyebab utama terjadinya sebuah perpecahan, orang-orang jahil merupakan aktor utama sekaligus pemicu terjadinya perpecahan.&lt;br /&gt;4.      Perselisihan Kadang Kala Timbul Karena Perbedaan Ijtihad Tidak Demikian Halnya Perpecahan.&lt;br /&gt;Kerancuan dalam metodologi memahami agama. Berapa banyak kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan banyak menelaah buku-buku, namun menempuh metodologi memahami agama yang rancu. Sebab memahami agama memiliki metode tersendiri yang sudah diwarisi sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat, tabi'in serta generasi Salafus Shalih dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari ini.&lt;br /&gt;Metodologi tersebut ialah menuntut ilmu, mengamalkan, ihtida' (mengikuti petunjuk), iqtida' (meneladani kaum salaf), suluk (adab dan akhlak) dan mu'amalah. Yaitu menguasai kaidah-kaidah dasar syari'at lebih banyak daripada mengenal hukum-hukum furu' dan sejumlah nash-nash tertentu saja. Dengan begitu kita dapat memahami agama secara sempurna dari para pemimpin teladan, yaitu para imam-imam dan para penuntut ilmu yang terpercaya dan mapan ilmunya. Yaitu menuntut ilmu sesuai dengan tahapan-tahapannya, baik secara kuantitas maupun jenis, sesuai dengan perkembangan dan kesiapan. Ilmu yang menghasilkan pemahaman agama yang baik ialah ilmu syar'i yang ditimba dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta atsar-atsar para imam yang shahih. Buku-buku tsaqafah (pengetahuan umum), pemikiran, sastra, sejarah dan sejenisnya tidaklah dapat menghasilkan pemahaman agama. Hanyalah sebagai ilmu sampingan dan alat bantu bagi yang dapat memetik faidah darinya.&lt;br /&gt;Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama Yang Dimaksud Adalah.&lt;br /&gt;1.      Mengambil ilmu tidak dari ahlinya.&lt;br /&gt;    Maksudnya ialah sebagian orang mengambil ilmu dari setiap orang yang mengajak mereka belajar. Dan dari setiap orang yang mengibarkan bendera dakwah serta mengaku: "Aku adalah seorang juru dakwah". Akhirnya mereka jadikan juru dakwah itu sebagai imam panutan dalam masalah agama. Mereka-pun menimba ilmu darinya, padahal juru dakwah itu tidak paham Islam sama sekali. Oleh sebab itu, kita temui sekarang ini slogan-slogan mentereng yang dikibarkan panji-panjinya oleh sekumpulan umat manusia, terutama para pemuda.&lt;br /&gt;Kita dapati pemimpin dan ketuanya jahil tentang dasar-dasar agama. Lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan.&lt;br /&gt;Sebabnya ialah juru-juru dakwah tersebut melihat dirinya banyak diikuti orang yang mengambil ilmu agama darinya tanpa hati-hati dan mencari kejelasan serta tanpa metodologi yang benar. Mereka tidak melihat apakah pemimpinnya itu layak diambil ilmunya ataukah tidak !?&lt;br /&gt;Pada umumnya mereka lebih terbawa perasaan daripada dituntun oleh ilmu. Ini jelas sebuah kesalahan fatal, artinya setiap muncul juru dakwah yang kondang dan kharismatik mereka langsung menjadikannya sebagai imam dalam agama. Meskipun juru dakwah tersebut tidak punya ilmu pengetahuan tentang sunnah nabi dan fiqih sedikitpun. Sungguh benar sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut suatu ilmu secara sekaligus setelah dianugrahkan kepadamu. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencabutnya dari manusia dengan mewafatkan para ulama berserta ilmunya. Maka yang tersisa hanyalah orang-orang jahil. Apabila mereka dimintai fatwa maka mereka memberi fatwa menurut pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan" [Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Al-I'tisham bil Kitab was Sunnah 8/282. Hadits ini diriwayatkan juga dengan lafal yang berbeda oleh Imam Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Daud]&lt;br /&gt;Dakwah kepada agama Allah dan amar ma'ruf nahi mungkar hanya pantas dicetuskan oleh para ulama yang mulia lagi paham tentang masalah agama dan menimba ilmunya dari sumber yang asli dengan berlandaskan metode yang benar. Jika demikian, tidak semua orang yang akalnya dipenuhi pengetahuan, wawasan dan pemikiran-pemikiran boleh dijadikan imam dalam agama. Sebab banyak sekali dijumpai orang fasik bahkan orang kafir yang mengetahui banyak persoalan agama Islam, dan banyak pula dijumpai dari kalangan orientalis yang menghafal sejumlah buku-buku induk dalam ilmu fiqih. Bahkan mereka hafal Al-Qur'an, Shahih Bukhari, kitab-kitab Sunan dan lain-lainnya. Orang-orang seperti itu hanyalah hafal ilmu namun tidak memahami agama sama sekali. Begitu pula banyak orang yang mengaku dirinya muslim, dan memiliki sejumlah maklumat, namun tidak memahami metodologi memahami agama, tidak memahami kaidah-kaidah amal, mu'amalah dam iltizam (komitmen) terhadap As-Sunnah. Tidak mengambil dienul Islam dengan metodologi yang benar. Tidak mengambilnya dari ulama rabbani, sehingga mereka berfatwa tanpa ilmu, mengarahkan dan mengumpulkan orang tanpa dasar ilmu dan aqidah yang benar.&lt;br /&gt;2.      Salah satu fenomena kerancuan dalam metodologi memahami agama yang merupakan sebab perpecahan umat ialah memisahkan diri dari para ulama.&lt;br /&gt;    Yaitu sebagian penuntut ilmu, juru dakwah dan pemuda memisahkan diri dari ulama. Mereka merasa cukup menimba ilmu agama melalui buku, kaset, majalah dan media-media lainnya. Mereka enggan menuntut ilmu dari para ulama. Hal ini jelas merupakan gejala yang berbahaya bahkan merupakan benih perpecahan umat. Jika kita kembali melihat sejarah awal perpecahan umat Islam, seperti menyempalnya kelompok Khawarij dan Rafidhah, niscaya kita dapati bahwa diantara faktor utama terjadinya bencana perpecahan di kalangan orang-orang yang mengaku Islam -selain orang-orang munafik dan zindiq- adalah memisahkan diri dari sahabat. Melecehkan sahabat dan menolak mengambil ilmu dari sahabat. Orang-orang itu lebih memilih menimba ilmu secara otodidak atau dari rekannya. Mereka berkata : "Kami sudah menguasai Al-Qur'an, kami sudah memahami As-Sunnah, kami tidak butuh bimbingan orang lain, maksud mereka, tidak butuh bimbingan para sahabat dan ulama dari kalangan tabi'in. Dari situlah mereka menyempal dan keluar dari metodologi memahami agama yang benar. Menyimpang dari jalan orang-orang yang beriman (para sahabat), jalan (metode) yang diambil dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan metode yang diambil para tabi'in dari para sahabat, kemudian diambil oleh generasi salaf dari para imam-imam terpercaya generasi demi generasi. Dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;"Artinya : Ilmu ini akan diambil oleh para imam yang adil dari setiap generasi" [Hadits Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam buku Syarah Ashhabul Hadits hal. 28-29, Ibnu Adi dalam buku Al-Kamil I/152-153 dan III/902 dan dinyatakan hasan oleh beliau. Dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam buku Bughyatul Multamis hal. 34-35]&lt;br /&gt;Para imam yang adil adalah para penghafal hadits yang tsiqah (kuat hafalannya), yaitu yang mengambil ajaran agama ini dari para ulama lalu mereka menyampaikannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;Memisahkan diri dari ulama merupakan bahaya yang sangat besar. Sebab ilmu hanya akan membuahkan berkah bila diambil secara benar dari alim ulama. Dan eksistensi ulama tidak akan pernah terputus sampai akhir zaman.&lt;br /&gt;Propaganda segelintir orang bahwa ulama juga punya kekurangan dan kekeliruan adalah propaganda yang menyesatkan. Memang benar, ulama juga manusia biasa yang tidak terlepas dari kekurangan dan kekeliruan, namun jangan lupa, secara umum mereka merupakan teladan dan panutan. Mereka adalah hujjah, melalui merekalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menyalurkan agama ini. Merekalah ahli dzikir dan rasikhun (dalam ilmunya). Merekalah para imam yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang menyimpang dari jalan mereka pasti binasa. Merekalah jama'ah, siapa saja yang keluar darinya pasti sesat. Menimba ilmu dari selain ahlinya (ulama) merupakan tindakan yang sangat berbahaya, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.&lt;br /&gt;3.      Di antara gejala salah kaprah dalam memahami agama adalah pelecehan kepada ulama yang dilakukan oleh sebagian orang yang sok tahu dan sejumlah oknum juru dakwah.&lt;br /&gt;    Sangat disayangkan, gejala tidak sehat ini kita lihat mulai merebak. Tentu saja ini sangat mengkhawatirkan. Kita wajib saling menasihati guna mencegahnya. Sebab setiap perkara yang tidak segera ditanggulangi para penuntut ilmu dan alim ulama bisa menjadi bahaya besar.&lt;br /&gt;4.      Sebagian pemuda yang berguru kepada sesama mereka, atau kepada pelajar-pelajar yang tidak lebih pandai daripada mereka.&lt;br /&gt;     Yaitu belajar secara penuh serta meninggalkan ulama-ulama besar dan memutuskan hubungan dengan mereka. Bukan maksudnya tidak boleh belajar dari para penuntut ilmu, bahkan siapa saja yang menguasai salah satu disiplin ilmu syari'at, di samping itu ia juga seorang yang shalih, tentu boleh saja menimba ilmu darinya. Namun juga bukan berarti meninggalkan orang yang lebih alim daripadanya. Atau merasa cukup dengan penuntut ilmu itu serta memutuskan hubungan dengan para ulama besar. Sebab bisa jadi hal itu menjadi salah satu faktor munculnya perpecahan. Yaitu bilamana para pemuda tersebut sudah merasa cukup mengambil ilmu, teladan, panutan, etika dan petunjuk dari sebagian penuntut ilmu serta meninggalkan para ulama yang lebih alim, lebih terhormat dan lebih senior.&lt;br /&gt;Sudah barang tentu hal ini sangat berbahaya. Dan lebih bahaya lagi bila sebagian pemuda tersebut dianggap syaikh dalam hal ilmu oleh sebagian yang lain.&lt;br /&gt;Namun hal itu jangan disalah tafsirkan sebagai larangan menyelenggarakan majelis ilmu (selain majles ulama), bergaul dan bekerja sama dalam dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar. Bahkan majelis-majelis dan kerja sama dalam hal itu sangat dianjurkan. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah menimba ilmu dengan metode yang keliru, yaitu menolak mengambil ilmu dari para ulama. Sikap seperti itu merupakan ciri ahli bid'ah dan ahwa', sikap yang sangat berbahaya dan merupakan faktor utama meletusnya perpecahan. Sebab metode seperti itu akan membatasi pengambilan ilmu dari orang-orang tertentu saja. Hal itu bisa menggiring kepada hizbiyyah (bergolong-golongan) dan ashabiyah (fanatik golongan). Apalagi karakter ulama tidak tampak pada diri pemuda-pemuda itu. Dari sinilah bibit perepecahan akan tumbuh.&lt;br /&gt;5.      Perpecahan Mesti Diiringi Dengan Ancaman, Berbeda Halnya Perselisihan&lt;br /&gt;Di antara sebab-sebab perpecahan adalah asumsi yang berkembang bahwa mengikuti para imam-imam yang berada di atas hidayah dan ilmu sebagai sikap taqlid (membebek) yang dilarang. Kerancuan seperti ini sering kita dengar dari sebagian orang yang sok tahu. Mereka berkata :&lt;br /&gt;"Mengikuti syaikh-syaikh adalah taqlid". Sementara taqlid tidak dibolehkan dalam agama, mereka manusia dan kita juga manusia, kita berijtihad sebagaimana mereka berijtihad, kita memiliki sarana berupa buku-buku, zaman sekarang sarana ilmu tersedia lengkap, mengapa kita harus mengambil ilmu dari ulama ? Bahkan mengambil ilmu dari ulama termasuk taqlid, sementara taqlid itu sendiri adalah batil!&lt;br /&gt;Kita jawab : 'Benar, taqlid memang batil, namun apa pengertian taqlid itu? Ada beberapa perbedaan mencolok antara taqlid dengan mengikuti petunjuk para imam. Secara syar'i, mengikuti para imam hukumnya wajib. Sementara mayoritas kaum muslimin, bahkan banyak dari kalangan penuntut ilmu, tidak mampu berijtihad dengan benar dan tidak mampu mengambil dasar-dasar ilmu dengan cara yang benar. Lalu dari mana mereka mengambil ilmu? Dan bagaimana mereka mempelajari metodologi memahami agama dengan benar, kaidah-kaidah sunnah nabi dan pedoman-pedoman Salafus Shalih dan para imam ?&lt;br /&gt;Tidak ada jalan lain kecuali mengikuti alim ulama. Jelaslah hal itu bukan taqlid. Bila tidak demikian, maka setiap orang akan menjadi imam bagi dirinya sendiri dan setiap orang akan memecah menjadi kelompok tersendiri. Konsekwensinya, kelompok-kelompok tersebut akan berpecah sebanyak jumlah manusia. Hal itu tentu saja batil. Jadi jelaslah bahwa mengikuti para imam yang berada di atas petunjuk dan ilmu bukanlah termasuk taqlid. Hanya mengikuti secara membabi buta sajalah yang layak dikatakan taqlid!&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;"Artinya : Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui" [Al-Anbiya' : 7]&lt;br /&gt;Salah satu gejala yang berbahaya adalah belajar hanya dengan mengandalkan sarana-sarana ilmu (seperti buku dan sejenisnya). Misalnya seorang penuntut ilmu merasa cukup mengambil ilmu melalui buku-buku lalu menyingkir dari manusia, menjauhkan diri dari ulama, mengabaikan orang-orang shalih, orang-orang yang berjasa terhadap Islam yang menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, serta memisahkan diri dari ulama, ia berkata : 'Saya cukup belajar dari buku-buku, kaset-kaset, radio dan lain-lain'. Kemudian ia bekata lagi : 'Saya mampu belajar melalui sarana-sarana ini!'.&lt;br /&gt;Jawaban kami : 'Tentu saja, sarana-sarana ini merupakan nikmat, tetapi juga merupakan senjata bermata dua. Merasa cukup belajar ilmu-ilmu syar'i melalui sarana-sarana itu merupakan kekeliruan dan merupakan salah satu sebab timbulnya perpecahan umat. Karena hal itu akan mendorongnya untuk beruzlah (menyendiri) yang dilarang. Atau akan memunculkan sosok ahli ilmu yang tidak baik, karena mereka mengambil ilmu tidak sebagaimana mestinya, tidak berdasarkan kaidah dan tanpa petunjuk dan bimbingan alim ulama. Mereka mengambil ilmu menurut cara mereka sendiri, dengan hawa nafsu, perasaan dan perhitungan pribadi mereka sendiri. Apabila terjadi pertikaian, mereka menyimpang dan menolak pendapat ulama. Padahal meskipun seseorang mempunyai kepandaian dan kemampuan serta memiliki keahlian khusus seperti apapun, ia tidak akan mungkin dengan sendirinya akan sampai kepada kebenaran selama ia tidak mengenal pedoman-pedoman salaf dan ahli ilmu pada zamannya.&lt;br /&gt;Namun, para pemuda bersama para ulama harus bahu-membahu menanggulangi persoalan ilmiah atau problematika umat. Jika para pemuda itu tidak melakukan hal itu, mereka akan binasa dan membinasakan orang lain.&lt;br /&gt;Bahkan sarana-sarana tersebut memberikan gambaran sosok orang-orang yang disebut para intelektual kepada kita. Mereka mengetahui sejumlah maklumat yang membuat orang-orang takjub. Namun mereka tidak mengerti kaidah-kaidah dasar agama, tidak mengerti pedoman Salafus Shalih, mereka dapati orang-orang mengikuti mereka tanpa ilmu. Fenomena seperti ini banyak kita dapati sekarang ini dalam beragam bentuk dan modelnya. Bahkan ada juga di antara orang-orang model begitu yang menjadi juru dakwah dan pembina para pemuda hanya karena memiliki maklumat dan pengetahuan umum yang membuat orang-orang awam tercengang.&lt;br /&gt;Kadangkala mereka juga mengetahui sejumlah masalah-masalah syari'at, namun tidak menguasai kaidah-kaidahnya, tidak mengerti tata cara memahaminya, tidak mengerti cara penerapan dan operasionalnya serta tidak mengerti metode ahli ilmu dalam mengupas persoalan-persoalan ilmiah berikut penerapannya di lapangan.&lt;br /&gt;6.      Kurang Memahami Kaidah-Kaidah Berselisih Pendapat&lt;br /&gt;Di antara sebab-sebab perpecahan adalah kurang memahami kaidah-kaidah berselisih pendapat. Yang saya maksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda pendapat antara dua orang muslim dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah penyelisihannya itu dapat ditolerir ? Bilakah kita boleh memvonisnya kafir atau fasik ? Apakah vonis seperti itu boleh dijatuhkan oleh siapa saja ?&lt;br /&gt;Banyak sekali orang yang tidak mengetahui perincian masalah tersebut. Terkadang dari sinilah muncul perpecahan yang seharusnya tidak terjadi ! Demikian pula dangkalnya pemahaman tentang kaidah-kaidah ijma' dan jama'ah. Memahami kaidah-kaidah tersebut sangat penting sekali yang dewasa ini banyak diabaikan oleh mayoritas penuntut ilmu syar'i. Di samping mereka juga tidak memahami tujuan dan makna persatuan umat, kaidah-kaidah jama'ah, bahkan banyak di antara mereka yang tidak mengerti titik-titik rawan perpecahan dan sebab terjadinya, titik rawan fitnah dan sebab pecahnya fitnah. Mereka tidak memahami mana saja hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang tetap dan yang dapat berubah-ubah.&lt;br /&gt;Ciri mereka adalah jahil terhadap kaidah-kaidah umum syari'at dan hikmah-hikmah umum syari'at, seperti kaidah-kaidah yang berkaitan 'mengambil maslahat dan menolak mafsadah', kaidah 'kesulitan mendatangkan kemudahan', kaidah penetapan bilakah seseorang mendapat dispensasi, bilakah kaidah 'darurat' dapat diterapkan, dan bagaimana caranya menerapkan seperangkat kaidah tentang 'darurat', hukum-hukum pada masa fitnah, perdamaian. Mereka juga tidak mengetahui kaidah dan etika bermu'amalah terhadap orang yang beselisih pendapat dengannya, etika terhadap ulama dan penguasa. Oleh karena itu kita dapati banyak di antara mereka yang tidak dapat membedakan antara kondisi gawat dan fitnah dengan kondisi aman dan damai, akibatnya keliru dalam berkomentar dan menetapkan hukum. Ini jelas merupakan kekeliruan besar dan salah satu sebab perpecahan.&lt;br /&gt;Saya beri contoh tentang pertikaian yang terjadi antara saudara-saudara kita di Afghanistan. yaitu pertikaian yang terjadi di wilayah Kunar. Orang yang punya bashirah akan mengetahui bahwa pertikaian yang terjadi bukan antara haq dan batil secara mutlak. Atau bukanlah pertikaian dalam masalah aqidah secara mutlak. Tidak ada dalih qath'i yang menunjukkan bahwa kebenaran ada pada salah satu dari dua pihak yang bersengketa. Hanya saja menurut sebagian orang, kebenaran lebih condong pada salah satu dari dua pihak tersebut. Sementara menurut orang lain justru sebaliknya. Maka cara yang paling tepat adalah mencari kejelasan lalu berusaha menciptakan perdamaian dan memadamkan api pertikaian dan mengembalikan permasalahan kepada ahli ilmu[[1]]&lt;br /&gt;Akan tetapi yang berkomentar tentang fitnah itu adalah orang-orang yang tidak mengerti hukum seputar fitnah, dan kapan waktunya harus angkat bicara dan kapan waktunya harus diam. Kapan kita boleh mengomentari seseorang dan menjatuhkan vonis atasnya dan kapan hal itu tidak dibolehkan. Sementara ia tidak punya pengetahuan tentang kemaslahatan umat Islam yang besar. Kemaslahatan yang berlaku bagi terciptanya persatuan umat Islam. Bagaimana menyatukan persepsi dan mengadakan perdamaian. Serat keharusan menahan diri berbicara apabila dengannya api fitnah akan berkobar. Dan menjauh dari pertikaian yang tengah terjadi antara dua kelompok muslim di tengah-tengah situasi fitnah, mencegah kerusakan dan tindakan-tindakan lainnya.&lt;br /&gt;Sungguh banyak sekali orang yang tidak memiliki bashirah dan ilmu pengetahuan mencampuri persoalan ini. Mereka tidak mengambil petunjuk dari ucapan ahli ilmu dan tidak meminta pengarahan dari para syaikh yang ada di tengah-tengah mereka. Mereka justru berambisi agar para ulama menerima pendapat-pendapat mereka. Akan tetapi mereka sendiri tidak mau mendengar arahan para ulama&lt;br /&gt;7.      Sikap Ekstrim Dalam Agama&lt;br /&gt;Ekstrim dan berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama adalah faktor terbesar mencuatnya perpecahan. Yang dimaksud berlebih-lebihan di sini adalah mempersulit diri sendiri dan orang lain dalam melaksanakan hukum-hukum syari'at, atau dalam bersikap terhadap orang lain atau bermua'amalah tanpa mengindahkan etika-etika syariat dan kaidah-kaidah agama. Karena sesunguhnya Islam tegak di atas pelaksanaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh dengan memperhatikan sisi kemudahan dan menolak kesulitan, memberikan keluasaan, mengambil dispensasi secara proposional, berbaik sangka kepada orang lain, ramah, pema'af dan halus dalam memberi peringatan. inilah dia prinsip-prinsip dasar. Keluar dari prinsip-prinsip tersebut tanpa maslahat yang pasti dan dibenarkan oleh ahli ilmu termasuk sikap ekstrim yang dilarang.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya agama ini mudah, tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam menjalankan agama kecuali ia akan keberatan sendiri. Tepatillah kebenaran atau yang mendekatinya, berilah kabar gembira, dan pergunakanlah waktu pagi, waktu sore dan malam hari untuk memudahkan perjalananmu" [Hadits Riwayat Al-Bukhari kitab Al-Iman hadits no. 39, Lihat Fathul Bari I/93]&lt;br /&gt;Apabila ada yang bertanya : "Bagaimana kita membedakan antara sikap berlebih-lebihan yang tercela dengan sikap berpegang pada ajaran agama yang disyariatkan ?"&lt;br /&gt;Jawabnya : "Yang menjadi standard adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan contoh terbaik. Di atas petunjuk itulah para sahabat, tabi'in, para imam dalam agama berjalan. Dan itulah karakter ulama yang patut diteladani."&lt;br /&gt;Pada hari ini, hal tersebut dapat kita ukur dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.      Ulama yang mengamalkan ilmunya merupakan teladan dan panutan teragung. Siapa melangkahi petunjuk dan arahan mereka dalam menetapkan hukum dan bersikap, dalam berbuat dan ber-etika, maka terhitung sebagai sikap ekstrim jika ia tergolong orang yang berlebih-lebihan. Dan terhitung apatis bila ia termasuk orang yang suka meremehkan.&lt;br /&gt;b.      Keluar dari batas-batas kemudahan dan menjerumuskan kaum muslimin ke dalam kesulitan dan kesempitan untuk melaksanakan Islam. Yang dimaksud kaum muslimin di sini adalah kaum muslimin yang berada di atas sunnah, sebab orang fasik dan fajir tidak masuk dalam konteks pembicaraan. Siapa saja yang menjerumuskan kaum mukminin ke dalam kesulitan dalam melaksanakan agama atau menyempitkan mereka serta tidak memberi kemudahan dalam hal-hal di mana mengambil dispensasi syari'at menjadi sebuah keharusan, maka ia tergolong ekstrim.&lt;br /&gt;c.      Di antara tanda-tanda ekstrim adalah tergesa-gesa dalam menjatuhkan vonis hukum. Yaitu hanya dengan mendengar suatu masalah, peristiwa, berita atau suatu pendapat tertentu, dia langsung menghukumi yang bersangkutan dengan masalah tersebut tanpa dasar. Atau menghukumi sebelum perkara tersebut jelas baginya. Atau menghukumi seseorang di belakangnya atau menghukumi hanya dengan sekedar indikasi-indikasi belaka. Seperti mengatakan : "Bila si Fulan telah mengatakan begini berarti ia kafir! Tanpa ada dialog terlebih dahulu dengan yang bersangkutan. dan seperti ucapan : "Siapa tidak mengkafirkan si Fulan berarti ia kafir!" Padahal belum jelas baginya kekafiran si Fulan tersebut. Sebagaimana ucapan mereka juga: "Fulan melihat bid'ah tetapi ia tidak mencegahnya, atau bid'ah tersebar di tengah-tengah kaumnya namun ia tidak merubahnya, dengan demikian berarti si Fulan termasuk ahli bid'ah!". Begitulah, sikap tergesa-gesa dalam menjatuhkan vonis hukum, menghukumi sepihak ucapan orang lain, royal mengobral takfir (vonis kafir) tanpa arahan dan bimbingan ulama merupakan salah satu fenomena sikap ekstrim dalam agama.&lt;br /&gt;d.      Di antara sikap ekstrim yang tidak disukai adalah menghukumi batin orang, berburuk sangka, tidak memberikan kesaksian baik terhadap saudara muslim yang tidak dikenalnya dan menancapkan bara' (berlepas diri) terhadap masalah-masalah khilafiyah. Begitulah, sikap ekstrim dalam melaksanakan agama merupakan faktor utama terjadinya perpecahan. Faktor ini pulalah yang menyebabkan kaum Khawarij memisahkan diri dari kaum muslimin. Lalu diikuti oleh golongan-golongan dan pengikut hawa nafsu lainnya.&lt;br /&gt;8.      Bid'ah Dalam Agama&lt;br /&gt;Salah satu sebab perpecahan adalah bid'ah. Baik bid'ah dalam masalah aqidah, ibadah, hukum dan lain-lain. Yang intinya adalah meyakini sesuatu yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Atau beribadah dengan cara yang tidak disyariatkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa keyakinan, amalan maupun ucapan. Hal ini sudah sama-sama dimaklumi tidak perlu diulas lebih rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Fanatik Golongan&lt;br /&gt;Fanatik Golongan dengan segala macam jenisnya. Baik fanatik madzhab, hubungan darah, nasionalisme, suku, partai, warna kulit, maupun yang lainnya. Yang paling parah adalah fanatik yang terjadi di medan dakwah. Hal ini dapat membuat samar orang banyak karena biasanya oknum pelakunya mengatas namakan agama. Ciri inilah yang paling menonjol pada gerakan-gerakan dakwah Islamiyah dewasa ini yang pemimpin gerakan dakwah ini minim pengetahuan agama. Mereka lebih menyandarkan dakwahnya kepada pemikiran, wawasan dan harakah (gerakan) daripada bersandar kepada ilmu syar'i dan para ulama.&lt;br /&gt;10.  Filsafat dan Ideologi-ideologi Impor&lt;br /&gt;Di antara sebab perpecahan paling dominan sejak dulu sampai sekarang adalah banyaknya umat Islam yang terpengaruh ideologi serta filsafat yang datang dari negeri-negeri kafir. Apapun jenis pemikiran, ideologi dan filsafat tersebut, tetap dinyatakan berbahaya selama berkaitan dengan masalah agama, kebudayaan, hukum dan etika.&lt;br /&gt;Dan menerima barang-barang impor tersebut termasuk mengikuti tradisi orang-orang sebelum kita sebagaimana yang disitir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits beliau.&lt;br /&gt;"Artinya : Kalian bakal mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu" [Al-Hadits]&lt;br /&gt;Oleh sebab itul pula setiap firqah (kelompok) dalam Islam membuat-buat sebagian besar prinsip-prinsipnya dari sekte-sekte terdahulu, Kelompok Rafidhah mengambil prinsip mereka dari Yahudi dan Majusi, kelompok Jahmiyah dan Mu'tazilah mengambil prinsip-prinsip ajaran mereka dari Ash-Sha'ibah dan filsafat Yunani. Kelompok Qadariyah mengambil prinsip ajaran mereka dari Nasrani. Begitulah seterusnya.&lt;br /&gt;11.  Propaganda Tajdid [Pembaharuan Agama]&lt;br /&gt;Di antara sebab perpecahan yang terjadi setelah tiga kurun utama ialah propaganda-propaganda tajdid (pembaharuan agama). Memang benar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits.&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini pada tiap-tiap seratus tahun orang yang memperbaharui agama mereka" [[2]]&lt;br /&gt;Pengertian yang benar tentang tajdid adalah menghidupkan kembali ajaran agama, baik dalam ruang lingkup aqidah, amalan ataupun menghidupkan kembali sunnah-sunnah nabi yang terhapus, menghentikan perbuatan-perbuatan bid'ah dan perkara-perkara baru, sebagaimana yang dilakukan oleh para mujaddid dari kalangan imam-imam agama sepanjang sejarah kaum muslimin hingga hari ini. Merekalah yang memperbaharui kembali amalan-amalan sunnah dan petunjuk-petujuk Salafus Shalih dalam bidang ilmu dan amal. Seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain.&lt;br /&gt;Tajdid bukanlah berarti membuat-buat landasan, kaidah dan prinsip-prinsip baru. Sebagaimana yang dikira sebagian pemikir dan penulis. Dari waktu ke waktu selalu saja muncul musibah yang dipropagandakan beberapa orang dari kalangan kaum muslimin sebagai tajdid dalam agama. Bahkan bisa jadi mujaddid seperti ini merobohkan kaidah-kaidah ahli ilmu dan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan propaganda tajdidnya itu!&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, propaganda-propaganda yang dapat bermuara kepada perpecahan tersebut banyak menyebar di arena dakwah. Banyak sekali kita dapati orang-orang yang mengaku mujaddid. Andai kata yang mereka maksud adalah pembaharuan dalam bidang-bidang kehidupan, sarana-sarana, sistem-sistem dan faktor-faktor yang bisa meningkatkan taraf hidup, tentu saja hal itu wajar dan sudah menjadi sunatullah atas para makhluk. Akan tetapi yang mereka maksud adalah pembaharuan kaidah-kaidah dasar dan prinsip-prinsip agama! Pembaharuan kaidah-kaidah ilmu syar'i, dan ketetapan-ketetapan yang sudah disepakati oleh para imam dan alim ulama.&lt;br /&gt;Pembaharuan metodologi memahami fiqh dalam agama dan metodologi pengambilan hukum dari nash-nash dan lain sebagainya yang termasuk prinsip dasar Sabilul Mukminin (Ahlus Sunnah wal Jama'ah), yang mana tidak seorangpun boleh menyimpang darinya ! Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;"Artinya : Dan siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" [An-Nisaa : 115]&lt;br /&gt;Sudah barang tentu hal ini sangat berbahaya, karena dapat menghapus kaidah-kaidah dasar Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kaidah yang menjamin keberadaan mereka berada di atas petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabat dan para tabi'in. Jadi jelaslah bahwa tajdid model begitu identik dengan mengikuti selain Sabilul Mukminin yang telah diperingatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;12.  Menganggap Remeh Usaha Memerangi Bid'ah&lt;br /&gt;Meremehkan upaya melawan dan memerangai bid'ah di tengah-tengah kaum muslimin. Maksudnya kadang kala muncul sejumlah bid'ah yang tidak diketahui oleh sebagian manusia. Akibatnya mereka meremehkan bid'ah-bid'ah tersebut yang akhirnya menyebabkan bid'ah tersebut makin lama makin subur dan berkembang.&lt;br /&gt;Pada mulanya barangkali sebuah bid'ah muncul dalam bentuk yang samar. Muncul dalam bentuk adat dan kondisi tertentu. Lalu adat-adat tersebut mencatut bentuk dan nama lain selain nama bid'ah hingga dapat diterima. Setelah berlalu beberapa waktu berubah menjadi bid'ah. Setelah itu para penganut bid'ah tersebut terseret kepada perpecahan atau memisahkan diri dari Islam dan kaum muslimin. Pada umumnya, benih-benih bid'ah dan perpecahan tumbuh melalui tahapan tersebut. Dan hal itu merupakan tipu daya setan terhadap umat manusia.&lt;br /&gt;13.  Meninggalkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang menggiring umat ke dalam jurang perpecahan adalah meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar. Meninggalkan budaya memberi nasihat kepada para penguasa yang mengatur urusan umat dan para imam yang berkompeten di tengah-tengah umat. Dan mewabahnya sifat hipokrit dalam agama, atau berputus asa dan pesimis terhadap usaha-usaha perbaikan umat, atau sengaja tidak menasihati para penguasa dan menjadikan hal itu sebagai ibadah. Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kelompok pengikut hawa nafsu dan kaum hizbiyah. Tidak adanya satu kelompok umat yang menunaikan tugas memberi nasihat, mencegah kerusakan dan perpecahan menyebabkan umat ini terpuruk dalam kehinaan, pertikaian dan perpecahan. Saling menasihati merupakan perkara agung yang termasuk salah satu bentuk amar ma'ruf nahi mungkar dan jihad. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewasiatkan hal itu dalam sebuah hadits beliau.&lt;br /&gt;"Artinya : Dan agar kalian saling memberi nasihat kepada orang-orang yang Allah beri kekuasaan atasnya untuk mengatur urusan kamu" [[3]]&lt;br /&gt;Nasihat akan menghilangkan dengki dalam hati. Nasihat juga merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan dapat menjadi hujjah di hadapan Allah, atau dapat mencegah turunnya bala' dan murka atas umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Komentar Dr. Nashir bin Abdul Karim menanggapi pertikaian di wilayah Kunar sangat keliru. Kelihatannya Dr. Nashir menyandarkan komentarnya ini kepada informasi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu hendaklah Dr. Nashir mencari kejelasan -sebagaimana yang dikatakannya di atas tadi- dari sumber yang terpercaya dan kalangan Salafiyin yang hadir dan menyaksikan dari dekat hakikat pertikaian yang terjadi di sana, agar tidak menzhalimi dakwah tauhid dan ahli tauhid di wilayah Kunar As-Salafiyah.&lt;br /&gt;Perlu pembaca ketahui, bahwa pertikaian di wilayah Kunar adalah pertikaian antara haq dan bathil, pertikaian antara Muwahhidin (ahli tauhid) yang dipimpin oleh tokoh Salafi wilayah Kunar Syaikh Jamilurrahman dengan kaum Quburiyyin. Jelas pertikaian di sana adalah pertikaian dalam masalah prinsipil, yaitu masalah aqidah. Jadi dalam pertikaian tersebut kebenaran tidaklah samar sebagaimana yang digambarkan oleh Dr. Nashir -semoga Allah memaafkannya- Sungguh sangat menyayat hati kita bila pembantaian para Muwahhidn yang dilakukan kaum Quburiyin itu dianggap bukan merupakan perseteruan antara haq dan batil.&lt;br /&gt;Dipicu kegerahan kaum Quburiyin melihat perkembangan dakwah tauhid yang marak di wilayah Kunar. Kebencian kaum Quburiyin terhadap kaum Muwahhidin yang mereka juluki Wahhabiyah ini memuncak hingga sebagai klimaksnya adalah pengepungan wilayah Kunar dan pembantaian penduduknya yang mayoritas adalah para Muwahhidin. Hingga beredarlah semboyan di tengah-tengah mereka bahwa membunuh seorang wahabi lebih baik daripada membunuh sepuluh orang komunis!. Hingga akhirnya Syaikh Jamilurrahman Rahimahullah juga terbunuh tidak lama setelah itu. Setelah peristiwa berdarah itu, kaum Quburiyin yang dipimpin oleh Hikmatyar menggelar tabligh akbar menyatakan berlepas diri dari peristiwa tersebut, ironinya hal ini disambut gegap gempita oleh Ikhwaniyin (pengikut Ikhwanul Muslimin)! Inna Lillahi wa inna Ilaihi raji'un –pent.&lt;br /&gt; [2] Hadits Riwayat Abu Daud, Al-Hakim dalam Mustadrak, Al-Baihaqi dalam buku Ma'rifah dari Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu dan hadits itu shahih. Silakan lihat Shahih Jami' Shagir no. 1870.&lt;br /&gt;[3] Hadits Riwayat Malik dalam kitab Al-Muwaththa' no. 20, Ahmad dalam kitab Al-Musnad II/327 dan 360 Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengingatkan : 'Memberi nasihat kepada penguasa yang mengatur urusan umat termasuk satu dari tiga perkara yang tidak akan menjadi dengki hati seorang muslim dengannya" Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih beliau dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam shahih At-Targhib wat Tarhib I/40&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA PENANGGULANGAN PERPECAHAN UMAT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah barang tentu, mewaspadai perpecahan dan mencegahnya sebelum terjadi lebih baik daripada menyelesaikannya setelah terjadi. Seyogyanya kita mengetahui bahwa mewaspadai perpecahan adalah dengan mewaspadai sebab-sebab yang telah kami sebutkan terdahulu.&lt;br /&gt;Namun di sini terdapat beberapa faktor lain yang dapat menangkal terjadinya perpecahan, baik faktor yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Di antara faktor-faktor umum ialah berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hal ini merupakan kaidah agung yang melahirkan wasiat-wasiat serta banyak perkara lainnya. Dan perkara yang terakhir dari kaidah besar itulah yang merupakan faktor khusus, yaitu :&lt;br /&gt;Mengenal petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengannya. Siapa mengikuti petunjuk Nabi, dia pasti mendapat petunjuk insya Allah, dan dapat melaksanakan agama berdasarkan pengetahuan. Dengan begitu ia akan terhindar dari perpecahan atau pertikaian yang menjurus kepada perpecahan tanpa disadari.&lt;br /&gt;Di antara faktor-faktor khusus dalam penanggulangan perpecahan adalah menerapkan pedoman Salafus Shalih, para sahabat, tabi'in dan imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Memperdalam ilmu agama dengan mempelajarinya dari para ulama dan dengan metodologi yang shahih berdasarkan petunjuk ahli ilmu.&lt;br /&gt;Bergaul dengan para ulama dan imam-imam yang berjalan di atas petunjuk yang terpercaya agama, ilmu dan amanahnya. Ahamdulillah mereka masih banyak dan tidak mungkin umat Islam akan kehabisan ulama pewaris Nabi. Siapa berasumsi bahwa mereka akan habis, berarti ia berasumsi bahwa agama Islam akan berakhir. Asumsi seperti ini jelas tidak benar, sebab Allah telah berjanji akan mejaga agama Islam sampai hari Kiamat. Karena umat Islam merupakan perwujudan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang merupakan perwujudan para ahli ilmu dan ahli fiqih akan tetap ada sampai hari Kiamat. Maka siapa menyangka bahwa ahli ilmu akan habis atau tidak ada lagi keteladanan ulama yang menjadi tempat bertanya bagi umat, berarti ia telah menyangka bahwa tidak akan ada lagi Thaifah Manshurah (Kelompok yang mendapatkan petolongan dari Allah) dan tidak ada pula Firqatun Najiyah (golongan yang selamat). Dan ini berarti kebenaran akan hapus dan sirna dari tengah-tengah manusia. Ini jelas menyelisihi nash-nash yang qath'i dan prinsip-prinsip dasar agama.&lt;br /&gt;Menjauhi sikap meremehkan alim ulama atau menyimpang dari mereka dengan segala model dan bentuknya yang dapat menimbulkan fitnah dan perpecahan. Keharusan mengantisifasi fenomena-fenomena perpecahan terutama yang terjadi pada sebagian pemuda, orang-orang yang suka tergesa-gesa, serta orang-orang yang belum memahami cara hikmah dalam berdakwah, belum berpengalaman dan belum memahami Islam.&lt;br /&gt;Semangat memelihara keutuhan jama'ah, persatuan dan perdamaian dalam arti umum dengan prinsip-prinsipnya. Setiap muslim, khususnya para penuntut ilmu dan juru dakwah, wajib berusaha memelihara keutuhan jama'ah, persatuan dan perdamaian antar sesama juru dakwah serta penyeru kebaikan dan antara rakyat dan penguasa. Dan menyatukan kalimat untuk menyeru kepada kebaikan dan takwa.&lt;br /&gt;Siapa ingin berpegang teguh kepada Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan selamat dari perpecahan -insya Allah- dia harus menetapi ahli ilmu dan menetapi kaum yang shalih dari kalangan orang-orang yang takwa, orang-orang yang baik dan istiqamah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencelakakan teman duduknya dan tidak menyesatkan rekan sejawatnya. Siapa menginginkan bagian tengah Surga, hendaklah ia komitmen terhadap jama'ah, karena jama'ah adalah sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabatnya.&lt;br /&gt;Untuk menanggulangi terjadinya perpecahan kita harus menjauhi hizbiyah (bergolong-golongan) sekalipun untuk tujuan dakwah. Dan juga menjauhi sikap fanatik golongan, apapun bentuk dan sumbernya. Karena hal itu merupakan benih-benih perpecahan.&lt;br /&gt;Memberi nasihat kepada penguasa, baik penguasa itu shalih maupun fajir. Begitu pula menasihati khalayak umum. Karena nasihat kepada para penguasa dapat mewujudkan maslahat yang besar bagi umat, dan akan menjadi hujjah di hadapan Allah, atau menjadi penolak bala', penghapus rasa dengki dan dengannya pula akan tegak hujjah. Menasihati penguasa termasuk salah satu wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang terbesar, beliau memerintahkan umatnya supaya bersabar dalam menjalankannya dan berpegang kepada wasiat tersebut. Dan juga merupakan pedoman Salafus Shalih yang membedakan mereka dengan ahlul ahwa' dan ahlul iftiraq. Menahan diri dari menasihati penguasa berarti mengabaikan hak Islam dan kaum muslimin. Dan berarti pula memperturutkan hawa nafsu yang akan melahirkan keburukan dan bencana. Menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar dengan kaidah-kaidah ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PENUTUP&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum berpisah, saya ingin menyampaikan sebuah wasiat khususnya bagi para pemuda:&lt;br /&gt;Hendaklah para pemuda banyak berhubungan dengan para ulama. Demikian pula hendaklah mereka banyak bergaul dengan para penuntut ilmu yang terpercaya. Hendaklah para pemuda menimba ilmu agama dan mendalaminya dari mereka. Hormati dan hargailah mereka serta ambillah pendapat mereka dalam perkara-perkara penting yang dihadapi umat. Komitmenlah kepada ketetapan-ketetapan ulama dalam mewujudkan maslahat umat dan dalam menghadapi problematika utama kaum muslimin. Mereka wajib berpegang dengan arahan-arahan ahli ilmu, ahli fiqih, dan ulama berpengalaman demi mewujudkan kemaslahatan umat, memelihara persatuan dan menjaga umat dari ancaman perpecahan. Demikian pedoman Salafus Shalih, petunjuk yang dapat dipakai untuk meneladani para imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan itulah jalan kaum mukminin, petunjuk kaum shalihin dan shiratul mustaqim.&lt;br /&gt;Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi semoga Dia menyatukan kaum muslimin di atas kebenaran, kebaikan dan hidayah. Mempersatukan barisan kaum muslimin dan menolong mereka dalam mengalahkan musuh-musuh mereka. Saya juga memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi semoga kita terhindar dari kejinya fitnah baik yang lahir maupun yang batin. Kita berlindung kepada-Nya dari perpecahan, hawa nafsu dan bid'ah. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, atas keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-4864971707124349919?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4864971707124349919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4864971707124349919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/04/punca-perpecahan-umat-dan-cara.html' title='Punca Perpecahan Umat dan Cara Mengatasinya'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-9138325384948173408</id><published>2011-04-06T06:24:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T06:36:00.414-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Adab Dalam Masjid</title><content type='html'>ADAB DI DALAM MASJID&lt;br /&gt;﴿ آداب المسجد  ﴾&lt;br /&gt;]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun : Majid bin Su'ud al-Usyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah : Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc.&lt;br /&gt;Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009 - 1430&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﴿ آداب المسجد  ﴾&lt;br /&gt;« باللغة الإندونيسية »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تأليف: ماجد بن سعود آل عوشن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة: مظفر شهيد محصون&lt;br /&gt;مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009 - 1430&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB DI DALAM MASJID&lt;br /&gt;• Keutamaan membangun masjid adalah Allah akan membangun sebuah rumah di surga bagi orang yang membangun masjid.&lt;br /&gt;• Para ulama mengatakan tentang batasan masjid, yaitu tempat yang ada di dalam tembok masjid dan pintu mesjid bagian dalam adalah masjid.&lt;br /&gt;• Dikatakan bahwa firman Allah  yang mengatakan: &lt;br /&gt;وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ ِللهِ فَلاَ تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”.  Maka tidak boleh menisbatkan masjid kepada seseorang mahluk dengan nisbat kepemilikan dan kekhususan, adapun penisbatan masjid dengan nama agar dikenal, maka hal itu tidak apa-apa dan tidak termasuk dalam larangan tersebut; Nabi  menisbatkan mesjidnya kepada dirinya, seperti yang diterangkan di dalam sebuah  sabdanya: مَسْجِدِي هذَا (masjidku ini), begitu juga beliau menisbatkan masjid quba’ kepadanya, yaitu quba’, dan masjid baitul maqdis dinisbatkan kepada Iliya’, apa yang telah disebutkan adalah penisbatan nama mesjid kepada selain Allah agar mudah dikenal, semua ini tidak termasuk di dalam larangan di atas. &lt;br /&gt;• Orang yang makan bawang putih dan merah harus menjauhi mesjid, berdasarkan hadits Jabir radhiallahu anhu bahwa Nabi  bersabda: &lt;br /&gt;مَنْ أَكَلَ ثَوْمًا أَوْبَصَلاً فًلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ قَالَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فيِ بَيْتِهِ&lt;br /&gt;Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauhi kita” Atau bersabda “Maka hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di rumahnya”. &lt;br /&gt;• Dikiaskan kepada bawang merah atau bawang putih segala sesuatu yang berbau busuk yang bisa menyakiti orang yang shalat, namun jika seseorang memakai sesuatu yang bisa mencegah bau yang tidak sedap tersebut dari dirinya seperti memakai pasta gigi dan lainnya, maka tidak ada larangan baginya setelah itu untuk menghadiri mesjid.&lt;br /&gt;• Dianjurkan agar segera bergegas menuju masjid, berdasarkan sabda Rasulullah :       &lt;br /&gt;      الْمُقَدِّمِ لَكَانَتْ قُرْعَة  لِوْ تَعْلَمُوْنَ أَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فيِ الصَّفِ     &lt;br /&gt;“Seandainya mereka mengetahui keutamaan shaf pertama, niscaya akan diadakan undian untuk mendapatkannya”. &lt;br /&gt;• Dianjurkan berjalan menuju shalat dengan khusyu’, tenang dan tentram. Nabi  telah melarang umatnya berjalan menuju shalat secara tergesa-gesa walaupun shalat sudah didirikan. Abi Qotadah radhiallahu anhu berkata:  Pada saat kami sedang shalat bersama Nabi , tiba-tiba beliau mendengar suara kegaduhan beberapa orang. Sesudah menunaikan shalat beliau mengingatkan:&lt;br /&gt;مَا شَأْنُكُم؟ قَالُوْا: اِسْتَعْجَلْنَا إِلىَ الصَّلاَةِ. فَقَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا, إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَعَلَيْكُمْ بِاالسَّكِيْنَةِ  فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi pada kalian?”. Mereka menjawab: “Kami tergesa-gesa menuju shalat”. Rasulullah menegur mereka: “Janganlah kalian lakukan, apabila kalian mendatangi shalat maka hendaklah berjalan dengan tenang, dan rekaat yang kalian dapatkan shalatlah padanya!, dan rekaat yang terlewat sempurnakanlah !”. &lt;br /&gt;• Saat berjalan menuju shalat hendaklah berdo’a dengan mengucapkan:&lt;br /&gt;اَللّهُمَّ اجْعَلْ فيِ قَلْبِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي لِسَانِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُوْرًا وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا وَأَمَامِي نُوْرًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا اَللّهُمَّ وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا&lt;br /&gt;“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan jadikanlah di dalam lisanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah di sebelah belakangku cahaya dan di hadapanku cahaya, dan jadikanlah di atasku cahaya dan di bawahku cahaya. Ya Allah, agungkanlah cahayaku!”. &lt;br /&gt;• Memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan berdo’a dengan mengucapkan&lt;br /&gt;اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ افْتَحْ لِي أََبْوَابَ رَحْمَتِكَ&lt;br /&gt;“Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah bukakanlah pintu rahmatmu bagiku”.&lt;br /&gt;• Mendahulukan kaki kiri saat keluar dari mesjid dan berdo’a dengan mengucapkan:&lt;br /&gt;اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ&lt;br /&gt;“Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah limpahkanlah karuniaMu kepadaku”.&lt;br /&gt;• Menunaikan shalat tahiyatul masjid saat memasuki sebuah mesjid. Berdasarkan hadits riwayat Abi Qotadah Al-Sulami bahwa Rasulullah  bersabda: &lt;br /&gt;  إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُم ُالْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَنْ يَجْلِسَ&lt;br /&gt;        “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid maka hendaklah dia shalat dua rekakat sebelum duduk”.  Dan di antara kesalahan yang sering terjadi adalah ditinggalkannya shalat tahiyyatul masjid hanya karena waktu tersebut adalah waktu dilarang mengerjakan shalat sunnah.&lt;br /&gt;• Terdapat keutamaan yang besar bagi seorang yang duduk-duduk di masjid untuk menunggu shalat, berdasarkan sabda Rasulullah : &lt;br /&gt;فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَاكَانَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ واْلمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ أَحَدِكُمْ مَادَامَ فَِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلىَّ فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ الّلهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ&lt;br /&gt;Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam shalat selama shalat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan para malaikat berdo’a kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat shalatnya, Mereka mengatakan: “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats”. &lt;br /&gt;• Terdapat larangan melingkar di dalam masjid (untuk berkumpul) demi kepantingan dunia semata. Rasulullah  bersabda: &lt;br /&gt;يَأْتِ عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ يَحْلِقُوْنَ فيِ مَسَاجِدِهِمْ وَلَيْسَ هُمُوْمُهُمْ إِلاَّ الدُّنْيَا  وَلَيْسَ ِللهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ فَلاَ تُجَاِلسُوْهُمْ&lt;br /&gt;“Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam mesjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka”. &lt;br /&gt;• Disunnahkan untuk menjaga masjid dari kegaduhan dan memperbanyak pembicaraan yang sia-sia serta mengangkat suara dengan sesuatu yang dibenci. &lt;br /&gt;• Dibolehkan berbaring di mesjid. Dari Abdullah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa dia melihat Rasulullah  berbaring di mesjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas yang lainnya.&lt;br /&gt;• Dibolehkan menjulurkan kaki ke arah kiblat,  dan menghindari untuk mejulurkan kaki ke arah mushaf demi meghormati kalam Allah dan untuk mengagungkannya.&lt;br /&gt;• Diperbolehkan tidur di mesjid, seperti yang dilakukan oleh Ahlis Shuffah di mana mereka tidur di mesjid , dan apabila bermimpi sampai keluar mani maka dia harus segera keluar mesjid untuk mandi janabah dan Ibnu Umar pada masa dirinya masih muda dan membujang tanpa keluarga, dia tidur di masjid di masjid Rasulullah . &lt;br /&gt;• Larangan berjual beli di mesjid berdasarkan sabda Rasulullah :&lt;br /&gt;إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُوْلُوْا لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكُمْ&lt;br /&gt;“Jika kalian melihat orang yang berjual beli di mesjid maka ucapkanlah: Semoga Allah tidak memberikan laba bagi jual belimu”.  Dan di antara kesalahan yang sering terjadi adalah menaruh iklan jual beli di dalam mesjid.&lt;br /&gt;• Dilarang  mengumumkan barang yang hilang di mesjid, berdasarkan sabda Rasulullah : &lt;br /&gt;مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدْ فَلْيَقُلْ: لاَ رَدَّهَا اللهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهذَا&lt;br /&gt;“Barangsiapa mendengar seseorang yang mengumumkan barangnya yang hilang di mesjid maka katakanlah kepadanya: Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya mesjid itu tidak dibangun untuk kepentingan ini”. &lt;br /&gt;• Boleh mengangkat suara di dalam mesjid untuk kepentingan ilmu dan kebaikan adapun mengangkat suara untuk membuat suasana menjadi gaduh atau yang lainnya tidak diperbolehkan…&lt;br /&gt;• Dibolehkan meminta-minta jika dibutuhkan.&lt;br /&gt;• Dilarang memasukkan antara jari-jari saat keluar menuju mesjid sebelum melaksanakan shalat, diriwayatkan dari Ka’ab bin Ajroh  bahwa Rasulullah  bersabda:&lt;br /&gt;إِذَا تَـوَضَّأ أَحَـدُكُمْ فَأَحْسَـنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ خَـرَجَ عَامِدًا إِلىَ اْلمَسْجِدِ فَلاَ يَشْـبِكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّهُ فَي صَلاَةٍ&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian dia keluar menuju shalat secara sengaja maka janganlah dia memasukkan antara jari-jarinya sebab dia sedang berada dalam kondisi shalat”.  Dan boleh memasukkan jari-jari tangan sesudah melaksanakan shalat.&lt;br /&gt;• Boleh makan dan minum di mesjid, berdasarkan hadits Abdullah bin Al-Harits bin Juz’u Al-Zubaidi, dia menceritakan bahwa kami makan pada masa Rasulullah  roti dan daging di dalam mesjid. &lt;br /&gt;• Boleh menyenandungkan puisi yang diperbolehkan di dalam mesjid, sesungguhnya Hassan bin Tsabit radhiallahu anhu menyenandungkan puisi di mesjid di hadapan Rasulullah . &lt;br /&gt;• Boleh main tombak atau sejenisnya di mesjid, dari Aisyah radhiallahu anha berkata: “Suatu hari aku melihat Rasulullah  berdiri di pintu kamarku sementara orang-orang Habsy bermain-main di mesjid dan Rasulullah  menutupi aku dengan selendangnya saat aku menyaksikan permainan mereka”. &lt;br /&gt;• Dilarang keluar dari mesjid setelah dikumandangkannya adzan kecuali karena udzur, berdasarkan hadits riwayat Abi Sya’tsa’ bahwa dia berkata:  “Kami sedang duduk-duduk dengan Abu Hurairah radhiallahu anhu di dalam mesjid lalu seorang mu’adzin mengumandangkan adzan lalu seorang lelaki bangkit keluar dari mesjid, maka Abu Hurairah radhiallahu anhu mengatakan: “Adapun orang ini maka ia telah menyalahi tuntunan Abul Qosim ”. &lt;br /&gt;• Di antara kesalahan yang terjadi di mesjid adalah menghiasi mesjid dan memahatnya, berdasarkan hadist Rasulullah :        &lt;br /&gt;         إِذَا زَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالدَّمَارُ عَلَيْكُمْ&lt;br /&gt;“Apabila kalian telah memperindah mesjid kalian dan menghiasi mushaf-mushafmu maka kehancuran telah menimpa kalian”.  Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah  bersabda:    &lt;br /&gt;                   لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهىَ النَّاسُ فِي اْلمَسَاجِدِ&lt;br /&gt;“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai manusia berlomba-lomba di dalam (memperindah) mesjid”. . ( ) ( ).&lt;br /&gt;• Di antara kesalahan yang sering terjadi adalah shalat di atas hamparan yang diperindah.&lt;br /&gt;• Di antara kesalahan yang juga sering terjadi adalah menjadikan mesjid sebagai jalanan untuk lewat, berdasarkan sabda Rasulullah :&lt;br /&gt;      لاَ تَتَّخِذُوْا اْلمَسَاجِدَ طُرُقًا إِلاَّ لِذِكْرٍ اَوْ صَلاَةٍ&lt;br /&gt;“Janganlah engkau menjadikan mesjid sebagai jalan untuk lewat kecuali untuk berdzikir dan menunaikan shalat”. &lt;br /&gt;• Di antara kesalahan yang terjadi adalah menjadikan suara jam (di dalam mesjid) seperti suara lonceng yang selalu berbunyi secara teratur seperti bunyi lonceng orang-orang Nashrani.&lt;br /&gt;• Di antara kesalahan yang sering terjadi, membaca ayat secara nyaring di masjid sehingga mengganggu shalat dan bacaan orang lain.&lt;br /&gt;• Sungguh Rasulullah telah melarang orang-orang yang melingkar dalam berkumpul untuk membuat kelompok di dalam masjid karena mereka juga akan keluar dari masjid dengan berkelompok-kelompok mereka masing-masing. Dari Jabir bin Samuroh, dia berkata: Rasulullah  memasuki masjid pada saat adanya kelompok-kelompok sedang berkumpul di dalam mesjid. Lalu Rasulullah menegur mereka: “Kenapa saya melihat kalian berkelompok-kelompok?”. &lt;br /&gt;• Di antara pelanggaran yang sering terjadi meludah di mesjid. Rasulullah  berdasarkan sabda:&lt;br /&gt; اَْلبُزَاقُ فِي اْلمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَـفَّارَتُـهَا َدفـْنُهَا&lt;br /&gt;"Meludah di mesjid adalah kesalahan dan penghapusnya adalah dengan cara menimbunnya”. &lt;br /&gt;• Termasuk sunnah shalat dengan memakai sandal di mesjid. Anas bin Malik  pernah ditanya: Apakah Rasulullah  shalat dengan memakai kedua sandalnya?. Dia menjawab: “Ya”.  Dan apabila seseorang memasuki mesjid lalu melepas kedua sandalnya dan tidak shalat dengan memakai keduanya maka hendaklah dia menjadikannya di sebelah kirinya jika dia sendiri di dalam shaf, namun jika dirinya bersama jama’ah lain dalam shalat berjama’ah maka hendaklah dia meletakkannya di antara kedua kakinya berdasarkan hadits: &lt;br /&gt;إِذَا صَلىَّ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِيْنِهِ وَلاَ يَضَعْهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِ غَيْرِهِ إِلاَّ أَلاَّ يَكُوْنَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang di antara kalian shalat maka janganlah dia meletakkan sandalnya di sebelah kanannya dan jangan pula disebelah kirinya sehingga bertempat di sebelah kanan jama’ah yang lainnya kecuali jika tidak ada seorangpun di sebelah kirinya. Hendaklah dia meletakannya di antara kedua kakinya”.( ) .&lt;br /&gt;• Tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat, berdasarkan sabda Nabi : &lt;br /&gt;لَـوْيَعْلَمُ اْلمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ اْلمُصَليِّ مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِـفَ أَرْبَعِيْنَ خَيْرًا لًهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ&lt;br /&gt;“Seandainya seorang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat mengetahui besar akibat yang harus ditanggunganya, niscaya berhenti selama empat puluh lebih baik baginya dari pada berjalan di hadapannya”. . Dianjurkan bagi orang yang shalat untuk menjadikan sutrah (pembatas) bagi dirinya, berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;إِذَا صَلىَّ أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang di antara kalian shalat maka hendaklah melaksanakannya di hadapan sutroh dan mendekatlah dengannya”. &lt;br /&gt;• Membersihkan mesjid adalah perbuatan yang utama, dan Nabi  menganggap berludah di mesjid sebagai kesalahan dan penebus dosanya adalah menimbunnya , dan hadits yang menerangkan bahwa mahar bidadari adalah membersihkan mesjid adalah hadits yang lemah.&lt;br /&gt;• Tidak boleh bagi orang kafir memasuki salah satu al-haromaini sekalipun dengan idzin seorang muslim, dan diperbolehkan bagi Al-Zimmi (Orang kafir yang terikat perjanjian dengan orang muslim) jika orang tersebut diupah untuk membangun keduanya selama tidak ada orang muslim yang bisa mengerjakan pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;• Ibnu Muflih rahimahullah berkata: Dan para guru kami berkata: Tidak mengapa dengan apa yang terjadi pada zaman kita, yaitu menutup mesjid di luar waktu-waktu shalat, karena khawatir akan terjadinya pencurian terhadap barang-barang milik mesjid.  &lt;br /&gt;• Sesungguhnya mesjid-mesjid yang terdapat di dalam rumah (ruang-ruang yang dipergunakan untuk shalat) tidak berlaku padanya hukum mesjid, menurut jumhur ulama oleh karenanya tidak mencegah orang yang junub dan wanita haid untuk masuk di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA ADAB YANG KHUSUS BAGI WANITA SAAT MEMASUKI MESJID&lt;br /&gt;• Tidak memakai wangi-wangian atau berhias sehingga bisa mengundang fitnah.&lt;br /&gt;• Tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid dan nifas untuk tinggal di mesjid, dan boleh bagi wanita yang istihadhah untuk memasuki mesjid bahkan beri’tikaf padanya, namun harus tetap menjaga agar mesjid tidak tercemar dengan najis.&lt;br /&gt;• Mereka bershaf di belakang shaf jama’ah pria, dan apabila para wanita berada di tempat shalat yang berbeda maka sebaik-baik shaf mereka adalah yang terdepan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-9138325384948173408?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/9138325384948173408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/9138325384948173408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/04/adab-dalam-masjid.html' title='Adab Dalam Masjid'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-5796280889780220651</id><published>2011-02-01T07:24:00.000-08:00</published><updated>2011-02-01T07:56:47.065-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FATWA ULAMAK MUKTABAR'/><title type='text'>Hukum Memakai Salib</title><content type='html'>Hukum Memakai Salib&lt;br /&gt;﴿ حكم لبس الصليب ﴾&lt;br /&gt;]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajnah Da`imah untuk riset dan fatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah :Muhammad Iqbal A.Gazali&lt;br /&gt;Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2010 - 1432&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﴿ حكم لبس الصليب ﴾&lt;br /&gt;« باللغة الإندونيسية »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي&lt;br /&gt;مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2010 - 1432&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum memakai salib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbeda pendapat tentang seorang muslim yang memakai salib syi'ar nashrani (kristen), sebagian kami menghukumkan kafirnya tanpa berdiskusi. Dan sebagian yang lain berkata, 'Kami tidak memutuskan kafirnya sehingga mendebatnya dan menjelaskan baginya haramnya hal itu, dan sesungguhnya ia adalah syi'ar umat kristen, maka jika ia bersikeras untuk tetap membawanya kita putuskan dia kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang wajib dalam perkara ini dan semisalnya adalah tafshil&lt;br /&gt;(perincian). Apabila sudah dijelaskan baginya hukum memakai salib, dan&lt;br /&gt;sesungguhnya ia adalah syi'ar kaum kristen, dan dalil (bukti) bahwa&lt;br /&gt;pemakainya adalah ridha dengan berafiliasinya kepada mereka, ridha dengan&lt;br /&gt;apa yang ada pada mereka dan dia terus menerus di atas hal itu niscaya&lt;br /&gt;dihukumkan kafirnya, berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الله تعالى: ﴿      •      ﴾&lt;br /&gt;Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk&lt;br /&gt;golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. al- Maidah:51)&lt;br /&gt;Kata zalim apabila digeneralkan maksudnya adalah syirik besar.&lt;br /&gt;Dan padanya pula sikap menampakkan sikap menyetujui kaum kristen&lt;br /&gt;di atas pengakuan mereka membunuh nabi isa alaihissalam. Dan Allah ta’ala telah menolak dan membatalkan hal itu dalam kitab-Nya yang mulia, di mana Dia _ berfirman:&lt;br /&gt;قال الله تعالى :  ﴿           ﴾&lt;br /&gt;padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang&lt;br /&gt;diserupakan dengan Isa bagi mereka. (QS. an-Nisa`157)&lt;br /&gt;Wabillahit taufiq, semoga rahmat dan kesejahteraan Allah _ selalu&lt;br /&gt;tercurah kepada Nabi kita Muhammad  , keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatawa Lajnah Da`imah untuk riset dan fatwa (2/47).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-5796280889780220651?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/5796280889780220651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/5796280889780220651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2011/02/hukum-memakai-salib.html' title='Hukum Memakai Salib'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-6116284062044908578</id><published>2010-12-25T17:34:00.001-08:00</published><updated>2010-12-25T17:34:42.554-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video Pendidikan- Bahasa Arab'/><title type='text'>Video Belajar Bahasa Arab 12</title><content type='html'>Pengembaraan Abu Huruf 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="480" height="385"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Q39hL3DF12c?fs=1&amp;amp;hl=en_US"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/Q39hL3DF12c?fs=1&amp;amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-6116284062044908578?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/6116284062044908578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/6116284062044908578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2010/12/video-belajar-bahasa-arab-12.html' title='Video Belajar Bahasa Arab 12'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-6908205256002530541</id><published>2010-12-15T15:24:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T15:28:58.453-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video Pendidikan- Bahasa Arab'/><title type='text'>Video Belajar Bahasa Arab 11</title><content type='html'>Pengembaraan Abul Huruf 03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="480" height="385"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/B_M3kaCIV08?fs=1&amp;amp;hl=en_US"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/B_M3kaCIV08?fs=1&amp;amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-6908205256002530541?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/6908205256002530541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/6908205256002530541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2010/12/video-belajar-bahasa-arab-11.html' title='Video Belajar Bahasa Arab 11'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-4386232140533811221</id><published>2010-12-15T06:23:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T06:24:48.096-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Sebab Mekarmu Hanya Sekali - Surat Cinta Untuk Putri Tercinta  02</title><content type='html'>IFTITAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika angin zaman menerpamu &lt;br /&gt;Di atas cadas ataupun lumpur cemar &lt;br /&gt;Teruslah mewangi wahai kuntumku &lt;br /&gt;Tetaplah indah di padang liar &lt;br /&gt;Hingga kaulah yang akan dipetik &lt;br /&gt;Sebab mekarmu hanya sekali! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanyalah milik Allah Subhaanahu wa ta'ala, Raja semesta alam. Semoga Dia senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita dalam setiap pijakan langkah di muka bumiNya. Selanjutnya, semoga salam dan sejahtera selalu tercurah kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, seorang Nabi paling akhir, manusia termulia serta kekasihNya yang kehadirannya telah dihadiahkan bagi dunia yang gelap gulita sebagai satu-satunya teladan paripurna untuk segenap makhluk yang hidup sesudahnya. Semoga keselamatan juga tetap terlimpah kepada keluarganya, para sahabat beliau yang mulia, alim ulama serta seluruh umat yang tak pernah henti dicintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putriku terkasih,...!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang lelapmu dalam dekapan sang ibu selama ini, selalu membuatku yakin bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja. Menikmati lembut nafasmu di atas buaian, selalu membuat nyaman perasaanku di saat itu. Lalu masa-masa yang indah itu dengan cepat telah berlalu. Dan usia terus saja mengambil jatahnya. Hingga ketika hari telah berganti minggu, dan bulan pun menapak tahun, tiba-tiba baru kusadari bahwa tak lama lagi kau akan lepas dari sisiku. Karena sudah tiba waktunya kau harus pergi. Menjemput kehidupan milikmu sendiri. Ya, sudah saatnya kau harus kulepaskan menuju kehidupan baru di luar sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia luar! Adalah sebuah tempat yang sama sekali tak ramah, putriku. Sebuah ruang di mana kau harus mampu untuk tetap bertahan di tengah-tengah segala ancaman yang bakal terus menghadangmu. Dengan bumi yang semakin tua serta dipenuhi oleh beragam fasilitas yang seharusnya bisa lebih memudahkan kehidupan. Tapi ternyata semua itu justru membuat realitas kehidupan makin bertambah kacau dan carut marut. Hari-hari terakhir ini, segala bentuk kekerasan dan tindak jahiliyah sudah menampakkan diri secara terang-terangan. Pergaulan bebas dengan bermacam latar belakang dan sebabnya telah makin menjauhkan manusia dari kehidupan yang ideal. Percampuran antara pria dan wanita yang melanda setiap jengkal bumi telah menjadi pemandangan biasa dan wajar. Dan tanpa disadari oleh siapa pun, ‘kewajaran’ itu mulai menampakkan gejala-gejala yang membahayakan. Ya, berbagai macam dampak negatif atas budaya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) mulai muncul. Dan lagi-lagi, kaum wanita seperti dirimu adalah yang pertama kali merasakan akibatnya, langsung maupun tidak. Lalu liputan dari berbagai media yang cuma berisikan berita-berita memiriskan jiwa. Semuanya berlomba-lomba untuk menampilkan sisi bengis dan buram wajah kehidupan. Kejahatan dan kemaksiatan di lingkungan sekitar kita hanyalah masalah waktu. Tak ada lagi sebuah tempat pun yang benar-benar aman. Begitulah! Ketika hari ini aku kembali lagi menatap dunia yang liar itu melalui jendela rumah kita. Tiba-tiba telah digerakkanNya tanganku untuk menuliskan beberapa patah kata yang ingin kutitipkan untukmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hanya kepadamulah wahai puteri tercinta, kutuliskan surat ini. Bersama baluran doa restu serta curahan rasa cintaku yang tak pernah kering, akan kupintakan pada Allah Subhaanahu wa ta'ala –Sang Pemilik setiap jiwa-, agar selalu melindungimu di dalam naungan keselamatan serta ridha-Nya. Ketahuilah, bahwa aku sangat menyayangimu dan tak ingin kau kalah oleh liciknya jebakan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, selamat memasuki masamasa remaja, putriku! Jagalah selalu hati dan dirimu di setiap tempat dan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Subhaanahu wa ta'ala membimbing kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Agustus 200&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-4386232140533811221?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4386232140533811221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4386232140533811221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2010/12/sebab-mekarmu-hanya-sekali-surat-cinta_15.html' title='Sebab Mekarmu Hanya Sekali - Surat Cinta Untuk Putri Tercinta  02'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-8309782314462217737</id><published>2010-12-15T06:18:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T06:21:03.283-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>Sebab Mekarmu Hanya Sekali - Surat Cinta Untuk Putri Tercinta  01</title><content type='html'>Sebab Mekarmu Hanya Sekali - Surat Cinta Untuk Putri Tercinta  01&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulan bebas, sebuah produk impor yang merusak ternyata telah menjadi komoditi yang cukup laris di kalangan remaja. Apalagi dalih mereka, kalau bukan kemajuan, modernisasi, kesetaraan gender dan alasan-alasan menggiurkan lainnya. Berbagai penelitian seputar pergaulan bebas dan hubungan di luar nikah dilakukan, baik oleh perorangan ataupun lembaga, dan hasilnya, sungguh sangat mengejutkan, "Hampir sebagian besar remaja telah terjerumus di dalamnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu dilakukan upaya penanggulangan melalui berbagai cara dan sarana. Salah satunya adalah melalui media bacaan yang dapat mengarahkan para remaja kepada pergaulan yang benar dan menjelaskan bahaya-bahaya yang ditimbulkan akibat pergaulan bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan salah satu pemenang lomba penulisan naskah dengan tema "Bahaya Pergaulan Bebas" yang diselenggarakan oleh Yayasan Al-Sofwa Jakarta. Sengaja kami pilih untuk diterbitkan karena bahasa nasehatnya terasa menyentuh, seperti nasehat seorang ayah kepada putrinya. Selain itu, metode dan gaya penulisannya tidak memvonis, namun mengarahkan emosi, sehingga para remaja mau menyadari betapa memilukan akibatnya bila seorang remaja putri tejerumus dalam pergaulan bebas. Maka dikatakan, "Sebab Mekarmu Hanya Sekali", Surat Cinta Untuk Putri Tercinta" sebagai upaya penjagaan terhadap bunga agar jangan layu sebelum berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat bagi kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-8309782314462217737?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/8309782314462217737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/8309782314462217737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2010/12/sebab-mekarmu-hanya-sekali-surat-cinta.html' title='Sebab Mekarmu Hanya Sekali - Surat Cinta Untuk Putri Tercinta  01'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-4277049955889087077</id><published>2010-12-14T06:09:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T06:11:06.763-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FATWA ULAMAK MUKTABAR'/><title type='text'>Hukum Berobat dengan Sembelihan Untuk Selain Allah atau dengan Sesuatu yang Diharamkan</title><content type='html'>Hukum Berobat dengan Sembelihan Untuk Selain Allah atau dengan Sesuatu yang Diharamkan&lt;br /&gt;Kamis, 24 Juni 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seorang Muslim. Aku sakit dan pergi kepada seorang penyihir. Ia menjelaskan kepadaku mengenai sebab-sebab sakit. Ia mengatakan kepada aku, “Aku akan mengobati penyakit ini dengan syarat kamu menyembelih atau kamu mencampur khamr dengan ranting pohon. Jika tidak, kamu akan mati.” Sedangkan aku sakit dan semakin parah; lalu apa yang harus aku perbuat ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jika perkaranya sebagaimana yang disebutkan, maka diharamkan pergi kepada para penyihir dan dukun, yaitu orang-orang yang mengklaim mengetahui berbagai penyakit dan sebab-sebabnya dengan cara yang tidak biasa. Karena apa yang diperintahkan kepadamu agar supaya menyembelih kepada selain Allah adalah syirik besar. Sementara berobat dengan khamr adalah diharamkan, karena Allah tidak menjadikan obat ummat ini pada sesuatu yang diharamkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, disyariatkan bagi anda berobat dengan doa-doa yang disyariatkan dan obat-obat yang mubah yang tidak dilarang. Semoga Allah menyembuhkan penyakit anda dan melindungi anda dari segala yang dibenci (oleh allah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Billahit Taufiq. Semoga selawat dan salam Allah limpahkan atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Al-Lajnah Ad-Da’imah, Fatawa al-‘Ilaj bi al-Qur’an wa as-Sunnah - ar-Ruqa wama Yata’allaqu biha, hal. 60] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Fatwa-Fatwa Terkini, jilid 3, hal: 354, cet: Darul Haq Jakarta, di posting oleh Wandy Hazar S.Pd.I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5621300399590165620-4277049955889087077?l=mylamanilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4277049955889087077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5621300399590165620/posts/default/4277049955889087077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylamanilmu.blogspot.com/2010/12/hukum-berobat-dengan-sembelihan-untuk.html' title='Hukum Berobat dengan Sembelihan Untuk Selain Allah atau dengan Sesuatu yang Diharamkan'/><author><name>Laman Ilmu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5621300399590165620.post-7866829816837145375</id><published>2010-12-14T06:03:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T06:04:36.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAKTABAH - MELAYU- INDONESIA'/><title type='text'>PANDUAN MENGHADAPI MUSIBAH DAN KESEDIHAN</title><content type='html'>KETIKA MUSIBAH DAN KESEDIHAN MENERPA&lt;br /&gt;Jumat, 22 Oktober 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada semua orang yang hatinya dipenuhi dengan kesedihan dan kegundahan, sesungguhnya salah satu sifat dunia ini wahai saudara tercinta dan saudara yang mulia adalah bahwasanya dia adalah tempat ujian, kesusahan, kegundahan, kesengsaraan dan musibah kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk melaluinya. Dan ini adalah salah satu perbedaan antara dunia dengan Surga. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( لقد خلقنا الإنسان في كبد )) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”(QS. Al-Balad: 4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( ولنبلونكم بشئ من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين)) .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah manusia-manusia terbaik yaitu para Nabi dan Rasul 'alaihimussalam seluruhnya, dan bahkan Nabi dan Rasul terbaik, pemimpin manusia yaitu Nabi dan kekasih kita, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam juga mengalami cobaan-cobaan dan kesedihan-kesedihan…? lihat dan bacalah sirah (perjalanan) beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan sirah seluruh para Nabi dan Rasul 'alaihimussalam, maka akan jelas bagi hakekat ini!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah manusia terbaik setelah para Nabi 'alaihimussalam yaitu para Sahabat radhiyallahu'anhum juga mengalami hal yang demikian? Bukankah hal itu juga menimpa para Tabi’in pilihan dan Ulama-ulama ummat seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan ulama-ulama lain yang masyhur??? Dan sesungguhnya tidak selamat darinya satu orang pun, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun anak-anak. Inilah keadaan dunia dan inilah sunatullah yang terjadi pada makhlukNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dunia ini adalah hina bukan mulia, dia hanya tempat singgah sementara yang akan hilang, dan bukan tempat tinggal bagi orang-orang berakal, kecuali untuk mencari bekal di dalamnya untuk kehidupan Akherat dengan amal shalih. Dan orang yang mencermati kehidupan sebagian manusia dia akan mendapatkan bahwasanya mereka lalai dari sunatullah dan hakekat rabbaniyah ini, maka seandainya salah seorang di antara kita diuji dengan salah satu dari musibah-musibah ini –dan ini adalah sesuatu yang pasti menimpa kita semua – maka dia akan menganggap bahwa hanya dia sendiri yang tertimpa, sementara orang lain tidak. Kesedihan dan kesusahan yang disebabkan musibah itu, yang itu adalah hakikat dunia dan yang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada setiap makhluknNya sesuai dengan hikmah yang diketahui oleh-Nya Subhanahu wa Ta'ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini kadang Syetan menghembuskan ke dalam hati sebagian mereka dan menambah kesedihan di 
